Karena Orang-orang Suka Menjadi Yang Terdepan

Pernah enggak, sih, merasa gemas pada orang-orang yang dengan mudahnya berbagi hoax, khususnya melalui media sosial? Lewat obrolan langsung atau bisik-bisik tetangga bisa juga, sih. Namun, yang ‘barang bukti’-nya bisa tersimpan ya di media sosial atau aplikasi percakapan ini.

Kita bisa berprasangka baik pada orang tersebut, sebenarnya. Bisa jadi niat aslinya adalah ‘sekadar berbagi’, dan kata-kata ini jugalah yang seringkali digunakan untuk menyertai penerusan informasi, atau untuk menanggapi ketika ada yang menyangkal. Berjaga-jaga tidak ada salahnya, kan? Niat baik tentunya perlu diapresiasi, bukan? Hmm…. Yah, sebenarnya kalau bisa cek dulu kebenarannya, ya, sebelum berbagi. Daripada menjerumuskan banyak orang, kan. Kalau memang tidak sempat kroscek, bukankah ada baiknya tahan jempol dulu?

Kalau cari info dulu, lalu ternyata informasinya benar, nanti keburu basi, dong? Padahal seharusnya bisa menolong lebih banyak orang, apalagi untuk ‘berita’ yang terbatas waktu, entah itu informasi penutupan jalan, pemadaman listrik, kebakaran, gempa bumi, dan seterusnya.

Waduh, kalau cara pandangnya begini, saya juga garuk-garuk kepala. Apakah sebanding soal kecepatan ini dengan risikonya?

Pandangan Islam mengenai saring sebelum sharing bisa disimak di postingan saya yang ini. Kali ini saya akan menceritakan ulasan dari sudut pandang komunikasi. Kemarin saya baru menyimak materi dari mas Hari Ambari, peneliti media sosial dari Drone Emprit, yang salah satunya membahas tips viralnya suatu konten. Tips yang mungkin tidak semuanya harus diikuti, sih, tetapi dibagikan agar peserta bisa mempelajari pola yang berlaku di jagat media sosial.

Cara agar viral ini bisa disingkat menjadi STEPPS: Social currency, Triggers, Emotion, Public, Practical value, dan Story.

Social currency artinya informasi yang diproduksi memiliki nilai sosial, sehingga orang yang memegang informasi tersebut akan membagikannya kepada orang lain secara sukarela untuk meningkatkan status sosial mereka.

Triggers artinya informasi yang disampaikan sebisa mungkin menjadi top of mind dari seseorang, sehingga mudah diingat dan menjadi informasi yang selalu diceritakannya kepada orang lain.

Emotions artinya konten menimbulkan sensasi kekaguman, efek “wow”, salah satunya lewat pola perbandingan (komparatif, kontrasting) atau superlatif).

Public artinya informasi yang disampaikan punya kaitan dengan peristiwa sehari hari, tidak mengawang-awang.

Practical value artinya informasi yang disampaikan punya nilai guna dan mudah untuk disebarluaskan, termasuk video tutorial.

Story artinya kemasan cerita untuk informasi yang membuat publik lebih mudah untuk mengingatnya. Bahkan ketika audiens lupa mengenai konten atau informasinya, mereka masih ingat ceritanya.

Nah, fenomena ‘pokoknya forward aja dulu’ ini umumnya dipicu oleh Social currency, S yang pertama dalam STEPPS. Sesuatu menjadi viral karena orang-orang ingin jadi yang terdepan membagikan informasi tersebut. Informasi yang diteruskan ini dianggap bisa membuat penceritanya terlihat lebih baik, meningkatkan status sosial serta gengsi, makanya disebut sebagai mata uang sosial.

Sumber: materi mas Hari Ambari – Drone Emprit

Okelah mungkin ada yang memilih untuk seketika berbagi karena niat baik itu tadi, tetapi rupanya ada juga golongan orang yang memang (disadari atau tidak) berbagi karena gengsi. Tadinya jujur saya sempat berprasangka begini juga, tapi takutnya jadi suudzon. Ternyata memang ada istilahnya di bidang komunikasi. Kalau kata Prof. Jonah Berger di buku Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Populer (2013, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tahun 2014), “Kebanyakan orang lebih suka tampak cerdas daripada tampak bodoh. (…) Tahu tentang hal-hal hebat — misalnya blender yang mampu melumat sebuah iPhone — membuat orang tampak cerdas dan berwawasan.” Prof. Jonah Berger inilah yang merumuskan konsep STEPPS.

Semoga, sih, kita tidak termasuk dalam golongan orang yang berbagi sekadar karena gengsi itu tadi, ya. Berbagi informasi yang bermanfaat itu bagus, tetapi sebisanya kita periksa dulu kebenarannya. Mayoritas hoax yang beredar, apalagi kalau sifatnya pasti (terkait tanggal dan tempat kejadian, peraturan pemerintah, dan sejenisnya), sudah ada klarifikasinya di internet.

Sejumlah media online sudah menyediakan rubrik tetap yang mengupas tuntas hoax, baik dengan cara konfirmasi ke pihak yang bersangkutan, bertanya ke pihak yang kompeten, maupun merujuk ke situs-situs pembongkar hoax yang cukup lama ada seperti Snopes atau Hoaxslayer. Kalau hoax-nya ada kaitannya dengan instansi tertentu, biasanya admin media sosial instansi tersebut juga bergerak cepat memuat tanggapan dan penjelasan, bahkan dibuatkan siaran pers resminya. Anggota masyarakat juga ada yang berinisiatif membuat sejumlah grup untuk secara khusus membahas aneka hoax. Salah satu favorit saya belakangan ini adalah page Pembasmi Hoax Kesehatan di Facebook.

Saya pun bukan tak pernah terlewat memverifikasi kebenaran suatu berita. Biasanya, sih, kalau informasinya saya dapatkan dari orang yang menurut saya tepercaya dan biasanya rajin memeriksa terlebih dahulu suatu informasi. Tentang ini juga ada bahasannya dalam kliping saya tentang Adab Bermedsos dari kajian grup BiAS (tautan sudah saya sertakan di atas). Namanya manusia, bahkan orang baik pun bisa saja khilaf, bisa saja salah. Semoga kita dijauhkan dari kelalaian saat membaca dan meneruskan suatu informasi, ya. Dan kalaupun kita sempat berbuat salah, semoga kita dijauhkan dari gengsi untuk mengakui dan meminta maaf. Soalnyaaa, sering, kan, ada yang habis post hoax lalu ketika ada yang mengingatkan ybs menghilang, atau malah balik marah-marah :(.

Semangat berbagi itu memang baik dan bisa menjadi salah satu bentuk kepedulian kita. Termasuk berbagi informasi, yang bisa jadi amat berarti bagi pembacanya. Kalau memang yang dibagikan ini bermanfaat, semoga bisa menjadi bagian dari amal baik kita juga. Namun, ingat selalu untuk mengiringi niat baik dengan usaha untuk kebaikan juga, yaitu memastikan kebenaran informasi, atau sesederhana menahan diri ketika memang belum sempat atau belum menemukan sumber tepercaya yang mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut.

 

22 thoughts on “Karena Orang-orang Suka Menjadi Yang Terdepan

  1. Ya ampun, aku kesel banget sama penyebar hoax mbak, apalagi di grup-grup whatsapp itu lho. Harusnya lebih banyak yang paham konsep “Saring sebelum sharing”, siapapun itu. Kesel kadang kalau dibilang hoax, malah nyolot “Ya nggak ada salahnya jaga-jaga” hadehh, hehe maaf mbak jadi curhat.

    • Semoga Kita dijauhkan yah Dari sifat Dan pikiran seperti penyebar hoax itu. Hati Hati segala sesuatu, Cari tau dulu , cerna dengan baik, Jika dianggap penting Dan perlu baru deh diteruskan

  2. baca kalimat pertamanya udah langsung pengen teriaaakk “bangaaaatttt”. Tambah gemmmaassshh kalo yang nyebarin ga merasa kenapa-kenapa setelah diklarifikasi kebenarannya. Dan ga membuat jera dari “asal forward aja” 😭, yang pengen nangis malah yang mengingatkan :”

    Ada solusinya kah, Bu? bagaimana menyikapi dengan bijak rangorang seperti ini? apalagi kalo orang tua yang masuk kategori ini :”(

    • Kalau untuk yang lebih tua, apalagi yang dianggap sesepuh, memang tricky, Mba. Gemes tapi gimana, ya. Akhirnya palingan share link yang ada klarifikasinya (kalau perlu sekalian copas dengan tetap sertakan link, biar kemungkinan dibacanya lebih besar), dan senjata terakhir senyumin ajah. Kita doakan semoga Allah lembutkan hatinya dan bukakan wawasannya, sekaligus semoga kita juga tidak berlama-lama larut ke kegemasan ini (walaupun memang rasanya kalau sudah berulang-ulang itu aduuhhh gemes bangett).

  3. Hihihih, jadi ingat beberapa waktu lalu di WAG kuliah dulu, ada yg pernah post ajakan deactive FB, eehh giliran sekarang dia minta dilike and comment postingan di fbnya. Hihih, kirain tu orang udh beneran hapus akunnya. Pas diingatkan kelakuannya waktu itu katanya itu cuma forward pesan saja, ckckck, gemess jadinya.
    Beneran deh, kalau sesuatu itu masih abu2 mending tahan dulu deh tu jempol buat klik tombol sharenya *noted to myself juga ini. 🙂

  4. Sering sih aku mengingatkan kalau itu hoax tapi karena mereka udah kadung percaya, malah aku yang dibilang hoax :D.

    Masyarakat model gini harus didekati lalu dikasih tau kalau harus cek dulu sebelum nyebar, tapi yang ngasih tau pihak yanh berwajib, bukan kita, soalnya udah gak mempan 😀

  5. Nahan jempol ketika lagi seru-serunya itu memang perlu dilatih juga. Aku pribadi kadang-kadang pengen share, tapi untungnya selalu mikir dulu perlu gak sih di share. Biasanya kalau gak penting-penting amat gak jadi di share.

  6. Duh, saya sering kena marah kalau ngingetin yang posting hoax. Padahal ngasih tahunya juga baik-baik. Sekarang udah males counter hoax. Paling saya rajin-rajin aja share postingan dari Indonesian Hoaxes.

  7. Setuju banget nih mbak, jgn terima informasi mentah2 harus dicari tau dulu kebenarannya, harus di cek lagi sebelum disebar jgn sampe merugikan orang lain apalagi orangnya banyak huhu

  8. Setuju banget mbak, kalo nerima informasi tuh harus diselidiki dulu dicari tau kebenarannya, jangan asal share, jgn sampe merugikan orang lain apalagi orang banyak

  9. Klo bicara soal hoax, aku udah kenyang banget karena hampir d dominasi oleh grup keluarga yg suka banget share-share yg belum pasti kebenarannya. Bener banget sih, niatnya kecepatan info tersebut sampai malah ga relate untuk ceki ceki dulu.

  10. Ya mbaaa aku jg suka gemas sama penyebar hoax dan udah kenyang banget sama grup kluarga itu yg suka jg dengan mudahnya sebar-sebar hox. Hemmm gemas akutu, alih-alih infonya ingin sampai, tp ga ceki ceki dulu

  11. Bener banget Mba. Kita harus milah-milih mana berita yang mau disebar. Hoax atau bukan. Bukan hoax pun belum tentu harus disebar juga kan. Ya Mba.

  12. Sebel banget kalau ada hoax yang menyebar ke grup-grup whatsap, line, dan lainnya. Apalagi yang sampai masuk ke email, padahal kayak gitu kan bahaya apalagi kalau yang dapat pesannya punya kebiasaan, “posting-posting.” doang.

  13. Akuuu paling gemazzzz. Apalagi kalau sudah diinfo untuk tidak share hal-hal berbau sara tapi tetap aja share. hiksss… Alhasil ada beberapa member grup emak-emak dan grup keuarga yang left. Tapi kita hanya bisa memberitahukan karena jempol milik masing-masing yes. Just filter by our self aja

  14. wah itu si penyebar hoax emang harus diberantas sampe akar akarnya kalo bisa kadang sampe berfikir apa ngaruhnya coba yang bikin tulisan tulisan hoax itu dosa iya, trus kasihan juga yang kena dampak penyebaran hox itu.duh mba aku merinding kalo udah urusan hoax ini, makasih ya mba atas ilmunya 🙂

  15. Aku mah paling sebel mbak sama orang yang suka nyebarin hoax apalagi hoax yg berhubungan dengan agama. Btw, makasi ya mbak udah diingetin lewat tulisan ini untuk jaga manner dan kebiasaan biar gak merugikan orang lain jadinya ga nambah dosa..

  16. Iyaaa mbaa semoga kita berbagi informasi bukan karena gengsi mbaaa. Semoga kita berbagi informasi yang diperlukan bagi sesama apalagi zaman now ya mbaa

  17. Banyak banget nih kalau yang ingin menjadi terdepan, tapi kadang yang terdepan juga gak menjamin sih. Bisa jadi yang terdepan ini juga salah dalam penyampaian informasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s