Jurnal Ulat-ulat 8 Bunda Cekatan: Bekal untuk Buddy

Menjadi ibu yang suka menulis acapkali memang menghadirkan tantangan tersendiri. Saya merasakannya, dan ternyata Mbak Helenamantra yang menjadi buddy saya pada tahap akhir Kelas Ulat Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional pun demikian. Maka, saya mengumpulkan sejumlah tips dari sana-sini terkait hal tersebut untuk dijadikan hadiah. Mungkin sebagian besar di antaranya sesungguhnya sudah dijalankan, yah anggap saja sebagai catatan pengingat juga.

Sebagaimana disebutkan oleh salah satu ibu yang menulis tips di bawah ini, kebanyakan tips mengelola waktu untuk bisa menulis itu sepertinya ditujukan untuk mereka yang belum memiliki anak. Bahkan ia mengakui postingan blog lamanya (sebelum punya anak) tentang manajemen waktu tidak sesuai lagi untuk kondisinya sendiri saat ini.

Kalau sudah ada anak, akan ada begitu banyak tugas mulai dari menyiapkan makanan, membersamai saat bermain, menidurkan, hingga mencuci pakaian dan peralatan makanan (belum lagi urusan cuci botol dan perintilannya yang seringnya perlu perlakuan khusus), mengepel tumpahan susu, dst.

Itulah saat di mana semua ilmu tentang manajemen waktu yang pernah diketahui rasanya tak berarti lagi.  Mau ibu bekerja di ranah publik seperti saya maupun ibu yang bekerja di ranah domestik seperti Mbak Helena yang menulis dari rumah selain kadang menghadiri kegiatan-kegiatan di luar, sama-sama ada tantangannya. Fokus? Apa itu fokus?

Bukan berarti enggak sayang sama anak-anak, ya. Kebersamaan dengan para makhluk mungil ini amatlah berharga. Namun, kalau sudah cinta menulis, rasanya juga berat untuk menahan diri dulu, untuk puasa menulis sambil menunggu anak-anak sudah lebih besar. Jadi, inilah beberapa tips yang mungkin bisa membantu:

1. Latih diri untuk menulis kilat

Mulanya mungkin terasa canggung, tapi setelah terbiasa, dari yang sedikit-sedikit itu kalau dikumpulkan bisa menjadi bukit, lho. Jika membuat kandang waktu sejam untuk menulis sekarang terasa tidak memungkinkan, coba gunakan waktu 15 s.d. 30 menit dikalikan beberapa kali setiap harinya. Terkesan tidak fokus, dan mungkin yang terbiasa inginnya “tuntas sebelum pindah ke hal lain” akan merasa risih sendiri, tapi bisa, kok, diatur waktunya. Anggap saja tolok ukur “tuntas” ini adalah ya selesainya waktu 15 menit tadi.

Ini sekaligus bisa membuat kita lebih kuat menolak godaan seperti menengok-nengok media sosial. Penulis tips ini merekomendasikan buku Write a Novel in Ten Minutes a Day tulisan Katharine Grubb, ibu dari lima anak homeschooler. Kalau di Indonesia mungkin seperti Teh Kiki Barkiah, ya, yang di medsos juga cukup sering berbagi kiat mengatur waktunya dengan enam orang anak yang menjalani homeschooling.

Menulis juga tidak harus di laptop atau komputer. Maksimalkan penggunaan smartphone di mana saja dan kapan saja. Banyak tersedia aplikasi untuk menyimpan ide kita, bukan hanya mencatat tulisan tetapi juga untuk gambar, bahkan untuk langsung menyusun draft blog di app terkait. Ada pula aplikasi yang bisa mengubah suara kita menjadi tulisan. Kalau sudah ada tulisan versi kasarnya, kita tinggal merapikannya nanti ketika sudah bisa duduk menghadap laptop.

Saya percaya, sih, Mbak Helena yang jam terbangnya udah tinggi pasti juga sudah terbiasa mengetik kilat di gawai untuk keperluan live reporting acara, minimal untuk segera di-post di media sosial sesuai dengan permintaan klien. Saya sendiri merasakan proses seperti ini sangat berguna, karena bisa sekalian dijadikan draft untuk tulisan di blog yang lebih panjang.

2. Susun jadwal, manfaatkan teknologi

Jadwal, daftar tugas, dan sejenisnya ini akan membantu kita untuk mengecek apa saja yang harus dilakukan. Tanpa jadwal, bisa-bisa kita menghabiskan waktu untuk mengingat-ingat, harusnya bikin apa, ya? Tenggat lomba menulis yang itu kapan, ya? Apa kerjaan rumah yang belum kelar, ya? Sayang, kan.

Sehubungan dengan tulis-menulis, khususnya blogging, jadwal ini bisa berupa penentuan tema tulisan bulanan. Kita juga bisa membuat template atau kerangka untuk tulisan tertentu, baik blog maupun surat-menyurat (untuk kerja sama penulisan, misalnya), untuk memastikan tidak ada hal yang tertinggal untuk dimasukkan atau bahkan agar tinggal dikirimkan sebagai balasan. Tahu sendirilah, ibu-ibu tuh ada aja selingannya di tengah menulis, jadi perhatian kita berisiko teralih sampai lupa atau keliru mencantumkan sesuatu.

Jadwal ini juga berlaku untuk hal lain, misalnya untuk menyusun menu keluarga sekaligus food preparation (yang ini sih, Mbak Helena malah sudah lebih intens ya belajarnya di kelas terkait di Bunda Cekatan), mengatur belanja kebutuhan keluarga, atau menentukan rencana bermain selama sepekan ke depan. Ketimbang mikir lama, mau masak apa, yaa… waktunya bisa dipakai untuk hal lain, kan? Bahkan bisa saja jadwal menulis ini kita masukkan ke dalam app kalender yang dibagikan dengan anggota keluarga yang lain. Jadi, ada waktu khusus kita untuk menulis yang sama pentingnya dengan latihan rutin bela diri atau les musik anak-anak misalnya.

Sekarang juga sudah banyak jasa pesan antar termasuk untuk kebutuhan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan. Ketimbang pergi ke supermarket yang kadang berujung kita belanja tambahan-tambahan yang kurang perlu, kan. Tentu, namanya godaan dalam belanja online akan tetap ada, tetapi minimal kita tidak banyak menghabiskan waktu di perjalanan. Ada juga jasa bersih-bersih dan jasa cuci yang bisa digunakan.

3. Berhenti berusaha menulis ketika ada anak-anak di sekitar

…karena percuma juga, selingannya bakal buanyak! Berkali-kali mengalihkan pandangan untuk merespon atau mengecek anak-anak kemudian kembali ke laptop (alih-alih anteng duduk mantengin tulisan) dalam waktu setengah jam itu rada melelahkan. Tips yang ini, saya pun belum bisa menjalankan. Lha rumah pun mungil, kalau anak-anak tidur pun bakalan di samping saya (yang berupaya konsentrasi di depan laptop) juga.

Mungkin juga karena anak-anak saya sudah di atas usia balita, jadi sudah lumayan bisa sibuk sendiri dengan mainan atau bacaan mereka. Masa-masa perlu sering dicek kalau-kalau ada yang lagi manjat tangga, main air di kamar mandi, berantakin kulkas, utak-atik dispenser, atau mainan skincare, atau bolak-balik ganti popok dan nyebokin sudah bisa dibilang lewat.

Eh, ya enggak juga, sih. Saya masih sering mengalami setiap lima menit ditanya pendapat, trus ada yang minta nyalakan lampu toilet, habis itu harus melerai yang rebutan sesuatu, dst, yang bikin ketika mata kembali menatap layar sempat perlu usaha lagi untuk memusatkan pikiran belum lagi kalau ada kang paket mendadak datang. Tapi memang lumayan, sih. Jadi saya cuma mau bilang, all iz well… nanti juga akan ada masanya. Makanya, bagi saya, nyetok permainan puzzle, buku gambar, buku mewarnai, buku aktivitas gitu-gitu lumayan penting.

Inti dari tips yang ini sebenarnya, kalau anak-anak masih terjaga, walaupun mereka asyik sendiri, mending kita pegang kerjaan rumah selain menulis. Nyuci piring kek, lipetin pakaian yang udah kering kek, nata rak peralatan masak kek. Belum tentu bisa fokus juga, sih. Apalagi katanya “membersamai” anak itu kan harusnya bener-bener mendampingi, ya, ada kontak mata, jangan disambi. Tapi minimal tingkat konsentrasi yang diperlukan lain dengan menulis.

Ceritanya sekaligus memberikan contoh dan gambaran ke anak (libatkan bahkan, kalau memungkinkan), ini lho yang namanya tugas-tugas di rumah. Kasih lihat bahwa Bunda ini tydac santuy pegang hape mulu, kok. Dari pekerjaan rumah yang berkurang karena sudah dicicil ini, akan ada waktu yang bisa dihemat dan bisa dimanfaatkan untuk menulis.

4. Bagi tugas dengan suami

Di satu sisi rasanya suka sungkan, sih. Suami sudah lelah kerja di kantor, kita saja belum tentu selalu bisa masakin hidangan rumahan buat si dia, masih mau juga saling menolong di urusan nemenin anak main, bersih-bersih dll, trus masak kita mau minta waktu me time khusus buat nulis? Nah, kalau ini sesuaikan saja dengan kondisi masing-masing, ya. Kita yang lebih tahu bagaimana keadaan dan cara yang baik untuk mengkomunikasikannya.

Mungkin kalau “acaranya” pakai judul main sama anak (anak-anak paling suka main tebak-tebakan sama ayahnya, kalau sama saya garing katanya), sementara kita duduk mengetik sekadar setengah jam sebelum tidur (kalau ayahnya udah pulang, sih :D), bisalah, ya…. Ayah senang, anak-anak girang. Ini khususnya saya terapkan kalau memang perlu menyelesaikan urusan kantor yang kadang kebawa sampai ke rumah, sih.

Jangan lupa gantian, yaa…. Suami juga pasti butuh me time untuk menjalankan hobinya.

5. Jangan jadi perfeksionis

Kesempurnaan adalah suatu kemustahilan, hehehe. Sebuah postingan yang sudah jadi, dengan struktur yang baik dan disampaikan dengan jelas, jauh lebih baik daripada postingan sempurna yang masih berada dalam angan. Tidak setiap hari masak sendiri untuk anak juga tidak apa-apa. Rumah tidak 100% rapi pun bukan masalah besar. Rumah kita mungkin tidak sempurna, tetapi kita bisa bahagia, anak-anak tetap bisa bertumbuh kembang dengan baik, dan kita tetap bisa menulis.

6. Jangan terus merasa bersalah sampai berhenti menulis

Bisa dipahami kalau kita merasa bersalah saat memfokuskan diri melakukan hal yang kita sukai, alih-alih memanfaatkan waktu itu untuk sepenuhnya membersamai anak-anak. Apalagi buat ibu bekerja, nih. Namun, coba diingat-ingat, kita dulu pun sewaktu kecil adakalanya main sendiri, dan itu tidak membuat kita merasa diabaikan oleh ibu kita, kan? (walaupun ini bisa kasuistik, ya, sifatnya). Kalau kata Bu Septi Peni Wulandani, pendiri Ibu Profesional, ibu yang bahagia dengan apa yang dia lakukan akan membuat seisi rumah ikut bahagia, selama tidak ada yang terdzalimi.

Referensi:

6 Ways to Make Time to Write: A Guide for Busy Parents


https://www.workingmother.com/7-ways-even-busy-single-moms-can-find-time-to-blog

#Janganlupabahagia
#Jurnalminggu8
#Materi8
#Kelasulat
#Bundacekatan
#Buncekbatch1
#BuncekIIP
#Institutibuprofesional

6 thoughts on “Jurnal Ulat-ulat 8 Bunda Cekatan: Bekal untuk Buddy

  1. Pingback: Jurnal Ulat-ulat 8 Bunda Cekatan: Mendapatkan Bekal dari Buddy | Leila's Blog

  2. Mbak Leilaaaa, aaah makasih banyak! Iyaa poin poin di atas bener semua. Nomer 3 itu apalagi, meski udah izin mau ngetik adaaa aja Sid nanya atau minta ini-itu. Hehehe ….

    Trus yang ke-6, yes, terus menulis yaa buibu!

  3. Pingback: Kelas Ulat-ulat Buncek Makanan Buddy - @cicifera

  4. Kayaknya saya mesti belajar membiasakan diri nulis sedikit-sedikit berdasarkan waktu. Emang bener ya, kalau sudah berhenti nulis, nanti untuk mulainya lagi butuh usaha lebih besar untuk bisa fokus lagi. Saya termasuk tipe agak perfeksionis ya, harus selesai satu tulisan dalam satu waktu. Bahkan kalau ada bahan tulisan yang belum saya dapat, saya juga bisa menunda menulis :-D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s