Kerajaan Jenggala dan Asal-Usul Kesenian Legendaris

Alhamdulillah hari ini adalah hari kesembilan saya mengikuti program Writober yang merupakan kegiatan tahunan Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional (RBM IP) Jakarta. Sesuai namanya, program ini diselenggarakan setiap bulan Oktober, dengan bentuk tantangan membuat sepuluh tulisan dalam rentang waktu sekitar dua puluh hari. Tulisannya tidak harus benar-benar dibuat sepuluh hari berturut-turut, tetapi urutannya temanya sudah ditentukan. Program ini dari tahun ke tahun sukses memotivasi saya yang pada bulan-bulan “-ber” biasanya memang sedang fokus pada hal lain terutama pekerjaan, untuk tetap rajin mengisi blog.

Hari ini, tema yang seharusnya saya kerjakan adalah “Jenggala”. Kelihatannya cukup sulit memang menggali tema ini. Terbukti hingga tulisan ini mulai dibuat, di Google Sheet yang berisi respons dari Google Form untuk laporan tautan setoran, baru dua orang yang menyelesaikan tulisan tema kesembilan ini. Padahal cukup banyak yang sudah menyetorkan tulisan tema kedelapan dari kemarin-kemarin.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jenggala berarti hutan atau rimba. Diksi ini sepertinya lebih cocok digunakan untuk tulisan bergaya sastrawi, seperti sudah dibuktikan oleh dua teman yang sudah menyelesaikan tantangan kesembilan. Sementara, saya akhir-akhir ini jarang sekali menulis fiksi. Memang, sih, masih bisa dimasukkan dalam penulisan bergaya feature, misalnya. Namun, saya putuskan untuk menceritakan ulang saja perihal penyebutan Jenggala sebagai nama sebuah tempat.

Yang terlintas di benak saya begitu membaca kata “jenggala” di poster Writober adalah nama kerajaan yang ada hubungannya dengan kisah cinta Raden Panji. Saya tidak ingat persis kaitannya apa. sehingga harus membuka-buka dulu referensi yang tersedia di internet.

Romansa Pangeran dan Putri

“Panji” sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Warta Museum Nasional, adalah gelar untuk kesatria laki-laki yang bisa merupakan seorang raja, putra, mahkota, pejabat tinggi kerajaan, kepala daerah, atau pemimpin pasukan. Karena merupakan gelar, maka penyebutan Panji bisa merujuk pada tokoh yang berbeda-beda.

Untuk satu nama Panji yang spesifik pun, bisa jadi terdapat banyak versi. Bahkan seperti dikutip oleh Detik, Perpustakaan Nasional menyimpan tak kurang dari 80 naskah kuno tentang Panji, meskipun ternyata yang menempatkan sang pangeran sebagai tokoh utama hanya separuhnya.

Salah satu kisah Raden Panji yang paling terkenal adalah Panji Asmarabangun. Ceritanya cukup sering dikutip dalam majalah ataupun buku cerita anak-anak.

Panji Asmarabangun adalah seorang pangeran dari Kerajaan Jenggala. Kisah cintanya dengan Putri Galuh Candrakirana atau Dewi Sekartaji dari Kerajaan Daha, Kediri, diibaratkan seperti cerita Romeo dan Juliet karena berliku-liku. Ada pula yang menyebutkan bahwa asal kerajaan mereka justru sebaliknya, alias Panji Asmarabangun dari Kediri sedangkan Putri Candrakirana dari Jenggala, sesuai dengan kedudukan figur nyata yang konon menjadi inspirasi cerita tersebut yaitu Raja Kameçvara dan Permaisuri Çri Kirana. 

East Java province

Alkisah, Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji saling mencintai, tetapi terhalang restu ayahanda. Raja Jenggala bermaksud untuk menjodohkan putrinya dengan lelaki lain. Mengetahui niat ayahnya, Dewi Sekartaji pun melarikan diri dari istana. Kabar perginya Dewi Sekartaji didengar pula oleh Raden Panji yang kemudian bergerak mencari pujaan hatinya. 

Saya nukil dari Indonesia Kaya, Raden Panji kemudian singgah di rumah seorang guru yang menyarankan ia pergi ke barat sambil menyamar sebagai kera. Adapun Dewi Sekartaji ternyata juga dalam pelariannya beristirahat tak jauh dari sana, menyamarkan identitasnya sebagai Endang Rara Tompe.

Kedua insan ini tidak sengaja bertemu dan menjadi akrab. Akhirnya penyamaran pun terbuka, menjadi bukti bahwa namanya jodoh tak akan pergi ke mana. Berbeda dengan Romeo dan Juliet, Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji akhirnya menikah.

Selain dalam bentuk cerita, romansa pasangan ini juga diabadikan lewat tarian Kethek Ogleng. Sesuai dengan namanya, kethek berarti kera dalam bahasa Jawa, jadi tarian tersebut menggambarkan Raden Panji saat masih dalam kondisi menyamar sebagai kera. Kesenian ini awalnya ditarikan oleh masyarakat di Desa Tokawi, Pacitan.

Versi Tragis Kisah Panji dan Candrakirana

Terdapat pula versi lain yang lebih tragis karena melibatkan pertumpahan darah, sebagaimana dimuat dalam laman Wikipedia berbahasa Inggris (yang sepertinya cukup dapat dipertanggungjawabkan karena menyertakan sumber bacaan terkait). Dalam versi ini, Raden Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana justru hendak dijodohkan untuk menjaga ikatan dua kerajaan.

Namun, Panji yang suka mengembara ini pada suatu waktu jatuh cinta pada gadis desa bernama Dewi Anggraeni sampai menikahinya. Marahlah para raja karena dengan demikian berarti perjodohan yang sudah dirancang terancam batal. Panji didesak membatalkan pernikahannya, tetapi ia menolak.

Berhubung batalnya perjodohan ini bisa berarti perang, para tetua kerajaan memutuskan Dewi Anggraeni harus dibunuh melalui tipu muslihat. Setelah mengetahui Dewi Anggraeni telah disingkirkan, Raden Panji sangat tertekan hingga kehilangan akal sehat dan ingatannya. Ia kabur dari istana, berkelana dan membuat kekacauan di mana-mana, meskipun juga menjadi “pahlawan” dengan membasmi para penjahat. 

Putri Candrakirana ternyata tergerak menolong ketika kabar tragedi ini sampai padanya. Dengan menyamar sebagai pria, Putri Candrakirana juga mengembara mencari pangeran yang sempat dijodohkan dengannya itu. Ketika mereka bertemu, terjadilah pertarungan. Dalam prosesnya, Putri Candrakirana berhasil membantu memulihkan ingatan Raden Panji. Konon pula, wajah Putri Candrakirana dengan Dewi Anggraeni amat mirip karena mereka berdua sama-sama titisan Dewi Kamaratih. Raden Panji dan Putri Candrakirana akhirnya menikah dan hidup bahagia.

Asal-Usul Reog Ponorogo

Kerajaan Jenggala juga disebutkan dalam asal-usul kesenian Reog Ponorogo. Dari Liputan6, disebutkan bahwa keberadaan kesenian reog terekam dalam prasasti dari Kerajaan Kanjuruhan (sekarang adalah daerah Malang, Jawa Timur) tertanggal 760 Masehi, juga dalam salah satu prasasti Kerajaan Kediri dan Jenggala dari tahun 1045 Masehi.

Seperti disebutkan di Kompas, Kerajaan Jenggala sendiri merupakan kerajaan Hindu-Buddha pecahan Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Airlangga. Kerajaan Jenggala berdiri tahun 1042 M, setelah Airlangga membagi wilayah kekuasaannya untuk kedua putranya. Ada yang mengatakan bahwa nama Jenggala ini berasal dari pengucapan Ujung Galuh. Sebuah catatan pedagang dari China menyebutkan namanya sebagai Jung-ya-lu.

Ibu kota Kerajaan Jenggala adalah Kahuripan, yang terletak di lembah Gunung Penanggungan, sekitar Sidoarjo, Pasuruan, dan Mojokerto, Jawa Timur. Usia Kerajaan Jenggala sendiri terbilang singkat, sekitar 90 tahun, karena kalah dari Kerajaan Kediri atau Panjalu, kerajaan yang awalnya dipimpin oleh putra Airlangga yang satu lagi.

Apa hubungannya dengan reog? Memang ada beragam versi asal-usul reog ini. Salah satunya seperti diceritakan dalam blog Sasana Widya Guru, dikaitkan dengan perjalanan hidup Raden Panji Kelana, putra Kerajaan Jenggala. Raden Panji yang sedang mengembara kemudian berguru kepada tiga Resi pemimpin Padepokan Bantarangin.

Ketika ketiga resi sudah terlalu tua memimpin Bantarangin, kepemimpinan pun dialihkan kepada Panji Kelana. Padepokan berkembang menjadi Kerajaan Bantarangin. Raden Panji memimpin dengan gelar Raden Panji Kelana Siswa Handana atau Sewandana, yang memiliki arti siswa pemberani. 

Suatu hari, Raja Kediri membuka sayembara untuk mencarikan suami bagi putrinya, Dyah Ayu Sanggalangit. Sang putri mengajukan persyaratan bahwa lelaki yang hendak mempersuntingnya harus membuatkan terowongan bawah tanah dalam waktu semalam, membawakan binatang berkepala dua, dan menciptakan kesenian yang belum pernah ada di tanah Jawa sebagai pengiring pernikahannya nanti. 

Prabu Kelana Sewandana pun mengikuti sayembara. Terowongan sudah berhasil dibuat dengan bantuan kesaktian patih setianya. Dalam perjalanan menuju Kerajaan Kediri, Patih beserta pasukan harus melewati hutan angker Alas Lodaya yang dikuasai oleh Prabu Singa Barong. Prabu Singa Barong ini berwujud manusia berkepala harimau, dengan merak kesayangan yang selalu menyertai untuk membersihkan kutu-kutu di kepalanya.

Pasukan Prabu Singa Barong menghadang pasukan Bantarangin dan berhasil mengalahkannya. Prabu Kelana Sewandana yang mendapatkan kabar kekalahan ini menjadi murka. Berangkatlah ia turun tangan langsung untuk membalas dalam pertarungan satu lawan satu. Dengan senjata andalan Prabu Kelana yaitu Pecut Samandiman, Prabu Singa Barong berhasil ditaklukkan. Ia berjanji akan mengabdi kepada raja yang sudah mengalahkannya tersebut. 

Prabu Singa Barong beserta merak peliharaannya menjadi pelengkap bagi syarat kedua yang disebutkan oleh Dyah Ayu Sanggalangit. Perpaduan kehadiran Singa Barong dengan aneka alat musik atau gamelan yang didatangkan dari Bantarangin menghasilkan kesenian Reog yang kemudian dikenal sebagai Reog Ponorogo. Dengan lengkapnya permintaan sang putri, maka Kelana Sewandana menikah dengan Sanggalangit. 

Ujung kisah ini pun masih ada versi lainnya lagi. Ada yang mengatakan bahwa Putri Sanggalangit akhirnya tidak menikah dengan siapa pun, bahkan bunuh diri. Cerita selengkapnya dari berbagai cabang cerita ini bisa dibaca dalam skripsi ini. Begitulah, Indonesia begitu kaya dengan seni budaya dan cerita. Perbedaan versi cerita adakalanya menjadi bukti bahwa suatu kisah legenda bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, sekaligus bisa saja dibentuk sesuai dengan kepentingan atau tujuan tertentu, termasuk untuk menyampaikan pesan teladan ataupun peringatan.

 
#Writober2021
#RBMIPJakarta
#Jenggala

18 thoughts on “Kerajaan Jenggala dan Asal-Usul Kesenian Legendaris

  1. bener kak, Indonesia memang kaya dengan asal muasal cerita jaman dulu, budaya, seni dan itu menjadi ciri khas yang bisa diceritakan pada turis ketika berwisata ketiap daerah.

  2. Cerita kerajaan zaman dulu memamg selalu menarik untuk dikulik. Selain itu banyak pesan moral juga dalam kisahnya.

  3. Seru sekali ya kalau mempelajari tentang sejarah Indonesia ini karena sangat kaya dan menarik

  4. saya baru tau tentang Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional (RBM IP)

    keren, karena punya program agar membernya naik kelas ya?

    saya juga pasti bingung kalo diberi challenge nulis dengan topik “jenggala”

  5. Whoa jadi belajar sejarah nih, seru bangeet. Ternyata seperti itu ya lika-liku cinta di masa lalu dan nyambung ke Reog Ponorogo, jadi kangen jalan-jalan nih! Takjub sama programnya IIP, kece abis.

  6. Allhamdulillah nambah wawasanku nih mba, kalo ponorogo aku pernah ke sana, liat telaga ngebel indah banget. Reog belum pernah menjumpai langsung sejarah indonesia itu asli keren banget ya mba

  7. Reog ponorogo inilah yang paling fasmiliar ya mba, saya belum pernah baca sejarahnya, berkat artikel mba saya membacanya dan jadi tahu soal sejarahnya

  8. Wah asik ceritanya. Aku baru baca nih menarik dan unik serta mengandung pesan moral dialamnya

  9. Kubaru tahu arti kata Jenggala lo mbak. Memang ikut tantangan menulis tuh manfaatnya banyak ya, jadi belajar kosa kata baru dan memaksa diri untuk menulis 🙂 Btw, ceritanya keren, jadi tahu sejarah lain lagi dari kisah yang ada di bumi nusantara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s