Kata selanjutnya dalam Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta 2024 adalah “mangkus”. Pertama kalinya saya mengetahui istilah ini adalah dari sampul sebuah majalah. Sampai sekarang saya belum berhasil menemukan majalah tersebut, jadi tidak bisa dengan jelas menyebut nama majalahnya. Pokoknya sebuah majalah tentang desain rumah atau arsitektur yang terbit pada tahun 80-an atau 90-an yang dibeli lepasan oleh orang tua saya, tidak berlangganan sebagaimana majalah Ayahbunda saat itu.
Saya sudah mencoba mencari di Google dengan mempertimbangkan bahwa majalah ini mungkin majalah Asri atau Laras, tetapi belum ketemu juga. Pada sampul majalah tersebut, seingat saya, ada tulisan “Sangkil dan Mangkus” yang merupakan judul dari salah satu artikel utama di dalamnya.

Gambaran ruang sangkil dan mangkus yang saya ingat dari majalah yang dulu
Saat itu saya bingung, apa arti dari kedua kata ini? Ternyata sangkil memiliki arti berdaya guna atau efisien, sedangkan mangkus bermakna berhasil guna atau efektif. Hingga kini, kedua kata tersebut sepengetahuan saya masih jarang dipakai. Istilah efektif dan efisien masih jauh lebih familiar digunakan.
Konon, saya kutip dari percakapan di media sosial X dengan Uda Ivan Lanin, kata mangkus berasal dari istilah dalam bahasa Minang yaitu mangkuih yang berarti mujarab. “Mujarab” ini memang muncul juga menjadi salah satu definisi kata mangkus di KBBI.
Sejak tahun 80-an, majalah Tempo sudah mengulas mengenai ini.
Sudah tiga empat kali dalam waktu akhir-akhir ini saya ditanya oleh berbagai orang di berbagai tempat tentang penggunaan istilah mangkus dan sangkil. “Tidakkah itu terlalu dicari-cari? Kenapa harus susah-susah, bukankah sudah ada efektif dan efisien, atau berdaya guna dan berhasil guna?” tanya mereka.
Hingga kini, penggunaannya masih belum kunjung akrab di telinga dan mata. Namun, masih merujuk dari sumber yang sama, mungkin suatu saat nanti kata-kata ini akan menemukan momentumnya. Soalnya, ada juga beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang dulu orang canggung memakainya, tetapi kemudian menjadi populer.
Sebenarnya protes semacam ini sudah lama timbul dalam dunia bahasa kita. Ambillah contoh bagaimana kata anda pada tahun 1957 tidak langsung begitu saja disenangi orang sebagai pengganti you. Juga 30 tahun kemudian orang terkejut pula dengan munculnya istilah pantau dan canggih. Kebetulan saja dua istilah terakhir cepat diserap oleh masyarakat dibandingkan dengan penyerapan anda. Anda masih agak tersendat-sendat penggunaannya. Kata itu lebih banyak dipakai dalam komunikasi searah seperti dalam pidato, iklan, siaran radio dan televisi atau bila lawan bicara tidak berada di hadapan kita.
Lihat, kata “pantau” dan “canggih”, bahkan “Anda” saja dulu terbilang tidak mudah diterima oleh masyarakat. Kenapa, ya, kira-kira? Salah satu kemungkinannya adalah gara-gara bunyi yang dihasilkan saat kata tersebut diucapkan. Uda Ivan Lanin sempat menyebutkan hal ini di blognya.
Untuk membentuk istilah, ada beberapa syarat dalam pemanfaatan kosakata bahasa Indonesia. Syarat-syarat tersebut ialah sebagai berikut. (….) 4. Istilah yang dipilih sedap didengar (eufonik), misalnya efektif lebih sedap daripada mangkus untuk padanan effective.
Dalam buku Pemartabatan Bahasa Indonesia terbitan Uhamka Press tahun 2020 yang ditulis oleh Andi Sukri Syamsuri juga disebutkan mengenai perasaan ini. Di situ dicontohkan antara lain kata efektif mengganti istilah mangkus dan efisien mengganti istilah sangkil, karena terasa lebih enak.
Istilah bahasa Indonesia terkait dengan perasaan, baik perasaan dalam pengucapannya maupun dalam perasaan mendengarkan. Perasaan yang enak didengar dan diucapkan bisa membentuk keterbiasaan pemakaiannya. Dengan demikian, istilah yang sering digunakan (berterima) adalah istilah yang bernilai estetis atau indah didengar/diucapkan.
Sumber lain yang berhasil saya temukan yaitu publikasi Setengah Abad Kiprah Kebahasaan dan Kesastraan Indonesia 1947 — 1997 yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa tahun 1998 menyebutkan bahwa kebiasaan masyarakat turut menentukan diterimanya suatu istilah.
Pemakaian luas suatu istilah yang ditawarkan Pusat Bahasa menentukan keberterimaan dan dengan demikian pembakuan istilah bersangkutan. Istilah seperti plasma nutfah sebagai padanan istilah asing germplasm cepat dapat diterima masyarakat pemakai secara luas. Pada pihak lain, istilah sintasan untuk mengindonesiakan survive masih jarang dipakai orang, karena konsep survive sendiri memang tidak begitu sering dipergunakan orang dalam pembicaraan dan pembahasan sehari-hari.
Sebaliknya istilah hasil guna dan daya guna, atau mangkus dan sangkil, ternyata kurang laku karena sulit dipahami maksudnya dan menimbulkan keragu-raguan, sehingga masyarakat pemakai lebih menyukai bentuk serapannya yaitu efektif dan efisien.
Kembali ke soal popularitas yang tertunda, akankah kata-kata “sangkil” dan “mangkus” ini mendapatkan kesempatan untuk jadi sering dipakai oleh masyarakat? Jika dari kutipan Tempo di atas ada kata “pantau” dan “canggih” yang tak lagi asing digunakan, saya sendiri masih ingat kata-kata seperti “kinerja” yang pada tahun 2000-an mulai muncul dan kata “gawai” yang kini banyak sekali digunakan. Awalnya janggal, lama-lama biasa juga. Yah, siapa tahu nanti “sangkil” dan “mangkus” juga akan menjadi lazim digunakan.
#writober2024
#mangkus
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional

Sertifikat Pemenang Tema Writober 2024 RBM IP Jakarta – Mangkus

Saya juga tidak familier dengan kata Sangkil dan Mangkus ini. Mungkin karena memang jaranng digunakan karena sudah ada padanan atau sinonim kata yang selalu diucapkan dan selalu didengar.
Dan solusinya memang kalau kata Sangkil dan Mangkus mau terkenal, maka harus gencar disebarluaskan, termasuk pada iklan-iklan. Jadi masyarakat semakin mengenal dan lama-lama akan menggunakan dalam percakapan dan tulisan.
Baru dengar kosakata sangkil dan mangkus ini. Mungkin jika kerap digunakan baik orang akan lebih familiar dengan istilah keduanya
Hai Mba Leila ….
Mengunjungi tulisan blog Mba mengenai mangkus dan sangkil ini, jujur saja, aku jadi belajar banyak. Rupanya kedua kata tersebut bisa disandingkan sejajar dengan efektif dan efisien ya. Selama ini memang aku belum pernah menemukan ada yang menuliskan kedua kata tadi, makanya jadi kurang familiar. Namun seperti yang Mba Leila ceritakan, bisa jadi kedua kata ini akan menemukan momentumnya menjadi lebih sering diucapakan, pada suatu waktu nanti seperti penggunaan kata canggih, gawai, atau juga anda.
wah keren sekali mba. selamat ya. aku juga pengen ikut RBM IP. btw, aku jarang dengar kata “mangkus”. pasti jarang dipakai ya
Selalu terjadi tarik menarik dalam proses keberterimaan sebuah “kata baru”.
Seangkatan dengan mangkus dan sangkil, kata “pajanan” yang berarti eksposur juga tak laku.
Bahsa Indonesia itu kaya banget ya, ada juga bahasa serapan dari bahasa lain hingga bahasa gaul yang sudah masuk dalam KBBI, bahasa daerah pun juga ada. Siapa tahu sangkil dan mangkus setelah ini akan muncul dalam KBBI