Writober 4: Perlukah Pakai Tabir Surya Pagi Hari Meski di Rumah Saja?

Seperti sudah sempat saya ceritakan di tulisan sebelumnya, dengan adanya kesempatan untuk lebih banyak berada di rumah saja artinya kita juga bisa lebih leluasa mengaplikasikan produk perawatan kulit. Tanpa keharusan untuk melapisi lagi dengan produk dekoratif (saya pakai bedak hanya kalau mau ada zoom meeting, itu juga seringnya lupa hahaha), rasanya lebih ringan saja di wajah ketika kita hanya mengaplikasikan serum, pelembap, dan/atau toner.
 
Salah satu produk perawatan kulit yang jadi lebih rajin saya pakai meskipun (atau karena?) di rumah saja adalah sunscreen alias tabir surya. Makin ke sini memang makin terasa perlunya melindungi kulit. Apalagi kalau sedang bercermin, wah, “dosa-dosa” tampak semua. Maklum, faktor U.

Continue reading

Writober 3: Meski Tak Mungkin Nihil Tantangan, Jangan Lupa Bahagia, Bu!

Salah satu tips atau bahkan slogan (doktrin?) yang sering saya simak sehubungan dengan menjalankan peran sebagai seorang ibu adalah “jangan lupa bahagia”. Ibu yang bahagia akan lebih ringan melangkah dan menularkan pula kebahagiaan ke anggota keluarga lainnya. Kalau seorang ibu tidak bahagia, sekeluarga pun bisa terkena dampaknya.
 
Hanya saja, pada praktiknya memang untuk bisa merasakan bahagia itu sendiri kadang-kadang menantang. Iya, sih, konon bahagia itu tergantung perspektif kita. Namun, ada saja kondisi yang membuat kita (saya, sih) kesulitan mengatur perspektif. Apalagi dalam masa-masa lebih banyak di rumah saja seperti sekarang.
 
Karena itu, saya dengan antusias menyimak #KelasUsagi “Parenting in Mew Normal, Ibu Tetap Waras dan Anak tetap Bahagia” bersama Usagi Snack pekan lalu, dengan narasumber Mbak Irma Gustiana Andriani, S.Psi, M.Psi, Psi, PGCertPT atau biasa dipanggil dengan Mbak Ayank Irma. 
 
Mbak Ayank mengingatkan, saat ini dunia banyak sekali mengalami perubahan dari segala aspek. Ketika kita tidak mampu menyesuaikan diri, bisa berpotensi stres, termasuk pada anak.
 
 
Tanda stres pada anak: 
  • Rewel
  • Konsentrasi menurun
  • menunjukkan perilaku agresif dan destruktif/merusak
  • melawan atau membantah.
Bisa juga sifatnya psikosomatis:
  • sakit perut
  • sariawan
  • sakit persendian atau otot
  • perubahan selera makan
  • gangguan pola tidur
  • regresi potty training/kembali mengompol pada balita.

Continue reading

Writober 2: Adaptasi Screen Time pada Masa Belajar dari Rumah

Pandemi Covid-19 mengubah banyak aspek dalam kehidupan. Demi mengatasi penularan, sejumlah pembatasan aktivitas pun dilakukan. Tak terkecuali soal sekolah. Hingga kini, banyak sekolah belum mengadakan lagi sesi tatap muka secara langsung untuk kegiatan belajar mengajar. Termasuk sekolah anak-anak saya. 

Agar aktivitas belajar dapat tetap berjalan, pastinya dibutuhkan sarana lain sebagai perantara. Teknologi menjadi pilihan utama di daerah-daerah yang kondisinya memungkinkan. Penggunaan gawai di kalangan anak sekolah pun meningkat, karena dengan alat inilah materi pelajaran sekolah diberikan. Mau tak mau, siswa maupun orang tuanya harus beradaptasi.

Continue reading

Writober 1: Terdampak Langsung oleh Pagebluk

Sekian bulan hanya menjadi pengamat soal pagebluk Covid-19, sambil sesekali menuliskan hal-hal terkait mereka yang terdampak untuk tugas kantor, Agustus lalu saya dan keluarga akhirnya mengalami sendiri, menjadi yang terdampak langsung. Melalui penelusuran kontak erat dari kasus yang sudah ada, saya dan suami menjalani pemeriksaan swab PCR yang hasilnya ternyata positif.

Rekap Writober

Tuntas sudah sepuluh hari Writober Rumah Belajar Menulis (RBM) Ibu Profesional Jakarta saya lalui. Alhamdulillah bisa setor berurutan walaupun dengan waktu yang mepet sekali — hari terakhir saya setor adalah juga hari terakhir penyelenggaraan Writober. Program ini memang sangat menarik, terbukti banyak anggota RBM yang menyatakan senang dengan adanya dorongan untuk menulis sebanyak sepuluh hari dalam jangka waktu total sekitar 21 hari tersebut. Ada yang akhirnya menulis kembali di blog yang sudah lama berdebu karena ditinggalkan, ada juga yang dengan semangat membuat blog baru dari nol dengan segala tantangannya.

Continue reading

Writober 10: Menarik Dua Garis Biru

Kontroversi terhadap film Dua Garis Biru ini justru membuat saya penasaran untuk menonton. Lebih tepatnya, sih, karena sebagian tokoh pendidikan maupun perfilman, juga situs-situs parenting ada yang mengeluarkan pembelaan terhadap film tersebut. Katanya, tonton dulu sebelum menarik kesimpulan dan menghakimi dari trailer saja. Maka berangkatlah saya ke bioskop yang masih menayangkan film ini di luar jam kerja, yang saat itu sudah semakin sedikit pilihannya.

Continue reading

Writober 9: Jelajah Luar Angkasa bersama Iqro: My Universe

Setelah sempat menonton film pertamanya dan saat itu gagal mengajak anak-anak nonton bareng, saya berniat untuk mengajak anak-anak nonton sekuelnya. Alhamdulillah malah bukan cuma dengan anak-anak, kami nonton bareng bersama guru-guru TK Fathia dulu, yang saat itu sebentar lagi juga akan menjadi guru TK Fahira, plus beberapa keluarga siswa lain.

Continue reading

Writober 7: Berbulan-bulan Belajar Mencintai Meski Terhalang Wedding Agreement

Masa awal pernikahan biasanya diistilahkan dengan bulan madu. Ada yang menyengaja pergi berdua saja ke tempat-tempat istimewa, ada pula yang meski tak mengkhususkan diri menyiapkan perjalanan khusus tetapi tetap memandang pekan-pekan pertama sebagai saat-saat terindah. Perubahan status setelah pernikahan disahkan menjadi babak baru dalam kehidupan, ketika segala kebaikan yang dilakukan berdua bisa berbuah pahala.

Continue reading

Writober 6: Mempertanyakan Ekspresi Pretty Boys

Awalnya saya kira film Pretty Boys adalah film komedi semata. Ada pula anggota salah satu grup yang saya ikuti yang langsung mencela begitu masuk kiriman potongan video promosi film ini yang menampilkan Vincent dan Desta dalam dandanan amat feminin. Yah, memang, kalau dalam Islam ada larangan berpakaian atau bergaya menyerupai lawan jenis, ya. Namun, saya memutuskan untuk mencari tahu lebih dulu, film tentang apakah ini? Ekspresi duo kocak ini di poster menimbulkan tanda tanya soalnya. Kenapa muka Vincent seperti datar cenderung ke lelah begitu? Kenapa Desta melakukan gestur membuka mata? “Buka mata” sering digunakan sebagai kiasan untuk membuka juga pikiran, hati, atau wawasan, atau dengan kata lain menjadi peduli. Kepedulian terhadap hal apakah yang diangkat dalam film ini?

Continue reading