Writober 10: Jaga Asa di Tengah Tantangan Pandemi Corona

Festival Literasi Kementerian Keuangan tahun ini diselenggarakan dengan cara yang berbeda dengan sebelumnya. Pandemi memaksa sejumlah penyesuaian dilakukan di berbagai aspek kehidupan, termasuk penyelenggaraan kegiatan. Salah satu yang diundang tahun ini adalah psikolog Tara de Thouars yang menyajikan topik Surviving & Growing during Pandemic.
Bertahan dalam situasi pandemi memang tidak mudah bagi banyak orang. Boro-boro memikirkan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Situasi pandemi ini membuat banyak orang menyadari pula pentingnya kesehatan mental. Mbak Tara yang adalah Psikolog Klinis di RSJ Sanatorium Darmawangsa dan Lighthouse Clinic ini langsung bertanya kepada para peserta mengenai hal-hal sebagai berikut:

Continue reading

Writober 9: Pilih Eksfoliasi dengan Scrub, Perhatikan Titik Keamanannya

Beberapa waktu yang lalu, sambil memesan beberapa botol vitamin untuk stok selama isolasi mandiri, saya melihat ada face scrub St. Ives yang dijual di toko yang sama. Berhubung sering membaca ulasan positif soal produk dari merek ini, saya pun tergoda untuk memesan. Pilihan saya jatuh pada varian Coconut & Coffee. Kalau dipikir, mirip bajigur ya, kopi dikombinasikan dengan santan, hehe.

Pada dasarnya kita memang disarankan untuk memakai eksfoliator agar kulit kita lebih bersih dan tidak kusam. Kulit yang bersih akan lebih “siap” untuk menerima nutrisi dari rangkaian skincare tahap berikutnya, dan ketika memakai make up pun lebih “nempel”.

Eksfoliator ini ada yang sifatnya kimiawi (chemical) maupun fisik. Eksfolian kimiawi biasanya memakai kandungan enzim ataupun acid tertentu (AHA, BHA) untuk membantu pengelupasan kulit. Scrub termasuk eksfoliator jenis fisik, karena titik-titik butiran di dalamnyalah yang bertugas mengangkat sel kulit mati. Selain itu, scrub juga membantu memperlancar aliran dan sirkulasi darah.

Klaimnya, St. Ives Energizing Coconut & Coffee Face Scrub dibuat dengan eksfolian yang 100% alami. Beberapa waktu yang lalu sempat ada bahasan hangat soal pemakaian microbeads alias “manik-manik superkecil” dari plastik pada skincare. Bahannya bisa plastik jenis polypropylene (PP) atau polyethylene (PE). Microbeads plastik ini biasanya dipakai pada produk scrub atau pasta gigi, dengan tujuan membantu menggosok atau mengikis kotoran dan sel kulit mati. Jika sudah selesai dipakai lalu terbuang sampai ke sungai dan lautan, microbeads dapat termakan oleh hewan laut. Kasihan, kan? Amerika Serikat pada tahun 2016 sudah melarang pemakaian microbeads  ini pada produk kecantikan dan toiletries (peraturannya efektif berlaku per Juli 2017). Coba cek deh, apakah skincare kita memakai microbeads?

Continue reading

Writober 8: Mengenal Wastra Indonesia lewat Museum

Pertama kali saya menangkap kata wastra adalah dari majalah femina yang saat itu rutin saya beli. Lebih kurangnya, wastra diartikan sebagai kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri yang mengacu pada dimensi warna, ukuran, dan bahan. Contohnya adalah batik, tenun, dan songket. Mengingat wilayah negeri kita, Indonesia, terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, tak heran ada banyak sekali wastra khas tiap-tiap daerah di nusantara.
 
Beberapa kali saya berkesempatan mengunjungi museum-museum yang secara khusus memajang wastra khas Indonesia. Saya juga baru sadar bahwa ada lebih dari satu Museum Batik maupun Museum Tekstil di Indonesia. Berikut museum-museum terkait wastra yang pernah saya datangi.

Museum Tekstil (Palembang)

SAMSUNG DIGIMAX A403Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya menjalani penugasan di Palembang. Berawal dari ketidaksengajaan ketika angkot yang saya tumpangi mengambil jalan yang berbeda, saya justru menemukan bangunan bergaya kolonial di Jl. Talang Semut. Ternyata itu adalah Museum Tekstil. 

Continue reading

Writober 7: Haruskah Kita Menjadi Wanita Sehalus Sutra Dewangga?

Seindah warna semungil melati
Dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi sejinak merpati
Dikau senandung di cita

Gerak gayamu ringan
Memikat hati muda teruna
Mekar bersinar menyilaukan mata
Halus wanita bak sutra dewangga
Senyummu meruntuhkan mahkota

Kutipan di atas adalah lirik lagu Wanita ciptaan Ismail Marzuki, tembang lawas (1948) yang kembali populer ketika dinyanyikan lagi oleh Afgan dalam rangkaian lagu pengiring film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013).

Continue reading

Writober 6: Pengalaman Menulis Senandika

Akhir tahun kemarin, grup Alumni Kelas Menulis Media Berkarya yang saya ikuti diramaikan dengan ajakan menulis antologi. Saat itu Kelas Menulis Media Berkarya, komunitas yang diinisiasi oleh Mas Ibra Muhammad ini sudah mencapai 20 batch lebih. Saya sendiri baru tahu dan ikut mulai batch 20 dan seterusnya, walaupun ada juga bolong-bolongnya untuk tema yang kurang saya minati.
 
Kelas-kelas via whatsapp yang dikoordinasi oleh Mbak Livia Oktora ini menurut saya sangat keren karena bisa menghadirkan pemateri yang senior seperti Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Jujur Prananto, Sudjiwo Tejo, A. Fuadi, Oka Rusmini, Joko Pinurbo, Maman Suherman, Butet Kertaradjasa, Ratih Kumala, sampai Ivan Lanin. Bergantian tentunya, biasanya setiap batch ada dua pemateri dengan fokus pada jenis tulisan tertentu, dari puisi hingga novel. Harganya juga termasuk terjangkau, apalagi dengan adanya kesempatan mendapatkan komentar atas tugas oleh pemateri.

Writober 5: Atasi Potensi Badai Rumah Tangga Efek Pandemi, Pahami Kebutuhan Pasangan

 
Akhir-akhir ini banyak webinar atau kulwap yang bertema menjaga keharmonisan keluarga pada masa pandemi. Istilahnya, atasi dan cegah badai efek pandemi sebelum merusak ketahanan keluarga kita, termasuk ikatan pernikahan itu sendiri. Memang jadinya lebih menantang ya kondisi seperti ini, ketika nyaris 24 jam harus berkumpul di rumah dan tampak kebiasaan-kebiasaan yang mungkin selama ini hanya ditunjukkan di kantor atau sekolah. Ada pula yang terpengaruh dari segi ekonomi hingga kesusahan memenuhi kebutuhan pokok, atau stres karena tidak bisa lagi piknik. Maka, saya pun banyak belajar dari materi-materi dan diskusi yang diadakan.
 
Salah satunya, beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kulwap Komunitas Ibu Bahagia yang menghadirkan Ibu Kisma Fawzea, S.Psi., atau biasa disapa dengan Bu Zeezee, dengan tema Merawat Cinta dalam Keluarga. Bu Zeezee memiliki usia pernikahan yang beda tipis dengan saya, yaitu 14 tahun, tetapi pengalaman dan ilmu beliau terlihat jelas jauh kalau dibandingkan dengan saya.

Continue reading

Writober 4: Perlukah Pakai Tabir Surya Pagi Hari Meski di Rumah Saja?

Seperti sudah sempat saya ceritakan di tulisan sebelumnya, dengan adanya kesempatan untuk lebih banyak berada di rumah saja artinya kita juga bisa lebih leluasa mengaplikasikan produk perawatan kulit. Tanpa keharusan untuk melapisi lagi dengan produk dekoratif (saya pakai bedak hanya kalau mau ada zoom meeting, itu juga seringnya lupa hahaha), rasanya lebih ringan saja di wajah ketika kita hanya mengaplikasikan serum, pelembap, dan/atau toner.
 
Salah satu produk perawatan kulit yang jadi lebih rajin saya pakai meskipun (atau karena?) di rumah saja adalah sunscreen alias tabir surya. Makin ke sini memang makin terasa perlunya melindungi kulit. Apalagi kalau sedang bercermin, wah, “dosa-dosa” tampak semua. Maklum, faktor U.

Continue reading

Writober 3: Meski Tak Mungkin Nihil Tantangan, Jangan Lupa Bahagia, Bu!

Salah satu tips atau bahkan slogan (doktrin?) yang sering saya simak sehubungan dengan menjalankan peran sebagai seorang ibu adalah “jangan lupa bahagia”. Ibu yang bahagia akan lebih ringan melangkah dan menularkan pula kebahagiaan ke anggota keluarga lainnya. Kalau seorang ibu tidak bahagia, sekeluarga pun bisa terkena dampaknya.
 
Hanya saja, pada praktiknya memang untuk bisa merasakan bahagia itu sendiri kadang-kadang menantang. Iya, sih, konon bahagia itu tergantung perspektif kita. Namun, ada saja kondisi yang membuat kita (saya, sih) kesulitan mengatur perspektif. Apalagi dalam masa-masa lebih banyak di rumah saja seperti sekarang.
Kelas Usagi Ayank Irma

Continue reading

Writober 2: Adaptasi Screen Time pada Masa Belajar dari Rumah

Pandemi Covid-19 mengubah banyak aspek dalam kehidupan. Demi mengatasi penularan, sejumlah pembatasan aktivitas pun dilakukan. Tak terkecuali soal sekolah. Hingga kini, banyak sekolah belum mengadakan lagi sesi tatap muka secara langsung untuk kegiatan belajar mengajar. Termasuk sekolah anak-anak saya. 

Agar aktivitas belajar dapat tetap berjalan, pastinya dibutuhkan sarana lain sebagai perantara. Teknologi menjadi pilihan utama di daerah-daerah yang kondisinya memungkinkan. Penggunaan gawai di kalangan anak sekolah pun meningkat, karena dengan alat inilah materi pelajaran sekolah diberikan. Mau tak mau, siswa maupun orang tuanya harus beradaptasi.

Continue reading

Writober 1: Terdampak Langsung oleh Pagebluk

Sekian bulan hanya menjadi pengamat soal pagebluk Covid-19, sambil sesekali menuliskan hal-hal terkait mereka yang terdampak untuk tugas kantor, Agustus lalu saya dan keluarga akhirnya mengalami sendiri, menjadi yang terdampak langsung. Melalui penelusuran kontak erat dari kasus yang sudah ada, saya dan suami menjalani pemeriksaan swab PCR yang hasilnya ternyata positif.

Continue reading