Untuk Diriku Lima Tahun Lagi

Tahun ini usia saya tepat menginjak angka 35. Semakin mendekati umur 40 tahun, angka yang sering saya baca menjadi semacam titik dimulainya kembali kehidupan. Ada yang mengaitkannya dengan “puber kedua” yang membuat orang berperilaku seperti anak muda lagi, ada pula yang mengingatkan bahwa di umur 40 tahun itulah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai nabi dan rasul, sehingga menunjukkan istimewanya angka tersebut.

Lima tahun lagi, jika Allah SWT berkehendak, saya akan memasuki usia 40 tahun. Apa harapan saya pada usia itu? Akan jadi seperti apa saya pada usia itu?

Continue reading

Aliran Rasa Tahap Ulat-Ulat Bunda Cekatan IIP

Tiga bulan mengikuti Tahap Ulat-Ulat Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional, saya merasa semacam keluar dari zona nyaman. Terbiasa belajar di kelas level-level sebelumnya (Matrikulasi dan Bunda Sayang) yang metode belajarnya menurut saya lebih standar materi-tugas-kerjain, saya lumayan kalang kabut di tahapan kali ini. Dari yang tadinya menanti-nanti kapan Bunda Cekatan dimulai, sampai sempat kepikiran apa mundur saja.

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 8 Bunda Cekatan: Mendapatkan Bekal dari Buddy

Pekan kedelapan ini kami diminta mencari satu buddy. Saya melamar Mbak Helena Mantra karena sesungguhnya saya penasaran bahwa Mbak Helena yang saya kenal sebagai blogger jempolan justru tidak memilih keluarga WeBS – Web, Blog, dan Search Engine Optimization (SEO) maupun literasi sebagai makanannya. Sepertinya, Mbak Helena lebih tertarik mendalami manajemen waktu maupun hal-hal kerumahtanggaan. Mungkin karena Mbak Helena punya prioritas lain yang harus dituntaskan, ya.

Dari aliran rasa yang Mbak Helena sampaikan, saya mencatat sejumlah hal. Pertama, yang paling makjleb, Mbak Helena menyatakan bahwa peta pikirannya kebanyakan berisi hal-hal yang selama ini ia acuhkan padahal penting.

“Saya menghindari hal tersebut karena tidak menyenangkan. Rupanya itu karena saya tidak tahu ilmunya dan memang tidak mencari ilmunya. Maka, di kelas ulat-ulat ini saya mencari makanan tersebut supaya dapat melakukan hal penting itu dengan bahagia,” katanya.

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 8 Bunda Cekatan: Bekal untuk Buddy

Menjadi ibu yang suka menulis acapkali memang menghadirkan tantangan tersendiri. Saya merasakannya, dan ternyata Mbak Helenamantra yang menjadi buddy saya pada tahap akhir Kelas Ulat Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional pun demikian. Maka, saya mengumpulkan sejumlah tips dari sana-sini terkait hal tersebut untuk dijadikan hadiah. Mungkin sebagian besar di antaranya sesungguhnya sudah dijalankan, yah anggap saja sebagai catatan pengingat juga.

Sebagaimana disebutkan oleh salah satu ibu yang menulis tips di bawah ini, kebanyakan tips mengelola waktu untuk bisa menulis itu sepertinya ditujukan untuk mereka yang belum memiliki anak. Bahkan ia mengakui postingan blog lamanya (sebelum punya anak) tentang manajemen waktu tidak sesuai lagi untuk kondisinya sendiri saat ini.

Kalau sudah ada anak, akan ada begitu banyak tugas mulai dari menyiapkan makanan, membersamai saat bermain, menidurkan, hingga mencuci pakaian dan peralatan makanan (belum lagi urusan cuci botol dan perintilannya yang seringnya perlu perlakuan khusus), mengepel tumpahan susu, dst. Itulah saat di mana semua ilmu tentang manajemen waktu yang pernah diketahui rasanya tak berarti lagi.  Mau ibu bekerja di ranah publik seperti saya maupun ibu yang bekerja di ranah domestik seperti Mbak Helena yang menulis dari rumah selain kadang menghadiri kegiatan-kegiatan di luar, sama-sama ada tantangannya. Fokus? Apa itu fokus?

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 6 Bunda Cekatan: Berikan Hadiah

Setelah dari kemarin kami diminta belajar apa yang disukai atau menjadi fokus diri, kali ini tantangan di Kelas Bunda Cekatan adalah memberikan hadiah pada teman yang diajak kenalan pada pekan sebelumnya. Bukan sembarang hadiah, karena di sini kami diminta untuk memberikan makanan favorit teman yang belum tentu kita sukai.

Belum tentu = boleh saja hadiah itu berupa sesuatu yang kita sukai juga. Namun, karena ada kata “belum tentu” itu, saya jadinya tertantang untuk memberikan hadiah dari sesuatu yang tidak begitu saya sukai. Hadiah yang saya siapkan memang tidak sepenuhnya saya “benci”, tetapi terus terang juga bukan hal favorit saya. Bukan hal-hal yang masuk dalam mind map utama saya, meskipun kalau dihubung-hubungkan ya bisa saja ketemu kaitannya. Ketidaksukaan itu tidak sampai menghalangi saya untuk mau belajar kalau memang diberikan kesempatan (apalagi kalau gratis, hehehe), tetapi ya gitu, sudah diajarin oleh masternya pun seringnya belum sukses.

Continue reading

Kafe Sastra, Tempat Nongkrong Bernuansa Pujangga

Sekitar dua tahun yang lalu, setiap pulang kerja, saya selalu melewati Jalan Bunga yang terletak di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Hanya lewat-lewat saja dan seringnya ketika matahari sudah mulai tenggelam, jadi saya tidak terlalu memperhatikan bangunan di sekitar. Setelah tidak lagi melalui rute tersebut, saya justru baru tahu, ada kafe nan cantik di jalur menuju Stasiun Commuter Line Pondok Jati tersebut. Kegiatan Milad Forum Lingkar Pena (FLP) tahun 2019 yang bertempat di aula PT Balai Pustaka (Persero) membawa saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kafe Sastra ini.

Kafe Sastra Balai Pustaka

Continue reading