“Silent Disease” dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Anak

Waktu Fathia bayi dulu alias sekitar 9 tahun yang lalu, saya aktif di beberapa komunitas ASI di Facebook, bahkan sempat bantu-bantu menjadi salah satu adminnya. Namanya ibu-ibu yang punya bayi, selain soal ASI sesuai judul grupnya, yang biasa menjadi topik perbincangan hangat sehari-hari adalah soal tumbuh kembang anak. Terutama soal kenaikan berat badan bayi yang dianggap seret, baik itu penilaian lewat pengamatan mata sendiri, perbandingan dengan anak tetangga atau sepupu yang seusia, pemantauan terhadap kurva pertumbuhan yang ada di buku KIA, atau sudah pernyataan dari dokter yang memeriksa langsung.

Pastinya akan selalu ada anggota grup yang bermaksud baik membesarkan hati si ibu yang bertanya atau curhat dengan menanggapi bahwa “Yang penting sehat, masih aktif dan ceria, kan?”, “Ngapain juga anak harus gendut-gendut”, atau “Anakku juga dulu gitu dan sampai besar sekarang baik-baik saja, kok”. Namun, beberapa anggota grup lainnya akan mengingatkan juga bahwa kita tidak boleh terlena begitu saja sehingga mengabaikan kemungkinan bahwa pertumbuhan anak memang sedang menghadapi kendala. Bisa jadi perlu ada evaluasi bahkan intervensi segera. Di sinilah suka ada yang mengemukakan istilah “silent disease“. 

Continue reading

Mengenalkan Pohon Keluarga kepada Anak

“Ayah, jadi Akung punya adik berapa? Kalau Uti?”

Pertanyaan anak-anak beberapa waktu yang lalu ini ternyata tidak berhasil dijawab dengan jelas oleh suami. Bukan apa-apa, tidak semua paklik dan bulik ia kenal. Keluarga orang tua suami memang cukup besar, hingga bukan hanya urutan, nama pun bisa tertukar. Saya sendiri setelah belasan tahun pernikahan juga masih belum benar-benar hafal mana yang saudara Bapak dan mana yang saudara Ibu mertua (alm). 

Tiap keluarga memang memiliki karakteristiknya masing-masing. Misalnya, ada anggota keluarga yang merantau cukup jauh dan lama hingga para keponakan dan sepupu pun tidak pernah saling bertemu. Jika orang tua tidak sempat atau karena alasan tertentu memang tidak secara aktif mengenalkan pada anak-anak, bisa jadi anak-anak pun tidak mengetahui keberadaan handai taulan ini. Ada juga keluarga yang cukup rajin mendokumentasikan silsilahnya, bahkan anak-anak diberi tahu akan adanya kerabat yang sudah meninggal lama sebelum mereka lahir.

Continue reading

Agar Pembalut Kain Tak Mudah Tembus, Begini Caranya

Pandemi Covid-19 membuat saya lebih banyak berada di rumah, termasuk dalam hal pekerjaan yang ternyata bisa juga sebagian dilakukan secara jarak jauh. Banyak hal baru yang saya mulai kerjakan pada periode bekerja dari rumah ini, atau kebiasaan lama yang dimulai kembali. Salah satunya terkait pengelolaan menstruasi, tepatnya perlengkapan yang digunakan pada hari-hari khusus tersebut. Saya akhirnya mulai kembali menggunakan menstrual cup yang lama menganggur. Selengkapnya mengenai hal ini akan saya tuliskan di blog selanjutnya, ya.

Kali ini saya hendak berfokus pada pemakaian menstrual pads yang jadi lebih konsisten digunakan selama berada di rumah. Jujur, untuk hari-hari awal yang cukup deras flow-nya, saya masih memakai pembalut sekali pakai jika keluar rumah, termasuk ke kantor. Untuk hari-hari setelahnya, barulah saya memilih kembali ke pembalut reusable, dalam hal ini pembalut kain. 

Apa yang menghalangi saya untuk bertekad bulat selalu memakai pembalut kain secara rutin? Salah satunya adalah kemungkinan tembus. Agak merepotkan ketika harus berganti hampir seluruh pakaian kalau sudah tembus begitu, karena saya belakangan sering memakai gamis atau dress panjang ke kantor.

Continue reading

Tantangan PJJ: Tenggang Rasa Soal Suara

Setahun lebih anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh. Sampai saat ini pun ketika sekolah anak-anak mulai mengadakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), kami termasuk yang masih memilih agar mereka belajar dari rumah dulu. Bukan tanpa tantangan, memang. Apalagi sekarang, pada saat saya dan suami sudah lebih banyak mendapatkan tugas masuk kantor.

Baik ketika kami bisa membersamai pada saat kelas daring diadakan maupun tidak, ada persoalan yang belum benar-benar bisa dituntaskan. Seperti kita tahu, tipe belajar orang bisa berbeda-beda. Secara umum, rasanya lingkungan yang hening (kecuali suara guru menjelaskan dan audio dari video pembelajaran, misalnya) dan tenang cenderung jadi pilihan yang mendukung kelancaran belajar. Apalagi jika pembelajarannya bersifat interaktif. Pastinya dibutuhkan konsentrasi penuh untuk bisa menyerap apa yang dipelajari dan menjawab pertanyaan yang mungkin dilontarkan pengajar. Dalam keadaan seperti ini, gangguan suara lainnya bisa menjadi “polusi” yang menyulitkan. Adapun untuk kegiatan belajar yang dilakukan mandiri, ada juga orang yang lebih mudah berkonsentrasi jika ditemani musik, atau sambil bernyanyi sendiri.

Continue reading

Echoist, Kebalikan dari Si Narsis

Bulan lalu saya membuat sebuah tulisan untuk nantinya digabungkan dalam sebuah buku untuk dilombakan di sebuah komunitas. Tema yang diangkat sebagai benang merah tulisan para peserta adalah self love. Sepengetahuan saya, kepedulian terhadap isu perlunya mencintai diri sendiri memang sedang meningkat. Setidaknya sebulan sekali saya dapati ada webinar atau kulwap yang membahas soal ini, atau ada komunitas/platform yang menjadikan self love sebagai “kampanye bulan ini”.

Mbak Analisa Widyaningrum, psikolog yang menjadi narasumber di sebuah webinar yang saya ikuti, menjelaskan bahwa self love adalah keadaan di mana seseorang mampu mengapresiasi diri sendiri baik secara fisik, psikis, dan spiritual. Dengan demikian, seseorang akan “kembali ke dalam diri” dan terkoneksi dengan diri sendiri, mempercayai kekuatan diri sepenuhnya.  Terdapat lima komponen self-love, yaitu self-knowledge, self-acceptance, self-being, self-transcendence, dan self-renewal

Continue reading

Belajar Beragam Topik di Mana dan Kapan Saja di Hexagon City Virtual Conference

Seperti yang sudah saya sampaikan pada posting sebelumnya tentang partisipasi di Hexagon City Virtual Conference, pekan kemarin saya mulai menyimak sejumlah sesi dari teman-teman sesama Hexagonia.

Bukan hanya Hexagonia alias para mahasiswi jenjang Bunda Produktif Institut Ibu Profesional (IIP, atau komunitasnya disebut dengan singkatan IP saja), masyarakat umum pun bisa ikutan menonton bahkan berinteraksi jika memungkinkan. Beberapa platform yang digunakan dan bisa disimak ulang di situ adalah:
Facebook fanpage:
 
YouTube:
 
Instagram:
 
Kalau di Whatsapp atau Telegram, memang diinstruksikan untuk segera dihapus begitu selesai, sesuai ketentuan bahwa tidak diperbolehkan ada grup IP di luar yang sudah ditetapkan.
 
Jadwal selengkapnya bisa dilihat di https://sites.google.com/view/hexagoncityvc2021.

Continue reading

Memasuki Zona Open Space bersama Bunda Produktif

Sudah lama sekali, ya, saya tidak mengisi blog ini. Ada sejumlah tugas dan amanah di dunia nyata yang harus saya jalani, yang cukup melelahkan dan menyita waktu. Salah satunya adalah perkuliahan jenjang Bunda Produktif di Institut Ibu Profesional yang sudah berjalan selama beberapa pekan. Saya memilih untuk menyetorkan tugas dalam bentuk Google Docs alih-alih meneruskan di blog ini karena satu dan lain hal. Namun, kini saya ingin kembali berbagi, khususnya berbagi kebahagiaan.

Tidak terasa, saat ini sampailah kami semua, para Hexagonia atau mahasiswi jenjang ini, di Zona O atau Open Space. Artinya, tidak lama lagi perkuliahan ini juga akan berakhir, karena sudah semakin mendekati huruf N dalam singkatan HEXAGON yang masing-masing hurufnya mewakili setiap tahapan. Meski tinggal sedikit lagi, tetapi belum saatnya berpuas diri. Masih ada tantangan yang menanti di depan sana.

Continue reading

Membangun Hexa House Impian Bersama Bunda Produktif

Akhirnya bulan ini saya memasuki tahapan baru dalam perkuliahan Ibu Profesional, yaitu Bunda Produktif. Sebagai tugas pertama, kami diminta membuat Hexa House.

Berikut adalah desain Hexa House saya. Standar sih, ya, tapi setidaknya memuat ruangan yang saya impikan yaitu perpustakaan dan ruang kerja tersendiri. Ruang kerja dan ruang belajar memang terasa diperlukan saat ini, agar bisa meletakkan peralatan kerja pada tempatnya, tidak seperti sekarang yang memanfaatkan ruang tidur karena keterbatasan tempat. 

Continue reading

Untuk Diriku Lima Tahun Lagi

Tahun ini usia saya tepat menginjak angka 35. Semakin mendekati umur 40 tahun, angka yang sering saya baca menjadi semacam titik dimulainya kembali kehidupan. Ada yang mengaitkannya dengan “puber kedua” yang membuat orang berperilaku seperti anak muda lagi, ada pula yang mengingatkan bahwa di umur 40 tahun itulah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai nabi dan rasul, sehingga menunjukkan istimewanya angka tersebut.

Lima tahun lagi, jika Allah SWT berkehendak, saya akan memasuki usia 40 tahun. Apa harapan saya pada usia itu? Akan jadi seperti apa saya pada usia itu?

Continue reading