Sudah cukup lama saya mengikuti akun Mbak Britania Sari atau Mbak Sari. Aktivitas sosialnya dalam memberdayakan masyarakat dari rumah amat inspiratif. Mbak Sari menggerakkan warga untuk bisa mengonsumsi makanan bergizi yang tak harus mahal, juga membangkitkan kepedulian akan pendidikan. Alhamdulillah Desember lalu kantor saya mengundang Mbak Sari untuk kajian muslimah rutin. Saya langsung mengajukan untuk mewawancarai Mbak Sari guna mengisi rubrik Persona di Majalah Treasury Indonesia. Karena keterbatasan halaman, tulisan hasil wawancara itu akhirnya harus saya pangkas di beberapa bagian. Ini adalah versi lengkapnya yang menurut saya sayang jika dilewatkan.
Britania Sari, Memulai Ketahanan Pangan Masyarakat dari Rumah
Britania Sari (42) tidak menyangka bahwa semangat untuk berkebun akan membawanya bergerak di bidang ketahanan pangan dan edukasi sosial masyarakat. Kisah Sari, begitu ia biasa dipanggil, berawal dari realita yang ditemui di lingkungan terdekat. Sari mulai berkebun pada tahun 2014 sebagai cara untuk mengajarkan putrinya tentang asal-muasal makanan. Kegiatan tersebut ternyata memicu pemikiran baru, apalagi melihat bahwa menanam ternyata merupakan aktivitas yang kompleks. Banyak makhluk hidup terlibat, seperti para serangga yang membantu penyerbukan, juga ada interaksi dengan lingkungan alam.
“Ternyata manusia hidup tidak bisa berdiri sendiri, harus dibantu oleh makhluk hidup yang lainnya.”

Wawancara dengan Mbak Britania Sari
Pada 2020 Sari sekeluarga pindah dari Tangerang ke lingkungan tempat orang tuanya tinggal di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Di situlah Sari menyaksikan langsung bahwa tetangga-tetangganya yang tergolong prasejahtera kesulitan mengakses pangan. Momen Lebaran menjadi titik yang paling menyentak.
“Saya sudah sering membaca bahwa ada masyarakat yang kekurangan, tapi baru ketika itulah melihat langsung bahwa tetangga saya pun mengalami,” ujar Sari. Ia terkejut ketika menu istimewa tetangganya untuk Lebaran hanya tumis kangkung. “Lalu bagaimana dengan makanan mereka sehari-hari?”
Kebetulan, Ibu Sari adalah relawan kesehatan untuk lingkungan sekitar. Dari ibunya, Sari mendapatkan informasi lain yang tak kalah menyayat hati. Ada anak usia 9 tahun di lingkungan mereka yang mengalami gizi buruk parah. Beratnya hanya 8 kilogram dan kesulitan bergerak.
“Kalau ada tetangga yang mengalami kesulitan, tapi kita diam saja, ini seperti sebuah tanda bahwa terjadi ekosistem yang tidak sehat di masyarakat. Kadang ada yang justru memilih untuk julid daripada membantu dan memberdayakan. Maka kita bergerak agar masyarakat lebih berdaya dan mandiri, dimulai dari yang terdekat,” urainya.
Dari Bansos ke Pemberdayaan
Awalnya, gerakan ini berbentuk bantuan sosial (bansos) pangan mentah saat pandemi Covid-19 untuk menolong keluarga marginal. Namun, memasuki tahun kedua, Sari menyadari bahwa dampaknya tidak berkelanjutan. Jika programnya berhenti, masyarakat tetap tidak bisa makan.
“Saya sampaikan ke suami, kita harus ubah strategi,” katanya. “Kita harus memberdayakan mereka, berbagi ilmu ke mereka, lalu mereka praktikkan sambil kita dampingi.”
Sesuai dengan apa yang sudah ia pelajari, pencegahan stunting harus dilakukan pada rentang waktu usia 0 hingga 1000 hari pertama, sehingga intervensi perlu dimulai sejak ibu mengandung. Sari pun mendata ibu hamil di sekitar. Ibu-ibu ini kemudian diberi bantuan pangan sehat, didorong untuk memeriksakan kehamilan secara rutin ke bidan atau dokter, didampingi agar ketika melahirkan dibantu oleh tenaga kesehatan (alih-alih paraji), dan terus disuplai makanan sehat sampai anak berusia dua tahun. Pendampingan ini juga sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi pangan, termasuk bagaimana membuat makanan sehat untuk sekeluarga.
“Ketika kami membagikan jamur tiram, 95% penerima menjawab akan memasaknya menjadi jamur krispi. Artinya ada keterbatasan informasi mengolah pangan sehat, karena memang mereka tidak punya aksesnya. Padahal bisa dimasak tumis, pepes, atau lainnya.”

Materi berkebun dari Mbak Britania Sari
Bahan makanan yang dibagikan ini sebagian dibeli dari penjual di pasar lokal, sebagian lagi dipanen dari lahan yang dikelola oleh warga juga. Sari bersama dengan suaminya, Stephanus Iqbal, memberikan pelatihan berkebun, beternak ayam, dan mengompos kepada beberapa tetangga yang sudah dipilih agar program ini berkelanjutan.
Sehatkan Lingkungan, Sehatkan Warga
Filosofi yang ia gunakan saat berupaya menggerakkan warga ini rupanya selaras pula dengan etos berkebunnya: fokus utama bukan pada tanaman yang “mulus” atau “sempurna”, melainkan pada menyehatkan tanah. Sari ingin menyehatkan “tanah” komunitas agar dapat menghasilkan buah secara mandiri. Dua tahun terakhir ini, Sari juga menjalankan program anak asuh.
“Salah satu penyebab kemiskinan itu adalah pendidikan yang rendah. Anak-anak perempuan ada yang putus sekolah, kemudian menikah dini dan punya anak di usia sangat muda sehingga ada potensi masalah kesehatan. Hal ini rawan menjadi siklus yang terus berputar. Sekolah negeri memang gratis, tapi masih ada ongkos transportasi yang makin tinggi jenjangnya juga makin jauh jarak sekolahnya, lalu uang kas, dan lainnya.” Maka lahirlah program anak asuh untuk membantu menutup ongkos-ongkos tadi.
Anak-anak asuh yang sudah diseleksi akan datang ke rumah Sari setiap pekannya untuk mengambil “beasiswa” ini. Di sana mereka sekaligus mendapatkan pendidikan life skill. Sari rupanya juga mengamati bahwa terjadi fenomena orang tua yang tidak mengajarkan anak-anak mengurus kebutuhan rumah, bahkan keperluan pribadi, dengan alasan supaya fokus belajar. Akibatnya, banyak remaja yang tidak mandiri dan kurang berinisiatif.
Di tempat Sari, anak-anak asuh dibimbing untuk mencuci, memasak, dan berkebun. Wawasan anak-anak pun ikut terbuka melalui interaksi dengan tamu-tamu yang berkunjung untuk belajar mengenai berkebun dan pemberdayaan masyarakat, yang bahkan datang dari negara lain seperti Prancis dan Inggris. Ada juga teman-teman Sari yang diundang untuk berbagi ilmu dan pengalaman, misalnya di bidang bahasa.
“Seperti yang pernah saya dengar lewat Bu Karlina Supelli, ad maiora natus sum. Kita lahir untuk sesuatu yang lebih besar. Atau, dalam perspektif Islam, kita ini lahir untuk menjadi khalifah dan membawa rahmat bagi orang-orang di sekeliling. Sebagai orang yang mendapatkan pendidikan dan bisa mengakses informasi dengan mudah, tugas kita adalah mengembalikan atau mengantarkan ilmu itu lagi kepada orang yang tidak seberuntung kita,” kata lulusan Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Negeri Jakarta ini.
Terus Bergerak Memperluas Manfaat
Pada awal 2024 Sari memperluas jangkauan penerima manfaat lewat keterlibatan di program pos pelayanan terpadu (posyandu). Ia mengamati bahwa makanan yang diberikan saat kegiatan posyandu belum semuanya sehat. Karenanya, ia mengusulkan untuk membuat kebun posyandu. Lahan di depan posyandu ditanami tanaman pangan. Harapannya, nantinya program ini bisa meningkat dari Ketahanan Pangan (mendapat pangan dari mana saja) menuju Kedaulatan Pangan (mampu memenuhi pangan sendiri).
“Jadi paket yang dibagikan bisa berisi sayuran dari kebun posyandu, lalu kami beli tahu tempe dari pedagang sekitar, buah yang sedang musim dari pekebun lokal, ditambah protein hewani dari peternak sekitar juga. Makan tidak asal kenyang, tetapi bisa makan kenyang sekaligus bergizi.”
Kebun-kebun seperti ini juga dibuatkan untuk beberapa keluarga prasejahtera agar membantu memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Secara berkala dilakukan kunjungan untuk memantau kebun sekaligus mendengarkan cerita warga mengenai kendala yang dihadapi, untuk kemudian dapat dicarikan solusinya jika memungkinkan.
Juli tahun ini Sari pindah ke Klaten, Jawa Tengah, dengan salah satu tujuannya mendampingi desa binaan kedua. Di sana sudah ada Kelompok Wanita Tani (KWT), anak asuh, dan posyandu. Program di Parung Panjang tetap berjalan dengan pendampingan para relawan lokal.
“Ada tim kebun, tim anak asuh, tim fasilitator lainnya yang selama enam bulan sebelum saya pindah sudah mendapatkan mentoring untuk menjaga keberlanjutan program,” ungkapnya.
Bagi mereka yang ingin memulai kontribusi kepada masyarakat dalam bentuk apa pun, Sari berpesan untuk menyiapkan dari apa yang kita miliki dulu.
“Misalnya kita punya kemampuan berkebun, mulai saja dulu dari situ untuk berbagi. Kemudian, terus perkaya diri kita dengan ilmu, agar kita bisa meneruskan kepada orang lain. Juga jangan berorientasi pada jumlah atau kuantitas. Ajak dulu mereka yang mau bergerak, karena memaksa-maksa orang yang tidak mau juga berpotensi menguras energi kita. Siapkan hati dan buka mata kita akan hal-hal yang mungkin dihadapi,” pesannya.
================================================================================
Oya, ini rekaman dari acara pada waktu itu. Siapa tahu ada yang berminat menyimak. Di sini, Mbak Sari lebih banyak bercerita tentang ketahanan pangan keluarga dan hakikat dari kegiatan menanam di rumah.

Salut dengan semangat dan dedikasi bu Sari untuk memberikan motivasi dan ilmu kepada warga sekitar agar bisa mencukupi sebagian kebutuhan dari rumah. Pengetahuan berkebun, mengompos sangat penting dimiliki setiap rumah tangga agar ketahanan pangan level keluarga bisa tercapai. Artikel yang sungguh bermanfaat. Salam hangat kak Leila.
Topiknya penting banget, apalagi di kondisi sekarang. Aku suka bagaimana Kak Leila membawanya dari skala rumah tangga dulu—realistis dan aplikatif. Kadang perubahan besar memang dimulai dari dapur sendiri.
Selalu suka kalo ada siapapun yang mau mendedikasikan dirinya untuk orang lain, apalagi memberdayakan masyarakat, karena untuk itu butuh energi dan keikhlasan. Semoga Mbak Britania Sari terus sehat dan terus bisa memberdayakan masyarakat sekitar biar energinya menular.
Luar biasa ini sosok perempuan ya. Sangat inspiratif dengan gagasannya. Sederhana tapi dalam. Karena sejatinya memang semua berawal dari rumah ya bukan urusan budi pekerti lagi tapi juga kebutuhan dasar kita sebagai manusia yaitu makan. Duh benar kata kajian kalau merasa cukup Allah akan lebih cukupkan ya, bukan masalah lagi urusan mahal dan murah. Yang penting ada dan cukup dan bisa kita bagi pula misal hasil kebun /tanaman kita. Great!
seru kalo ada mentoring, semoga lancar belajarnya yaa 😀
salut dengan dedikasi Ibu Sari. Gak pelit dengan ilmu yang dipunya. sangat menginspirasi para ibu-ibu muda.
Keren banget, Mbak Britania Sari ini
Aku kalau lihat orang-orang yang tergerak buat ketahanan pangan rumah sendiri tuh salut banget. Ini malah bagi-bagi ilmunya biar masyarakat juga berdaya. Jadi memang tidak ngandelin pasar aja, tapi pakai apa yang ada di sekitar kita. Lebih bagus kalau menghasilkan juga ya
Luar biasa sosok Britania Sari yang diulas di sini. Memang di masa sekarang, kemandirian pangan bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Membaca ini jadi makin semangat buat coba menanam atau mengelola pangan sendiri di rumah. Ya paling tidak dimulai untuk diri sendiri dulu. Semoga kemudian bisa mengajak orang sekitar untuk berdaya memulai ketahanan pangan
Kebayang, ya, yang di Parung Panjang aja yang notabenenya nggak jauh-jauh amat dari pusat pemerintahan kondisi masyarakatnya ada yang sedemikian sulitnya bahkan untuk makan. Gimana dengan daerah di pelosok yang nggak terjangkau bantuan… 😥 Banyak banget PR negara ini..
Salut bangetsama dedikasi Mba Britania Sari dalam menyebarkan soal ketahanan pangan.. Jujur, aku sendiri pun belum sampai ke tahap itu. Tapi kalo lihat kondisi dunia, kelihatannya mesti mulai dari sekarang. Atau kalau nggak bisa2 kita ngalamin kesulitan juga..
Wah di Parung Panjang berarti deket rumahku nih mbak. Cuma aku gak tahu nih lokasi tepatnya.
Keren banget pindah ke sana langsung bawa dampak buat masyarakat ya. Nggak cuma ngajarin ilmu nanem jamur dll, tapi juga peduli pada anak2 khususnya perempuan, supaya punya life skill.
Sangat menginspirasi sekali ibu Sari ini. Tidak semua orang bisa tetap semangat memajukan masyarakatnya di tengah kesulitan dan tantangan yang dihadapinya.
Senangnya bisa membaca lebih banyak tentang beliau di sini. Selama ini follow IGnya saja, dan selalu salut dengan berbagai inovasinya. Bagaimana effortnya memastikan pemenuhan makanan bergizi, sampai mikir…bisa gak sih Mbak Britania saja yang ngurusin apa sih MBG-MBGan ini
wahhh sudah pindah ke klaten ya…deket nie dari solo..smg nanti ada kesempatan buat berkunjung sekaligus menimba ilmu tentang berkebun..ingin suatu saat nanti juga punya kebun sendiri yang bisa berdaya guna minimal utk kebutuhan pribadi aja dulu..karena sptnya mudah tapi dalam prakteknya kadang tdk semudah yg dibayangka hehe
MasyaAllah luar biasa dedikasinya, mulai dulu dari yang bisa dilakukan kemudian berbagi dari yang dan begitu seterusnya. Luar biasa apalagi dari yang tidak bisa hingga akhirnya menjadi berdaya. Menginspirasi dekali mbak Sari ini
“Ternyata manusia hidup tidak bisa berdiri sendiri, harus dibantu oleh makhluk hidup yang lainnya.”. Sepakat banget dengan kutipan Ibunya. Keren sih beliau tidak hanya peduli diri sendiri, tapi juga sekitarnya.
jadi keinget sama adikku yang ambil jurusan kuliah perkebunan. Mungkin karena dia terbiasa dari kecil di ajak ke kebun jadi kayak punya minat di dunia tanam menanam.
Seneng banget liat mba Sari bisa berbagi dengan warga sekitar dan masih banyak di lingkungan sekitar kita yang mana mereka asal bikin masakan tanpa memperhatikan kandungannya. Ini juga yang bisa menyebabkan angka penderita stunting makin meningkat, karena minimnya ilmu kesehatan pangan
Masyaallah menginpirasi sekali ya. keren Bu Sari. aku juga follow beliau di ig. selain Peduli Lingkungan juga Peduli kesehatan warga. apalagi sudah memikirkan pencegahan stunting. keren