Pilihan Reusable Straw untuk Cintai Bumi

Sempat mengikuti dong ya berita tentang paus mati yang terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, November 2018 lalu? Di dalam perut mamalia laut sepanjang 9,5 meter itu ditemukan 5,9 kg sampah plastik! Biota laut menjadi pihak yang paling dirugikan ketika sampah terbawa ke habitat mereka. Sebagian hewan terjerat dalam belitan tali plastik hingga tidak bisa ke mana-mana dan berakhir mengenaskan, ada pula yang tidak sengaja memakannya karena aroma atau bentuk sampah tersebut mirip dengan apa yang biasa ia terjemahkan melalui indranya sebagai makanan. Atau mungkin ada yang pernah menonton video tentang seekor penyu di lepas pantai Costa Rica yang ditemukan dalam keadaan sebatang sedotan menancap di lubang hidungnya?

Banyaknya sampah plastik kian hari memang kian mengkhawatirkan. Bahan plastik sulit terurai sehingga membuat sampah jenis ini terus bertumpuk sebelum yang lama sempat hancur. Kalaupun hancur, malah bisa menjadi mikropastik yang bisa masuk ke air yang kita konsumsi tanpa disadari, saking mungilnya.

Sedotan yang sudah tidak terpakai merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar. Negara Inggris misalnya, diperkirakan membuang sampah sedotan hingga sebanyak 8,5 miliar batang per tahunnya. Sedangkan di Amerika, hampir 500 juta sedotan plastik dipakai setiap harinya. Praktis sih memang, ya, peralatan plastik ini. Setelah dipakai bisa langsung dibuang, tanpa perlu dicuci dan tidak makan tempat untuk penyimpanannya.

Ketika kita belum sepenuhnya bisa menghindarkan diri dari pemakaian plastik yang memudahkan hidup kita itu, setidaknya yuk berpartisipasi mengurangi apa yang kita pakai. Soal sedotan ini, misalnya.

Sebuah jaringan supermarket besar dari Australia telah berkomitmen tidak lagi menjual sedotan plastik. Sejumlah restoran makanan cepat saji maupun cafe di pusatnya maupun di gerai waralabanya di Indonesia kini sudah mengumumkan kebijakan mereka untuk tidak menyediakan sedotan lagi. Pemerintah Provinsi Bali pun tahun lalu bertindak menerbitkan peraturan yang melarang pemakaian beberapa produk styrofoam dan plastik, termasuk sedotan, di wilayahnya.

Sebetulnya sih, minum tidak harus pakai sedotan, ya. Kalau kita bisa sekalian tidak memakainya, itu lebih baik. Refuse kan merupakan tingkatan paling awal dari hierarki 5R, selanjutnya adalah reduce alias mengurangi pemakaian (ada beberapa versi memang, tetapi ini selengkapnya salah satu yang paling populer: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot). Hanya saja, bagi beberapa orang, sedotan punya manfaat tersendiri. Di antaranya:

  • Mereka yang giginya sensitif akan terbantu dengan sedotan yang membuat cairan dengan suhu atau keasaman tertentu tidak perlu terlalu banyak melewati rongga mulut.
  • Minuman berwarna tertentu berpotensi membuat gigi ternoda, jadi sedotan menolong dalam mengurangi kesempatan cairan melewati gigi.
  • Bagi anak-anak dan lansia yang kondisinya sudah melemah, atau yang menyandang kondisi medis khusus, sedotan membantu mereka untuk meminimalkan kemungkinan tumpah-tumpah saat minum.
  • Sedotan juga memungkinkan kita menghabiskan minuman ketika tinggal sedikit tanpa perlu mendongakkan kepala, atau ketika memang cairannya kalah volume dengan isi gelas lainnya (jadi pengin es teler, kan…).
  • Jika wadah minumnya berupa botol tinggi, menenggak langsung dari botol tuh bagi sebagian kalangan masih kelihatan kurang sopan.
  • Kalau lagi minum es kelapa muda langsung dari buahnya, pakai sendok agak kelamaan, deh. Mau diteguk dari kelapanya juga gimana gitu kan, beda dengan kalau pakai gelas.
  • Ada juga yang beralasan sudah biasa saja sih, merasa kurang afdol kalau menikmati minuman kesukaan tanpa sedotan.

Mengingat kebutuhan tersebut, sejumlah alternatif pun muncul. Ada sedotan kertas yang diharapkan lebih mudah terurai, tetapi bahannya yang ringkih membuat sedotan kertas gampang lembek dan sobek jika terlalu lama terendam cairan. Ada sedotan dengan bahan serupa plastik yang disebut-sebut biodegradable alias diharapkan lebih mudah terurai setelah dibuang. Namun, untuk hal ini ada pula pakar yang kontra, seperti Mark Hilton dari Eunomia. Dikatakan, penguraian bahan ‘biodegradable‘ yang ini di alam, termasuk di tanah ataupun di lautan, tidak semudah itu dan malah berisiko menghasilkan gas metan yang berkontribusi ke efek rumah kaca bagi bumi kita.

Pilihan lain yang bisa kita ambil adalah masuk ke R berikutnya: Reuse. Jadi, kita bisa menggunakan sedotan pakai-ulang alias reusable straw. Karena sifatnya yang dapat digunakan kembali dan mudah dibawa ke mana-mana, kita dapat mengurangi ketergantungan pada sedotan disposable. Kini makin banyak yang menjual sedotan ramah lingkungan ini, termasuk di online shop. Beberapa kegiatan komunitas juga saya lihat menjadikan sedotan yang tidak sekali pakai ini sebagai suvenir.

Continue reading

Tere Liye: Penulis Itu Harus Keras Kepala!

Melihat pengumuman bahwa Tere Liye akan mengisi Bincang Buku di Gramedia Matraman tanggal 23 Desember, tentu saya senang sekali. Sebelumnya saya memang sudah pernah bertemu dengan bang Darwis, begitulah nama asli Tere Liye, di Islamic Book Fair entah tahun berapa (sebelum Fahira lahir sepertinya). Malahan waktu itu sesi book signing bukunya yang dilakukan di stand Republika tergolong agak sepi, sehingga para penggemarnya, termasuk saya, bisa sambil mengobrol santai sejenak saat buku ditandatangani.

Namun saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengarkan kembali cerita bang Tere secara langsung. Sekian tahun berlalu, pastilah banyak perkembangan yang terjadi. Misalnya, kenapa lantas menulis untuk segmen remaja? Mengapa seri Anak-anak Mamak dikemas ulang dengan judul baru? Bagaimana proses menulis dengan co-author yang diterapkannya untuk beberapa buku? Apa kabar protesnya terhadap pajak penulis tempo hari?

Sebagian pertanyaan di atas terjawab dalam sesi bincang-bincang hangat sore itu. Tanpa pengantar moderator ataupun MC, bang Tere langsung menguraikan banyak hal. Di sebelahnya, salah satu co-author-nya, yaitu abangnya yang bernama Sarippudin mendampingi walaupun tidak terlalu banyak menimpali.

Kenapa Tere Liye menulis? Bang Darwis sebenarnya adalah lulusan Akuntansi FEUI, bahkan pernah berpartisipasi dalam penyusunan sejumlah PSAK. “Boleh jadi menulis adalah salah satu jalan hidup saya untuk berkontribusi bagi orang lain,” akunya.

Continue reading

Siapkan Peran Hidup Anak lewat Mekanisme Magang

Sudah setahun saya absen ikut Kajian Majelis Dhuha Keluarga (MDK) di Masjid Al Iman, Cipinang Elok. Sudah beberapa tahun ini, setiap bulan, MDK mengundang narasumber yang biasanya akan mengangkat bahasan dengan dikaitkan pada Fitrah Based Education yang dikonsep oleh Ustadz Harry Santosa. MDK terakhir yang saya ikuti adalah kajian penutup tahun 2017 yang diisi oleh Ustadz Harry sendiri.

Baca juga: Raise Our Children, Raise Yourself

Tanggal 16 Desember lalu akhirnya saya bisa hadir lagi. Kali ini, MDK mengundang bu Diena Syarifa, penggiat Talents Mapping yang lebih spesifik lagi telah merancang sistem magang sebagai sarana anak-anak belajar. Ibu Diena juga merupakan pemilik ABHome, sebuah SMA homeschooling berbasis project di Bogor.

Saya teringat sewaktu kami sekeluarga mengunjungi sebuah tempat bermain yang mengedepankan peran pekerjaan beberapa waktu yang lalu. Melihat aktivitas yang dimainkan anak-anak di sana, suami saya mengerutkan kening. Katanya, sebetulnya cara yang seperti ini masih kurang cocok baginya kalau dibilang sebagai cara mengenalkan konsep bekerja. Suami memang sejak kecil juga sudah membantu orangtuanya berjualan, sehingga melihat ada bedanya antara konsep penghasilan yang diterapkan di wahana bermain tersebut dengan di dunia nyata (meskipun kalau saya sendiri memandangnya ya asyik-asyik saja, kok). Konsep magang ini nampaknya lebih realistis dan terarah, meski tentunya orang tua jadi perlu lebih perlu usaha mempersiapkan, ya. Enaknya sih kalau sudah ada yang mengoordinasi, hehehe. Di grup MDK misalnya, sempat ada pengumuman program magang bagi anak-anak usia belasan tahun untuk mengisi liburan akhir tahun.

Sesuai dengan konsep Talents Mapping, setiap anak memiliki bakat atau bisa dibilang sebagai potensi dan passion yang produktif. Jika dijaga dengan baik, bakat ini bisa mengarahkan ke karier anak kelak (termasuk sebagai wirausahawan ya, bukan hanya kantoran). Kalau unsur 4E (enjoy, easy, excellent, dan earn) sudah terpenuhi, akan menyenangkan kan bisa memperoleh rezeki dengan menekuni hal yang memang disukai? Bukan hanya yang menghasilkan materi sih sebenarnya, melainkan apa pun peran hidup anak di masa depan.

Nah, magang di tempat usaha atau kantor yang sebenarnya ini bisa menjadi sarana mengamati bakat anak, sekaligus sedikit-sedikit mengenalkan budaya kerja. Anak akan kenal sosok, kenal konsep, sekaligus kenal diri. Bu Diena menjelaskan, magang dimulai di usia 10 tahun karena di usia inilah kalau berdasarkan Fitrah Based Education anak mulai bisa ‘dilepas’ untuk mengenal dunia luar, mudah mengerti untuk menjaga diri, bisa ke toilet sendiri, tidak takut bertanya, bisa membantu, sehingga tidak malah mengganggu pekerjaan di tempatnya magang. Jadi anak diharapkan sudah taat adab, dan magang inilah saatnya ‘menguji’ adab anak.

Continue reading

Ingin Family Movie Time Tambah Asyik? Perhatikan Ini, Yuk… 

Momen pergantian tahun identik dengan dirilisnya sejumlah film keluarga. Mengingat anak-anak juga sedang libur semester, pergi ke bioskop bisa menjadi salah satu pilihan mengisi waktu mereka. Namun sebelum mengajak anak-anak nonton film, yuk selalu cermati dos & don’ts-nya. Jangan sampai kegiatan nonton bareng sekeluarga justru berujung ketidaknyamanan baik di sisi kita maupun penonton lain.

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sesi #TUMLuncheon “Family Movie Time” yang diadakan oleh The Urban Mama di Kopi Kotaku, Jakarta Selatan. Di sini, teh Ninit Yunita, founder TUM yang memiliki dua anak lelaki dan sering mengajak mereka menonton, berbagi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, cek durasi film, kalau terlalu panjang berpotensi anak bosan. Persiapan lewat sounding ke anak sebelum menonton menjadi penting, karena jika belum pernah, anak mungkin akan kaget dengan lampu yang digelapkan dan audio yang keras.

Orang tua juga bisa mencari tahu dulu sinopsis dan rating film yang hendak ditonton. Sempatkan untuk nonton trailer filmnya terlebih dahulu agar ada gambaran, pertama sendirian, berikutnya bersama anak jika sudah dirasa cocok. Jelaskan juga bahwa apa pun yang terjadi di layar adalah akting, dibumbui efek dari make-up maupun visual effects, alias tidak real.

Continue reading

Meriah Kontemplatif Milad Keempat Blogger Muslimah

Tahun ini Komunitas Blogger Muslimah telah genap berusia empat tahun. Saya sendiri baru tergabung di komunitas ini selama kira-kira setahun setengah. Dalam rangka menyambut miladnya tahun ini, Blogger Muslimah menyelenggarakan acara sharing session dengan tema Menuju Hijrah Kaffah. Tentu saja saya tak mau ketinggalan mendaftarkan diri. Apalagi lokasinya sudah familiar, yaitu Nutrifood Inspiring Center. Di tempat inilah saya untuk pertama kalinya mengikuti gelaran kegiatan Blogger Muslimah Agustus tahun 2017.

Baca juga: Blogger Muslimah Meet Up, Belajar Agar Lebih Cerdas dan Cantik

Poster Milad Blogger Muslimah Ke-4

Continue reading

Bebaskan Nafas si Kecil, Kembalikan Cerianya

Sejak anak-anak masih bayi sampai sekarang, kami tidak pernah meminumkan obat saat mereka batuk pilek. Kecuali madu ya, setelah mereka berusia lebih dari satu tahun. Bukan karena kami takut minum obat, antiobat kimia atau sejenisnya, melainkan karena batuk pilek biasa pada anak kan penyebabnya adalah virus. Ini juga didukung oleh dokter keluarga kami yang rajin ajakin baca-baca referensi tepercaya tentang penyakit-penyakit anak. Jadi in sya Allah akan sembuh dengan meningkatnya daya tahan tubuh.

Karena pada dasarnya akan ‘sembuh sendiri’, obat batuk pilek yang beredar di pasaran fungsinya adalah mengurangi gejala yang timbul. Iya, hidung meler, tersumbat, batuk, itu kan reaksi atas virus yang masuk, yang maksudnya justru mau membuang virus itu keluar.

Namun tidak memberikan obat bukan berarti lalu dibiarkan saja, ya… Ini pandangan yang salah kaprah juga. Tentunya kami melakukan hal-hal yang diperlukan seperti menjaga asupan cairan, mengingatkan untuk istirahat, mengajak anak-anak rajin cuci tangan, mengajari cara bersin dan batuk yang benar, memakai masker khususnya bagi orang dewasa yang batuk pilek di rumah agar kumannya tidak menyebar, juga memantau tanda kegawatdaruratan yang mungkin muncul. Untuk menyamankan anak, kadang kami gunakan balsem yang bisa membantu melegakan pernapasan. Pastinya pilih produk yang aman, dong.

Continue reading