Membuka Topeng, Menyembuhkan Jiwa bersama dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ.

Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, Perpustakaan Kementerian Keuangan (KemenkeuLib) menggelar Bincang Literasi bertajuk “Membuka Topeng, Menyembuhkan Jiwa”. Acara ini menghadirkan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ (psikiater dan penulis buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero) serta dipandu oleh Nesya Aulia Rahman sebagai moderator.

Buku tersebut ditulis dr. Andreas sebagai dokter jiwa berangkat dari pengamatan terhadap fenomena “merasa memakai topeng” yang sering diceritakan oleh para pasiennya. Dokter Andreas menyampaikan bahwa setiap orang dewasa hari ini adalah anak-anak yang tumbuh berhadapan dengan perjalanan waktu. Di balik topeng ketegaran orang dewasa, bisa jadi diri kita sebenarnya adalah seorang anak kecil yang ketakutan dan rindu ingin kembali ke masa kecil.

Talk Show Kesehatan Jiwa dengan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ.

Talk Show Kesehatan Jiwa dengan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ.

Memakai Topeng = Palsu?

Banyak orang dewasa merasa bersalah ketika harus tampil tegar atau profesional, seolah-olah sedang menyembunyikan jati diri asli. Memakai topeng sering diidentikkan secara keliru dengan sesuatu yang palsu. Sebagai manusia, kita memang memiliki berbagai persona sesuai dengan peran sosial yang sedang dijalani. Dokter Andreas sendiri, misalnya, berganti topeng sesuai perannya, bisa sebagai psikiater, pembicara, hingga seorang suami.

“Sejak kapan kita menganggap pakai topeng itu sama dengan palsu? Persona itu adalah topeng sosial, suatu peran sosial atau kostum yang kita mainkan. Kalau ditanya, Andreas yang asli yang mana? Semuanya asli,” kata pemilik akun Instagram @dr.ndreamon ini.

Lantas, kapan masalah timbul dari penggunaan topeng ini?

  • Tidak menyadari topeng apa yang sedang kita pakai.
  • Memakai topeng yang sama di semua situasi.
  • Memakai topeng tegar (superhero) secara terus-menerus hingga kelelahan.

Meskipun tidak ada aturan pasti kapan sebuah topeng sebaiknya dipakai, kita perlu mengenali momen-momen saat tubuh atau emosi mulai merasa tidak nyaman. Saat berada di rumah sendirian adalah waktu terbaik untuk melepaskan seluruh topeng, misalnya di tengah aktivitas berdoa, menulis, membaca buku, maupun momen me time lainnya untuk mengenali kembali siapa diri kita.

Berbuat Baik pada Diri Sendiri

Ketika rasa lelah itu datang, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Banyak dari kita yang amat berbaik hati serta toleran kepada orang lain, tetapi justru sangat kejam terhadap diri sendiri.

Coba tanyakan pada diri sendiri: apa yang akan kita katakan kepada anak kita jika ia berada di posisi kita? Biasanya kkita akan berusaha menenangkan anak dengan kata-kata yang membesarkan hatinya. Maka, sampaikanlah kata-kata hangat yang sama kepada diri sendiri, karena di dalam diri kita juga tinggal seorang anak kecil (inner child) yang butuh didengar. Namun, di sisi lain, jangan berlebihan juga.

“Jangan jadikan ini sebagai pembenaran. Misalnya, kamu beli sesuatu dengan alasan inner child yang ingin beli, tapi kan yang bayar inner parent,” kata dr. Andreas sambil tertawa.

Gelar Wicara Perpustakaan Kementerian Keuangan dengan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ.

Gelar Wicara Perpustakaan Kementerian Keuangan dengan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ.

Explore vs. Exploit

Sehari-hari kita pasti menghadapi berbagai masalah yang dapat berdampak pada kesehatan jiwa. Dalam menghadapi masalah, ada fenomena explore vs. exploit. Explore bertujuan maximize experience atau berani mencoba hal baru meskipun ada risiko tidak cocok. Sedangkan exploit bertujuan maximize reward atau memilih hal-hal yang sudah pasti dan dikenal saja. Kadang kita terjebak menggunakan coping mechanism yang itu-itu saja karena enggan keluar dari zona nyaman. Di sinilah pentingnya psychological flexibility (fleksibilitas psikologis) agar kita tidak kaku dan makin mengenali potensi diri.

Saat mencoba berubah, kesalahan terbesar kita biasanya adalah merasa bahwa perubahan harus sempurna. Harus tuntas, harus langsung sukses, atau harus ada waktu khusus yang dedicated dalam menjalani prosesnya. Apalagi inner child atau memori pengasuhan masa kecil kita sering mendikte agar tidak melakukan sesuatu secara setengah-setengah. Namun, karena manusia memiliki keterbatasan, standar perfeksionis ini justru memicu penundaan (procrastination). Padahal, tidak apa-apa memulai perubahan secara tidak sempurna terlebih dahulu.

Trigger Bukan Alasan

Sering kali istilah “ke-trigger” dijadikan senjata atau pembenaran atas respons emosional kita yang berlebihan. Dr. Andreas memberikan analogi yang menarik: Bayangkan kita menyetir mobil dalam kondisi miopia (rabun jauh) tanpa kacamata, lalu menabrak orang. Miopia memang kondisi medis yang nyata, tetapi hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran atas kecelakaan yang terjadi.

Hati-hati juga terhadap jebakan memegang identity tertentu secara berlebihan. Identitas ini maksudnya adalah sesuatu yang kita sampaikan dan kita buktikan. Jika kita mengulang dan mengucapkan sebuah label diri berkali-kali (misalnya: “Aku kan memang orangnya pemarah/pelupa”), artinya kita sedang memperkuat pemahaman yang salah pada diri sendiri dan menjadikannya tameng pembenaran.

Luka masa lalu mungkin bukan kesalahan kita, tetapi memulihkannya tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri. Kesadaran ini memindahkan fokus kita dari sekadar menyalahkan masa lalu menjadi bertindak nyata untuk sembuh, termasuk dengan mengambil layanan konseling profesional.

Dalam dunia psikologi, keputusan untuk mencari bantuan diukur melalui dua hal:

  • Distress: Penderitaan subjektif yang dirasakan diri sendiri.
  • Disfungsi: Ketika masalah emosional mulai mengganggu fungsi harian kita di dunia nyata (pekerjaan, hubungan, dll).

Banyak orang ragu melakkan konseling bukan hanya karena takut akan kerahasiaan, melainkan lebih karena merasa masalahnya terlalu receh atau takut tidak dipahami. Padahal, meminta bantuan adalah langkah awal mengambil tanggung jawab atas diri sendiri.

“Trauma bisa berlangsung turun-temurun dalam keluarga sampai ada orang yang siap untuk duduk berhadapan dengan trauma tersebut dan pelan-pelan mengubahnya. Belum tentu selesainya di dia, tapi sebaiknya mulainya di dia,” pesan dr. Andreas.

Refleksi untuk Orang Tua

Satu pertanyaan peserta yang sangat mengenabagi saya sebagai sesama orang tua: Bagaimana jika anak sering mengajak bermain sepulang kantor, sementara kita sebagai orang tua sedang sangat lelah? Sementara katanya sebagai manusia, orang dewasa juga harus mendengarkan diri sendiri. Bagaimana menyampaikannya tanpa meninggalkan trauma pada anak?

Dr. Andreas mengingatkan bahwa anak pada dasarnya bukan attention seeking (cari perhatian), melainkan connection seeking (mencari koneksi/keterikatan). Kita sering berpikir bahwa kita masih memiliki banyak waktu saat menolak ajakan anak. Padahal, akan tiba suatu hari ketika anak berhenti mengajak kita bermain, dan momen itu datang tanpa kita sadari. Dr. Andreas mengutip temuan yang dimuat di dalam buku The Five Regrets of the Dying, yaitu hampir tidak ada orang di penghujung usianya yang menyesal karena kurang bekerja keras. Sebaliknya, penyesalan terbesar adalah karena kurang meluangkan waktu dan mengupayakan koneksi dengan orang-orang terdekat.

Maka dari itu, luangkanlah waktu untuk anak. Jika kuantitas waktu memang terbatas karena tuntutan pekerjaan, buatlah kualitasnya menjadi bermakna. Anggaplah setiap kesempatan bertatap muka sebagai momen yang sangat berharga. Orang-orang di sekitar juga bisa berperan menjaga kedekatan ini lewat cerita-cerita baik, hal ini kata dr. Andreas justru ia pelajari dari ceramah seorang Ustadz.

Penerimaan Diri

Sebagai penutup, dokter Andreas menegaskan bahwa proses pulih (healing) sejatinya bukanlah mengubah semua hal negatif menjadi positif secara instan, melainkan belajar menerima kenyataan (acceptance). Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mengadopsi prinsip Stoik yang membantu kita membedakan mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang di luar kendali kita.

“Pulih itu justru mengakui, melihat ke belakang dan melihat: ‘Oh ya, aku tahu itu terjadi dan aku menerima bahwa itu perlu terjadi.’ Pulih adalah ketika kita mencintai diri kita, walaupun aku orangnya pemalas kadang-kadang, walaupun aku memiliki trauma masa lalu. Be your own best friend. Jadilah teman terbaik buat diri kamu sendiri. Kadang kita mengatakan bahwa teman-temanku jahat sama aku, padahal kadang-kadang kita lebih jahat sama diri sendiri,” pesannya.

Rekaman acaranya masih bisa disimak di https://www.youtube.com/live/L_OSiUSlbJs

Mengenal Imposter Syndrome yang Disebutkan Vokalis The Offspring di Pidato Wisuda Kampusnya

Pertengahan Mei 2026 lalu, ada momen menarik di Alumni Park, University of Southern California (USC). Yang naik ke podium untuk memberi sambutan wisuda Dornsife College of Letters, Arts and Sciences Class of 2026 di USC adalah Dexter Holland, vokalis sekaligus pentolan band punk legendaris The Offspring. Holland dijuluki “Triple Trojan”, sebutan untuk alumnus yang mengantongi tiga gelar dari kampus itu.

Ketiga gelarnya terhitung linier yaitu sarjana biologi (1988), magister biologi molekuler (1990), dan Ph.D. biologi molekuler (2017), dengan riset disertasi soal mekanisme infeksi virus HIV. Ini pun bukan kali pertama Holland naik podium wisuda USC. Pada 2022 ia juga sudah pernah memberi sambutan kelulusan untuk Keck School of Medicine USC.

Yang membuat pidatonya ini makin unik, Holland membuka pidatonya dengan pengakuan bahwa menurutnya hari itu rasanya surreal, seperti dirinya tidak benar-benar pantas berada di sana. Imposter syndrome, katanya. Padahal, status akademik Holland di USC bukan kaleng-kaleng.

https://www.instagram.com/reels/DY6Rjr7SPgf/

Continue reading

Perempuan Hebat, Karier Kuat, Keluarga Hangat

Pertengahan bulan ini, tepatnya tanggal 14 Juni lalu, saya menyimak gelar wicara daring bertajuk “Perempuan Hebat, Karier Kuat, Keluarga Hangat” yang diselenggarakan Princess (Perempuan Inspiratif dan Cerdas) Community menyambut bulan Muharram. Narasumbernya adalah Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, Wakil Rektor Universitas Syiah Kuala (Aceh) Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan. Beliau juga ibu dari tujuh anak, tapi masih sempat menyusun 17 karya ilmiah yang terindeks Scopus.

Sejujurnya, saya penasaran bagaimana kiat beliau membagi tenaga dan waktu. Membersamai tujuh buah hati, memegang jabatan struktural di universitas, aktif meneliti dan menulis, itu semua sungguh bukan kombinasi yang mudah dibayangkan berjalan mulus. Mendengar cerita beliau selama lebih kurang satu setengah jam banyak memberikan pelajaran untuk saya.

Continue reading

Britania Sari, Memulai Ketahanan Pangan Masyarakat dari Rumah

Sudah cukup lama saya mengikuti akun Mbak Britania Sari atau Mbak Sari. Aktivitas sosialnya dalam memberdayakan masyarakat dari rumah amat inspiratif. Mbak Sari menggerakkan warga untuk bisa mengonsumsi makanan bergizi yang tak harus mahal, juga membangkitkan kepedulian akan pendidikan. Alhamdulillah Desember lalu kantor saya mengundang Mbak Sari untuk kajian muslimah rutin. Saya langsung mengajukan untuk mewawancarai Mbak Sari guna mengisi rubrik Persona di Majalah Treasury Indonesia. Karena keterbatasan halaman, tulisan hasil wawancara itu akhirnya harus saya pangkas di beberapa bagian. Ini adalah versi lengkapnya yang menurut saya sayang jika dilewatkan.

Britania Sari, Memulai Ketahanan Pangan Masyarakat dari Rumah

Britania Sari (42) tidak menyangka bahwa semangat untuk berkebun akan membawanya bergerak di bidang ketahanan pangan dan edukasi sosial masyarakat. Kisah Sari, begitu ia biasa dipanggil, berawal dari realita yang ditemui di lingkungan terdekat. Sari mulai berkebun pada tahun 2014 sebagai cara untuk mengajarkan putrinya tentang asal-muasal makanan. Kegiatan tersebut ternyata memicu pemikiran baru, apalagi melihat bahwa menanam ternyata merupakan aktivitas yang kompleks. Banyak makhluk hidup terlibat, seperti para serangga yang membantu penyerbukan, juga ada interaksi dengan lingkungan alam.

“Ternyata manusia hidup tidak bisa berdiri sendiri, harus dibantu oleh makhluk hidup yang lainnya.”

Wawancara dengan Mbak Britania Sari

Wawancara dengan Mbak Britania Sari

Continue reading

Tugas Humas: Bikin Paham Sekaligus Indah Dipandang

Bunga identik dengan sesuatu yang indah dan cantik. Karena itu, bunga sering digunakan sebagai pelengkap dalam sebuah kegiatan untuk menambahkan kesan tertentu seperti kemegahan atau kekhidmatan. Bahkan setelah kegiatan tersebut selesai pun, bunga-bunga yang semula dipakai sering kali masih bisa digunakan lagi.

Bunga artifisial bisa disimpan oleh penyelenggara untuk acara lainnya, sedangkan bunga segar bisa diperpanjang masa pakainya. Dengan perlakuan tertentu, bunga-bunga yang semula menjadi bagian dari dekorasi acara itu beralih menjadi pengisi buket cantik atau vas kecil untuk diletakkan di meja kerja. Sesudah itu, bunga yang kering pun masih bisa diawetkan dengan cara khusus untuk dijadikan hiasan, atau dipilah ke wadah sampah kategori organik.

Continue reading

Dukung Literasi Digital dan Bijak Manfaatkan AI bersama XLSMART

Pesatnya perkembangan teknologi digital mendorong derasnya arus informasi menyerbu keseharian kita. Cukup dengan ponsel di tangan, dalam hitungan detik kita bisa mengetahui jadwal kerja bakti RT pekan depan, rencana penayangan film terbaru, berita perolehan medali di SEA Games, hingga informasi perkembangan penanganan bencana alam di Sumatra.

Namun, selain membuka pintu kemudahan untuk mengakses hal-hal positif, dunia digital juga punya potensi negatif. Teman-teman mungkin pernah mendengar bahwa ada yang terkuras saldo tabungannya lewat pancingan (phishing) pesan di aplikasi percakapan, atau tertipu oknum penjual daring yang nakal. Belum lagi dengan adanya Artificial Intelligence atau AI yang mampu menirukan cara berpikir manusia dalam beberapa aspek, bahkan menghasilkan gambar atau video rekaan yang amat mirip dengan aslinya.

Oleh karenanya, literasi digital menjadi begitu penting. Literasi di sini bukan sekadar bermakna kemampuan membaca secara harfiah, melainkan juga pemahaman yang diperlukan untuk memilah informasi. Pemanfaatan AI juga perlu dilakukan secara bijak agar tidak merugikan orang lain ataupun diri kita sendiri. Akan lebih baik lagi jika keterampilan digital seperti ini sudah dipelajari sejak dini untuk mencegah terjadinya hal-hal negatif. Bukan berarti dengan mengenalkan gawai sejak bayi, melainkan lewat pendekatan yang disesuaikan dengan usia anak. Edukasi di sekolah, misalnya.

Edukasi Literasi Digital dan AI XLSMART di Pesantren

Santri Berdaya dengan AI bersama XLSMART

Continue reading

Lagu-Lagu dengan Judul Bahaduri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring VI, bahaduri adalah kata sifat yang berarti bersifat pahlawan (satria); bersifat gagah berani. Kata ini diserap dari bahasa Persia, yang kemudian juga menjadi kosa kata Melayu klasik.

Terdapat beberapa lagu yang menggunakan kata bahaduri ini dalam judulnya. Yuk, simak satu persatu.

Continue reading

Etimologi Prameswari

Kata kesembilan dalam Writober 2025 adalah prameswari. Saya tertarik untuk membahasnya dari segi bahasa. Sepertinya dulu saya pernah membaca bahwa kata prameswari atau permaisuri ini berasal dari kata parama dan iswari. Lebih rincinya, kata tersebut merupakan rangkaian dari bahasa Sanskerta paramā (परमा) yang berarti utama, tertinggi, mulia dan īśvarī (ईश्वरी), bentuk feminin dari īśvara yang memiliki arti penguasa, dewa, tuan. Definisi ini salah satunya tercatat di Monier-Williams Sanskrit Dictionary (University of Cologne), yang menyebutkan bahwa parameśvarī adalah “the supreme goddess; the female form of Parameśvara.”

Continue reading

Kenangan Mengunjungi Atsiri diSarinah

Pertama kali saya mengetahui keberadaan Rumah Atsiri Indonesia adalah dari konten sepupu saya yang menjadi salah satu tamu undangan saat tempat ini baru akan dibuka untuk umum tahun 2018. Dari foto-fotonya saya melihat rumah-rumah kaca nan cantik, bangunan-bangunan kayu dengan desain yang mirip dengan tenda, juga taman bunga marigold yang ikonik. Semua terletak di kaki Gunung Lawu yang memberikan latar pemandangan nan elok.

Atsiri sendiri dalam hal ini adalah minyak hasil penyulingan dari tanaman yang menghasilkan aroma khas. Kita mungkin mengenalnya juga dengan istilah essential oil. Minyak ini bisa ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, bahkan di batang tanaman. Laman Rumah Atsiri menyatakan bahwa Indonesia punya puluhan ribu jenis tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri, dari cengkih, pala, nilam, kayu putih, kenanga, sampai cendana. Adapun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi VI menyatakan bahwa kata yang baku sebenarnya adalah asiri, sebuah kata sifat yang berarti mudah menguap pada temperatur yang relatif rendah.

Continue reading