Deretan Novel dengan Judul Derana

Tantangan terakhir Writober tahun ini kembali bikin geleng-geleng kepala. Jika “jenggala” setidaknya membangkitkan memori akan pelajaran sejarah dan legenda yang pernah dibaca, kata “derana” sama sekali belum pernah saya baca. Tentunya rujukan pertama saya adalah KBBI. Di situ tertera bahwa derana adalah kata sifat yang berarti tahan dan tabah menderita sesuatu (tidak lekas patah hati, putus asa, dan sebagainya). 

Ada tanda “ark” di situ, jadi kata ini memang dianggap arkais atau kuno, alias tidak lazim dipakai lagi. Mungkin maknanya mirip dengan kata resilien yang diterjemahkan dari kata dalam bahasa Inggris resilient, ya. “Resilien” sendiri sampai kini belum masuk juga dalam KBBI meskipun lumayan sering saya baca di sana-sini, terlebih ketika sudah membahas ketangguhan dalam menghadapi dampak pandemi. Jadi, saya malah lebih familiar dengan resilien daripada derana. Namun, saat mencoba mencari inspirasi soal kata derana, saya menemukan bahwa ternyata cukup banyak novel yang menggunakan kata derana sebagai judul.

Continue reading

Kerajaan Jenggala dan Asal-Usul Kesenian Legendaris

Alhamdulillah hari ini adalah hari kesembilan saya mengikuti program Writober yang merupakan kegiatan tahunan Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional (RBM IP) Jakarta. Sesuai namanya, program ini diselenggarakan setiap bulan Oktober, dengan bentuk tantangan membuat sepuluh tulisan dalam rentang waktu sekitar dua puluh hari. Tulisannya tidak harus benar-benar dibuat sepuluh hari berturut-turut, tetapi urutannya temanya sudah ditentukan. Program ini dari tahun ke tahun sukses memotivasi saya yang pada bulan-bulan “-ber” biasanya memang sedang fokus pada hal lain terutama pekerjaan, untuk tetap rajin mengisi blog.

Hari ini, tema yang seharusnya saya kerjakan adalah “Jenggala”. Kelihatannya cukup sulit memang menggali tema ini. Terbukti hingga tulisan ini mulai dibuat, di Google Sheet yang berisi respons dari Google Form untuk laporan tautan setoran, baru dua orang yang menyelesaikan tulisan tema kesembilan ini. Padahal cukup banyak yang sudah menyetorkan tulisan tema kedelapan dari kemarin-kemarin.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jenggala berarti hutan atau rimba. Diksi ini sepertinya lebih cocok digunakan untuk tulisan bergaya sastrawi, seperti sudah dibuktikan oleh dua teman yang sudah menyelesaikan tantangan kesembilan. Sementara, saya akhir-akhir ini jarang sekali menulis fiksi. Memang, sih, masih bisa dimasukkan dalam penulisan bergaya feature, misalnya. Namun, saya putuskan untuk menceritakan ulang saja perihal penyebutan Jenggala sebagai nama sebuah tempat.

Continue reading

Ide Aktivitas Anak: Eksperimen dengan Air

Masa-masa lebih banyak berada di rumah saja ini membuat orang tua harus putar otak untuk mencarikan anak-anak aktivitas agar mereka tidak bosan. Jika dulu pergi ke taman menjadi solusi murah meriah untuk rekreasi, kini belum bisa seperti itu lagi. Meskipun kegiatan seperti membaca buku, memainkan mainan yang ada di rumah maupun menciptakan permainan sendiri dari barang-barang yang ada sejauh ini sudah cukup membuat anak-anak sibuk, tetapi saya juga mencarikan alternatif lain agar permainan mereka tak hanya itu-itu saja.

Acara daring menjadi pilihan saya untuk menambah variasi kegiatan anak-anak. Ada wisata virtual, kelas belajar mendongeng, bahasa Inggris, bernyanyi, menulis, prakarya, coding, webinar dengan topik pubertas hingga melindungi diri, juga ada aneka eksperimen menarik. Sebagian besar masih saya ambil yang lepasannya saja, belum sampai yang berpekan-pekan rutin diadakan, karena jadwal pelajaran anak-anak juga masih sering berubah khususnya pada saat-saat adaptasi di awal pandemi dulu.

Nah, ini sebagian dari kegiatan yang sempat diikuti oleh anak-anak. Kali ini saya berfokus pada kegiatan berupa dengan eksperimen yang melibatkan air. Selain dari kelas daring yang diselenggarakan oleh pihak lain, ada pula percobaan yang merupakan bagian dari sesi belajar jarak jauh dari sekolah, khususnya sekolah Fahira saat masih TK.

Continue reading

Bercak Oranye di Popok Bayi Bisa Jadi Tanda Kurang Minum

Salah satu alasan saya bertahan di beberapa grup parenting khususnya di Whatsapp adalah adanya kesempatan untuk memperbarui pengetahuan. Pengetahuan ini bisa di bidang pola asuh maupun kesehatan bayi dan anak. Apa yang dulu saya pahami saat masih memiliki bayi, bisa jadi berbeda dengan sekarang. Entah itu karena memang ada penelitian yang lebih baru, pembaruan rekomendasi karena perkembangan zaman, atau memang karena sumber bacaan dulu belum semudah sekarang aksesnya. Jangan sampai saya menyarankan sesuatu berdasarkan pengalaman atau wawasan terdahulu, kemudian malah menjerumuskan gara-gara ketertinggalan saya meng-update informasi, kan.

Salah satu topik yang dibahas oleh ibu-ibu di grup beberapa waktu yang lalu adalah soal bercak oranye pada popok bayi. Kalau yang ini, sepertinya setelah saya cari tahu di beberapa situs tepercaya dan juga menyimak pengalaman beberapa anggota lain, tidak ada update informasi signifikan dibandingkan dengan dulu. Cuma, saya jadi teringat pengalaman dulu, yang belum sempat didokumentasikan di blog ini. 

Continue reading

Pesona Buku Fisik Yang Masih Tetap Menarik

Waktu pindahan tahun lalu, barang yang paling memakan tempat ketika diangkut ke rumah baru ataupun dikirimkan ke rumah orang tua di Solo (ceritanya titip karena rumah baru kami cukup mungil) adalah buku. Ada sekitar selusin kardus besar yang mayoritas memuat buku-buku koleksi saya dan anak-anak. Bagaimana, ya, bahkan di era serbadigital seperti sekarang, buku cetak punya pesonanya sendiri.

Memang, sih, buku digital atau e-book itu sangat praktis dan tidak makan tempat. Seorang teman yang dalam dua tahun ini pindah tugas dari Australia ke Makassar lanjut ke Jakarta (di sini pun sempat pindah dari kos ke apartemen ke rumah dinas) lalu ke Ambon, bercerita bahwa ia akhirnya menyerah membeli buku cetak dan beralih sepenuhnya ke e-book. Andalannya adalah perpustakaan digital milik salah satu penerbit terkemuka. Jadi jika ternyata harus pindahan lagi, bawaannya bisa terkurangi secara signifikan. Di ponsel saya sendiri, aplikasi ini pun ada, di samping Let’s Read dan tentunya Google Play Books. Selain membeli, saya juga memasang aplikasi peminjaman buku digital gratis seperti iPusnas dan iJakarta.

Continue reading

“Silent Disease” dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Anak

Waktu Fathia bayi dulu alias sekitar 9 tahun yang lalu, saya aktif di beberapa komunitas ASI di Facebook, bahkan sempat bantu-bantu menjadi salah satu adminnya. Namanya ibu-ibu yang punya bayi, selain soal ASI sesuai judul grupnya, yang biasa menjadi topik perbincangan hangat sehari-hari adalah soal tumbuh kembang anak. Terutama soal kenaikan berat badan bayi yang dianggap seret, baik itu penilaian lewat pengamatan mata sendiri, perbandingan dengan anak tetangga atau sepupu yang seusia, pemantauan terhadap kurva pertumbuhan yang ada di buku KIA, atau sudah pernyataan dari dokter yang memeriksa langsung.

Pastinya akan selalu ada anggota grup yang bermaksud baik membesarkan hati si ibu yang bertanya atau curhat dengan menanggapi bahwa “Yang penting sehat, masih aktif dan ceria, kan?”, “Ngapain juga anak harus gendut-gendut”, atau “Anakku juga dulu gitu dan sampai besar sekarang baik-baik saja, kok”. Namun, beberapa anggota grup lainnya akan mengingatkan juga bahwa kita tidak boleh terlena begitu saja sehingga mengabaikan kemungkinan bahwa pertumbuhan anak memang sedang menghadapi kendala. Bisa jadi perlu ada evaluasi bahkan intervensi segera. Di sinilah suka ada yang mengemukakan istilah “silent disease“. 

Continue reading

Mengenalkan Pohon Keluarga kepada Anak

“Ayah, jadi Akung punya adik berapa? Kalau Uti?”

Pertanyaan anak-anak beberapa waktu yang lalu ini ternyata tidak berhasil dijawab dengan jelas oleh suami. Bukan apa-apa, tidak semua paklik dan bulik ia kenal. Keluarga orang tua suami memang cukup besar, hingga bukan hanya urutan, nama pun bisa tertukar. Saya sendiri setelah belasan tahun pernikahan juga masih belum benar-benar hafal mana yang saudara Bapak dan mana yang saudara Ibu mertua (alm). 

Tiap keluarga memang memiliki karakteristiknya masing-masing. Misalnya, ada anggota keluarga yang merantau cukup jauh dan lama hingga para keponakan dan sepupu pun tidak pernah saling bertemu. Jika orang tua tidak sempat atau karena alasan tertentu memang tidak secara aktif mengenalkan pada anak-anak, bisa jadi anak-anak pun tidak mengetahui keberadaan handai taulan ini. Ada juga keluarga yang cukup rajin mendokumentasikan silsilahnya, bahkan anak-anak diberi tahu akan adanya kerabat yang sudah meninggal lama sebelum mereka lahir.

Continue reading

Agar Pembalut Kain Tak Mudah Tembus, Begini Caranya

Pandemi Covid-19 membuat saya lebih banyak berada di rumah, termasuk dalam hal pekerjaan yang ternyata bisa juga sebagian dilakukan secara jarak jauh. Banyak hal baru yang saya mulai kerjakan pada periode bekerja dari rumah ini, atau kebiasaan lama yang dimulai kembali. Salah satunya terkait pengelolaan menstruasi, tepatnya perlengkapan yang digunakan pada hari-hari khusus tersebut. Saya akhirnya mulai kembali menggunakan menstrual cup yang lama menganggur. Selengkapnya mengenai hal ini akan saya tuliskan di blog selanjutnya, ya.

Kali ini saya hendak berfokus pada pemakaian menstrual pads yang jadi lebih konsisten digunakan selama berada di rumah. Jujur, untuk hari-hari awal yang cukup deras flow-nya, saya masih memakai pembalut sekali pakai jika keluar rumah, termasuk ke kantor. Untuk hari-hari setelahnya, barulah saya memilih kembali ke pembalut reusable, dalam hal ini pembalut kain. 

Apa yang menghalangi saya untuk bertekad bulat selalu memakai pembalut kain secara rutin? Salah satunya adalah kemungkinan tembus. Agak merepotkan ketika harus berganti hampir seluruh pakaian kalau sudah tembus begitu, karena saya belakangan sering memakai gamis atau dress panjang ke kantor.

Continue reading

Tantangan PJJ: Tenggang Rasa Soal Suara

Setahun lebih anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh. Sampai saat ini pun ketika sekolah anak-anak mulai mengadakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), kami termasuk yang masih memilih agar mereka belajar dari rumah dulu. Bukan tanpa tantangan, memang. Apalagi sekarang, pada saat saya dan suami sudah lebih banyak mendapatkan tugas masuk kantor.

Baik ketika kami bisa membersamai pada saat kelas daring diadakan maupun tidak, ada persoalan yang belum benar-benar bisa dituntaskan. Seperti kita tahu, tipe belajar orang bisa berbeda-beda. Secara umum, rasanya lingkungan yang hening (kecuali suara guru menjelaskan dan audio dari video pembelajaran, misalnya) dan tenang cenderung jadi pilihan yang mendukung kelancaran belajar. Apalagi jika pembelajarannya bersifat interaktif. Pastinya dibutuhkan konsentrasi penuh untuk bisa menyerap apa yang dipelajari dan menjawab pertanyaan yang mungkin dilontarkan pengajar. Dalam keadaan seperti ini, gangguan suara lainnya bisa menjadi “polusi” yang menyulitkan. Adapun untuk kegiatan belajar yang dilakukan mandiri, ada juga orang yang lebih mudah berkonsentrasi jika ditemani musik, atau sambil bernyanyi sendiri.

Continue reading

Echoist, Kebalikan dari Si Narsis

Bulan lalu saya membuat sebuah tulisan untuk nantinya digabungkan dalam sebuah buku karya bersama komunitas yang dilombakan di sebuah penerbit. Tema yang diangkat sebagai benang merah tulisan para peserta adalah self love. Sepengetahuan saya, kepedulian terhadap isu perlunya mencintai diri sendiri memang sedang meningkat. Setidaknya sebulan sekali saya dapati ada webinar atau kulwap yang membahas soal ini, atau ada komunitas/platform yang menjadikan self love sebagai “kampanye bulan ini”.

Mbak Analisa Widyaningrum, psikolog yang menjadi narasumber di sebuah webinar yang saya ikuti, menjelaskan bahwa self love adalah keadaan di mana seseorang mampu mengapresiasi diri sendiri baik secara fisik, psikis, dan spiritual. Dengan demikian, seseorang akan “kembali ke dalam diri” dan terkoneksi dengan diri sendiri, mempercayai kekuatan diri sepenuhnya.  Terdapat lima komponen self-love, yaitu self-knowledge, self-acceptance, self-being, self-transcendence, dan self-renewal

Continue reading