Karena Orang-orang Suka Menjadi Yang Terdepan

Pernah enggak, sih, merasa gemas pada orang-orang yang dengan mudahnya berbagi hoax, khususnya melalui media sosial? Lewat obrolan langsung atau bisik-bisik tetangga bisa juga, sih. Namun, yang ‘barang bukti’-nya bisa tersimpan ya di media sosial atau aplikasi percakapan ini.

Kita bisa berprasangka baik pada orang tersebut, sebenarnya. Bisa jadi niat aslinya adalah ‘sekadar berbagi’, dan kata-kata ini jugalah yang seringkali digunakan untuk menyertai penerusan informasi, atau untuk menanggapi ketika ada yang menyangkal. Berjaga-jaga tidak ada salahnya, kan? Niat baik tentunya perlu diapresiasi, bukan? Hmm…. Yah, sebenarnya kalau bisa cek dulu kebenarannya, ya, sebelum berbagi. Daripada menjerumuskan banyak orang, kan. Kalau memang tidak sempat kroscek, bukankah ada baiknya tahan jempol dulu?

Kalau cari info dulu, lalu ternyata informasinya benar, nanti keburu basi, dong? Padahal seharusnya bisa menolong lebih banyak orang, apalagi untuk ‘berita’ yang terbatas waktu, entah itu informasi penutupan jalan, pemadaman listrik, kebakaran, gempa bumi, dan seterusnya.

Waduh, kalau cara pandangnya begini, saya juga garuk-garuk kepala. Apakah sebanding soal kecepatan ini dengan risikonya?

Continue reading

Ingin Yang Terbaik, Sudahkah Kita Dukung Anak Asah Potensinya?

Ketika membaca bahwa Teman Main akan menyelenggarakan Family Gathering tanggal 28 September untuk memperingati ulang tahunnya yang ketiga, saya segera mendaftarkan diri. Sebelumnya, kami sudah pernah ikut tiga field trip yang diselenggarakan @temanmainid. Lengkapnya #temanmain20 di Sudin Pemadam Kebakaran Jaktim, #temanmain21 di Taman Lebah Madu Cibubur, dan #temanmain24 di Museum Maritim. Anak-anak seseruan sambil tambah pengetahuan, orang tuanya pun ikutan (ya, banyak lho yang baru kami ketahui). Nah, saya baru tahu kalau ternyata Teman Main sudah 3 tahun usianya. Semoga makin banyak variasi kegiatannya di akhir pekan yaaa 😁 (curahan hati mamak pekerja).⁣⁣

Rekap Writober

Tuntas sudah sepuluh hari Writober Rumah Belajar Menulis (RBM) Ibu Profesional Jakarta saya lalui. Alhamdulillah bisa setor berurutan walaupun dengan waktu yang mepet sekali — hari terakhir saya setor adalah juga hari terakhir penyelenggaraan Writober. Program ini memang sangat menarik, terbukti banyak anggota RBM yang menyatakan senang dengan adanya dorongan untuk menulis sebanyak sepuluh hari dalam jangka waktu total sekitar 21 hari tersebut. Ada yang akhirnya menulis kembali di blog yang sudah lama berdebu karena ditinggalkan, ada juga yang dengan semangat membuat blog baru dari nol dengan segala tantangannya.

Continue reading

Writober 10: Menarik Dua Garis Biru

Kontroversi terhadap film Dua Garis Biru ini justru membuat saya penasaran untuk menonton. Lebih tepatnya, sih, karena sebagian tokoh pendidikan maupun perfilman, juga situs-situs parenting ada yang mengeluarkan pembelaan terhadap film tersebut. Katanya, tonton dulu sebelum menarik kesimpulan dan menghakimi dari trailer saja. Maka berangkatlah saya ke bioskop yang masih menayangkan film ini di luar jam kerja, yang saat itu sudah semakin sedikit pilihannya.

Continue reading

Writober 9: Jelajah Luar Angkasa bersama Iqro: My Universe

Setelah sempat menonton film pertamanya dan saat itu gagal mengajak anak-anak nonton bareng, saya berniat untuk mengajak anak-anak nonton sekuelnya. Alhamdulillah malah bukan cuma dengan anak-anak, kami nonton bareng bersama guru-guru TK Fathia dulu, yang saat itu sebentar lagi juga akan menjadi guru TK Fahira, plus beberapa keluarga siswa lain.

Continue reading