Adaptasi Novel Balada si Roy oleh IDN Pictures Bakal Tayang Tahun Ini

Awal November lalu, grup pecinta film Indonesia yang saya ikuti di WhatsApp diramaikan oleh berita yang dibawa oleh salah seorang anggota. Melalui tautan ke post Instagram yang ia kirimkan, terungkap bahwa novel Balada si Roy akan segera diangkat ke layar lebar. Sebelumnya, memang sempat berseliweran kabar bahwa novel legendaris karya Gol A Gong (dulu dikenal dengan penulisan nama pena Gola Gong) ini akan difilmkan, tetapi belum ada kelanjutannya.

Saya pun mencermati takarir singkat yang menyertai post tadi. Tertulis di situ, rumah produksi yang akan menangani pembuatan film Balada si Roy ini adalah IDN Pictures. Jika selama ini saya akrab dengan portal IDN Media karena membaca artikel-artikel di dalamnya, ternyata ada bagian dari IDN yang khusus memproduksi film. Lebih tepatnya, Balada si Roy akan menjadi proyek film perdana IDN Pictures yang baru didirikan. Disebutkan pula di situ bahwa film ini siap dirilis pada tahun 2021, dengan sutradara Fajar Nugros yang ternyata didaulat pula mengepalai IDN Pictures bersama Susanti Dewi yang juga menjadi produser untuk film pertama ini.

Continue reading

Rawat Kulit Lembut Bayi dengan Vaseline Repairing Jelly Baby

Berbicara tentang kulit bayi, yang pertama terlintas biasanya adalah kondisi kulit yang halus dan lembut, sekaligus juga memerlukan perawatan khusus agar kelembutannya tetap terjaga. Pendapat ini ada benarnya, sebagaimana saya simak dari penjelasan dr. Srie Prihianti Gondokaryono, Sp.KK(K)., Ph.D., FINSDV, FAADV, dalam Instagram live Popmama bersama Vaseline Indonesia beberapa waktu yang lalu. Namun, dr. Yanti, begitu beliau biasa disapa, menerangkan juga bahwa jenis kulit bayi pun bisa berbeda-beda antara satu bayi dengan bayi lainnya.
“Pada prinsipnya kulit bayi itu lebih sensitif karena lebih tipis, ikatan antarselnya masih lebih longgar sehingga proteksinya masih belum sebaik kulit orang dewasa. Selain itu, ada juga kulit bayi yang memang ada kecenderungan alergi, apalagi jika ada riwayat alergi di keluarganya. Misalnya dari orang tua atau kakek neneknya ada yang punya riwayat alergi asma, biduran, suka bersin-bersin kalau kena dingin, maka kulitnya menjadi ekstra lebih sensitif lagi. Lebih mudah terkena infeksi, lebih mudah terkena ruam, lebih mudah terkena iritasi atau alergi dari bahan-bahan dari luar,” ungkap dr. Yanti.

Continue reading

Lincah Hadapi Aktivitas Serba-Daring Tanpa Darting

Tahun 2020 sudah hendak berakhir. Banyak peristiwa signifikan terjadi pada keluarga kami tahun ini, khususnya yang diakibatkan oleh kejadian wabah penyakit corona 2019 atau dikenal juga sebagai Covid-19 yang menjadi pandemi di banyak negara di dunia. Pandemi ini mengubah begitu banyak sisi kehidupan. Pembatasan aktivitas yang sempat diberlakukan, juga diterapkannya berbagai aturan baru juga membuat banyak adaptasi harus dilaksanakan dalam berbagai bidang. Termasuk dalam skala terkecil: diri sendiri dan keluarga inti.

Tahun ini juga kami boyongan menempati rumah sendiri. Meski mungil, alhamdulillah ada tempat berteduh yang bisa dikelola secara lebih leluasa dibandingkan dengan kontrakan sebelumnya. Tentu, lagi-lagi hal ini pun memerlukan sejumlah penyesuaian. Dipadukan dengan sejumlah perubahan akibat pandemi, terus terang hari demi hari rasanya dijalani seperti berpacu dengan waktu.

Apalagi ketika kami akhirnya mengalami sendiri terkena Covid-19. Begitu banyak yang harus dipikirkan dan dijalankan, begitu sedikit kesempatan yang tersedia. Kepala rasanya penuh dengan to-do-list yang jika tak cepat-cepat dipindahkan ke catatan, bisa menambah ruwet pikiran.

Continue reading

Writober 10: Jaga Asa di Tengah Tantangan Pandemi Corona

Festival Literasi Kementerian Keuangan tahun ini diselenggarakan dengan cara yang berbeda dengan sebelumnya. Pandemi memaksa sejumlah penyesuaian dilakukan di berbagai aspek kehidupan, termasuk penyelenggaraan kegiatan. Salah satu yang diundang tahun ini adalah psikolog Tara de Thouars yang menyajikan topik Surviving & Growing during Pandemic.
Bertahan dalam situasi pandemi memang tidak mudah bagi banyak orang. Boro-boro memikirkan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Situasi pandemi ini membuat banyak orang menyadari pula pentingnya kesehatan mental. Mbak Tara yang adalah Psikolog Klinis di RSJ Sanatorium Darmawangsa dan Lighthouse Clinic ini langsung bertanya kepada para peserta mengenai hal-hal sebagai berikut:

Continue reading

Writober 9: Pilih Eksfoliasi dengan Scrub, Perhatikan Titik Keamanannya

Beberapa waktu yang lalu, sambil memesan beberapa botol vitamin untuk stok selama isolasi mandiri, saya melihat ada face scrub St. Ives yang dijual di toko yang sama. Berhubung sering membaca ulasan positif soal produk dari merek ini, saya pun tergoda untuk memesan. Pilihan saya jatuh pada varian Coconut & Coffee. Kalau dipikir, mirip bajigur ya, kopi dikombinasikan dengan santan, hehe.

Pada dasarnya kita memang disarankan untuk memakai eksfoliator agar kulit kita lebih bersih dan tidak kusam. Kulit yang bersih akan lebih “siap” untuk menerima nutrisi dari rangkaian skincare tahap berikutnya, dan ketika memakai make up pun lebih “nempel”.

Eksfoliator ini ada yang sifatnya kimiawi (chemical) maupun fisik. Eksfolian kimiawi biasanya memakai kandungan enzim ataupun acid tertentu (AHA, BHA) untuk membantu pengelupasan kulit. Scrub termasuk eksfoliator jenis fisik, karena titik-titik butiran di dalamnyalah yang bertugas mengangkat sel kulit mati. Selain itu, scrub juga membantu memperlancar aliran dan sirkulasi darah.

Klaimnya, St. Ives Energizing Coconut & Coffee Face Scrub dibuat dengan eksfolian yang 100% alami. Beberapa waktu yang lalu sempat ada bahasan hangat soal pemakaian microbeads alias “manik-manik superkecil” dari plastik pada skincare. Bahannya bisa plastik jenis polypropylene (PP) atau polyethylene (PE). Microbeads plastik ini biasanya dipakai pada produk scrub atau pasta gigi, dengan tujuan membantu menggosok atau mengikis kotoran dan sel kulit mati. Jika sudah selesai dipakai lalu terbuang sampai ke sungai dan lautan, microbeads dapat termakan oleh hewan laut. Kasihan, kan? Amerika Serikat pada tahun 2016 sudah melarang pemakaian microbeads  ini pada produk kecantikan dan toiletries (peraturannya efektif berlaku per Juli 2017). Coba cek deh, apakah skincare kita memakai microbeads?

Continue reading

Writober 8: Mengenal Wastra Indonesia lewat Museum

Pertama kali saya menangkap kata wastra adalah dari majalah femina yang saat itu rutin saya beli. Lebih kurangnya, wastra diartikan sebagai kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri yang mengacu pada dimensi warna, ukuran, dan bahan. Contohnya adalah batik, tenun, dan songket. Mengingat wilayah negeri kita, Indonesia, terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, tak heran ada banyak sekali wastra khas tiap-tiap daerah di nusantara.
 
Beberapa kali saya berkesempatan mengunjungi museum-museum yang secara khusus memajang wastra khas Indonesia. Saya juga baru sadar bahwa ada lebih dari satu Museum Batik maupun Museum Tekstil di Indonesia. Berikut museum-museum terkait wastra yang pernah saya datangi.

Museum Tekstil (Palembang)

SAMSUNG DIGIMAX A403Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya menjalani penugasan di Palembang. Berawal dari ketidaksengajaan ketika angkot yang saya tumpangi mengambil jalan yang berbeda, saya justru menemukan bangunan bergaya kolonial di Jl. Talang Semut. Ternyata itu adalah Museum Tekstil. 

Continue reading

Writober 7: Haruskah Kita Menjadi Wanita Sehalus Sutra Dewangga?

Seindah warna semungil melati
Dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi sejinak merpati
Dikau senandung di cita

Gerak gayamu ringan
Memikat hati muda teruna
Mekar bersinar menyilaukan mata
Halus wanita bak sutra dewangga
Senyummu meruntuhkan mahkota

Kutipan di atas adalah lirik lagu Wanita ciptaan Ismail Marzuki, tembang lawas (1948) yang kembali populer ketika dinyanyikan lagi oleh Afgan dalam rangkaian lagu pengiring film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013).

Continue reading

Writober 6: Pengalaman Menulis Senandika

Akhir tahun kemarin, grup Alumni Kelas Menulis Media Berkarya yang saya ikuti diramaikan dengan ajakan menulis antologi. Saat itu Kelas Menulis Media Berkarya, komunitas yang diinisiasi oleh Mas Ibra Muhammad ini sudah mencapai 20 batch lebih. Saya sendiri baru tahu dan ikut mulai batch 20 dan seterusnya, walaupun ada juga bolong-bolongnya untuk tema yang kurang saya minati.
 
Kelas-kelas via whatsapp yang dikoordinasi oleh Mbak Livia Oktora ini menurut saya sangat keren karena bisa menghadirkan pemateri yang senior seperti Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Jujur Prananto, Sudjiwo Tejo, A. Fuadi, Oka Rusmini, Joko Pinurbo, Maman Suherman, Butet Kertaradjasa, Ratih Kumala, sampai Ivan Lanin. Bergantian tentunya, biasanya setiap batch ada dua pemateri dengan fokus pada jenis tulisan tertentu, dari puisi hingga novel. Harganya juga termasuk terjangkau, apalagi dengan adanya kesempatan mendapatkan komentar atas tugas oleh pemateri.

Writober 5: Atasi Potensi Badai Rumah Tangga Efek Pandemi, Pahami Kebutuhan Pasangan

 
Akhir-akhir ini banyak webinar atau kulwap yang bertema menjaga keharmonisan keluarga pada masa pandemi. Istilahnya, atasi dan cegah badai efek pandemi sebelum merusak ketahanan keluarga kita, termasuk ikatan pernikahan itu sendiri. Memang jadinya lebih menantang ya kondisi seperti ini, ketika nyaris 24 jam harus berkumpul di rumah dan tampak kebiasaan-kebiasaan yang mungkin selama ini hanya ditunjukkan di kantor atau sekolah. Ada pula yang terpengaruh dari segi ekonomi hingga kesusahan memenuhi kebutuhan pokok, atau stres karena tidak bisa lagi piknik. Maka, saya pun banyak belajar dari materi-materi dan diskusi yang diadakan.
 
Salah satunya, beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kulwap Komunitas Ibu Bahagia yang menghadirkan Ibu Kisma Fawzea, S.Psi., atau biasa disapa dengan Bu Zeezee, dengan tema Merawat Cinta dalam Keluarga. Bu Zeezee memiliki usia pernikahan yang beda tipis dengan saya, yaitu 14 tahun, tetapi pengalaman dan ilmu beliau terlihat jelas jauh kalau dibandingkan dengan saya.

Continue reading

Writober 4: Perlukah Pakai Tabir Surya Pagi Hari Meski di Rumah Saja?

Seperti sudah sempat saya ceritakan di tulisan sebelumnya, dengan adanya kesempatan untuk lebih banyak berada di rumah saja artinya kita juga bisa lebih leluasa mengaplikasikan produk perawatan kulit. Tanpa keharusan untuk melapisi lagi dengan produk dekoratif (saya pakai bedak hanya kalau mau ada zoom meeting, itu juga seringnya lupa hahaha), rasanya lebih ringan saja di wajah ketika kita hanya mengaplikasikan serum, pelembap, dan/atau toner.
 
Salah satu produk perawatan kulit yang jadi lebih rajin saya pakai meskipun (atau karena?) di rumah saja adalah sunscreen alias tabir surya. Makin ke sini memang makin terasa perlunya melindungi kulit. Apalagi kalau sedang bercermin, wah, “dosa-dosa” tampak semua. Maklum, faktor U.

Continue reading