Sudah cukup lama saya ingin mengajak anak-anak nonton wayang orang secara langsung. Tujuannya tentu untuk mengenalkan budaya dari daerah asal kami, Jawa Tengah. Sebagai warga kabupaten tetangga Kota Solo, saya tak asing dengan kesenian ini. Sejak kecil saya juga menikmati cerita-cerita wayang dari buku-buku dan majalah berbahasa Jawa milik alm. Mbah Kakung (bapak dari Mama, kami tinggal di rumah beliau), sampai hafal para tokohnya dan beberapa alur cerita yang terkenal. Mbah Kakung bahkan pernah aktif mendalang walau kecil-kecilan, dan rajin membuat sendiri wayang dari kardus. Sayangnya, setelah beliau meninggal, koleksi buku, majalah, dan wayangnya tak terawat dengan baik.
Sebetulnya ada juga Pakdhe, kakak sulung Mama, yang tinggal di rumah yang sama dan cukup rajin merawat rasa cinta terhadap budaya Jawa. Namun, bentuknya sedikit berbeda. Beliau mewujudkan semangat menjaga budaya ini antara lain lewat nonton pertunjukan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Bersama alm. Pakdhe inilah saya pertama kali nonton wayang orang di Sriwedari. Saya lupa tepatnya kapan, tapi sepertinya saat saya SD. Pertunjukan yang diadakan hingga larut malam tampaknya menjadi alasan hingga saya cuma dua kali nonton wayang orang di sana.







