Writober 7: Haruskah Kita Menjadi Wanita Sehalus Sutra Dewangga?

Seindah warna semungil melati
Dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi sejinak merpati
Dikau senandung di cita

Gerak gayamu ringan
Memikat hati muda teruna
Mekar bersinar menyilaukan mata
Halus wanita bak sutra dewangga
Senyummu meruntuhkan mahkota

Kutipan di atas adalah lirik lagu Wanita ciptaan Ismail Marzuki, tembang lawas (1948) yang kembali populer ketika dinyanyikan lagi oleh Afgan dalam rangkaian lagu pengiring film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013).

Continue reading

Writober 6: Pengalaman Menulis Senandika

Akhir tahun kemarin, grup Alumni Kelas Menulis Media Berkarya yang saya ikuti diramaikan dengan ajakan menulis antologi. Saat itu Kelas Menulis Media Berkarya, komunitas yang diinisiasi oleh Mas Ibra Muhammad ini sudah mencapai 20 batch lebih. Saya sendiri baru tahu dan ikut mulai batch 20 dan seterusnya, walaupun ada juga bolong-bolongnya untuk tema yang kurang saya minati.
 
Kelas-kelas via whatsapp yang dikoordinasi oleh Mbak Livia Oktora ini menurut saya sangat keren karena bisa menghadirkan pemateri yang senior seperti Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Jujur Prananto, Sudjiwo Tejo, A. Fuadi, Oka Rusmini, Joko Pinurbo, Maman Suherman, Butet Kertaradjasa, Ratih Kumala, sampai Ivan Lanin. Bergantian tentunya, biasanya setiap batch ada dua pemateri dengan fokus pada jenis tulisan tertentu, dari puisi hingga novel. Harganya juga termasuk terjangkau, apalagi dengan adanya kesempatan mendapatkan komentar atas tugas oleh pemateri.

Writober 5: Atasi Potensi Badai Rumah Tangga Efek Pandemi, Pahami Kebutuhan Pasangan

 
Akhir-akhir ini banyak webinar atau kulwap yang bertema menjaga keharmonisan keluarga pada masa pandemi. Istilahnya, atasi dan cegah badai efek pandemi sebelum merusak ketahanan keluarga kita, termasuk ikatan pernikahan itu sendiri. Memang jadinya lebih menantang ya kondisi seperti ini, ketika nyaris 24 jam harus berkumpul di rumah dan tampak kebiasaan-kebiasaan yang mungkin selama ini hanya ditunjukkan di kantor atau sekolah. Ada pula yang terpengaruh dari segi ekonomi hingga kesusahan memenuhi kebutuhan pokok, atau stres karena tidak bisa lagi piknik. Maka, saya pun banyak belajar dari materi-mater dan diskusi yang diadakan.
 
Salah satunya, beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kulwap Komunitas Ibu Bahagia yang menghadirkan Ibu Kisma Fawzea, S.Psi., atau biasa disapa dengan Bu Zeezee, dengan tema Merawat Cinta dalam Keluarga. Bu Zeezee memiliki usia pernikahan yang beda tipis dengan saya, yaitu 14 tahun, tetapi pengalaman dan ilmu beliau terlihat jelas jauh kalau dibandingkan dengan saya.

Continue reading

Writober 4: Perlukah Pakai Tabir Surya Pagi Hari Meski di Rumah Saja?

Seperti sudah sempat saya ceritakan di tulisan sebelumnya, dengan adanya kesempatan untuk lebih banyak berada di rumah saja artinya kita juga bisa lebih leluasa mengaplikasikan produk perawatan kulit. Tanpa keharusan untuk melapisi lagi dengan produk dekoratif (saya pakai bedak hanya kalau mau ada zoom meeting, itu juga seringnya lupa hahaha), rasanya lebih ringan saja di wajah ketika kita hanya mengaplikasikan serum, pelembap, dan/atau toner.
 
Salah satu produk perawatan kulit yang jadi lebih rajin saya pakai meskipun (atau karena?) di rumah saja adalah sunscreen alias tabir surya. Makin ke sini memang makin terasa perlunya melindungi kulit. Apalagi kalau sedang bercermin, wah, “dosa-dosa” tampak semua. Maklum, faktor U.

Continue reading

Writober 3: Meski Tak Mungkin Nihil Tantangan, Jangan Lupa Bahagia, Bu!

Salah satu tips atau bahkan slogan (doktrin?) yang sering saya simak sehubungan dengan menjalankan peran sebagai seorang ibu adalah “jangan lupa bahagia”. Ibu yang bahagia akan lebih ringan melangkah dan menularkan pula kebahagiaan ke anggota keluarga lainnya. Kalau seorang ibu tidak bahagia, sekeluarga pun bisa terkena dampaknya.
 
Hanya saja, pada praktiknya memang untuk bisa merasakan bahagia itu sendiri kadang-kadang menantang. Iya, sih, konon bahagia itu tergantung perspektif kita. Namun, ada saja kondisi yang membuat kita (saya, sih) kesulitan mengatur perspektif. Apalagi dalam masa-masa lebih banyak di rumah saja seperti sekarang.
 
Karena itu, saya dengan antusias menyimak #KelasUsagi “Parenting in Mew Normal, Ibu Tetap Waras dan Anak tetap Bahagia” bersama Usagi Snack pekan lalu, dengan narasumber Mbak Irma Gustiana Andriani, S.Psi, M.Psi, Psi, PGCertPT atau biasa dipanggil dengan Mbak Ayank Irma. 
 
Mbak Ayank mengingatkan, saat ini dunia banyak sekali mengalami perubahan dari segala aspek. Ketika kita tidak mampu menyesuaikan diri, bisa berpotensi stres, termasuk pada anak.
 
 
Tanda stres pada anak: 
  • Rewel
  • Konsentrasi menurun
  • menunjukkan perilaku agresif dan destruktif/merusak
  • melawan atau membantah.
Bisa juga sifatnya psikosomatis:
  • sakit perut
  • sariawan
  • sakit persendian atau otot
  • perubahan selera makan
  • gangguan pola tidur
  • regresi potty training/kembali mengompol pada balita.

Continue reading

Writober 2: Adaptasi Screen Time pada Masa Belajar dari Rumah

Pandemi Covid-19 mengubah banyak aspek dalam kehidupan. Demi mengatasi penularan, sejumlah pembatasan aktivitas pun dilakukan. Tak terkecuali soal sekolah. Hingga kini, banyak sekolah belum mengadakan lagi sesi tatap muka secara langsung untuk kegiatan belajar mengajar. Termasuk sekolah anak-anak saya. 

Agar aktivitas belajar dapat tetap berjalan, pastinya dibutuhkan sarana lain sebagai perantara. Teknologi menjadi pilihan utama di daerah-daerah yang kondisinya memungkinkan. Penggunaan gawai di kalangan anak sekolah pun meningkat, karena dengan alat inilah materi pelajaran sekolah diberikan. Mau tak mau, siswa maupun orang tuanya harus beradaptasi.

Continue reading

Perawatan Rambut Rontok dan Ketombe? Percayakan pada Mylea

PSBB maupun pembatasan lainnya yang diterapkan oleh pemerintah beberapa bulan terakhir ini membuat aktivitas di luar rumah menjadi lebih terbatas. Demi mencegah penularan Covid-19, mulai dari kantor, pusat perbelanjaan, hingga sekolah di zona tertentu ditutup atau hanya boleh beroperasi secara terbatas untuk sementara waktu. Saya termasuk yang lebih banyak bekerja dari rumah akhir-akhir ini.

Lebih banyak berada di rumah artinya ada waktu dan tenaga yang dihemat, khususnya karena tidak perlu melakukan perjalanan ke kantor maupun mengantar-jemput anak-anak yang bersekolah. Akhir pekan atau hari libur pun dihabiskan di rumah saja, tanpa jalan-jalan seperti yang biasa dilakukan. Ada waktu yang bisa lebih dimanfaatkan untuk bermain dan mendampingi anak-anak. Juga tersedia waktu luang untuk menjalankan hobi ataupun berolah raga.

Continue reading

Writober 1: Terdampak Langsung oleh Pagebluk

Sekian bulan hanya menjadi pengamat soal pagebluk Covid-19, sambil sesekali menuliskan hal-hal terkait mereka yang terdampak untuk tugas kantor, Agustus lalu saya dan keluarga akhirnya mengalami sendiri, menjadi yang terdampak langsung. Melalui penelusuran kontak erat dari kasus yang sudah ada, saya dan suami menjalani pemeriksaan swab PCR yang hasilnya ternyata positif.

Membangun Hexa House Impian Bersama Bunda Produktif

Akhirnya bulan ini saya memasuki tahapan baru dalam perkuliahan Ibu Profesional, yaitu Bunda Produktif. Sebagai tugas pertama, kami diminta membuat Hexa House.

Berikut adalah desain Hexa House saya. Standar sih, ya, tapi setidaknya memuat ruangan yang saya impikan yaitu perpustakaan dan ruang kerja tersendiri. Ruang kerja dan ruang belajar memang terasa diperlukan saat ini, agar bisa meletakkan peralatan kerja pada tempatnya, tidak seperti sekarang yang memanfaatkan ruang tidur karena keterbatasan tempat. 

Continue reading

Harus Memakai Transportasi Publik pada Masa Pandemi, Apa Yang Harus Diperhatikan?

Alhamdulillah, hasil swab PCR terakhir kami pekan lalu sudah dinyatakan negatif. Dengan demikian, kami juga sudah mulai bekerja di kantor meskipun tidak setiap hari. Kami memang masih bisa ke kantor menggunakan sepeda motor, tetapi bagi banyak orang, transportasi publik menjadi satu-satunya pilihan karena faktor jarak, biaya, dan kepraktisan. Di Jakarta sendiri ada banyak pilihan moda transportasi umum, di antaranya angkutan kota, bus Transjakarta beserta feeder-nya, kereta commuter line, MRT, hingga LRT.

Namanya milik publik pastilah digunakan bersama-sama dengan (banyak) orang lain, dan di sinilah tantangannya. Kita harus menerapkan physical distancing, tetapi bagaimana kalau jarak antarpenumpang saja sulit untuk dijaga betul agar memenuhi syarat pencegahan penularan?

Continue reading