Meski Berhijab, Jangan Lupa Rambut Dirawat

“Generasi millennials cenderung lebih aktif dan terampil menggunakan teknologi. Sebagai efeknya, mereka juga lebih suka hal-hal yang dapat diselesaikan secara cepat, kadang jadinya mau serba-instan. Ini khususnya berlaku bagi generasi millennials atau generasi Y yang baru, menjelang pergantian generasi ke generasi berikutnya yaitu generasi Z.”

Itulah lebih kurang penjelasan yang saya dapatkan dalam beberapa kali pelatihan, baik di kantor maupun workshop blogger di luar kantor.

Terdapat sejumlah versi mengenai batasan usia seseorang digolongkan sebagai generasi millennials, tetapi umumnya generasi ini didefinisikan sebagai mereka yang lahir mulai tahun 1980-an hingga pertengahan dekade ’90-an. Artinya saya pun sebetulnya masuk dalam golongan generasi ini.

Aktivitas Meningkat, Semua Serba-Cepat (sumber: iStock)

Continue reading

Hadapi Gadget Generation, Cermati Triknya

Orangtua masa kini tidak boleh ‘kalah’ pada anak-anak yang dengan cepat mempelajari teknologi terbaru. Demi menjadi teman terbaik bagi anak, juga untuk tetap ‘nyambung’ sekaligus memantau aktivitas anak, orangtua diharapkan mau meng-update pengetahuan. Baik pengetahuan mengenai cara menggunakan teknologi ini maupun ilmu memitigasi risiko yang mungkin muncul. Hal ini berkali-kali ditekankan dalam seminar yang saya ikuti ataupun artikel yang saya baca. Sebagai orangtua dari anak-anak yang juga ‘digital native‘ alias begitu lahir sudah dihadapkan dengan kecanggihan dunia digital, saya pun termasuk yang terkena ‘kewajiban’ itu.

Nah, dalam rangka menambah pengetahuan, Sabtu lalu (12/05) saya mengikuti Parenting ClassGadget Generation Do’s & Don’ts” di Hong Kong Cafe, Sarinah Thamrin. Dalam acara tersebut, dr. Stephanus ‘Ivan’ Nurdin, MedHyp, medical hypnotherapist dari RSIA Budhi Jaya menjelaskan bagaimana menangani generasi yang piawai menggunakan gawai sedari belia ini.

 

Continue reading

Menyambut Datangnya Sang Tamu Agung

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, selalu terbit penyesalan di hati. Mengapa saya tak memanfaatkan momen bulan penuh ampunan ini dengan sebaik-baiknya? Sungguh banyak waktu yang saya habiskan dengan sia-sia alih-alih menambah amalan baik. Baiklah, mungkin tidak sepenuhnya sia-sia, tetapi tetap saja, ada celah tambahan amal yang saya lewatkan. Ujung-ujungnya saya bertekad agar Ramadan tahun depan harus lebih baik. Dan tentunya berdoa agar masih diberi kesempatan untuk itu.

Sering saya baca seruan untuk menghidupkan bulan-bulan lain laksana Ramadan. Maksudnya, mari memperbanyak ibadah dan menahan hawa nafsu meskipun pahala yang dijanjikan secara eksplisit tidaklah sebanyak untuk bulan Ramadan. Namun, seiring dengan berjalannya bulan demi bulan, semangat ini kembali mengendor. Kesibukan kerja dan urusan rumah menjadi pembelaan diri.

Kini Ramadan 1439 Hijriah sudah di depan mata. Tinggal menunggu penetapan pemerintah untuk memulai ibadah puasa. Sudah sejauh mana persiapan saya?

Continue reading

Empat Kriteria Mainan Anak Yang Aman Rekomendasi Psikolog

Sebagai orangtua rasanya kita tidak bisa lepas dari yang namanya mainan anak. Coba cek ruang bermain di rumah, deh. Ada mainan anak yang memang kita belikan, ada pula yang merupakan pemberian atau kado. Dari sekian banyak mainan yang ada di rumah, seberapa besar concern kita terhadap keamanannya? Mengingat mainan ini menemani keseharian anak, bahkan untuk bayi seringkali mainan ini masuk ke dalam mulut. Juga dari segi edukasi, apakah mainan yang kita berikan sudah layak?

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo menerangkan bagaimana sebetulnya bermain dengan aman itu, dalam talk show yang diadakan oleh Fisher-Price Indonesia bekerja sama dengan Kidz Station. Dalam acara yang diselenggarakan di Kidz Station Senayan City Kamis lalu (10/05) ini, mbak Vera menerangkan, sampai dengan usia 5 tahun, mainan itu boleh diberikan “serta merta” alias begitu saja (tanpa syarat) untuk stimulasi perkembangan anak. Sedangkan untuk umur 5 tahun ke atas, mainan itu “dalam rangka”, artinya sebagai reward atas hal baik tertentu yang ia lakukan. Atau, anak harus menabung dulu untuk memperolehnya.

 

Mau beli, mau dapat hadiah, jangan lupa pertimbangkan, apakah mainan ini memang baik untuk anak? Nah, menurut mab Vera, mainan yang dipilih untuk anak harus memenuhi kriteria berikut ini:

Continue reading

Sisi Lain: Yakin Mau Kekepin Anak?

Dulu saya pernah mengutip tulisan Busar alias mba Sarra Risman sbb:

Anak-anak saya layaknya tango yang belum tertutup rapat. Jika dilempar ke luar rumah akan terkontaminasi dengan ‘kuman dan kotoran’ yang kemungkinan ada dan bertabur di luar sana. Dan seperti wafernya, kalau sudah kena kuman, bagaimana membersihkannya? Saya memilih untuk memastikan tango saya terbungkus rapi dulu, karena kalau sudah lewat proses ‘quality control’, mau terlempar ke got pun, isinya tidak terkontaminasi.

Jadi, harus dikekep di rumah? Di mana-mana, proses pembungkusan ya di pabrik yang tertutup laaah. Dengan pekerja yang pakai sarung tangan, masker muka, tutup kepala, mesin yang canggih dan mahal, dan yang mau ‘wisata ke pabrik’ harus by appointment, mengikuti rules pabrik yang ada, gak bisa sembarang masuk saja. Ada dress code dan limited access di sana. Dan tidak setiap proses bisa dilihat oleh semua.

Selengkapnya, sekaligus untuk melihat konteks dan efek dari penerapan prinsip tersebut, bisa dilihat di postingan saya yang ini: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak? Tapi secara keseluruhan sih, busar termasuk yang menganggap bahwa ‘ngekepin’ alias memproteksi anak itu penting, daripada dapat pengaruh buruk dari luar.

Nah, belakangan saya membaca sejumlah tulisan dari para pakar parenting yang lain. Beliau-beliau ini justru mengingatkan prinsip yang berbeda. Selengkapnya sebagaimana saya kutip di bawah ini:

Continue reading

Ustadz Fauzil Adhim: Meluangkan Waktu Beda dengan Menyisakan Waktu

Sejak sebelum saya menikah, saya suka membaca buku-buku parenting karya Ustadz Fauzil Adhim. Menurut saya, uraian beliau enak dibaca, banyak sudut pandang tentang peran orangtua yang tergolong amat maju untuk masa itu, kala belum terlalu banyak tokoh parenting yang beredar di media sosial. Salah satu tulisan beliau di majalah yang mengangkat kebiasaan menonton televisi juga sempat saya kutip di postingan tentang disimpannya TV di rumah kami.

Setelah sekian kali tahu info kajian Ustadz Fauzil Adhim tetapi tidak kesampaian mengikuti, akhirnya kami bisa menyimak langsung penjelasan beliau di Islamic Center Jakarta Utara, 5 Mei lalu. Sebetulnya ada dua pembicara sih dalam acara bertajuk Mempersiapkan Orang Tua di Era Digital dalam Mendidik Anak Zaman Now ini, tetapi kali ini catatan saya fokuskan pada sesi Ustadz Fauzil.

 

Mendidik anak zaman old dengan zaman now, sama atau berbeda? Menurut Ustadz Fauzil, mungkin ada yang berbeda, tetapi secara mendasar sebetulnya banyak hal yang sama. Sarananya memang yang banyak berubah.

Satu hal yang perlu dipegang, kata Ustadz Fauzil, jangan pernah bilang ke anak bahwa gadget itu jelek, sementara kita masih menggunakan, bahkan mungkin punya banyak. Lalu, sesuatu yang baik juga belum tentu baik untuk dipakai kapan saja. Jangan sampai kita mengingatkan anak misalnya, “Nggak boleh, masih kecil.” Sebab nanti kalau sudah besar apakah berarti boleh main gadget tak kenal waktu? Nanti lama-lama beranggapan juga bahwa melihat video porno itu boleh, asal sudah dewasa. Standar seperti ini harus jelas, disampaikan kepada anak dengan jelas dan dialogis.

Selambat-lambatnya usia 7 tahun, anak sudah harus mumayyiz, mampu membedakan benar salah dan baik buruk dengan akalnya. Secara fisik, mumayyiz ditandai dengan kemampuan istinja’ atau bersih-bersih dengan sempurna setelah berhajat. Pada level ini, anak seharusnya sudah bisa menggunakan akalnya untuk membedakan baik buruk, mana bermanfaat mana berbahaya, juga mengatur prioritas mana yang penting dan kurang penting. Menjadi tugas orangtua untuk mendampingi anak-anaknya agar mereka sebisa mungkin mencapai mumayyiz pada usia 6 atau 7 tahun.

Continue reading

Masjid Ramah Anak atau Ramah Ibadah?

Ramadhan dua tahun yang lalu saya pernah menulis kesukaan Fathia ikut ke masjid. Di situ saya sekilas menyebutkan tulisan Ustadz Bendri Jaisyurrahman tentang Masjid Ramah Anak. Selengkapnya bisa dibaca di sini: Masjid Ramah Anak di Lingkungan Kami. Tulisan tersebut memang bagus untuk meningkatkan kesadaran dan semangat untuk membuat anak-anak nyaman berada di masjid, yang pada akhirnya diharapkan membuat hati anak-anak terpaut pada masjid sejak dini. Nantinya, semoga mereka juga tergerak memakmurkan masjid, mengikuti bahkan mengadakan kegiatan-kegiatan yang kian menumbuhkan kecintaan kerhadap Islam.

Kemarin, di salah satu grup yang saya ikuti, ada yang meneruskan tulisan Abah Ihsan mengenai hal serupa. Tulisan Abah Ihsan jauh lebih panjang dan menyeluruh, karena juga menyoroti bahwa jangan sampai kenyamanan anak membuat masjid justru menjadi kurang nyaman bagi jamaah dewasa. Tentu bukan berarti serta merta anak yang harus ‘diusir’. Ada solusi yang bisa dikerjakan bersama-sama agar semua bisa sama-sama nyaman. Berikut selengkapnya:

Masjid Ramah Anak atau Ramah Ibadah?

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari @abahihsan
Direktur Auladi Parenting School
Penggagas Program 1821 Kumpul Keluarga

Apakah boleh mengajak anak ke masjid meski mereka belum wajib sholat? Apakah harus didampingi orangtua? Bagaimana pula jika anak ribut di masjid? Bolehkah anak-anak bermain di masjid?

Bagaimana jika ada orang dewasa yang tidak membawa anak lalu tengah khusyu’ ibadah merasa terganggu dengan anak yang ribut di masjid? Apakah orang dewasa yang harus bersabar dan menyesuaikan diri atau anak yang dikondisikan untuk tidak ribut? Haruskah dibiarkan atau sebaiknya diusir dari masjid?

(Peringatan: tulisan ini panjang, agar difahami secara utuh, tidak sepotong-sepotong. Membaca sebagian tulisan ini, akan berakibat tidak baik untuk pencernaan pikiran Anda.)

Continue reading