Agar Pembalut Kain Tak Mudah Tembus, Begini Caranya

Pandemi Covid-19 membuat saya lebih banyak berada di rumah, termasuk dalam hal pekerjaan yang ternyata bisa juga sebagian dilakukan secara jarak jauh. Banyak hal baru yang saya mulai kerjakan pada periode bekerja dari rumah ini, atau kebiasaan lama yang dimulai kembali. Salah satunya terkait pengelolaan menstruasi, tepatnya perlengkapan yang digunakan pada hari-hari khusus tersebut. Saya akhirnya mulai kembali menggunakan menstrual cup yang lama menganggur. Selengkapnya mengenai hal ini akan saya tuliskan di blog selanjutnya, ya.

Kali ini saya hendak berfokus pada pemakaian menstrual pads yang jadi lebih konsisten digunakan selama berada di rumah. Jujur, untuk hari-hari awal yang cukup deras flow-nya, saya masih memakai pembalut sekali pakai jika keluar rumah, termasuk ke kantor. Untuk hari-hari setelahnya, barulah saya memilih kembali ke pembalut reusable, dalam hal ini pembalut kain. 

Apa yang menghalangi saya untuk bertekad bulat selalu memakai pembalut kain secara rutin? Salah satunya adalah kemungkinan tembus saat sedang banyak-banyaknya. Agak merepotkan ketika harus berganti hampir seluruh pakaian kalau sudah tembus begitu, karena saya belakangan sering memakai gamis atau dress panjang ke kantor. Insiden tembus di kantor ini sudah terjadi pada saya dua kali sepanjang tahun ini, padahal baru dua jam sejak terakhir mengganti pembalut.

Continue reading

Tantangan PJJ: Tenggang Rasa Soal Suara

Setahun lebih anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh. Sampai saat ini pun ketika sekolah anak-anak mulai mengadakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), kami termasuk yang masih memilih agar mereka belajar dari rumah dulu. Bukan tanpa tantangan, memang. Apalagi sekarang, pada saat saya dan suami sudah lebih banyak mendapatkan tugas masuk kantor.

Baik ketika kami bisa membersamai pada saat kelas daring diadakan maupun tidak, ada persoalan yang belum benar-benar bisa dituntaskan. Seperti kita tahu, tipe belajar orang bisa berbeda-beda. Secara umum, rasanya lingkungan yang hening (kecuali suara guru menjelaskan dan audio dari video pembelajaran, misalnya) dan tenang cenderung jadi pilihan yang mendukung kelancaran belajar. Apalagi jika pembelajarannya bersifat interaktif. Pastinya dibutuhkan konsentrasi penuh untuk bisa menyerap apa yang dipelajari dan menjawab pertanyaan yang mungkin dilontarkan pengajar. Dalam keadaan seperti ini, gangguan suara lainnya bisa menjadi “polusi” yang menyulitkan. Adapun untuk kegiatan belajar yang dilakukan mandiri, ada juga orang yang lebih mudah berkonsentrasi jika ditemani musik, atau sambil bernyanyi sendiri.

Continue reading

Echoist, Kebalikan dari Si Narsis

Bulan lalu saya membuat sebuah tulisan untuk nantinya digabungkan dalam sebuah buku karya bersama komunitas yang dilombakan di sebuah penerbit. Tema yang diangkat sebagai benang merah tulisan para peserta adalah self love. Sepengetahuan saya, kepedulian terhadap isu perlunya mencintai diri sendiri memang sedang meningkat. Setidaknya sebulan sekali saya dapati ada webinar atau kulwap yang membahas soal ini, atau ada komunitas/platform yang menjadikan self love sebagai “kampanye bulan ini”.

Mbak Analisa Widyaningrum, psikolog yang menjadi narasumber di sebuah webinar yang saya ikuti, menjelaskan bahwa self love adalah keadaan di mana seseorang mampu mengapresiasi diri sendiri baik secara fisik, psikis, dan spiritual. Dengan demikian, seseorang akan “kembali ke dalam diri” dan terkoneksi dengan diri sendiri, mempercayai kekuatan diri sepenuhnya.  Terdapat lima komponen self-love, yaitu self-knowledge, self-acceptance, self-being, self-transcendence, dan self-renewal

Continue reading

Episode Baru di Kampus Ibu Profesional: Ibu Pembaharu

Akhirnya tibalah saya pada tahapan terakhir (sejauh ini) pada Institut Ibu Profesional, yaitu Bunda Salihah. Baru mulai, sih jadi belum tahu seperti apa nanti kelanjutannya. Sanggupkah saya bertahan?

Jika tahapan awal yaitu Bunda Sayang berkaitan dengan cara mendidik anak dengan baik, berikutnya Bunda Cekatan membahas pengelolaan keluarga yang baik, lalu Bunda Produktif menempa supaya perempuan dapat mandiri dan memiliki jati diri, maka Bunda Salihah akan mengasah agar keberadaan ibu bermanfaat bagi diri, keluarga, hingga lingkungan sekitarnya.

Dengan cepatnya perubahan zaman, tentu para ibu juga harus lincah beradaptasi. Bunda Salihah Batch #1 ini berfokus pada tema Ibu Pembaharu, ibu yang mampu menemukan masalah kemudian mengubahnya menjadi tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Dengan bergerak bersama-sama, harapannya tercipta ekosistem agar solusi ini bisa mendukung proses adaptasi di tengah dunia yang terus bergerak.

Continue reading

Tangguh Hadapi Pandemi bersama Bloggercrony

Sudah setahun lebih pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 melanda dunia. Bulan Maret ini, tepat setahun pula sejumlah pembatasan aktivitas diberlakukan di banyak wilayah di Indonesia guna mencegah penyebaran penyakit tersebut semakin luas.

Belasan bulan mestinya cukup sebagai masa adaptasi, untuk kemudian memasuki tahapan penerimaan bahwa kita pada akhirnya harus hidup pada tatanan kenormalan baru. Namun, pada kenyataannya, selalu ada saja sesuatu yang membuat kita harus kembali menyesuaikan diri. Memang, penyakit ini adalah penyakit baru. Wajar muncul perkembangan demi perkembangan terkini di bidang ilmu pengetahuan kesehatan, diikuti pergerakan kebijakan yang diambil untuk merespons hal baru tersebut oleh pihak-pihak yang berwenang.

Kantor saya dan suami termasuk yang menerapkan pengurangan aktivitas di kantor untuk bagian tertentu yang memungkinkan. Alhamdulillah kami berdua termasuk yang bisa melakukan pekerjaan dari rumah. Kebijakan ini berlaku hingga setelah Idulfitri, yang kemudian diperbarui menjadi kebijakan penjadwalan masuk kerja secara bergiliran. Sekolah anak-anak juga belum mengadakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka hingga saat ini. Bagi keluarga kami, proses adaptasi menjadi lebih memakan waktu dan energi karena pada saat yang hampir bersamaan kami juga pindah ke rumah sendiri. Hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari kontrakan sebelumnya, tetapi tetap saja kami belum familiar dengan lingkungannya. 

Menangani tugas kantor sambil menemani anak-anak belajar dari rumah memang cukup menantang. Belum lagi, ternyata rumah ini juga perlu satu-dua perbaikan setelah ditempati, sehingga kami harus berkoordinasi dengan tukang. Perihal membagi waktu saja rasanya sudah cukup melelahkan. Kalau soal tak bisa jalan-jalan, saya termasuk yang justru menikmati bisa lebih banyak berada di rumah. Anak-anak pun rasanya tidak banyak menuntut untuk bepergian seperti yang diceritakan beberapa teman. Baru saja kami beradaptasi dengan dimulainya kelas daring anak-anak yang jadwalnya lebih padat dibandingkan dengan sebelum Lebaran, ujian lain menghadang.

Continue reading

Belajar Beragam Topik di Mana dan Kapan Saja di Hexagon City Virtual Conference

Seperti yang sudah saya sampaikan pada posting sebelumnya tentang partisipasi di Hexagon City Virtual Conference, pekan kemarin saya mulai menyimak sejumlah sesi dari teman-teman sesama Hexagonia.

Bukan hanya Hexagonia alias para mahasiswi jenjang Bunda Produktif Institut Ibu Profesional (IIP, atau komunitasnya disebut dengan singkatan IP saja), masyarakat umum pun bisa ikutan menonton bahkan berinteraksi jika memungkinkan. Beberapa platform yang digunakan dan bisa disimak ulang di situ adalah:
Facebook fanpage:
 
YouTube:
 
Instagram:
 
Kalau di Whatsapp atau Telegram, memang diinstruksikan untuk segera dihapus begitu selesai, sesuai ketentuan bahwa tidak diperbolehkan ada grup IP di luar yang sudah ditetapkan.
 
Jadwal selengkapnya bisa dilihat di https://sites.google.com/view/hexagoncityvc2021.

Continue reading

Setup Makaroni Makin Gurih dengan Hometown Dairy

Mumpung lagi tanggal merah, hari ini saya bikin setup makaroni request anak-anak. Masakan ala Solo ini ternyata jadi salah satu cemilan (sebetulnya bisa terhitung makanan berat juga, ya) kesukaan mereka, padahal waktu awal-awal coba bikin buat anak-anak tuh, mereka kelihatan kurang minat. Memang, sih, belakangan saya coba modifikasi sedikit dengan mengurangi takaran bumbunya. Mungkin rasa khas pala dan cengkeh yang cukup tajam ini yang bikin mereka hanya sanggup mencicipi sedikit, dulu.

Continue reading

[Skincare Review] Votre Peau Vitamin C Serum dan Retinol Barrier Cream

Saya pertama kali membaca soal brand Votre Peau ini awal tahun 2017, lewat artikel di FD yang memuat wawancara dengan dr. Kevin Maharis. Dokter Kevin adalah seorang aesthetic physician yang memiliki klinik kecantikan yang hits di ibukota. Dalam artikel tersebut, dr. Kevin menceritakan bahwa ia sangat mengandalkan manfaat vitamin C untuk kesehatan kulit, termasuk untuk diberikan kepada para pasiennya. Setelah beberapa waktu menggunakan produk impor, kemudian dr. Ricky Maharis, adik dr. Kevin, memiliki ide untuk memformulasikan sendiri produk perawatan kulit berbahan dasar vitamin C.

Produk vitamin C dalam bentuk serum inilah yang lalu menjadi awal dari brand Votre Peau, yang namanya diambil dari frasa dalam bahasa Perancis dengan arti “your skin“. Sejak membaca artikel tersebut, kalimat dr. Kevin yang sangat percaya akan manfaat vitamin C rasanya menempel terus di pikiran saya. Penasaran ingin mencoba, karena sepertinya menggiurkan sekali untuk bikin kulit jadi glowing secara sehat. Namun, saya baru kesampaian membeli produknya awal tahun ini. Yah, hitung-hitung mempermudah menandai waktu awal pemakaian untuk memantau hasilnya, ya, jadi sekalian mulai dipakai pada permulaan tahun.

Continue reading

Memasuki Zona Open Space bersama Bunda Produktif

Sudah lama sekali, ya, saya tidak mengisi blog ini. Ada sejumlah tugas dan amanah di dunia nyata yang harus saya jalani, yang cukup melelahkan dan menyita waktu. Salah satunya adalah perkuliahan jenjang Bunda Produktif di Institut Ibu Profesional yang sudah berjalan selama beberapa pekan. Saya memilih untuk menyetorkan tugas dalam bentuk Google Docs alih-alih meneruskan di blog ini karena satu dan lain hal. Namun, kini saya ingin kembali berbagi, khususnya berbagi kebahagiaan.

Tidak terasa, saat ini sampailah kami semua, para Hexagonia atau mahasiswi jenjang ini, di Zona O atau Open Space. Artinya, tidak lama lagi perkuliahan ini juga akan berakhir, karena sudah semakin mendekati huruf N dalam singkatan HEXAGON yang masing-masing hurufnya mewakili setiap tahapan. Meski tinggal sedikit lagi, tetapi belum saatnya berpuas diri. Masih ada tantangan yang menanti di depan sana.

Continue reading

Adaptasi Novel Balada si Roy oleh IDN Pictures Bakal Tayang Tahun Ini

Awal November lalu, grup pecinta film Indonesia yang saya ikuti di WhatsApp diramaikan oleh berita yang dibawa oleh salah seorang anggota. Melalui tautan ke post Instagram yang ia kirimkan, terungkap bahwa novel Balada si Roy akan segera diangkat ke layar lebar. Sebelumnya, memang sempat berseliweran kabar bahwa novel legendaris karya Gol A Gong (dulu dikenal dengan penulisan nama pena Gola Gong) ini akan difilmkan, tetapi belum ada kelanjutannya.

Saya pun mencermati takarir singkat yang menyertai post tadi. Tertulis di situ, rumah produksi yang akan menangani pembuatan film Balada si Roy ini adalah IDN Pictures. Jika selama ini saya akrab dengan portal IDN Media karena membaca artikel-artikel di dalamnya, ternyata ada bagian dari IDN yang khusus memproduksi film. Lebih tepatnya, Balada si Roy akan menjadi proyek film perdana IDN Pictures yang baru didirikan. Disebutkan pula di situ bahwa film ini siap dirilis pada tahun 2021, dengan sutradara Fajar Nugros yang ternyata didaulat pula mengepalai IDN Pictures bersama Susanti Dewi yang juga menjadi produser untuk film pertama ini.

Continue reading