Jurnal Ulat-ulat 8 Bunda Cekatan: Mendapatkan Bekal dari Buddy

Pekan kedelapan ini kami diminta mencari satu buddy. Saya melamar Mbak Helena Mantra karena sesungguhnya saya penasaran bahwa Mbak Helena yang saya kenal sebagai blogger jempolan justru tidak memilih keluarga WeBS – Web, Blog, dan Search Engine Optimization (SEO) maupun literasi sebagai makanannya. Sepertinya, Mbak Helena lebih tertarik mendalami manajemen waktu maupun hal-hal kerumahtanggaan. Mungkin karena Mbak Helena punya prioritas lain yang harus dituntaskan, ya.

Dari aliran rasa yang Mbak Helena sampaikan, saya mencatat sejumlah hal. Pertama, yang paling makjleb, Mbak Helena menyatakan bahwa peta pikirannya kebanyakan berisi hal-hal yang selama ini ia acuhkan padahal penting.

“Saya menghindari hal tersebut karena tidak menyenangkan. Rupanya itu karena saya tidak tahu ilmunya dan memang tidak mencari ilmunya. Maka, di kelas ulat-ulat ini saya mencari makanan tersebut supaya dapat melakukan hal penting itu dengan bahagia,” katanya.

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 8 Bunda Cekatan: Bekal untuk Buddy

Menjadi ibu yang suka menulis acapkali memang menghadirkan tantangan tersendiri. Saya merasakannya, dan ternyata Mbak Helenamantra yang menjadi buddy saya pada tahap akhir Kelas Ulat Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional pun demikian. Maka, saya mengumpulkan sejumlah tips dari sana-sini terkait hal tersebut untuk dijadikan hadiah. Mungkin sebagian besar di antaranya sesungguhnya sudah dijalankan, yah anggap saja sebagai catatan pengingat juga.

Sebagaimana disebutkan oleh salah satu ibu yang menulis tips di bawah ini, kebanyakan tips mengelola waktu untuk bisa menulis itu sepertinya ditujukan untuk mereka yang belum memiliki anak. Bahkan ia mengakui postingan blog lamanya (sebelum punya anak) tentang manajemen waktu tidak sesuai lagi untuk kondisinya sendiri saat ini.

Kalau sudah ada anak, akan ada begitu banyak tugas mulai dari menyiapkan makanan, membersamai saat bermain, menidurkan, hingga mencuci pakaian dan peralatan makanan (belum lagi urusan cuci botol dan perintilannya yang seringnya perlu perlakuan khusus), mengepel tumpahan susu, dst. Itulah saat di mana semua ilmu tentang manajemen waktu yang pernah diketahui rasanya tak berarti lagi.  Mau ibu bekerja di ranah publik seperti saya maupun ibu yang bekerja di ranah domestik seperti Mbak Helena yang menulis dari rumah selain kadang menghadiri kegiatan-kegiatan di luar, sama-sama ada tantangannya. Fokus? Apa itu fokus?

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 6 Bunda Cekatan: Berikan Hadiah

Setelah dari kemarin kami diminta belajar apa yang disukai atau menjadi fokus diri, kali ini tantangan di Kelas Bunda Cekatan adalah memberikan hadiah pada teman yang diajak kenalan pada pekan sebelumnya. Bukan sembarang hadiah, karena di sini kami diminta untuk memberikan makanan favorit teman yang belum tentu kita sukai.

Belum tentu = boleh saja hadiah itu berupa sesuatu yang kita sukai juga. Namun, karena ada kata “belum tentu” itu, saya jadinya tertantang untuk memberikan hadiah dari sesuatu yang tidak begitu saya sukai. Hadiah yang saya siapkan memang tidak sepenuhnya saya “benci”, tetapi terus terang juga bukan hal favorit saya. Bukan hal-hal yang masuk dalam mind map utama saya, meskipun kalau dihubung-hubungkan ya bisa saja ketemu kaitannya. Ketidaksukaan itu tidak sampai menghalangi saya untuk mau belajar kalau memang diberikan kesempatan (apalagi kalau gratis, hehehe), tetapi ya gitu, sudah diajarin oleh masternya pun seringnya belum sukses.

Continue reading

Kafe Sastra, Tempat Nongkrong Bernuansa Pujangga

Sekitar dua tahun yang lalu, setiap pulang kerja, saya selalu melewati Jalan Bunga yang terletak di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Hanya lewat-lewat saja dan seringnya ketika matahari sudah mulai tenggelam, jadi saya tidak terlalu memperhatikan bangunan di sekitar. Setelah tidak lagi melalui rute tersebut, saya justru baru tahu, ada kafe nan cantik di jalur menuju Stasiun Commuter Line Pondok Jati tersebut. Kegiatan Milad Forum Lingkar Pena (FLP) tahun 2019 yang bertempat di aula PT Balai Pustaka (Persero) membawa saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kafe Sastra ini.

Kafe Sastra Balai Pustaka

Continue reading

Wawasan Makin Lengkap dengan Kulwap

Whatsapp menjadi salah satu aplikasi yang bisa dibilang paling sering kita gunakan saat ini. Praktis memang, kita bisa saling berkirim pesan baik berupa tulisan, gambar, suara, video dan makin banyak lagi. Karena kemudahan yang ditawarkan itulah, whatsapp juga bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Muncul kuliah whatsapp yang biasa disingkat dengan kulwap, atau ada juga yang menamakan dengan kulsap, semol (seminar online, meskipun yang ini tidak terkhusus pada platform whatsapp), waminar (whatsapp seminar), dan banyak lagi istilah yang dibuat untuk menamai aktivitas belajar bersama ini.

Pekan lalu tabloid NOVA mengangkat serba-serbi kulwap, dan saya dihubungi untuk wawancara singkat. Tidak singkat-singkat amat, sih, sebenarnya. Cukup panjang malah, walaupun yang dimuat akhirnya hanya sebagian. Sekalian saja saya simpan selengkapnya di sini, karena sebetulnya saya juga sedang ingin menulis seputar fenomena menambang kontak dari whatsapp (yang akan saya bahas dalam tulisan terpisah).

Bahasan Kulwap di Tabloid NOVA

Kalau ditanya kapan pertama kali ikut kulwap, saya juga tidak ingat. Mungkin sekitar tahun 2014, hanya itu yang bisa saya temukan jejaknya dari back-up di e-mail. Saya mengetahui adanya kulwap yang akan diselenggarakan biasanya dari grup whatsapp lain atau kalau ada pengumumannya di media sosial. 

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 5 Bunda Cekatan: Berkemah Bersama

Lagi-lagi pekan ini saya sebagai mahasiswi Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional diminta untuk keluar dari zona nyaman. Kali ini dari segi bersosialisasi, walaupun kalau dari sisi wawancara sih sebenarnya itu hal yang biasa saya lakukan, ya. Kalau kata teman saya yang ikutan IIP juga (walaupun belum di kelas Buncek), ini karena namanya juga sudah Cekatan, sudah seharusnya lebih “keluar”, tidak sekadar “di dalam” sebagaimana halnya tingkatan sebelumnya yaitu Bunda Sayang.

Waktunya cukup terbatas, sejak pemberian tugas hari Jumat ke tenggat akhir hari Selasa sudah harus ada minimal lima teman yang diajak “berkemah bersama”. Teman-teman ini akan digali pendapatnya soal kelas favorit dan alasannya, serta apakah ada tantangan dalam mengikuti kelas tersebut. Kalau bisa, diminta agar teman-teman ini adalah teman-teman baru, bukan yang sudah dikenal sebelumnya. Hasil dari obrolan ini nantinya akan diolah menjadi grafik terkait kelas favorit.

Continue reading