Hoax Gambar Berputar Yang Menunjukkan Tingkat Stres Kita

Hari ini di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti, adminnya mengirimkan sebuah gambar. Unik sih memang gambar yang didominasi warna ungu dan keemasan dalam motif geometris segienam berulang ini, ya. Kalau kita lihat, gambarnya tampak seperti berputar. Jadinya mirip video atau setidaknya file .gif lah, tetapi sebenarnya ini gambar ‘biasa’. Yang luar biasa ya bahwa gambar ini terlihat bergerak.

Daann katanya sih, bagaimana kita melihat gambar ini bisa menunjukkan seberapa parah tingkat stres kita. Tepatnya sih, kalimat yang disertakan seperti ini:

Gambar ini diorganisir oleh ahli syaraf Jepang.

1⃣ Jika gambar tidak berputar ➡ Anda sehat

2⃣ Gambar berubah perlahan ➡ Anda tidak bisa tidur atau lelah.

3⃣ Jika gambar berputar terus dan tidak berhenti ➡ Anda sangat stress atau punya masalah psikologis

Anda nomor berapa❓

Bahkan kemudian admin menambahkan pernyataan bahwa ia baru saja memperoleh tambahan informasi (mungkin dari grup lain yang ia ikuti) bahwa jika yang dilihat adalah sesuai dengan nomor 3 alias gambarnya seperti berputar terus, ada juga kemungkinan penyebab selain stres, yaitu pernah mengalami cedera kepala karena benturan fisik.

Continue reading

Aktivitas Anak Padat? Dukung dengan Susu Yang Tepat

Liburan akhir tahun, ke mana aja, nih? Melihat-lihat feed di medsos, sepertinya pada seru liburan ke luar kota, yaa…. Deretan tanggal merah dan cuti bersama yang berbarengan dengan liburan anak sekolah memang pas untuk family getaway.

Namun karena beberapa alasan, bisa jadi traveling ke luar kota tidak memungkinkan. Saya dan suami misalnya, terikat kesibukan akhir tahun di kantor yang justru semakin meningkat menjelang pergantian kalender dari 2018 ke 2019.

Nah, liburan ‘di rumah saja’, kalau tidak direncanakan dengan tepat, bisa jadi akan berlalu begitu saja tanpa kesan dan makna. Aktivitas di rumah seperti memasak bersama atau membuat panggung boneka asyik juga, sih, tapi kalau cuaca sedang cerah, kan seru ya bisa bermain atau berolah raga outdoor. Berkegiatan di luar ruangan begini, bisa mendukung kesehatan mereka juga, lho…

Continue reading

Virus Kehamilan, Waspadalah!

“Eh, ntar kopdaran injek kaki gw, yes? Biar cepet ketularan …,” ungkap seorang teman di grup whatsapp.

Kali lain, ada yang dengan heboh menghindari teman yang secara sengaja sambil bercanda berupaya menginjak kakinya. “Waduuh, jangan aku duluu, deh. Ntar dulu, ah!”

Apa, coba, yang bisa menular lewat injakan kaki? Mitosnya sih ini: kehamilan.

Tentu saja, yang namanya hamil kan bukan karena virus atau kuman lain yang bisa menular, ya. Tapi sering nggak memperhatikan bahwa teman-teman di sekitar kita cenderung hamil di waktu yang berdekatan? Termasuk diri kita sendiri yang ternyata mengandung di saat yang sama dengan sahabat-sahabat terdekat.

Continue reading

Sahabat Yang Baik Itu…

Kalau kita bilang, “Teman, kalau nanti kamu tidak melihat saya di surga, cari dan panggil saya dari neraka” itu kok seperti kita angan-angankan masuk neraka. Jangan begitu. Membayangkan kita masuk (jatuh ke) selokan saja pasti kita tidak mau, kan?

Ucapan Ustadz Oemar Mita pada kajian tanggal 15 kemarin di OJK berasa makjleb di hati. Memang, kalimat yang dinukil dari ucapan Ibnul Jauziy* tersebut cukup sering dilontarkan di sana-sini. Sekilas sepertinya tujuannya baik, biasanya untuk semakin memperkokoh pertemanan. Toh ada ulama yang mencontohkannya. Lagipula kayaknya kalau mau menyebut-nyebut kita pede masuk surga, takutnya seperti takabur gitu, ya. Wong amalan ya masih begini-begini saja. Namun, memang kalau kita minder atau nggak pede masuk surga, maka kita perlu usaha perbanyak amalan baik dan wasilah lain yang bisa menolong kita. Salah satunya, ya sahabat baik itu.

Continue reading

Pilihan Reusable Straw untuk Cintai Bumi

Sempat mengikuti dong ya berita tentang paus mati yang terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, November 2018 lalu? Di dalam perut mamalia laut sepanjang 9,5 meter itu ditemukan 5,9 kg sampah plastik! Biota laut menjadi pihak yang paling dirugikan ketika sampah terbawa ke habitat mereka. Sebagian hewan terjerat dalam belitan tali plastik hingga tidak bisa ke mana-mana dan berakhir mengenaskan, ada pula yang tidak sengaja memakannya karena aroma atau bentuk sampah tersebut mirip dengan apa yang biasa ia terjemahkan melalui indranya sebagai makanan. Atau mungkin ada yang pernah menonton video tentang seekor penyu di lepas pantai Costa Rica yang ditemukan dalam keadaan sebatang sedotan menancap di lubang hidungnya?

Banyaknya sampah plastik kian hari memang kian mengkhawatirkan. Bahan plastik sulit terurai sehingga membuat sampah jenis ini terus bertumpuk sebelum yang lama sempat hancur. Kalaupun hancur, malah bisa menjadi mikropastik yang bisa masuk ke air yang kita konsumsi tanpa disadari, saking mungilnya.

Sedotan yang sudah tidak terpakai merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar. Negara Inggris misalnya, diperkirakan membuang sampah sedotan hingga sebanyak 8,5 miliar batang per tahunnya. Sedangkan di Amerika, hampir 500 juta sedotan plastik dipakai setiap harinya. Praktis sih memang, ya, peralatan plastik ini. Setelah dipakai bisa langsung dibuang, tanpa perlu dicuci dan tidak makan tempat untuk penyimpanannya.

Ketika kita belum sepenuhnya bisa menghindarkan diri dari pemakaian plastik yang memudahkan hidup kita itu, setidaknya yuk berpartisipasi mengurangi apa yang kita pakai. Soal sedotan ini, misalnya.

Sebuah jaringan supermarket besar dari Australia telah berkomitmen tidak lagi menjual sedotan plastik. Sejumlah restoran makanan cepat saji maupun cafe di pusatnya maupun di gerai waralabanya di Indonesia kini sudah mengumumkan kebijakan mereka untuk tidak menyediakan sedotan lagi. Pemerintah Provinsi Bali pun tahun lalu bertindak menerbitkan peraturan yang melarang pemakaian beberapa produk styrofoam dan plastik, termasuk sedotan, di wilayahnya.

Sebetulnya sih, minum tidak harus pakai sedotan, ya. Kalau kita bisa sekalian tidak memakainya, itu lebih baik. Refuse kan merupakan tingkatan paling awal dari hierarki 5R, selanjutnya adalah reduce alias mengurangi pemakaian (ada beberapa versi memang, tetapi ini selengkapnya salah satu yang paling populer: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot). Hanya saja, bagi beberapa orang, sedotan punya manfaat tersendiri. Di antaranya:

  • Mereka yang giginya sensitif akan terbantu dengan sedotan yang membuat cairan dengan suhu atau keasaman tertentu tidak perlu terlalu banyak melewati rongga mulut.
  • Minuman berwarna tertentu berpotensi membuat gigi ternoda, jadi sedotan menolong dalam mengurangi kesempatan cairan melewati gigi.
  • Bagi anak-anak dan lansia yang kondisinya sudah melemah, atau yang menyandang kondisi medis khusus, sedotan membantu mereka untuk meminimalkan kemungkinan tumpah-tumpah saat minum.
  • Sedotan juga memungkinkan kita menghabiskan minuman ketika tinggal sedikit tanpa perlu mendongakkan kepala, atau ketika memang cairannya kalah volume dengan isi gelas lainnya (jadi pengin es teler, kan…).
  • Jika wadah minumnya berupa botol tinggi, menenggak langsung dari botol tuh bagi sebagian kalangan masih kelihatan kurang sopan.
  • Kalau lagi minum es kelapa muda langsung dari buahnya, pakai sendok agak kelamaan, deh. Mau diteguk dari kelapanya juga gimana gitu kan, beda dengan kalau pakai gelas.
  • Ada juga yang beralasan sudah biasa saja sih, merasa kurang afdol kalau menikmati minuman kesukaan tanpa sedotan.

Mengingat kebutuhan tersebut, sejumlah alternatif pun muncul. Ada sedotan kertas yang diharapkan lebih mudah terurai, tetapi bahannya yang ringkih membuat sedotan kertas gampang lembek dan sobek jika terlalu lama terendam cairan. Ada sedotan dengan bahan serupa plastik yang disebut-sebut biodegradable alias diharapkan lebih mudah terurai setelah dibuang. Namun, untuk hal ini ada pula pakar yang kontra, seperti Mark Hilton dari Eunomia. Dikatakan, penguraian bahan ‘biodegradable‘ yang ini di alam, termasuk di tanah ataupun di lautan, tidak semudah itu dan malah berisiko menghasilkan gas metan yang berkontribusi ke efek rumah kaca bagi bumi kita.

Continue reading

Tere Liye: Penulis Itu Harus Keras Kepala!

Melihat pengumuman bahwa Tere Liye akan mengisi Bincang Buku di Gramedia Matraman tanggal 23 Desember, tentu saya senang sekali. Sebelumnya saya memang sudah pernah bertemu dengan bang Darwis, begitulah nama asli Tere Liye, di Islamic Book Fair entah tahun berapa (sebelum Fahira lahir sepertinya). Malahan waktu itu sesi book signing bukunya yang dilakukan di stand Republika tergolong agak sepi, sehingga para penggemarnya, termasuk saya, bisa sambil mengobrol santai sejenak saat buku ditandatangani.

Namun saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengarkan kembali cerita bang Tere secara langsung. Sekian tahun berlalu, pastilah banyak perkembangan yang terjadi. Misalnya, kenapa lantas menulis untuk segmen remaja? Mengapa seri Anak-anak Mamak dikemas ulang dengan judul baru? Bagaimana proses menulis dengan co-author yang diterapkannya untuk beberapa buku? Apa kabar protesnya terhadap pajak penulis tempo hari?

Sebagian pertanyaan di atas terjawab dalam sesi bincang-bincang hangat sore itu. Tanpa pengantar moderator ataupun MC, bang Tere langsung menguraikan banyak hal. Di sebelahnya, salah satu co-author-nya, yaitu abangnya yang bernama Sarippudin mendampingi walaupun tidak terlalu banyak menimpali.

Kenapa Tere Liye menulis? Bang Darwis sebenarnya adalah lulusan Akuntansi FEUI, bahkan pernah berpartisipasi dalam penyusunan sejumlah PSAK. “Boleh jadi menulis adalah salah satu jalan hidup saya untuk berkontribusi bagi orang lain,” akunya.

Continue reading