Menjaga Quality Time bersama Keluarga sebagai Ibu Bekerja

“Semangat pagiii, Buibu. Lagi apa, nih?”

Pagi tadi sebuah pesan muncul di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti. Ada yang menyahut sedang sibuk antre untuk mendaftarkan anak ke sekolah incaran (iya, pendaftaran untuk tahun ajaran depan sudah dimulai sejak hari-hari ini), ada yang bersiap berangkat ke tempat kursus, ada yang sedang berdandan untuk menghadiri pesta pernikahan kerabat, ada pula yang masih sibuk menuntaskan cucian di rumah.

Saya spontan menjawab apa adanya, masih sibuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Ya, kantor boleh saja libur, tetapi ada beberapa pekerjaan yang belum beres dan akhirnya harus dilembur di rumah. Apalagi beberapa tahun belakangan saya ditugaskan di bagian yang pekerjaannya seringkali tidak kenal waktu.

Dulu, di bagian sebelumnya, saya sering pulang menjelang tengah malam pada akhir tahun begini karena memang tamu yang datang ke kantor pun membludak. Saat ini tugas saya seringkali bisa dikerjakan di rumah sehingga tidak perlu pulang terlalu malam, tetapi imbasnya memang kadang penugasan datang tiba-tiba berdasarkan permintaan maupun peristiwa yang terjadi. Pada beberapa kesempatan, ada juga tugas lapangan yang membuat saya harus datang ke tempat tertentu sebagaimana arahan yang diberikan.

Jadi, mau sedang jalan-jalan bersama keluarga di hari Minggu, lagi malam takbiran di kampung halaman, di tengah-tengah antrean panjang di rumah sakit yang sebentar lagi padahal sudah sampai ke nomor saya, selama masih memungkinkan maka sebisanya tugas dituntaskan. Alhamdulillah rekan-rekan kerja dan terutama atasan sangat memahami pentingnya menyediakan waktu untuk keluarga, sehingga kami semua bisa saling bahu-membahu menangani pekerjaan yang ada kalaupun ada anggota tim yang berhalangan. Apalagi jika sudah menyangkut keperluan keluarga yang sifatnya darurat.

Continue reading

Bebas Khawatir Efek Influenza, Lindungi Keluarga dengan Vaksinnya

Influenza? Itu kan salah satu penyakit langganan anak. Biasalah, namanya juga anak-anak, batuk pilek itu wajar.

Pernah berpikir demikian? Nah, ternyata pemikiran ini kurang tepat, loh. Influenza dan batuk pilek biasa atau diistilahkan dengan common cold adalah penyakit yang berbeda. Saya pernah membaca mengenai hal ini di sejumlah artikel tepercaya, dan beberapa waktu lalu lalu saya mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini dari ahlinya.

Tanggal 10 November kemarin, The Asian Parents Indonesia bekerja sama dengan @kenapaharusvaksin mengadakan Blogger Gathering yang mengupas tuntas soal influenza, khususnya dari sudut pandang para ibu. Lazimnya ibu-ibu, sering khawatir lah ya terkait kondisi kesehatan buah hati. Mom blogger Namira Monda mengawali sesi utama dengan berbagi kisahnya menjaga tumbuh kembang Aurora, putrinya.

Continue reading

Pilih Ukuran Pakaian Dalam yang Pas, Penting Loh!

Meski (biasanya) tidak terlihat dari luar, bukan berarti pakaian dalam bisa dianggap remeh. Kalau ukuran pakaian dalam tidak pas, maka fungsinya untuk melindungi bagian-bagian tubuh kita juga tidak optimal. Apalagi jika ada tujuan khusus yang ingin kita capai dengan pemakaian pakaian dalam ini seperti menjaga bentuk tubuh dan menyangga bagian tubuh tertentu pada tempatnya. Pastinya ukuran yang tepat sangat penting.

Saya kutip dari Huffpost, jika pakaian dalam terlalu ketat apalagi bahan pakaian dalamnya tidak nyaman dipakai, salah-salah kulit kita bisa mengalami iritasi. Iritasi ini sering menimbulkan rasa gatal yang memicu kita untuk menggaruk, dan risikonya adalah timbulnya luka yang berbekas. Bahan tertentu yang tidak breathable juga bisa meningkatkan risiko terperangkapnya kelembapan di area pribadi kita, yang bisa mengundang jamur maupun bakteri.

Risko lainnya dari pakaian dalam yang ketat adalah menekan peredaran darah sehingga menjadi tidak lancar. Bahkan pakaian dalam yang ditujukan untuk membentuk tubuh seperti korset model tertentu saking sulitnya dilepas bisa membuat seseorang menahan keinginan ke toilet. Kalau sudah begini, ada risiko infeksi saluran kemih mengintai, bukan?

Continue reading

Karena Orang-orang Suka Menjadi Yang Terdepan

Pernah enggak, sih, merasa gemas pada orang-orang yang dengan mudahnya berbagi hoax, khususnya melalui media sosial? Lewat obrolan langsung atau bisik-bisik tetangga bisa juga, sih. Namun, yang ‘barang bukti’-nya bisa tersimpan ya di media sosial atau aplikasi percakapan ini.

Kita bisa berprasangka baik pada orang tersebut, sebenarnya. Bisa jadi niat aslinya adalah ‘sekadar berbagi’, dan kata-kata ini jugalah yang seringkali digunakan untuk menyertai penerusan informasi, atau untuk menanggapi ketika ada yang menyangkal. Berjaga-jaga tidak ada salahnya, kan? Niat baik tentunya perlu diapresiasi, bukan? Hmm…. Yah, sebenarnya kalau bisa cek dulu kebenarannya, ya, sebelum berbagi. Daripada menjerumuskan banyak orang, kan. Kalau memang tidak sempat kroscek, bukankah ada baiknya tahan jempol dulu?

Kalau cari info dulu, lalu ternyata informasinya benar, nanti keburu basi, dong? Padahal seharusnya bisa menolong lebih banyak orang, apalagi untuk ‘berita’ yang terbatas waktu, entah itu informasi penutupan jalan, pemadaman listrik, kebakaran, gempa bumi, dan seterusnya.

Waduh, kalau cara pandangnya begini, saya juga garuk-garuk kepala. Apakah sebanding soal kecepatan ini dengan risikonya?

Continue reading

Ingin Yang Terbaik, Sudahkah Kita Dukung Anak Asah Potensinya?

Ketika membaca bahwa Teman Main akan menyelenggarakan Family Gathering tanggal 28 September untuk memperingati ulang tahunnya yang ketiga, saya segera mendaftarkan diri. Sebelumnya, kami sudah pernah ikut tiga field trip yang diselenggarakan @temanmainid. Lengkapnya #temanmain20 di Sudin Pemadam Kebakaran Jaktim, #temanmain21 di Taman Lebah Madu Cibubur, dan #temanmain24 di Museum Maritim. Anak-anak seseruan sambil tambah pengetahuan, orang tuanya pun ikutan (ya, banyak lho yang baru kami ketahui). Nah, saya baru tahu kalau ternyata Teman Main sudah 3 tahun usianya. Semoga makin banyak variasi kegiatannya di akhir pekan yaaa 😁 (curahan hati mamak pekerja).⁣⁣

Rekap Writober

Tuntas sudah sepuluh hari Writober Rumah Belajar Menulis (RBM) Ibu Profesional Jakarta saya lalui. Alhamdulillah bisa setor berurutan walaupun dengan waktu yang mepet sekali — hari terakhir saya setor adalah juga hari terakhir penyelenggaraan Writober. Program ini memang sangat menarik, terbukti banyak anggota RBM yang menyatakan senang dengan adanya dorongan untuk menulis sebanyak sepuluh hari dalam jangka waktu total sekitar 21 hari tersebut. Ada yang akhirnya menulis kembali di blog yang sudah lama berdebu karena ditinggalkan, ada juga yang dengan semangat membuat blog baru dari nol dengan segala tantangannya.

Continue reading

Writober 10: Menarik Dua Garis Biru

Kontroversi terhadap film Dua Garis Biru ini justru membuat saya penasaran untuk menonton. Lebih tepatnya, sih, karena sebagian tokoh pendidikan maupun perfilman, juga situs-situs parenting ada yang mengeluarkan pembelaan terhadap film tersebut. Katanya, tonton dulu sebelum menarik kesimpulan dan menghakimi dari trailer saja. Maka berangkatlah saya ke bioskop yang masih menayangkan film ini di luar jam kerja, yang saat itu sudah semakin sedikit pilihannya.

Continue reading