Awas Terjebak Unrealistic Optimism, Apa Itu?

“Ah, yang penting kita positive thinking aja. Kalau kita ketakutan terus, penyakit malah jadi gampang dekat-dekat.”
Perkataan seperti di atas mungkin sering kita dengar, apalagi akhir-akhir ini. Stres atau kepikiran dalam skala berat disebut-sebut bisa menurunkan imunitas dan meningkatkan kemungkinan tubuh kita diserang penyakit. Saya kutip dari Kompas tahun 2012, stres membuat sistem tubuh berkurang kemampuannya untuk meredam peradangan. Belum lagi, orang yang sedang mengalami stres kadang juga kemudian terjebak pada perilaku yang tidak sehat seperti merokok, minum minuman keras, tidak mau makan, dan tidur tidak teratur.
Maka ketika pandemi Covid-19 ini makin meluas, sering beredar anjuran untuk membatasi paparan terhadap berita negatif agar kita tidak tertekan. Salah satu grup whatsapp ibu-ibu yang saya ikuti sampai membuat batasan jam untuk bahasan Covid-19 agar tidak setiap saat ada cerita tentang penyakit tersebut. Bahkan sempat saya baca ada yang menawarkan semacam terapi berpikir positif untuk mencegah dan menangani Covid-19. Nah, seberapa ampuh sebenarnya pembatasan paparan ini terhadap kadar stres kita?

Continue reading

Mengenal Perbedaan Kista dan Miom

⁣Malam Sabtu lalu saya ikut menyimak live IG @unicornadcom yang menghadirkan dr. Ferry Darmawan, SPOG, MIGS. Dokter Ferry ini bisa dibilang DSOG yang langganan jadi narasumber untuk komunitas Smart Mums Id yang saya ikuti. Namun, kali ini dr. Ferry tidak membahas hubungan intim suami istri atau yang sering beliau istilahkan sebagai “rekreasi”, tetapi mengulas mitos seputar penyakit pada organ reproduksi wanita. Secara khusus, dr. Ferry mengupas perbedaan miom dan kista berikut mitos-mitos yang menyertainya.
Saya pun termasuk yang masih bingung membedakan keduanya. Kalau mendengar ada kerabat atau teman yang didiagnosis miom atau kista pada organ reproduksi, biasanya (selain mendoakan dan membantu apa yang bisa dibantu tentunya) saya juga jadi ingin tahu lebih lanjut tentang penyakit tersebut. Namun, saya belum pernah sampai benar-benar membaca secara mendalam dari sumber tepercaya. Sedangkan teman yang terkena pun kadang masih dalam keadaan perlu dukungan, sehingga saya tidak enak bertanya-tanya lebih jauh.

Continue reading

Siap Dampingi Anak Belajar di Rumah

Sebagaimana banyak anak lain di berbagai negara yang terkena dampak pandemi Covid-19, anak-anak saya juga belajar dari rumah sejak bulan Maret 2020. Anak sulung saya duduk di kelas 2 SD, sedangkan adiknya merupakan murid TK A. Masih kelas awal, sehingga pelajarannya juga belum begitu rumit. Alhamdulillah, sekolah mereka pun masih tergolong “manusiawi” dalam memberikan tugas, tidak seperti curhatan beberapa teman.

Meski demikian, harus saya akui bahwa hambatan tetap ada. Memori ponsel saya kepenuhan akibat terlalu banyak menyimpan video tugas untuk disetorkan. Saya kadang kewalahan membagi waktu antara mendampingi anak dengan mengerjakan tugas kantor, khususnya ketika ada ujian pada hari yang sama. Adakalanya anak juga “mogok” karena mengantuk, terlebih pada bulan puasa kemarin.

School from Home

Menemani anak-anak belajar di rumah

Sampai kapan para orang tua harus “juggling” begini? Yang saya baca dari artikel-artikel tepercaya, para ahli pun tidak bisa menentukan dengan pasti kapan pandemi ini berakhir. Jadi, yang bisa kita semua lakukan adalah terus beradaptasi.

Continue reading

Lezat dan Sehat Olahan Ubi Jalar Ungu

Unlock your skills in this lockdown period, kira-kira begitulah yang sempat saya baca di berbagai media. Setiap orang menghadapi tantangannya sendiri ketika anjuran untuk tinggal di rumah saja ini mulai diterapkan. Ada yang kewalahan mengatur jadwal work from home apalagi jika dibarengi dengan kewajiban mendampingi anggota keluarga lain menjalani school from home, ada yang bosan dan mengaku “mati gaya”, ada pula yang bersedih karena kehilangan mata pencaharian. Dalam saat-saat yang menantang inilah, justru kadang muncul kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru. Baik karena sudah bingung mau melakukan apa lagi, gara-gara mau mencari “me time” baru di tengah rutinitas baru yang penuh tekanan, atau memang untuk tujuan mencari uang.

Salah satu keterampilan baru yang banyak dipelajari adalah memasak. Kini sudah banyak aplikasi yang tersedia untuk membantu meningkatkan skill perdapuran tersebut. Yang mau lebih bebas dan tidak terikat waktu bisa memilih saja dari deretan resep dan tutorial yang tersedia. Yang ingin lebih fokus dan sekaligus bisa tanya-tanya kepada pengajar dapat mendaftarkan diri ke kelas memasak. Memang kursus masak yang melibatkan pertemuan langsung sepertinya belum akan ada dulu dalam waktu dekat, tetapi versi online-nya banyak tersedia, dari yang gratis sampai berbayar.

Continue reading

Memulai Rutinitas dalam Kenormalan Baru, Seperti Apa?

Jika pagi kemarin, 27/06, saya menyimak WeTheHealth melalui Lifepack Track bersama Mas Ade yang membahas kesehatan mental (sedikit ulasan saya bisa dibaca di postingan sebelumnya), pada sore hari saya mengikuti sesi Persiapan dan Adaptasi Menghadapi Rutinitas di New Normal yang menghadirkan dr. Jaka Pradipta, Sp. P. melalui Jovee Track.

New normal bukan berarti sudah kembali normal seperti dulu. New normal itu kita melakukan adaptasi untuk bertahan hidup, dengan melakukan modifikasi perilaku dan gaya hidup. Ada perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, tetapi ditambah dengan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19,” tegas dr. Jaka yang merupakan dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) ini.

Sampai kapan kita harus menerapkan gaya hidup yang cukup berbeda dengan sebelumnya ini? Para ahli belum bisa memastikan, tetapi kira-kira sampai obat atau vaksinnya ditemukan. Dalam tahapan ini, seyogianya sistem pengawasan kesehatan sudah mampu mendeteksi dan mengelola kasus, kontak, dan mengidentifikasi munculnya kasus baru.

Continue reading

Pentingnya Kelola Stres Saat Pandemi

Kondisi pandemi Covid-19 bukan hanya berefek pada kesehatan fisik, melainkan juga mental. Siapa saja bisa terkena stres akibat pandemi, baik karena memang menderita masalah kesehatan fisik juga, merawat anggota keluarga atau orang terdekat yang sakit, memiliki kecemasan akan wabah penyakit yang terjadi, menghadapi ancaman finansial karena perekonomian yang melambat, merasa tertekan karena harus bertemu dengan orang rumah selama 24 jam setiap hari, hingga merasa “sesak” karena adanya keterbatasan aktivitas sehari-hari. Stres ini bisa berjung pada masalah kesehatan mental.

Kemarin pagi, tanggal 27 Juni, saya menyimak salah satu sesi di WeTheHealth yang membahas Kesehatan Mental: Pentingnya Mengelola Stres Saat Pandemi bersama Mas Ade Binarko, founder Sehatmental.id. WeTheHealth adalah konferensi kesehatan digital pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Jovee dan Lifepack Indonesia. Banyak sesi menarik yang digelar dari pagi hingga sore hari.

Mas Ade merupakan penyintas atau survivor masalah kesehatan mental. Mas Ade pernah menghadapi masalah yang sampai membuatnya terkena panic attack hingga harus mendapatkan bantuan medis. Kemudian, Mas Ade mendirikan Sehatmental.id pada tahun 2015 karena merasakan belum menemukan kelompok dukungan untuk mereka yang menderita masalah mental terkait anxiety. Di Sehatmental, Mas Ade bekerja sama dengan Dr. Vivid Argarini yang merupakan seorang akademisi dan praktisi komunikasi dan dr. Rama Giovani, Sp.KJ, psikiater.

Mas Ade mengungkapkan, masa sekarang memang membawa banyak perubahan yang drastis. Aktivitas yang semula cukup bebas sekarang jadi terbatas. Semua orang dianjurkan untuk di rumah saja. Khususnya bagi orang yang berkepribadian ekstrovert, pasti terasa tidak nyaman. Ini saatnya kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memikirkan orang lain, karena meski merasa sehat kita bisa saja termasuk dalam golongan orang tanpa gejala (OTG) yang tetap berpotensi menularkan.

Continue reading

Kembali Beraktivitas Menuju New Normal, Perhatikan Hal Ini Yuk

Setelah beberapa bulan menjalani #dirumahaja, ada yang merasa enggak kalau kita lebih jarang sakit? Kalau saya sih merasa sekali. Terutama untuk anak-anak yang keduanya sudah sekolah, nih. Mengikuti pembelajaran dari rumah saja ternyata membuat mereka jauh dari batuk pilek. Saya pikir, ini karena interaksi yang terbatas dengan dunia luar, yang artinya meminimalkan kemungkinan tertular sesuatu.

Tentu, kita sebetulnya rindu juga ya beraktivitas di luar rumah, berinteraksi dengan lebih leluasa dengan teman dan kerabat. Namun, selama kondisi pandemi Covid-19 masih belum mereda, rasanya saya setuju untuk lebih baik membatasi bepergian selama memungkinkan, terlebih lagi bersama anak-anak. Sedangkan bagi yang memang harus keluar rumah untuk urusan pekerjaan maupun hal-hal mendesak lainnya, patuh terhadap Pedoman Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi satu keharusan.
Continue reading

Sasha Hadirkan Kebaikan Siwak dalam Kemasan Praktis

Bulan Ramadhan baru saja berlalu. Sedih pastinya, karena bulan penuh rahmat itu selalu saja berbeda rasanya dengan bulan-bulan lainnya. Apalagi dengan kondisi di rumah saja, jadi suasana ibadah puasa maupun ibadah-ibadah lainnya pun semakin syahdu. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang meraih kemenangan dan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, ya. Harapan kita juga, bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Sepanjang bulan puasa kemarin, waktu yang bisa dibilang 24 jam dihabiskan di rumah membuat saya juga jadi lebih perhatian akan hal-hal kecil yang sebenarnya penting. Menjaga kesehatan keluarga misalnya, yang bisa dimulai dengan menjaga kebersihan diri maupun rumah dan lingkungan sekitar.

Continue reading

Ragam Sajadah Empuk Dukung Nyamannya Ibadah

Tidak terasa, sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, jika Allah swt mengizinkan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang dijanjikan penuh dengan pahala dan kebaikan. Tak heran banyak yang berlomba-lomba memperbanyak ibadah agar dapat meraih keberkahan lebih banyak lagi. Salah satu ibadah yang bisa dilakukan adalah shalat sunat, misalnya shalat tarawih yang memang hanya ada di bulan puasa.

Dalam melaksanakan shalat, umat muslim biasanya menggunakan alas berupa sajadah. Sajadah juga bisa dipakai sebagai alas duduk saat berdzikir atau membaca Al-Qur’an. Beberapa waktu yang lalu saat mulai ramai penyebaran penyakit Covid-19 akibat virus corona, mulai banyak anjuran untuk membawa sajadah sendiri kalaupun tetap mau ke masjid.

Kini, semakin banyak yang memilih mengikuti anjuran ulama untuk shalat di rumah saja. Mau di masjid maupun di rumah, pastinya kita ingin memakai sajadah yang nyaman.

Saat ini banyak sekali ragam sajadah yang ditawarkan di pasaran. Ada sajadah tebal mirip permadani mungil nan mewah, ada pula sajadah tipis yang bisa dilipat untuk mempermudah dibawa bepergian. Untuk menemani aktivitas shalat yang lebih intens dari biasanya di bulan puasa, tak ada salahnya menggunakan sajadah empuk yang nyaman. Seperti apa pilihan sajadah empuk yang bisa kita pakai? Ini nih, daftar pilihannya.

Continue reading