Cari Ide Kado untuk Bayi? Jangan Lupa Buat Ibunya Juga!

Beberapa waktu belakangan ini kepedulian terhadap kondisi baby blues yang berlanjut pada postpartum depression (PPD) kembali mengemuka. Sebuah kasus menyentakkan banyak orang. Ternyata masih banyak yang belum memahami kedua kondisi tersebut, dan bahkan mengetahui definisinya pun bukan jaminan akan terhindar. Terbebas dari baby blues dan PPD pascamelahirkan anak pertama, sudah memiliki pengalaman atas apa yang akan dihadapi, belum tentu membuat yang berikutnya juga demikian.

Selain membekali diri sendiri dengan informasi terkait baby blues dan PPD, jangan lupakan juga bahwa kita perlu lebih membuka mata pada kondisi di sekeliling. Sebab, salah satu pemicu baby blues dan PPD adalah ketika sang ibu yang baru melahirkan ini merasa sendirian. Tanpa teman, tanpa dukungan sekeliling. Sebisa mungkin, beri perhatian kepada teman kita yang sedang menyambut kehadiran anggota keluarga baru, meski mungkin sekilas kondisinya tampak baik-baik saja. Ya, pastinya kita sudah cukup sibuk dengan urusan pribadi, tapi setidaknya tunjukkanlah perhatian, tawarkan apa yang bisa dibantu.

Di sisi lain, perhatian yang berlebihan, termasuk pemberian saran tanpa diminta, bisa mengganggu bahkan membebani perasaan ibu yang baru melahirkan. Jadi, ada baiknya kita mempertimbangkan masak-masak sebelum berucap atau bertindak. Pilih kata-kata yang tidak menghakimi, tahan lidah kita untuk berkomentar, lebih banyak sediakan telinga untuk mendengar.

Satu hal yang mungkin bisa kita lakukan sebagai awalan adalah dengan memberikan hadiah pada ibu yang baru melahirkan. Orang-orang cenderung memberikan kado sesuatu yang bisa dipakai oleh bayinya, padahal akan sangat manis kalau ibunya pun mendapatkan hantaran. Memberikan kado kepada anak sebelumnya (kakak bayi) ada baiknya juga, tapi tulisan kali ini akan berfokus pada hadiah untuk ibunya.

Continue reading

Pintar Kelola Dana Pendidikan untuk Generasi Terdepan

Tanggal 21 Juli lalu saya mendapatkan kesempatan dari Komunitas Sahabat Nova untuk mengikuti Financial Planning Class bersama perencana keuangan mba Erlina Juwita, M.M., CFP., QWP @erlrights. Berasa deg-degan juga sih.

Pertama karena jadi ‘dibedah’ kondisi keuangan kita. Karena konsepnya kelas kecil, jadinya peserta bisa sharing dan dapat saran langsung dari mba Erlina selaku financial planner independen dari OneShildt ini, bahkan bisa lanjut konsultasi via whatsapp.

Kedua, karena ya memang kondisi yang diceritakan mba Erlina selama sesi itu real, ya. Biaya pendidikan naik terus, apa yang sudah kita siapkan untuk sekolah anak-anak dan mungkin juga diri kita sendiri atau suami jika ingin melanjutkan pendidikan?

Continue reading

Upaya Jaga Kesehatan Keluarga dengan Vaksin Influenza

Awal Agustus kami baru saja menjalani vaksinasi influenza tahunan di klinik langganan. Kami? Iya, soalnya bukan cuma anak-anak yang disuntik, melainkan saya juga. Imunisasi ini menjadi salah satu upaya kami mencegah penyakit influenza yang komplikasinya tak main-main.
Di Indonesia, vaksin influenza yang biasa dipakai adalah vaksin mati atau inaktif yang diberikan dalam bentuk suntikan. Di luar negeri, ada pula vaksin influenza hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine/LAIV) yang diberikan secara intranasal alias dalam bentuk semprotan hidung, dan ada pula yang rekombinan. Kalau dari segi isinya, vaksin influenza ada dua jenis, yakni trivalen dan quadrivalen. Sesuai namanya, vaksin influenza trivalen isinya tiga yaitu dua galur virus influenza A (H1N1 dan H3N2) serta galur virus influenza B. Vaksin influenza jenis quadrivalen mengandung dua galur virus influenza A (H1N1 dan H3N2) dan dua galur virus influenza B. Kami pernah mengambil kedua jenis tersebut yaitu merk Influvac (trivalen) dan FluQuadri (quadrivalen).
Imunisasi untuk influenza di Indonesia ini kalau berdasarkan jadwal IDAI diberikan mulai usia di atas 6 bulan. Jika imunisasi pertama (primary immunization) diberikan pada usia kurang dari 9 tahun, maka diberikan dua kali dengan jarak minimal 4 minggu. Setelahnya, vaksin influenza diberikan setiap tahun.

Continue reading

Dorong Anak Tetap Aktif untuk Kesehatannya, Lengkapi Nutrisinya dengan Indomilk

Salah satu kekhawatiran tentang anak yang sering saya baca di media sosial adalah ‘kecanduan’ gawai. Gawai atau gadget memang menyediakan sarana hiburan yang mudah dinikmati oleh segala usia. Ada yang berusaha menenangkan diri, bahwa toh yang ditonton adalah konten yang sudah dipilihkan juga. Gawai dianggap juga bisa memberikan pengetahuan baru kepada anak-anak. Beberapa kawan mengakui, anak-anak mereka bisa lancar berbahasa asing atau berhitung lewat perantara gawai ini. Namun, kekhawatiran lain yang kemudian menghinggapi adalah, sehatkah duduk berjam-jam di depan gadget?

Tantangan Pengasuhan Zaman Now

Terlalu banyak berdiam diri, dalam arti gerakan tubuh minimal, tentu kurang baik juga bagi kesehatan. #AktifItuSehat, kan. Tubuh kita perlu dilatih agar tetap bugar. Anak yang terbiasa aktif sejak kecil umumnya akan membawa juga kebiasaan baik itu hingga dewasa, dan ini akan mengurangi risiko terkena penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga osteoporosis.

Selain itu, bergerak dengan aktif juga memiliki sederet keuntungan, misalnya seperti saya kutip dari Todaysparent dan Kidshealth sebagai berikut:

  1. Menjaga kesehatan tubuh

Aktivitas yang mengharuskan pergerakan bisa meningkatkan kerja jantung, dan dengan kadar yang tepat akan melatih kekuatan jantung sehingga tidak mudah terserang penyakit. Dengan kerja jantung yang baik, tubuh juga lebih bugar karena distribusi oksigen ke seluruh badan juga berjalan optimal. Bukan hanya jantung, otot lain pun ikut terlatih dan menjadi kuat dan lebih lentur.

Continue reading

Playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah, Ajak Keluarga Beraksi Peduli Tangani Masalah Sampah Sejak Dini

Sampah adalah bagian yang sulit terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Apa pun aktivitas kita, kemungkinan besar akan ada sampah yang dihasilkan. Lalu, ke mana sampah-sampah itu pergi?

Ketika membaca atau menonton berita bahwa di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ditemukan seekor paus mati dengan 5,9 kilogram sampah plastik di dalam perutnya, kesadaran kita seperti dientakkan. Sudah cukupkah slogan “buanglah sampah pada tempatnya”? Setelah dibuang, ke mana sampah-sampah itu pergi?

Melalui kegiatan playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah di Auditorium lantai 1 Perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Sabtu (02/03), Ibu Profesional Jakarta mengajak untuk meningkatkan kepedulian pada masalah sampah. Kegiatan playdate ini sekaligus menandai peluncuran resmi buku bergambar untuk anak yang berjudul Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah hasil karya Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta.

Alhamdulillah, saya senang mendapat kesempatan menjadi salah satu dari sebelas penulis dalam buku ini. Tanggal di awal bulan Maret sengaja diambil karena dekat dengan momen peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari. Ketika suami dan anak-anak plus pengasuhnya tiba di lokasi, saya yang berangkat duluan untuk bantu beres-beres turun sebentar ke lantai dasar menyambut mereka, lalu foto-foto dulu di photo booth yang tersedia. Nah, latar belakang oranye beserta perlengkapannya ini sebenarnya bukanlah photo booth baru, melainkan sudah pernah dipakai untuk Workshop Pandu 45. Tapi saat itu saya dan suami tidak sempat foto-foto di sana. Alhamdulillah, konsep reuse yang dijalankan untuk acara ini bikin keinginan saya foto-foto di depan tenda mungil nan lucu itu (meski sayangnya terpotong) kesampaian.

Kegiatan playdate diramaikan oleh sekitar 200 peserta yang terdiri atas anak-anak dan orang tua mereka. Ibu Profesional DKI Jakarta juga mengundang perwakilan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, komunitas Ibu Profesional daerah tetangga seperti Ibu Profesional Tangerang, Ibu Profesional Tangerang Selatan, Ibu Profesional Bogor, dan Ibu Profesional Bekasi, serta komunitas-komunitas yang memiliki visi dan misi serupa terkait pengelolaan sampah seperti Jirowes dan Klub Oase. Harapannya, kerja sama dengan pemerintah maupun komunitas lain dapat menggerakkan aksi peduli sampah agar semakin optimal.

Sebagaimana disampaikan oleh penanggung jawab kegiatan, Kak Laksemi ‘Ami’ Bania Siregar, dalam laporannya, “Tema Ibu Profesional pada 2019 adalah sinergi kebermaanfaatan, maka kami menggandeng pemerintahan, menggandeng komunitas-komunitas untuk bersinergi membuat Indonesia yang lebih baik. Karena zero waste itu tidak mudah, maka mari kita lakukan bersama-sama.”

Continue reading

Yuk, Ikutan Selamatkan Bumi dari Sampah!

Setelah proyek buku Ramadhan Seru bersama Hamzah dan Syifa, Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta kembali menelurkan karya baru untuk anak-anak. Kali ini, tema yang diangkat adalah ajakan untuk menjaga lingkungan, atau lebih spesifik lagi menyelamatkan bumi dari sampah.

Sejak tahun lalu, IP Jakarta memang memiliki Program Hijrah Nol Sampah. Persoalan sampah yang kian menumpuk dan mencemari bumi membangkitkan keprihatinan dan membuahkan gerakan. Manusia kan seharusnya menjadi khalifah di bumi, ya, dan memiliki tanggung jawab menjaga planet yang telah diamanahkan ini. Namun, yang kini terjadi adalah sampah yang dihasilkan oleh manusia justru semakin memenuhi bumi, mengancam kelangsungan hidup makhluk lain dan pada akhirnya akan merugikan manusia juga.

Program Hijrah Nol Sampah diwujudkan dalam bentuk grup khusus untuk memperoleh materi dari pakarnya atau mereka yang sudah lebih dulu menjalani hidup minim sampah. Dalam grup tersebut, anggotanya juga bisa berbagi mengenai tips dan trik mengaplikasikan pengelolaan sampah sehari-hari. Pada waktu-waktu tertentu diadakan tantangan untuk semakin menyemangati para anggota grup maupun member IP lain secara keseluruhan.

Berangkat dari situ, IP Jakarta atau tepatnya mbak Annisa Miranti Gumay selaku leader-nya pun memiliki ide untuk menyusun buku. Ada buku untuk orang tua yang masih berproses, ada juga buku untuk anak yang selesai lebih dulu.

Buku untuk anak ini berjudul Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah. Yang disebut dengan lima sahabat di sini adalah Andra, Bimo, Caca, Dilan, dan Emma, yang merupakan teman sepermainan dan tinggal berdekatan. Jadi, nanti pembaca akan mengikuti cerita-cerita mereka yang ada hubungannya dengan pengelolaan sampah.

Continue reading

Ingin Family Movie Time Tambah Asyik? Perhatikan Ini, Yuk… 

Momen pergantian tahun identik dengan dirilisnya sejumlah film keluarga. Mengingat anak-anak juga sedang libur semester, pergi ke bioskop bisa menjadi salah satu pilihan mengisi waktu mereka. Namun sebelum mengajak anak-anak nonton film, yuk selalu cermati dos & don’ts-nya. Jangan sampai kegiatan nonton bareng sekeluarga justru berujung ketidaknyamanan baik di sisi kita maupun penonton lain.

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sesi #TUMLuncheon “Family Movie Time” yang diadakan oleh The Urban Mama di Kopi Kotaku, Jakarta Selatan. Di sini, teh Ninit Yunita, founder TUM yang memiliki dua anak lelaki dan sering mengajak mereka menonton, berbagi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, cek durasi film, kalau terlalu panjang berpotensi anak bosan. Persiapan lewat sounding ke anak sebelum menonton menjadi penting, karena jika belum pernah, anak mungkin akan kaget dengan lampu yang digelapkan dan audio yang keras.

Orang tua juga bisa mencari tahu dulu sinopsis dan rating film yang hendak ditonton. Sempatkan untuk nonton trailer filmnya terlebih dahulu agar ada gambaran, pertama sendirian, berikutnya bersama anak jika sudah dirasa cocok. Jelaskan juga bahwa apa pun yang terjadi di layar adalah akting, dibumbui efek dari make-up maupun visual effects, alias tidak real.

Continue reading