[Kliping] Seputar Radang Tenggorokan dari dr. Apin

Mumpung ada waktu, bikin kliping deh dari status-status dr. Arifianto, Sp.A., alias dr. Apin seputar radang tenggorokan. Radang tenggorokan ini bisa dibilang diagnosis yang cukup umum diberikan, termasuk ketika sedang batuk pilek dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Dulu, saya juga termasuk yang menerima saran “kalau tenggorokan sudah mulai gak enak, itu tandanya sudah saatnya minum antibiotik, sebelum menjadi-jadi”. Termasuk isap-isap FG Troches, tablet pink berlubang di tengah yang ternyata mengandung antibiotik juga.

Setelah kenal Milis Sehat sekitar 9 tahun yang lalu, pelan-pelan saya mulai paham. Meskipun, kadang kalau lagi berasa ‘menderita banget’ seperti ketika sakit tenggorokan di masa awal-awal pindah ke Jakarta dan menelan air putih pun sampai berjengit kemudian dokter keluarga kami tetap tidak memberikan resep antibiotik, kadang rasanya pengin nangis menahan nyeri, hehehe. Tapi, ya itu kan memang prosedurnya ya. Kalau tidak terbukti radang tenggorokan karena bakteri, buat apa dikasih antibiotik? Nanti malah membasmi bakteri baik di dalam tubuh kita.

Untuk membedakan radang tenggorokan karena bakteri atau virus, bisa gunakan Centor score yang juga dijelaskan dr. Apin di bawah, atau lebih lengkapnya ada di web Sehat dengan alamat http://milissehat.web.id/?p=2636. Idealnya sih pakai uji usap tenggorok, tapi saya coba tanya lewat e-mail ke Prodia dulu, ternyata biaya tesnya amat mahal. Kultur swab tenggorokan harus bayar Rp477.500, itu tahun 2013 ya.

Siapa yang anaknya pernah didiagnosis dokter kena radang tenggorokan? Hayo angkat tangan! Ya, ya, saya seolah bisa melihat Anda mengangkat tangan.

Lalu…siapa yang anaknya dikasih antibiotik karena radang tenggoroknya? Ah, saya sepertinya melihat sebagian yang mengangkat tangannya tadi kembali mengacungkan telunjuknya.

Jadi…radang tenggorok perlu diobati dengan antibiotik? Kalau tidak diobati dengan antibiotik bagaimana? Katanya nanti bisa kena komplikasi ke jantung, radang ginjal, dan sebagainya.

Nah, ini dia tulisan yang ditunggu-tunggu selama ini: http://milissehat.web.id/?p=2636 yang menjelaskan perbedaan antara radang tenggorok alias sore throat dengan strep throat.

Ya, di artikel yg ditulis oleh seorang ahli infeksi tropis anak alumni Michigan University dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP ini, kita akan tahu fakta bahwa:
– radang tenggorok tidak semuanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep throat). Padahal antibiotik hanya diberikan pada sore throat yang disebabkan oleh strep throat.
– strep throat adalah penyebab 20-35% sore throat pada anak (tidak sampai 50% kan?). Ini pun pada yang usianya 5-15 tahun. Anak di bawah 3 tahun jarang sekali mengalami strep throat
– bila ada gejala pilek, maka kemungkinannya lebih mengarah pada infeksi virus yang tidak butuh antibiotik

Lalu apa gejala strep throat yang membutuhkan antibiotik? Baca dulu ya artikelnya…

 

 

 

 

 

 


Arifianto Apin

Continue reading

[Kliping] Seputar Puyer

Dari kliping yang saya posting sebagai materi Mabes TATC beberapa tahun yang lalu

[MABES TATC, Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta]
Pagi Bunda (dan Ayah juga), kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai puyer. Mengapa di TATC seringkali ada yang menyarankan lebih baik jangan pakai puyer? Penjelasannya bisa Bunda/Ayah temukan di sini :).
Menyikapi Obat Puyer
Definisi penggunaan obat yang rasional (Rational Use of Medicine / RUM) oleh WHO secara jelas mensyaratkan 5 poin yang harus dipenuhi dalam peresepan/penggunaan obat, yaitu:

1. Tepat pasien

2. Tepat indikasi

3. Tepat obat

4. Tepat cara pemberian obat, frekuensi, dan lama pemberian obat

5. Tepat biaya.

Sedangkan penggunaan obat yang tidak rasional (Irrational Use of Drug/IRUD) ditandai dengan ciri-ciri:

1. Tidak ada atau kecil kemungkinan untuk memberikan manfaat.

2. Kemungkinan efek samping lebih besar dari manfaat.

3. Biaya terapi tidak seimbang dengan manfaat yang diperoleh.

WHO mencatat Polifarmasi adalah salah satu bentuk penggunaan obat tidak rasional/IRUD yang paling sering terjadi. Polifarmasi adalah penggunaan obat lebih dari 3 jenis obat untuk satu pasien.
Puyer Pintu Gerbang Polifarmasi
Puyer adalah bentuk polifarmasi yang paling sering terjadi dalam peresepan obat-obat untuk pasien anak karena obat puyer biasanya mengandung 2 – 5 jenis obat. Obat puyer banyak diresepkan untuk terapi penyakit-penyakit yang umum diderita bayi dan anak seperti batuk pilek dan diare.
Beberapa alasan dokter menuliskan resep puyer:

1. Tidak ada produk obat jadi di pasaran yang komposisi obatnya seperti yang diinginkan. Ujung-ujungnya adalah praktek polifarmasi.

2. Menyesuaikan dosis dengan berat badan anak.

3. Terbatasnya produk tetes dan sirup yang diproduksi oleh pabrik obat.

4. Biaya terapi lebih murah.
Yang perlu dicermati dalam peresepan puyer adalah, apakah pasien bayi dan anak memang sungguh-sungguh memerlukan kombinasi obat yang dipuyerkan, yaitu  hingga 3 – 5 jenis obat, bahkan tak jarang hingga 7 obat? Tidak jarang dokter justru mencampur obat yang hanya diperlukan untuk mengurangi gejala (simpomatik) dengan obat yang menjadi penyebab penyakit (kausal). Padahal ada perbedaan signifikan dalam lama pemberian obat simptomatik dan obat kausal. Obat yang dipakai untuk meredakan gejala cukup diminum hingga gejala berkurang. Sedangkan obat untuk penyebab penyakit misalnya antibiotik harus diminum dalam jangka waktu tertentu (misalnya 3 – 5 hari atau hingga obat habis).
Misalnya untuk kasus batuk pilek pada anak, dokter mencampur dalam satu puyer, obat penyebab penyakit seperti antibiotik dengan beberapa obat pereda gejala seperti:

1. Parasetamol: antipiretik/untuk menurunkan demam

2. Pseudoefedrin: dekongestan/pelega hidung tersumbat

3. Gliseril guaiakolat (GG): ekspektoran, memudahkan pengeluaran dahak

4. Chlorpheniramine (CTM) : antialergi

5. Kortikosteroid: untuk mengurangi peradangan

6. Luminal: obat penenang.

Jika seluruh obat untuk atasi gejala tersebut dicampur dengan obat antibiotik, maka aturan pakai dan lama pemakaian obat akan mengikuti aturan pakai antibiotik, yaitu digunakan selama 3 – 5 hari. Padahal, belum tentu gejala batuk pilek yang dialami si bayi berlangsung hingga 3 – 5 hari. Apakah bayi akan terus menerus mengalami demam selama 3-5 hari sehingga harus terus meminum parasetamol? Belum tentu! Bagaimana jika demam hanya berlangsung di hari pertama sakit, tapi parasetamol masih terus diminum selama 5 hari ke depan karena kadung dicampur dengan antibiotik? Tentu saja bayi dan anak yang paling dirugikan karena harus meminum obat-obat yang tidak perlu. Memperberat kerja hati dan ginjal, meningkatkan insiden efek samping obat dan tentu saja pemborosan biaya terapi. Inilah yang akhirnya menyebabkan penggunaan puyer menjadi tidak rasional. Selain itu perlu juga dipertanyakan efektivitas penggunaan 3 – 5 jenis obat simptomatik. Apakah memang perlu seluruh gejala yang dirasakan anak diatasi dengan obat?
Cermati Kualitas Puyer

Dari segi kualitas, obat puyer juga punya banyak kelemahan di mana kualitas dan keamanannya tidak terjamin. Meskipun ada kaidah-kaidah yang harus ditaati dan dilakukan apotek dalam menyiapkan obat puyer, tetapi tetap saja tidak menjamin sepenuhnya kualitas dan keamanan obat puyer. Berbeda dengan obat buatan pabrik, produsen obat diwajibkan oleh pemerintah memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada setiap produk obat yang dijual. CPOB dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga proses quality control. Kondisi ruangan pun sangat terkontrol, baik kelembabannya, jumlah partikel, kebersihan, dll. CPOB menjamin obat layak dikonsumsi dari segi kualitas dan keamanannya.
Kekurangan obat puyer dari segi kualitas obat meliputi:

1.Rusaknya obat akibat proses penggerusan. Seringkali pemilihan obat yang akan dicampur dalam puyer tidak memperhatikan aspek sifat fisika kimia obat. Misalnya, meracik obat yang disalut, obat lepas lambat, obat yang tidak stabil atau obat yang sifatnya higroskopis (menyerap air). Padahal proses penyalutan obat dan teknologi lepas lambat, punya tujuan tertentu, misalnya obat disalut karena tidak stabil dalam udara, obat mengiritasi saluran cerna, dan lain sebagainya. Jika obat-obat yang disalut kemudian diracik, itu sama artinya dengan merusak kualitas obat itu sendiri. Padahal harga obat yang dibayar pasien sudah termasuk harga teknologi penyalutan obat. Tapi kualitas obat yang diterima pasien, tidak sesuai dengan harga yang dibayar.

2. Dapat terjadi interaksi akibat pencampuran obat secara fisik. Pencampuran obat secara fisik dalam mortar dapat menimbulkan interaksi kimia fisika dari masing-masing bahan obat, yang kemungkinan besar tidak disadari oleh dokter yang meresepkan maupun Apoteker dan Asisten Apoteker yang menyiapkan puyer karena minimnya pengetahuan mengenai bahan baku obat (yang memang bukan kompetensi mereka, melainkan kompetensi apoteker yang bekerja di pabrik obat).

3. Kontaminasi oleh obat lain. Mortar terbuat dari bahan yang memiliki pori, sehingga besar kemungkinan banyak bahan obat yang terjebak dalam pori-pori mortar. Meskipun mortar sering dicuci, tidak menjamin bahan obat lain yang terjebak dalam pori-pori mortar tidak ikut tercampur dengan obat puyer yang sedang disiapkan. Apalagi jika apotek hanya menggunakan satu – dua mortar untuk segala macam obat yang dibuat puyer dan tidak menyiapkan mortar khusus untuk obat-obat yang seharusnya tidak boleh dicampur pembuatannya dengan obat lain, seperti obat-obat antibiotik betalaktam dan produk hormon. Di pabrik, hal ini tidak akan terjadi karena CPOB mensyaratkan kedua obat tersebut dibuat di fasilitas produksi yang terpisah dengan fasilitas produksi obat golongan lain.

4. Tidak Homogen. Kemungkinan obat yang dicampur tidak homogen dapat saja terjadi terutama jika obat yang digerus seluruhnya berwarna putih. Obat yang tidak homogen sangat berpengaruh pada ketepatan dosis dan efek terapi yang diharapkan.

5. Stabilitas obat tidak dapat dijamin. Selain obat sudah rusak duluan akibat penggerusan, penyimpanan obat dalam kertas pembungkus juga tidak dapat menjamin sepenuhnya obat akan stabil selama penyimpanan. Karenanya, sebaiknya obat puyer tidak disimpan untuk dipakai lagi kemudian hari. Berbeda sekali dengan obat buatan pabrik. Di pabrik obat, obat jadi wajib memenuhi uji stabilitas selama 3 – 6 bulan sebelum obat dipasarkan. Uji stabilitas ini yang menjadi dasar penetapan umur obat (shelf life).

Dosis Puyer Lebih Tepat, Benarkah?

Meskipun dengan puyer, dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak, tapi ketepatan pemberian dosis melalui puyer sebenarnya juga patut dipertanyakan. Kok bisa? Yup, karena pada saat puyer hasil racikan akan dibagikan di kertas pembungkus, kenyataannya serbuk tidak ditimbang terlebih dahulu. Ketepatan pembagian obat puyer hanya berdasarkan evaluasi visual asisten apoteker. Belum lagi jika pencampuran obat tidak homogen yang membuat jumlah obat dan dosis dalam tiap bungkus puyer tidak sama.
Sumber: http://sobatobat.blogspot.com. Lebih lengkap bisa disimak di http://puyer.wordpress.com.
Tambahan catatan dari dokter anak saya:

****bila diresepkan puyer:****

1. tanyakan diagnosis pasti dan penyebab, bila infeksi virus tidak perlu diberi obat kecuali penurun panas jika perlu.

2. bila ternyata butuh obat misalkan antibiotik untuk infeksi bakteri dan butuh pula penurun panas, mintalah resep obat terpisah bukan dalam bentuk puyer. Bila terpaksa harus dalam sediaan puyer, mintalah puyer terpisah untuk setiap satu jenis obat.

3. selalu tanyakan obat yang diberikan, termasuk kandungan obat, nama generik, efek samping/reaksi obat, cara penggunaan dan penyimpanan.

4. jangan lupa untuk minta dibuatkan copy resep.

 

 

=================

Tentu ada yang kontra, ya. Alasan kepraktisan sering dikemukakan. Salah satunya datang dari seorang akwan yang anaknya berkebutuhan khusus, bentuk puyer menurutnya lebih mudah untuk diberikan ke anak apalagi kalau obatnya ada banyak jenis. Nah, biar ‘berimbang’ (walaupun saya lebih cenderung ke tulisan di atas untuk kehati-hatian yang beralasan), berikut tanggapan dari dokter lain saat pro kontra puyer mengemuka di tahun 2009 (karena dibuatkan laporan khususnya oleh RCTI waktu itu): http://news.okezone.com/read/2009/02/13/1/192600/perdebatan-soal-puyer-tidak-pada-substansinya. Salah satu yang disiratkan di situ adalah, kalau memang segitu berbahaya, ke mana WHO sebagai badan kesehatan dunia?

Ternyata pada tahun 2011 WHO mengeluarkan publikasi Indonesia Pharmaceuticals in Health Care Delivery – Mission Report 10 – 23 July 2011 yang dilaporkan oleh Kathleen A Holloway, Regional Advisor in Essential Drugs and Other Medicines, World Health Organization, Regional Office for South East Asia, New Delhi, dan puyer disebut-sebut di situ. Lengkapnya di sini http://www.searo.who.int/entity/medicines/indonesia_situational_analysis.pdf., sebagian saya kutip sebagai berikut:

Prescribing data from MOH in 2010 showed serious polypharmacy and high use of antibiotics. The consultant undertook a rapid prescription survey and also found polypharmacy and high use of antibiotics, vitamins and steroids. At the primary care level most drugs were prescribed by generic name and belonged to the EML, but in hospitals and the private sector few drugs belonged to the EML and most were prescribed by brand name. Puyer is a common unsafe practice observed in all facilities, where different drugs are mixed together, pulverized and then the powder divided into separate doses by eye. There are national standard treatment guidelines for puskesmas (PHCs) but they are not used much by doctors. All hospitals are mandated to have a Drug & Therapeutics Committee, but most of them function poorly and are only involved in development and printing of the hospital formulary.
Continuing medical education (CME) is adhoc mainly consisting of lectures arranged by the local medical association and sponsored by the pharmaceutical industry. The medical council has introduced a CME credit system in which 250 points are needed every 5 years for relicensing but points can be gained without learning anything about prescribing. The Directorate of Pharmaceutical Services undertakes prescription monitoring in the puskesmas, training of pharmacists in good pharmaceutical care and a community empowerment program. However, there appears to be no active program to promote rational use of medicines targeted at doctors, who are the main
perpetrators of irrational prescriptions.

……

The practice of puyer is where 2 or more (often 5-10) different prescribed drugs (the number of tablets varying according to the number of drugs and the amount of each drug prescribed), are pulverized together into a powder and then allocated into a number of doses, packaged separately, by eye. This practice was observed in all facilities. Sometimes a pestle and mortar was used and sometimes a food mixer. The food mixer was wiped with a dry cloth between making different puyers in one puskesmas. Irrational fixed-dose combination products were also frequently used.
Box 1 shows examples of puyers and irrational fixed-dose combination products that were observed to be used.
None of the prescribing doctors met in the puskesmas or district hospitals felt that puyer was unsafe or ineffective. None seemed to know of the effort made by manufacturing companies to ensure bioavailability of fixed-dose combination products or that puyer ignores good manufacturing practices. In addition, many irrational fixed-dose combination products on the market were highly popular. All the prescribing observed was done by doctors. However, it was mentioned by the MOH that in remote parts of Indonesia, prescribing is done by paramedical staff and nurses.

 

Itu data tahun 2011 ya, sementara belum nemu yang lebih baru. Tapi yang jelas, praktik puyer ini masih jalan hingga saat ini di kota besar, baru saja saya baca seorang teman yang tinggal di Jakarta bilang bahwa dokter anak-anaknya selalu meresepkan puyer untuk penyakit common problems. Saya pun bukan tak pernah dikasih puyer untuk anak, hanya saja sebetulnya di resep tidak ada instruksi untuk menghaluskan (karena dokter yang meresepkan jelas-jelas aktif berkampanye tolak puyer pada masanya), apoteker di apoteknya saja yang berinisiatif membuatnya jadi puyer (+gula tentunya) karena tahu ini untuk anak-anak.

[Kliping] Seputar Demam Dengue

Buat arsip, sebagian dari akun dr. Arifianto, SP.A.

(Baca juga: https://ceritaleila.wordpress.com/2016/08/11/demam-lebih-dari-3-hari-wajibkah-cek-darah/)

Arifianto Apin
12 October 2014 at 10:27 · Edited ·
Antara Demam Berdarah dan Tipes
Di RS, salah satu aktivitas saya adalah membimbing adik-adik mahasiswa FK YARSI yang menjalani tahap koasistennya (koas). Beberapa hari yang lalu, kami mendiskusikan demam berdarah Dengue (DBD) dan tipes alias demam tifoid dalam bentuk presentasi kasus.
Ada beberapa poin yang saya tekankan sebagai “take home message” dan ingin saya bagikan di sini.
Pertama, nilai trombosit turun tidak hanya terjadi pada DBD dan demam Dengue (DD) saja, tetapi dapat terjadi pada berbagai infeksi virus dan bakteri. Bahkan batuk-pilek alias selesma saja bisa turun trombositnya. Roseola pun cukup sering turun trombositnya. Perhatikan juga nilai hematokrit yang meningkat pada DBD. Jadi perhatikan keduanya.
Kedua, demam tifoid hanya dicurigai bila demamnya minimal 7 hari. Jangan curigai seorang anak mengalami tipes alias demam tifoid bila demamnya baru 3-5 hari.
Lalu, pemeriksaan Widal di Indonesia tidak dapat dijadikan patokan untuk menegakkan diagnosis tifoid, karena kalau saja orang-orang dewasa yang sehat tanpa gejala, ketika diperiksakan Widal-nya bisa jadi mayoritas akan positif. Widal mendeteksi adanya kekebalan tubuh (antibodi) yang dihasilkan ketika seseorang sudah pernah menelan kuman Salmonella penyebab tifoid, tetapi anak-anak yang Widal-nya positif belum tentu sakit.

===============================================================================

Arifianto Apin

2 March at 16:54 · Edited ·

Katanya Demam Berdarah Dengue alias DBD sedang mewabah ya? Bagaimana dengan “tipes” alias demam tifoid? Karena kabarnya ada beberapa yang dirawat akibat DBD dan demam tifoid bersamaan. Mungkinkah?

Ini pertanyaan favorit saya buat para Koas yang sedang menjalankan rotasi di bagian Anak. Apa pasalnya? Beberapa orang bercerita dirinya didiagnosis DBD dan tifoid bersamaan gara-gara: tes Widal!

Banyak orang familiar dengan pemeriksaan laboratorium satu ini. Katanya kalau Widal-nya positif, berarti sakitnya tipes. Ketahuilah bahwa diagnosis demam tifoid dipastikan dengan beberapa hal:

1. Gejala. Ya, namanya saja demam tifoid, jadi yang sedang sakit pasti bergejala demam. Nah, demamnya seperti apa? Ada yang bilang seperti “step ladder”, jadi makin lama hari sakitnya, maka ambang suhunya makin tinggi. Tapi ternyata tidak harus seperti ini. Yang menjadi kata kunci demam tifoid adalah: demamnya mininal 7 hari! Beda kan dengan DBD yang sudah bisa dicurigai sejak demam 2 hari bahkan.

2. Penyakit tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Kita sudah paham bahwa yang namanya infeksi bakteri butuh antibiotik (DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang tentunya tidak butuh antibiotik). Bakteri Salmonella ini masuk ke tubuh lewat makanan/minuman yang terkontaminasi Salmonella. Dan umumnya makanan pinggir jalan yang higienenya buruk yang berisiko menyebabkan tipes. Siapa yang biasa jajan makanan seperti ini? Anda dan saya tentunya. Hehe. Maksud saya, mungkinkah anak berumur 2 tahun atau lebih muda yang belum pernah jajan makanan seperti ini terkena demam tifoid? Inilah sebabnya tifoid umumnya menginfeksi anak besar usia SD ke atas. Evaluasi ulang bila seorang anak balita sampai didiagnosis tifoid.

3. Lalu bagaimana bisa memastikan diagnosis tifoid berdasarkan pemeriksaan darah? Dengan pemeriksaan Widal? Hmmm…

Jadi pemeriksaan laboratorium yang bertujuan menentukan kuman penyebab penyakit ada 2 cara: secara langsung menemukan kumannya dan yang secara tidak langsung.

Cara pertama adalah dengan pemeriksaan kultur (biakan) baik dari darah, air seni (urin), dan tinja (feses), maupun cairan tubuh lainnya. Jadi kuman dibiakkan dalam suatu media, dan ditunggu hingga beberapa hari untuk mendapatkan hasil apa sebenarnya bakteri penyebab penyakitnya. Inilah yang dilakukan pada kecurigaan demam tifoid, yaitu dengan pemeriksaan kultur darah/tinja/urin untuk mendapatkan si kuman Salmonella typhi. Sayangnya tidak semua RS punya fasilitas ini. Dan harganya juga tidak murah (tapi ditanggung BPJS Kesehatan lho…).

Cara kedua adalah dengan mendeteksi “jejak” keberadaan si kuman, yaitu dengan mengetahui adanya antibodi yang dihasilkan si antigen (kuman). Inilah Prinsip pemeriksaan seperti Widal, Tubex, TORCH, dan IgG-IgM Anti Dengue. Jadi ada risiko yang terdeteksi sebenarnya adalah “jejak” si kuman masa lampau, yang pernah masuk ke tubuh berbulan-bulan lalu. Bukan yang menyebabkan sakit saat ini.

Paham tidak sejauh ini? Mudah-mudahan tidak bingung.

Jadi bisa saja Widal-nya “positif”, tapi sebenarnya tidak sakit tipes! Karena Widal ini menandakan berbulan-bulan lalu ia pernah kemasukan kuman tifoid, dan saat itu ia tidak sampai sakit. Sedangkan saat ini sakitnya bukan tifoid dari gejala-gejala yang ada.

Pelajarannya adalah: selalu berhati-hati dalam menginterpretasi pemeriksaan laboratorium yang menilai keberadaan kuman secara tidak langsung, termasuk Tubex (IgM Anti Salmonella) yang katanya lebih sensitif dan spesifik dari Widal. Pemeriksaan semacam TORCH pun juga.

Saya kadang mengajak kawan-kawan berdialog seperti ini: “dari kita semua yang ada di sini dalam kondisi sehat wal afiat, bila “iseng-iseng” dicek Widal-nya, bisa saja mayoritas “positif”, padahal tidak satu pun yang demam tifoid.” Mengapa? Karena kita semua pernah makan jajanan pinggir jalan yang terkontaminasi Salmonella, tetapi alhamdulillah tidak sakit, karena adanya antibodi yang melawan kuman. Dan “jejak” inilah yang terbaca sebagai Widal positif.

Sebagai kesimpulan, lessons learned-nya adalah:

1. Kembalikan kepada diagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami. Kalau demamnya baru 3 atau 5 hari, ya kemungkinan kecil, bahkan jangan pikirkan dulu, demam tifoid. Berpikir demam tifoid ya kalau demamnya sudah lebih dari 7 hari. Bahkan kalau demam sudah 3 hari tapi jelas ada batuk pilek ya tidak usah juga berpikir DBD dan cek darah, karena diagnosisnya adalah selesma.

2. Setiap pemeriksaan laboratorium pastilah memiliki keterbatasan. Maka selalu kembalikan kepada diagnosis. Dokter tidak mengobati hasil laboratorium, tetapi dokter mengobati pasien.

Semoga bermanfaat

============================================================================

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal di daerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris. Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemis cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitif untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Selengkapnya di blog mba Auditya & dr. Ferry, SP.A

Demam Berdarah = Turun Trombosit/Perdarahan?

===========================================================================

Sementara itu dokter spesialis anak RS Sardjito lainnya dr. Ida Safitri, Sp.A. menambahkan masih ada kesalahan persepsi di kalangan masyarakat bahkan tenaga medis yaitu penurunan jumlah trombosit merupakan penentu derajat keparahan DBD. Padahal yang menentukan derajat keparahan DBD adalah peningkatan kekentalan darah (hematokrit yang meningkat) maupun juga disertai penurunan trombosit.

“Hematokrit naik bisa sebabkan syok. Trombosit turun hanya di fase kritis dan akan normal di fase pemulihan. Sepanjang tak terjadi perdarahan berat tak perlu intervensi medis untuk menaikkan kadar trombosit,” kata Ida.

Sedangkan mengenai obat yang beredar di pasaran yang mengandung angkak, ekstrak jambu biji merah, sari kurma dll sampai saat ini ujar Ida belum ada penelitian atau bukti ilmiah tentang manfaat zat-zat tersebut dalam kaitannya untuk meningkatkan kadar trombosit.

http://m.okezone.com/read/2010/04/07/340/320286/trombosit-bukan-penentu-derajat-keparahan-dbd

=======================================================================

Perjalanan penyakit demam dengue umumnya hanya satu minggu. Setelah itu, pasien akan membaik, asalkan tidak disertai kebocoran pembuluh darah. Jika disertai perdarahan ini disebut DBD (demam berdarah dengue). Dari yang mengalami perdarahan ini, sekitar 30 persennya terkena syok dan 30 persen lagi bersisiko kematian.

Selama ini, anggota keluarga pasien akan merasa sangat khawatir jika kadar trombosit yang sakit dinyatakan turun. Sebetulnya bukan kadar trombosit yang menentukan keselamatan pasien, akan tetapi hematokritlah yang lebih penting diperhatikan.

“Trombosit turun sampai tinggal belasan ribu, kalau hematokrit masih bagus, ya tidak akan meninggal, karena berarti tingkat kebocoran pembuluh darah tidak tinggi,” jelas Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)., M.TropPaed., Ketua Divisi Penyakit Infeksi dan Pediatri Tropis, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Kondisi demamnya juga harus diperhatikan. Penyakit DBD biasanya ditandai demam tinggi selama tiga hari. Namun, bukan hanya demam pada tiga hari pertama itu yang harus diwaspadai. “Masa kritisnya justru di hari keempat dan kelima. Jadi, jangan lengah, jangan merasa sudah aman jika demam terkesan menurun di hari keempat dan kelima,” saran dr. Hingki, sapaan akrabnya.

http://m.tribunnews.com/kesehatan/2013/06/18/bukan-kadar-trombosit-penentu-keselamatan-pasien-demam-berdarah

================================================================================

Banyak kabar yang beredar di masyarakat kalau terkena demam berdarah diberikan jus jambu atau angkak. Namun sebenarnya tidak ada obat untuk demam berdarah, tapi hanya andalkan banyak cairan.

“Demam berdarah tidak ada obatnya, tapi hanya bermain cairan,” ujar Dr. Rita Kusriastuti, MSc., Direktur Pengendalian Penyakit bersumber Binatang (P2B2) Ditjen P2PL Kemenkes RI dalam acara peringatan pelaksanaan ASEAN Dengue Day ke-2 di Amilun Convention Hall, Medan, Jumat (15/6/2012).

Dr. Rita menuturkan pertolongan pertama untuk demam berdarah adalah memberikan cairan, mau jus jambu, sari kurma atau angkak yang terpenting memberikan cairan ke dalam tubuh. Lalu pantau pada hari ketiga dan kelima yaitu saat masa kritis.

Hal ini karena pada orang demam berdarah terjadi kebocoran di pembuluh darah sehingga harus diberikan banyak minum untuk mengganti cairan agar trombosit tidak makin turun. Tapi pemberian cairan ini jangan dipaksa hanya sekuatnya saja.

“Pada hari kelima trombosit akan naik sendiri meski hanya minum air putih, karena tubuhnya sudah bisa memperbaiki diri sehingga kadar trombositnya naik. Tapi kalau virusnya ganas maka kebocoran bisa parah dan harus dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.

Dr Rita menjelaskan dalam menangani kasus demam berdarah hanya perlu bermain dengan cairan, saat terjadi kebocoran harus banyak minum, tapi saat kebocorannya sudah selesai maka dalam waktu 2×24 jam asupan cairan harus dikurangi.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk pertolongan pertama terhadap penderita demam berdarah yaitu:
1. Memberikan minum sebanyak mungkin.
2. Kompres agar panasnya turun.
3. Memberikan obat penurun panas.
4. Jika dalam waktu 3 hari demam tidak turun atau malah naik segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas.
5. Jika tidak bisa minum atau muntah terus menerus, kondiai bertambah parah, kesadaran menurun atau hilang maka harus dirawat di rumah sakit.

http://m.detik.com/health/read/2012/06/15/143241/1942274/763/demam-berdarah-tidak-ada-obatnya-hanya-andalkan-cairan

=============================================================================

Meski sama-sama disebabkan oleh infeksi virus dengue, demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah hal yang berbeda. Mengapa? Dan apa penyebab serta bagaimana penanganan serta perawatan orang sakit demam dengue dan demam berdarah dengue?

Dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Leonard Nainggolan, dilansir Kompas, mengatakan meski demam dengue dan DBD sama-sama disebabkan oleh virus dengue, ada perbedaan dasar pada keduanya, yaitu kebocoran plasma. Pada demam dengue gejala hanya berupa demam dan syok namun tidak sampai disertai dengan kebocoran plasma.

Ia menjelaskan, kebocoran plasma merupakan melebarnya celah antar sel di pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya plasma darah keluar dari pembuluh darah. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah.

Meski plasma darah bisa keluar, lanjut dia, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar. Jika plasma darah saja yang keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya.

Dengan kata lain, DBD lebih berbahaya dan memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan dengan demam dengue. Ini karena jika terjadi kebocoran plasma, DBD bisa berisiko kematian. Ini berhubungan dengan pengentalan darah yang tidak normal di dalam tubuh yang berakibat kurangnya pasokan bagi organ-organ penting dalam tubuh.

Dalam kesempatan berbeda, Profesor Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, ada dua pendapat mengenai demam dengue dan DBD itu sendiri. Pendapat pertama, kedua penyakit itu berbeda, namun ada pula yang mengatakan, demam dengue bisa berkembang menjadi DBD jika dibiarkan.

“Namun yang jelas, orang perlu mewaspadai kebocoran pada plasma karena bisa menyebabkan kematian,” kata Sri.

Mengapa mematikan?

Dengan risiko kematian mencapai 0,9%, penyakit demam berdarah jelas bukanlah penyakit yang bisa diremehkan. Apalagi kasus penyakit ini mencapai 140.000 setiap tahunnya.

“Kalikan saja 0,9% dengan 140.000, sudah 1.400 dalam setahun. Sehingga dalam sebulan paling tidak rata-rata ada 100 kematian karena DBD di Indonesia,” kata dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD.

Ia menjelaskan, DBD bisa menyebabkan kematian jika pasien tidak bisa melewati fase kritis dengan baik. Pada fase kritis, virus dengue penyebab DBD mulai beraksi merusak celah antarsel di pembuluh darah.

Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah. Meski plasma darah bisa keluar, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar.

“Jika plasma darah keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya,” tutur dia. Ia menganalogikan dengan cairan gula. Bila satu sendok gula biasa dilarutkan dalam satu gelas air, larutan gula akan lebih pekat bila gula hanya dilarutkan dalam setengah gelas air.

Nah, komplikasi pengentalan darah inilah yang berakibat fatal. Leonard menjelaskan, darah yang lebih kental akan lebih sulit dialirkan ke seluruh tubuh. Lama kelamaan organ-organ tubuh akan kekurangan pasokan oksigen dari darah.

Kurangnya oksigen pada organ akan menganggu fungsinya. Jika dibiarkan, pasien akan mengalami kegagalan multiorgan dan meninggal.

Perawatan Umum

Saat menderita demam berdarah, jus jambu menjadi minuman rutin dikonsumsi pasien. Mitos bahwa jus jambu cepat menurunkan trombosit memang telah mengakar kuat di masyarakat. Tetapi, seperti apakah faktanya? Leonard Nainggolan mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat jus jambu untuk penyembuhan DBD. Namun, untuk meringankan fatalitas dari DBD, pasien perlu banyak minum.

“Namun cairan itu bisa didapat dari mana saja, tidak harus jus jambu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prinsip cairan yang masuk ke dalam tubuh pasien DBD adalah yang mengandung isotonik dan glukosa. Itulah kenapa jus jambu yang umumnya merupakan minuman manis dan mengandung vitamin dan mineral dari buah masuk dalam kriteria minuman yang dibutuhkan oleh pasien DBD.

“Sebaiknya memang bukan air biasa, karena pasien membutuhkan pengganti isotonik dan glukosa yang banyak hilang saat sakit. Itu juga yang direkomendasikan WHO,” kata dia.

Menurut dia, selama pasien tidak mengalami keluhan setelah minum minuman, termasuk jus jambu, maka tidak ada masalah bila pasien meneruskannya. Ia menegaskan, supaya pasien selama sakit minum sebanyak yang ia mampu. Tujuannya untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran pembuluh darah.

Diketahui virus dengue penyebab DBD beraksi dengan merusak celah antarsel di pembuluh darah. Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini.

Perawatan di rumah sakit

Setiap kali terjadi wabah demam berdarah (DB), hampir setiap rumah sakit akan penuh oleh pasien DB yang dirawat inap. Bahkan, di beberapa rumah sakit pemerintah pasien sampai harus dirawat di aula atau selasar karena tidak kebagian tempat tidur.

Meski berisiko mematikan, DB sebenarnya merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa obat. Namun sebelum sembuh, orang yang menderitanya akan melewati masa kritis. Dan pada masa itulah pasien membutuhkan perawatan yang baik untuk menjaga kondisi tubuhnya hingga mampu melewati masa kritis. Perawatan yang baik seringkali diasosiasikan dengan rawat inap di rumah sakit. Namun sebenarnya tidak semua penyakit DB membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Gejala demam berdarah

Leonard Nainggolan mengatakan gejala demam berdarah biasanya mirip dengan gejala penyakit lain. Karena itu jika mengalami gejala demam tinggi secara mendadak selama hampir 7 hari, lesu, tidak ada gejala influenza, dan demam mendadak dibarengi rasa sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, serta nyeri di belakang mata, maka hal permata yang wajib dilakukan adalah membawa pasien ke dokter untuk memastikan diagnosis.

“Namun untuk menentukan selanjutnya apakah pasien harus dirawat inap atau rawat jalan, kuncinya yaitu ada tidaknya kedaruratan. Kedaruratan yang dimaksud adalah syok, kejang, kesadaran menurun, dan pendarahan,” papar dia.

Meski tidak terjadi kedaruratan, ada dua kemungkinan yaitu tetap harus dirawat inap atau rawat jalan. Untuk menentukannya dokter akan melakukan uji Torniquet yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya bintik-bintik merah pada kulit.

Bintik-bintik merah pada kulit merupakan tanda tubuh mengalami pendarahan akibat virus dengue. Jika sudah terjadi pendarahan, artinya sudah terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang menyebabkan pengentalan darah yang berakibatan fatal.

“Namun kalaupun hasilnya positif, perlu dilihat juga jumlah trombosit pada darah. Jika kurang dari 100.000/ul, maka perlu dirawat inap, namun jika lebih dari 100.000/ul bisa dilakukan rawat jalan,” kata Leonard.

Dengan catatan, lanjut dia, rawat jalan perlu disertai dengan kontrol setiap hari sampai demam reda. Dan selama dilakukan rawat jalan, pasien perlu diberikan cairan sebanyak-banyaknya, semampu yang pasien bisa minum.

Infeksi kedua lebih parah

Setiap mengalami penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh virus, tubuh secara alamiah akan membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut. Antibodi tersebut kemudian akan terus berada di dalam tubuh sehingga ketika virus yang sama menyerang tubuh sudah memiliki kekebalan.

Kendati demikian, konsep tersebut sedikit berbeda untuk penyakit demam berdarah (DB). Sehingga meski tercipta antibodi, tubuh bukannya kebal melainkan merespon virus dengan berlebihan sehingga menimbulkan gejala yang lebih parah daripada yang sebelumnya.

Menurut Leonard Nainggolan, setelah sembuh dari DB seseorang mungkin terkena DB lagi. Alasannya, virus dengue penyebab DB terdiri dari beberapa tipe, yaitu tipe den-1, 2, 3, dan 4.

“Sehingga misalnya pertama DB seseorang terinfeksi virus tipe den-2, suatu saat mungkin ia terkena DB lagi dari virus tipe den-3,” tuturnya.

Ia menerangkan, saat terkena DB dengan virus dengue den-2, maka antibodi yang terbentuk adalah untuk virus tipe tersebut, bukan tipe lainnya. Maka paparan virus tipe lainnya tetap bisa menyebabkan seseorang itu terkena DB kembali. Sayangnya, gejala yang ditimbulkan dari infeksi yang kedua mungkin lebih berat dari yang pertama. Menurut Leonard, ini karena reaksi antibodi yang sudah diciptakan dari infeksi sebelumnya mengenali virus tipe berbeda, namun tidak bisa melawannya.

“Efek sampingnya tidak ringan karena antibodi merespon (virus tipe berbeda) dengan lebih aktif,” ujar dia.

Ia mengatakan, virus dengue terbanyak yang dijumpai di Indonesia adalah virus tipe den-2 dan 3. Meski gejala dari infeksi masing-masing tipe virus tidak ada perbedaan yang signifikan.

Kewaspadaan

Cuaca yang panas dan hujan datang bergantian dengan selang waktu yang cepat merupakan saat penyakit-penyakit biasanya lebih mudah berdatangan, tak terkecuali DB. Leonard Nainggolan menjelaskan, risiko DBD memang meningkat di musim pancaroba. Pasalnya, penyakit ini disebarkan oleh nyamuk yang berkembang biak di air bersih tergenang yang dibiarkan beberapa waktu.

“Kalau musim hujan, meski ada genangan juga namun relatif lebih mudah terganti dengan air hujan yang baru, air lebih mengalir. Berbeda dengan musim pancaroba, setelah hujan tercipta genangan, kemudian panas lagi. Di genangan itulah nyamuk bisa berkembang biak,” tutur dia.

Ia menegaskan setitik genangan air saja sudah bisa menjadi sarana berkembangbiaknya nyamuk. Sehingga untuk mencegah terjadinya kasus DBD, setiap orang perlu menyadari untuk mencegah terjadinya genangan. Cara yang selalu direkomendasikan untuk pencegahan DBD adalah 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur. Leonard menjelaskan, semua tempat yang bisa menampung air, khususnya air yang bening perlu ditutup dan dikuras secara rutin.

Bahkan tempat-tempat yang bukan dikhususkan untuk penampungan air namun bisa terdapat genangan, misalnya wadah pot bunga, dispenser, kaleng bekas, atau ban bekas pun perlu selalu dipantau. Khususnya untuk benda-benda tak terpakai yang berpotensi menyimpan genangan perlu dikubur.

DBD merupakan penyakit infeksi yang dimanifestasikan dengan demam dan pendarahan. DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tipe tertentu. Leonard menjelaskan, nyamuk yang menjadi vektor virus dengue membutuhkan darah untuk mematangkan telur-telurnya. Itulah kenapa nyamuk yang menggigit adalah nyamuk betina.

Nyamuk juga memiliki sifat sulit kenyang, maka cenderung untuk menggigit beberapa orang sekaligus. Inilah kenapa seringkali kasus DBD yang dijumpai di suatu wilayah tidak hanya satu kasus, melainkan beberapa kasus dalam satu waktu.

Sumber: http://simomot.com/2014/06/17/beda-demam-dengue-dan-dbd-penyebab-penanganan-dan-perawatan/ (tapi mending jangan diklik kali ya, iklan beritanya banyak yang saru 😁, nyari sumber lain yg cukup lengkap menyeluruh tapi bahasanya gak teknis banget belum nemu lagi).

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

==========================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bl) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading

Sehat Itu Mudah dan Murah

Penting banget, nih.

 

Be Smarter Be Healthier

Purnamawati Sujud Pujiarto

Edisi 645 | 28 Jul 2008 |

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga…

View original post 2,609 more words

[Kliping] Batuk, Pneumonia dan Sesak Napas pada Anak

Awal masuk TK, Fathia malah batuk. Lumayan juga, dari yang tadinya sudah mendingan waktu mudik sepertinya ketularan lagi begitu kamu kembali. Karena sampai demam beberapa kali, jadinya Fathia harus nggak masuk sekolah selama tiga hari dalam dua minggu pertamanya bersekolah.
image

image

Dalam masa itu terus terang saya deg-degan ketika memantau hitung napasnya (selain juga asupan cairan). Soalnya sesak nafas merupakan salah satu tanda kegawatdaruratan, kan? Khawatir kalau ternyata pneumonia. Berikut dari Ayahbunda:

Sesak napas karena pneumonia beda dengan asma. Pada pneumonia, kesulitan napas terjadi pada saat anak menarik napas. Sedangkan pada asma, kesulitannya saat mengeluarkan napas, bahkan terkadang bunyi ngik-ngik atau mengi.
Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
Usia anak    Napas Normal         Napas Cepat
0–2 bulan    30–50 per menit    > 60 per menit
2-12 bulan   25-40 per menit     > 50 per menit
1-5 tahun    20-30 per menit     > 40 per menit

Saya tetap kontak-kontakan sama dokternya, tentu. Dan buka-buka juga arsip milis sehat. Sekalian dikopi kemari biar gampang. Alhamdulillah sih, sudah berlalu. Tinggal PR balikin bb-nya yang sempat menyusut, huhuhu.

Dari arsip milis sehat bulan September 2013:

  • Dear Mba,

    Coba diperhatikan apakah napas cepat saja (yang umum terjadi kalau sedang demam) atau sesak napas? Coba pelajari ini:

    Definisi sesak napas:

    – tarikan otot-otot perut (sampe kalau napas tuh perutnya keliatan kembang kempis gitu)
    – tarikan otot-otot dada (sama juga kalau napas dadanya keliatan kembang kempis…bahasanya saya sampe keliatan “nekuk” ke dalam, mudah-mudahan bisa dibayangkan)
    – tarikan otot-otot leher
    – cuping hidung kembang-kempis

    Semakin ke atas semakin “parah” sesak napas ya (maksudnya kalau sudah sampe cuping hidungnya yang kembang kempis berarti sesak nafasnya bisa dikategorikan “parah”).

    Video Breathing Problems & Respiratory Distress
    Breathing difficulties:
    1. http://www.youtube.com/watch?v=GUkh1EGXvaE
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi terdengar jelas.

    2. http://www.youtube.com/watch?v=ZpGK8auKh0U&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak terdengar di videonya)

    3. http://www.youtube.com/watch?v=U-RfbrnMJZE&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak kedengeran di video-nya)

    Respiratory distress (derajatnya sudah lebih berat daripada breathing difficulties dalam ketiga video di atas):
    4. http://www.youtube.com/watch?v=pF_1wu4Q7wk
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi
    masih terdengar (ada juga suara lendir di tenggorokan).

    5. http://www.youtube.com/watch?v=sJLHiTaXrtc
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas;
    kemungkinan mengi sudah tidak ada (pada sesak napas berat atau repiratory
    distress, mengi malah sudah tidak ada lagi –lihat pocket guide GINA http://www.ginasthma.org/documents/1).

    Anak sendiri apa lemas, tidak mau beraktivitas, makan minum sam sek? Berapa kali pipis dalam sehari?

    Bila Mba yakin sesak napas juga anak tidak mau makan minum dan menunjukkan tanda dehidrasi ya segera ke dokter.

    Mengenai pemberian paracetamol, pertimbangkan risk vs benefit Mba. Bisa dicoba dulu metoda membuat nyaman yang lain yang trik-triknya sudah buanyak banget di-share.

    HTH

    Your BFF-Breastfeeding Friend, F.B.Monika, @f_monika_b

    La Leche League (LLL) Leader of Roc, South NY,US

  • purnamawati.spak@…
    Sun, 05:44 PM
    Sesak (dyspnea) atau napas cepat (tachypnea)?
    Saat demam, napas pasti cepat.
    Kalau sesak, kan bukan sekedar frekuensi.
    Kedua, saat menghitung frekuensi napas, apakah anak sdg tidur? Ukur frek napas harus saat anak tidur.
    Apakah mungkin lebih dari sekedar common cold?
    Waktu ke IGD, diagnosisnya apa? Kok dinebul NaCl?
    Bukan pneumonia dong ya
    Bukan juga bronkiolitis

    Coba assessment nya diperbaiki

    Wati

    -patient’s safety first-

Yang ini email dr. Anto, Sp.A. Juli 2016

Pneumonia adalah diagnosis klinis, terdapat sesak napas yang ditandai dengan upaya peningkatan volume paru, gejala berupa retraksi atau cekungan dan peningkatan frekuensi napas.
Derajat pneumonia bisa ringan, sedang atau berat. Pada pneumonia terdapat peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan oksigen dengan parameter obyektif saturasi oksigen. Bila kadar saturasi oksigen <92% maka perlu terapi oksigen atau bila saturasi >92% tetapi terdapat peningkatan upaya napas (frekuensi meningkat dan dada cekung) maka juga diperlukan oksigen.

Bagaimana penyebabnya?
Pneumonia bisa disebabkan virus atau bakteri bahkan jamur. Yang paling sering tentu virus atau bakteri. Bila gejal awal terdapat common cold maka mengarahkan kepada virus. Namun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan, kenapa? karena tingkat kesakitan dan kematian pneumonia tinggi apalagi pada kelompok risiko tinggi (neonatus, bayi, gizi buruk, asma kronik, pemakaian steroid lama, penyakit jantung bawaan, gangguan sistem imunitas atau lansia)

Dari laboratorium dinilai adalah leukosit: secara umum 3-36 bulan, bila leukosit >15.000 maka mengarahkan kepada infeksi bakteri. Dilihat hitung jenis leukosit, bila peningkatan pada batang atau segmen maka mengarah kepada bakteri, sementara bila limfosit yang meningkat maka mengarah kepada virus.

Sementara pemeriksaan rontgen thoraks akan membantu: bila infiltrat (gambaran putih tampak pada satu lobus (bagian) paru maka mengarahkan kepada bakteri.

CRP merupakan protein reaktif akut yang meningkat pada proses peradangan, Peradangan dapat disebabkan oleh bakteri atau virus atau luka jaringan, jadi CRP membantu diagnosis, bukan standar emas. Standar emas adalah bilasan bronkus, tetapi ini tidak dilakukan rutin karena tingkat kesulitan dan manfaat dan risikonya.

Bila terdapat keraguan antara virus dan bakteri?
Bila terdapat fasilitas lengkap dan dapat diperiksa lengkap, secara umum bila didahului infeksi virus, tidak terdapat peningkatan leukosit, atau peningkatan pada limfosit saja, gambaran rontgen mendukung virus maka dapat diterapi sebagai pneumonia karena virus dengan pemantauan, dalam 48 jam bagaimana respons klinis, bila perburukan maka dilakukan evaluasi ulang.

Bila terdapat peningkatan leukosit, segmen atau batang, rontgen thoraks sesuai dengan bakteri maka diterapi antibiotik, dan pemantauan sama 48-72 jam harus memberikan respons perbaikan, bila tidak membaik maka perlu evaluasi ulang.

Kortikosteroid setahu saya tidak termasuk dalam tata laksana pneumonia (bisa cek di pneumonia guideline British Thoracic Society, atau IDSA)
semoga bisa membantu dan lekas sembuh.

salam,
-anto- (dr. Yulianto milis sehat)

Ada juga infografisnya lhoo…sila mampir ke blog Icha ini.

 

Catatan tambahan terkait salah satu obat batuk yang biasa digunakan (ambroxol): http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2016/04/SURAT-KE-IDI-DAN-DDL-B-POM.pdf

Mengukur Suhu dengan Termometer

[MABES TATC]
Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta

Hingga sekarang ketika ada bunda-bunda yang bertanya mengenai kondisi anak yang sedang demam, tidak semuanya siap ketika ditanya balik, “Suhunya berapa?”. Baik karena belum punya termometer maupun mungkin masih bingung mengenai penggunaan alat ukur suhu tubuh tersebut. Yuk, simak sama-sama penjelasan seputar termometer yang dikutip dari situs Milis Sehat dan Tabloid NOVA ini.

IMG_20170314_215803

TERMOMETER AIR RAKSA
Termometer ini terdiri atas tabung gelas tertutup yang berisi cairan air raksa/merkuri. Di tepi tabung terlihat garis-garis yang menunjukkan skala temperatur. Bila suhu meningkat, air raksa dalam tabung yang sempit itu akan naik. Titik di mana air raksa tersebut berhenti naik menunjukkan berapa suhu tubuh si pengguna saat itu.
Termometer air raksa termasuk paling banyak digunakan. Mudah didapat, harganya murah dan pengukurannya akurat. Sesuai dengan desain tabung kaca termometer ini, posisi ujung air raksa sebagai penunjuk derajatnya akan berada di posisi yang tetap kecuali kita menggoyang-goyangkannya secara kuat. Jagalah agar termometer air raksa tidak patah/pecah. Kalaupun pecah, jangan sampai air raksanya terhirup/termakan karena bersifat toksik alias racun bagi tubuh. Oleh karena itu pengukuran lewat mulut sama sekali tidak dianjurkan pada bayi maupun balita karena dikhawatirkan pecah digigit.

Berikut langkah-langkah menggunakan termometer:
* Mengukur suhu melalui mulut (oral):
– Bila anak baru saja makan atau minum, tunggu sekitar 20-30 menit.
– Pastikan tidak ada makanan di dalam mulutnya.
– Letakkan ujung termometer itu di bawah lidahnya selama tiga menit.
– Minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer.
– Selalu ingatkan anak untuk tidak menggigit atau berbicara ketika ada termometer di dalam mulut.
– Minta pula si anak untuk relaks dan bernapas biasa melalui hidung.
– Kemudian ambil termometer dan bacalah posisi air raksanya.

Continue reading