Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak di Lingkungan Rumah?

Salah satu kekhawatiran sebagai orangtua yang saya tangkap dari diri sendiri maupun kawan-kawan adalah jika anak mendapatkan pengaruh dari sekeliling. Tentu yang dimaksud adalah pengaruh buruk, ya. Lebih spesifik, dari orang lain yang bertemu sehari-hari dengan anak, dan lebih khusus lagi dari teman sebaya baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Sebab, anak-anak cenderung mudah meniru perilaku yang seumuran karena kemiripan kondisinya, bukan? Istilahnya, kita bisa jaga anak, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, sudah kita batasi tontonan dan bacaannya sesuai dengan visi misi keluarga, tapi kita kan tidak selalu bisa kontrol apa yang diperoleh anak di luar sana.

Kalau tetangga banyak yang sepaham soal parenting atau setidaknya kondusif lah untuk hidup berdampingan dengan baik, alhamdulillah. Kalau tidak? Ada kan yang cerita misalnya sehari-hari kita dengar tetangga memarahi anaknya dengan suara keras, atau nongkrong tak jelas sambil merokok di sekitar rumah, atau anak-anak yang bercanda sambil melontarkan kata-kata kotor. Eh, tapi ini bukan bermaksud negative thinking lho ya, toh tetangga bisa diibaratkan keluarga dekat yang sunnahnya dimuliakan, trus kalau berprasangka jelek jangan-jangan bener kejadian, hanya saja pada kenyataannya keadaan tak selalu seideal harapan kita.

Bagaimana solusinya? Yang paling utama tentu membekali anak agar lebih kuat menghadapi pengaruh lain. Tujuannya agar baik di dalam maupun di luar jangkauan radar kita ia tetap bisa menjaga diri. Beberapa aspek mengenai bekal ini sempat disinggung juga di catatan saya sebelumnya, misalnya terkait internet dan pendidikan seks. Tentunya dengan diiringi doa juga ya agar kita sekeluarga selamat dunia akhirat. Pendekatan agama bisa dipakai, dan untuk ini pastinya orangtua harus belajar cara penyampaiannya dengan tepat sesuai cita-cita keluarga.

Langkah berikutnya yang acapkali bikin bimbang adalah soal pertemanan anak. Haruskah anak ‘dikekep’ di rumah? Nanti jadi anak kuper dong, tidak luwes bergaul, dan kita sebagai orangtua dicap lebay pula. Terus terang, pendekatan ini (tanpa kekerasan dan paksaan lho ya) dipakai pula oleh orangtua saya. Mungkin juga penyebabnya bukan kekhawatiran beliau akan pengaruh buruk, melainkan semata karena jarak rumah yang agak jauh dengan teman sebaya. Orangtua tetap memfasilitasi rumah dengan bacaan maupun mainan. Meski kedua orangtua bekerja, saya tak kekurangan teman main di rumah walaupun dalam wujud orang dewasa seperti mbah kakung, mbah putri, saudara orangtua, dan pengasuh/ART, plus para sepupu yang kadang berkunjung.

Kebijakan macam ini bagi sebagian orang memang mungkin tampak berlebihan, bahkan saya pernah menjadi peserta pelatihan di mana trainer-nya mengolok-olok karakter anak yang dibesarkan dengan cara demikian. Yang dicemaskan lazimnya adalah kalau anak tidak dibiasakan bergaul lepas, dia akan gagap ketika waktunya berinteraksi dengan masyarakat. Cakrawala pengetahuannya, toleransinya terhadap keberagaman, dan kepekaan sosialnya ditakutkan tidak terasah. Kecemasan yang sama saya amati diungkapkan juga oleh beberapa peminat homeschooling.

Namun, melihat kenyataan masa kini, sebetulnya tidak bisa dibilang melebih-lebihkan kalau orangtua mengambil sikap protektif. Salah satu orangtua yang cukup aktif menyuarakan hal ini adalah bu Sarra Risman (atau nama aslinya Yuhyina Maisura), putri bu Elly Risman yang juga aktif berbagi di grup Parenting with Elly Risman and Family di facebook, selain menjadi admin grup messenger Yayasan Kita dan Buah Hati. Sebelumnya saya pernah membaca tanggapan Busar–sapaannya–di grup yang sama ketika ada anggota yang menanyakan apakah opsi ‘menahan anak di rumah saja’ memang perlu diambil demi membentengi anak dari dampak negatif bermain dengan anak lain yang belum tentu orangtuanya satu pandangan dengan kita tentang pengasuhan. Jawaban busar, ia lebih memilih begitu. Ternyata kemudian oleh busar dibahas tersendiri di thread ini https://www.facebook.com/groups/1657787804476058/permalink/1770526713202166/, sebagaimana saya kutip di bawah.

Sarra Risman

5 October 2016

Continue reading

Mendidik Anak dengan RICH Philosophy

Selain kelas online selama 9 sesi, Institut Ibu Profesional dalam program Matrikulasi Batch 2 juga menyelenggarakan kelas offline bagi para peserta. Kelas offline ini diadakan dua kali, dengan materi yang masih ada kaitannya dengan materi utama tetapi temanya sendiri ditentukan bersama-sama, pembicaranya pun atas usulan peserta. Karena minggu sebelumnya saya ada keperluan lain di sekolah Fathia, jadi saya hanya bisa menghadiri kelas offline grup Jakarta yang kedua yang diadakan di rumah salah satu anggota di Condet Balekambang, Jakarta Timur.

Yang memberikan materi dalam kuliah offline yang dikemas santai ini adalah ibu Ina Rizqie Amalia, M.M., PCC,ย Executive Coach, Founder and Director Loop Institute of Coaching Indonesia.

img_20161204_095908

Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Orangtua bertindak sebagai coach, yang membawa keluarga termasuk anak untuk mencapai tujuannya.

RICH Philosophy

Coaching is easy, the most important is how we Respect their choices, uniqueness, way of life, belief, values, and sharing. Hargai anak kita seperti kita menghargai orang lain. Terkadang tanpa sadar kita lebih sopan dan manis berbicara ke rekan kerja atau tetangga daripada ke anak sendiri. Orangtua perlu mengendalikan emosi dan bersabar menghadapi anak yang adakalanya tingkahnya tak terduga. Jangan segan minta maaf ke anak ya…. Secara berkala juga bisa minta feedback anak, sudah seberapa baik kita sebagai orangtua di matanya.
Poin kedua adalah Integrity: courage, authentic, accountability, care, awareness. Integritas merupakan kesatuan antara hati, pikiran, dan keberanian kita atas apa yang kita rasakan dengan tindakan kita, dalam situasi apa pun. Mungkin kita tahu sesuatu itu salah, ketika ada yang menyerobot antrean misalnya, tapi tidak semua berani menegur atau mengingatkan. Akuntabilitas artinya pegang komitmen dan tanggung jawab, termasuk ketika berjanji pada anak. Kesadaran juga harus selalu dijaga, karena kita sehari-hari bisa saja melakukan banyak hal khususnya yang sudah rutin secara robotik atau otomatis tanpa berpikir lagi, yang sebetulnya bisa mendatangkan bahaya.
Kemudian jangan lupakan Creative process and continuous learning: curiosity, creativity, learning, experience, resources. Seiring bertambahnya usia, kreativitas manusia makin berkurang. Anak-anak ada pada fase paling kreatif, tetapi seringnya dihambat oleh orangtuanya sendiri. Melindungi atau memproteksi anak boleh saja, tetapi jangan berlebihan. Hati-hati jika anak sudah tidak mau bertanya pada orangtuanya sendiri (akibat adanya hambatan tersebut) dan orangtua pun tidak penasaran terhadap anaknya. Jawaban yang terlalu singkat bahkan cenderung tidak peduli terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka dapat mematikan potensi anak. Malah kalau bisa, pancing mereka berpikir kreatif dengan bertanya. Sebagai manusia ternyata kebanyakan kita masih perlu latihan untuk mendengar dan bertanya dengan baik. Hindari jawaban sinis, atau pancingan pertanyaan kita yang terlalu panjang dan berjenjang. Orangtua juga bisa menggunakan powerful questions.
Berikutnya adalah merangkul Human potential: be resourceful, transformation, spiritual, meaning acceleration, ownership. Orangtua hendaknya bertindak selaku pengamat potensi anak untuk membantu mengarahkannya, termasuk misalnya untuk memilih gaya pembelajaran yang sesuai. Ke depannya akan ada berbagai tantangan hidup, jika anak sudah belajar sesuai potensinya maka in sya Allah akan lebih mudah dihadapi.
Bentuk lingkaran sebagaimana ditampilkan di atas bermakna bahwa keempat filosofi ini harus ada dan saling menjalin tanpa putus.

Bagaimana agar orangtua menjadi coach yang baik? Kuncinya adalah mendengar dan bertanya. Dari sini bisa digali kebutuhan maupun keinginan anak seperti apa.

  1. Mendengar. Terdapat dua level yaitu internal listening (dalam otak kita terdapat judgement atau penilaian) dan tanpa judgement. Menjadi pendengar yang baik berarti kita harus fokus, mendengarkan dengan saksama, jaga kontak mata, abaikan hal lain dalam pikiran kita.
  2. Bertanya. Gunakan pertanyaan terkait situasi saat ini (misalnya perasaan anak) dan ke depan (rencana tindakan anak).

Tips lain, jangan suruh anak berhenti maupun membujuk saat ia menangis. Tunggu saja, peluk.

 

 

Adab dan Hukum di Media Sosial (dari grup BiAS)

sosmed-1 sosmed-2 sosmed-3 sosmed-4 sosmed-5 sosmed-6 sosmed-7 sosmed-8 sosmed-9 sosmed-10

๐ŸŒ BimbinganIslam.com
Senin, 23 Muharam 1438 H / 24 Oktober 2016 M
๐Ÿ‘ค Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
๐Ÿ“” Materi Tematik | Adab Dan Hukum di Sosial Media (Bagian 01)
โฌ‡ Download Audio: bit.ly/BiAS-NZ-Sosmed-01
———————————–

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

ุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู€ุญูŽู…ู’ุฏูŽ ู„ู„ู‡ ู†ูŽู€ุญู’ู…ูŽุฏูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู’ู†ูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุฑู ุฃูŽู†ู’ููุณูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูู†ู’ ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุงุชู ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูู†ูŽุงุŒ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฏูู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ููŽู„ูŽุง ู…ูุถูู„ูŽู‘ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุถู’ู„ูู„ู’ ููŽู„ูŽุง ู‡ูŽุงุฏููŠูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ

ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู† ู„ุงูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูู€ุญูŽู…ูŽู‘ุฏุงู‹ ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡.

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‡ ุญูŽู‚ูŽู‘ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆุชูู†ูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‘ุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูู…ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณู ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ูˆูŽุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฒูŽูˆู’ุฌูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽุซูŽู‘ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฑูุฌูŽุงู„ู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู‹ ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‡ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุชูŽุณูŽุงุกูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุญูŽุงู…ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฑูŽู‚ููŠุจู‹ุง

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‡ ูˆูŽู‚ููˆู„ููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง ุณูŽุฏููŠุฏู‹ุง ูŠูุตู’ู„ูุญู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฐูู†ููˆุจูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุทูุนู ุงู„ู„ู‡ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุงุฒูŽ ููŽูˆู’ุฒู‹ุง ุนูŽุธููŠู…ู‹ุง

ุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุจูŽุนู’ุฏู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽุตู’ุฏูŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠู’ุซู ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏูŠู ู‡ูŽุฏู’ูŠู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ ูˆูŽุดูŽุฑูŽู‘ ุงู„ุฃูู…ููˆู’ุฑู ู…ูุญูŽุฏูŽุซูŽุงุชูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุฉู ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽู„ุฉูŒุŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุถูŽู„ุงูŽู„ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู.

Bapak-bapak, ibu-ibu, rekan-rekan, ikhwฤn dan akhwฤt yang saya muliakan.

Marilah kita awali dengan bersyukur kepada Allฤh Jala wa ‘Alฤ, atas segala nikmat dan karunia yang Allฤh berikan dan Allฤh limpahkan kepada kita.

Nikmat yang tidak mungkin kita bisa hitung. Nikmat yang senantiasa menyapa setiap derap langkah kita. Dan Allฤh meminta kita untuk bersyukur kepada-Nya.

Dan nikmat yang harus kita syukuri secara khusus adalah:

โ‘ด Nikmat Imฤn
โ‘ต Nikmat Islฤm

โ‡› Dua nikmat yang merupakan kunci kebahagiaan di dunia kita dan di ฤkhirat kita.

Selanjutnya, marilah kita haturkan shalawat kita dan salam kita kepada qudwah kita, Nabi besar Muhammad shallallฤhu ‘alayhi wa sallam beserta para keluarga beliau, para shahฤbat-shahฤbat beliau dan orang-orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat kelak.

Kita akan berbicara tentang sebuah fenomena yang sangat booming di tengah-tengah kita. Fenomena yang tidak memandang segmen dan batas usia. Tua muda, miskin kaya, anak muda, bapak-bapak, ibu rumah tangga, menggandrungi fenomena ini.

Kita akan berbicara tentang:

Adab dan Hukum yang Berkaitan dengan Sosial Media

Dalam kamus bahasa Indonesia:

โ‡› Media itu berarti alat atau sarana komunikasi, perantara, penghubung.
โ‡› Sosial artinya berkenaan dengan masyarakat.

Oleh karena itu dari sisi bahasa di atas, medsos (media sosial) bermakna: sarana berkomunikasi dan berbagi.

Sehingga hampir semua media (medsos-medsos) tersebut memiliki istilah sharing yang mereka tawarkan, karena memang itulah makna dasar dari dunia yang akan kita bahas sebentar lagi.

โ‡› Istilah lain dari media sosial adalah jejaring sosial, (yaitu) jaringan atau jalinan hubungan secara online di internet.

Jadi yang kita gunakan adalah media yang berbasis internet.

Rasanya kita kurang tertarik untuk mendengarkan tapi penting untuk kita menududukkan masalah.

Kenapa demikian?

Karena kalau kita baca definisi di atas maka fenomena sosmed ini, semakin membuat kita beriman kepada Allฤh dan Rasลซl-Nya.

โ‡›Fenomena sosmed seharusnya membuat seorang mu’min:

โˆš Semakin rajin ke masjid.
โˆš Semakin semangat mengikuti sunnah Rasลซl shallallฤhu ‘alayhi wa sallam.

โˆš Semakin sami’na wa atha’na.
โˆš Semakin tidak membantah apabila dikasih perintah atau larangan dari Allฤh dan Rasลซl-Nya.

โˆš Semakin tidak suka mendebat firman-firman Allฤh dan hadฤซts-hadฤซts Nabi ahallallฤhu ‘alayhi wa sallam.

Kenapa demikian?

Continue reading

SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi

“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.

Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.

Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?

Continue reading

Kapan Sebaiknya Mulai Stok ASI?

Kapan sih waktu yang tepat untuk mulai memerah atau memberdayakan pompa ASI setelah melahirkan? Dulu, kalau ada yang nanya di grup ASI yang saya ikuti (dan di grup-grup lain juga) kapan sebaiknya mulai stok ASIP, banyak yang jawab: sesegera mungkin.

Kenapa memangnya the sooner the better? Alasannya banyak, di antaranya:

  • Agar makin banyak stok ASI Perah (ASIP) di kulkas atau freezer yang siap untuk digunakan, supaya enggak deg-degan di awal nanti mulai bekerja lagi. Ibu jadi lebih tenang memasuki dunia kerja kembali
  • Menyediakan ASIP sebagai sarana latihan memberikan ke bayi dengan media pilihan, agar nantinya penyajian ketika ditinggal kerja betulan sudah lancar
  • Membiasakan pakai pompa ASI atau memperlancar teknik perah tangan. Karena memerah ASI itu merupakan keterampilan yang perlu dilatih, kan? Makin sering berlatih biasanya makin luwes dan paham triknya
  • Karena bayi memang memiliki kondisi khusus, ada yang harus terpisah dengan ibu karena perawatan intensif, kelainan anatomi bawaan yang menyulitkan penyusuan langsung, atau kenaikan berat badan bayi kurang sehingga dianggap perlu intervensi berupa suplementasi atau top up dari ASI perah ibu sendiri yang diberikan dengan media lain di sela-sela waktu menyusu
  • Penasaran dan akhirnya ingin mengecek, sebetulnya betul nggak sih ASI-nya sedikit? Kok bayi nangis melulu, dan orang-orang mulai berkomentar, “Gara-gara ASI-nya kurang, tuh…”
  • Berjaga-jaga siapa tahu ibu ada perlu mendadak keluar, misalnya mengurus urusan administrasi yang tidak memungkinkan untuk bawa bayi dan tidak bisa diwakilkan
  • Karena ibu merasa payudara bengkak di sela-sela jam menyusui, dan bayi belum kelihatan lapar lagi atau sulit dibangunkan, sayang kalau dibiarkan saja sampai sakit dan rembes.

Nah, ternyata jawaban ‘lebih awal lebih baik’ untuk menimbun ASIP ini tidak pas.

Membaca postingan di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang nanti saya kutip di bagian bawah tulisan bikin saya senyum-senyum sendiri (senyum kesentil maksudnya) mengingat saya pun sudah mulai memerah ASI sejak hari-hari awal pasca-melahirkan. Padahal tidak ada indikasi yang bikin saya harus memompa.

Setelah melahirkan Fathia, saya memerah ASI karena Fathia kesulitan melekat dengan baik. Jadi ASIP saya perah untuk kemudian disuapkan dengan sendok. Pendekatan yang salah tentunya, karena seharusnya saya lebih fokus pada upaya mencari posisi yang pas dan kontak kulit sebanyak mungkin agar proses menyusui secara langsung lebih lancar.

Continue reading

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

==========================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bl) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading

Menjawab FAQ Seputar ASI

Sebagai salah satu emak rempong yang sok bantu-bantu di grup TATC, terus terang kadang kewalahan juga dengan postingan yang masuk. Banyak pertanyaan serupa yang berulang, yang jujur awalnya bikin gemes tapi lama-lama saya sadar juga bahwa mengikuti perkembangan ilmu di berbagai bidang sekaligus sebagai seorang ibu itu memang tidak terlalu mudah. Jadi ya tetap diusahakan jawab dengan baik.

Masalahnya, saya mengakses facebook hampir selalu melalui hape. Lumayan keriting juga jempol ngetik ulang begitu rupa, hehehe… Kalau soal repot ngetik ini masih mending sih, toh biarpun pakai sepuluh jari sama aja makan waktunya. Nah soal keterbatasan waktu ini juga yang jadi kendala. Postingan pertanyaan yang masuk kan banyak dan semuanya pasti menunggu jawaban. Jadi, agar menghemat waktu dan tenaga (tugas harian saya bukan hanya cek grup, kan), akhirnya saya meniru trik beberapa admin grup lain: bikin template jawaban di note ponsel. Cukup membantu alhamdulillah, apalagi saya sering menyertakan link sumber informasi. Buka ulang linknya biar bisa dikopi bahkan walaupun sudah dibookmark di hp lumayan makan waktu.

Maksud saya membiasakan nambahin tautan ini sih biar semua sama-sama belajar, supaya nggak sepenuhnya ‘kasih ikan’ melainkan juga kasih ‘kail’. Yang baca semoga jadi tertarik mempelajari lebih lanjut (mengenai topik berkenaan bahkan mungkin jadi klik-klik bahasan lain yang juga bermanfaat) dan yang dipelajari juga lebih ‘sahih’, bukan sekadar testimoni atau pemahaman yang didapatkan adalah “kata grup TATC begini nih…”. Saya pun ikutan belajar kalau ada yang mengoreksi atau menambahkan. Lagian saya kan memang belum ‘sah’ jadi konselor laktasi resmi (kapan ya bisa ikutan PKM, ambil cutinya itu yang rada sayang huhuhu…). Memang jadinya menjawab kopas-kopas begitu kayak agak kurang personal ya, tapi sementara ini cara tersebut menolong saya. Di dokumen grup juga bukannya tak ada sih materi FAQ alias pertanyaan yang sering masuk, tapi lagi-lagi alasan waktu agaknya bikin dokumen semacam itu kurang dilirik.

Menjawab pertanyaan seputar ASI yang dirasa sedikit, seret, atau tidak cukup:

Agar ASI bisa memenuhi kebutuhan bayi (tidak harus ‘banyak’ lho, tapi karena menurut cerita menyusuinya sempat tidak intensif maka memang perlu ditingkatkan) kuncinya satu: susui terus.
Paling efektif ASI dikeluarkan dengan isapan mulut bayi, tapi saat ini perlu juga meningkatkan produksi karena kadang bayi menolak karena alirannya sudah lebih lambat daripada dot yang biasa dipakai.

Continue reading