Tere Liye: Penulis Itu Harus Keras Kepala!

Melihat pengumuman bahwa Tere Liye akan mengisi Bincang Buku di Gramedia Matraman tanggal 23 Desember, tentu saya senang sekali. Sebelumnya saya memang sudah pernah bertemu dengan bang Darwis, begitulah nama asli Tere Liye, di Islamic Book Fair entah tahun berapa (sebelum Fahira lahir sepertinya). Malahan waktu itu sesi book signing bukunya yang dilakukan di stand Republika tergolong agak sepi, sehingga para penggemarnya, termasuk saya, bisa sambil mengobrol santai sejenak saat buku ditandatangani.

Namun saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengarkan kembali cerita bang Tere secara langsung. Sekian tahun berlalu, pastilah banyak perkembangan yang terjadi. Misalnya, kenapa lantas menulis untuk segmen remaja? Mengapa seri Anak-anak Mamak dikemas ulang dengan judul baru? Bagaimana proses menulis dengan co-author yang diterapkannya untuk beberapa buku? Apa kabar protesnya terhadap pajak penulis tempo hari?

Sebagian pertanyaan di atas terjawab dalam sesi bincang-bincang hangat sore itu. Tanpa pengantar moderator ataupun MC, bang Tere langsung menguraikan banyak hal. Di sebelahnya, salah satu co-author-nya, yaitu abangnya yang bernama Sarippudin mendampingi walaupun tidak terlalu banyak menimpali.

Kenapa Tere Liye menulis? Bang Darwis sebenarnya adalah lulusan Akuntansi FEUI, bahkan pernah berpartisipasi dalam penyusunan sejumlah PSAK. “Boleh jadi menulis adalah salah satu jalan hidup saya untuk berkontribusi bagi orang lain,” akunya.

Continue reading

Meriah Kontemplatif Milad Keempat Blogger Muslimah

Tahun ini Komunitas Blogger Muslimah telah genap berusia empat tahun. Saya sendiri baru tergabung di komunitas ini selama kira-kira setahun setengah. Dalam rangka menyambut miladnya tahun ini, Blogger Muslimah menyelenggarakan acara sharing session dengan tema Menuju Hijrah Kaffah. Tentu saja saya tak mau ketinggalan mendaftarkan diri. Apalagi lokasinya sudah familiar, yaitu Nutrifood Inspiring Center. Di tempat inilah saya untuk pertama kalinya mengikuti gelaran kegiatan Blogger Muslimah Agustus tahun 2017.

Baca juga: Blogger Muslimah Meet Up, Belajar Agar Lebih Cerdas dan Cantik

Poster Milad Blogger Muslimah Ke-4

Continue reading

Menjadi Ibu Otentik yang Bahagia

Tanggal 20 Desember yang lalu, dalam rangka peringatan Hari Ibu, Muslimah Kemenkeu menyelenggarakan Seminar Hari Ibu: Ibu Otentik, Ibu Bahagia bersama teh Elma Fitria, Strength Based Family Practioner yang juga penggiat Institut Ibu Profesional wilayah Bandung.

Slide yang tertayang menampilkan tulisan bahwa ibu dalam keluarga adalah pusat perasaan. Jika dalam sebuah keluarga ibu dihilangkan maka hilanglah pusat kehidupan keluarga itu. “Ibu bahagia adalah awal terbentuknya keluarga bahagia,” kata teh Elma. Adapun istilah ibu ‘otentik’ digunakan karena kalau pakai istilah ‘sejati’ atau ‘asli’ kok seolah-olah ada yang ‘palsu’ atau ‘KW’.

Dalam pengasuhan, ibu menjadi lebih penting karena ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyusui, dan itu yang mendekatkan ibu dengan anggota keluarga khususnya anak.

“Perempuan adalah makhluk musiman,” begitu teh Elma mengistilahkan. Setelah jadi ibu apalagi, rasanya jadi tidak bebas bepergian, mengejar karier, mengembangkan diri, dst. Padahal di dalam Al-Qur’an, menjadi ibu adalah kondisi puncak. Hormon memuncak untuk mengalirkan ASI, cinta, dan kasih sayang. Jika merasa terkekang, itu karena tidak mengenal diri sejak awal, bukan soal karena menjadi ibu. Apabila sudah mengenal diri sendiri, maka ketika memasuki peran sebagai ibu sudah tahu akan menjadi ibu seperti apa dan bisa dengan bahagia menjalankan perannya.

Nah sekarang pertanyaannya, bahagia itu apa? Apa bedanya dengan kesenangan?

Continue reading

Ini Dia Bekal untuk Jadi Muslimah Cerdas Era Digital

Pengalaman sekali mengikuti kegiatan Meet-Up Blogger Muslimah membuat saya tak membuang waktu untuk segera mendaftarkan diri begitu penyelenggaraan acara dalam rangka milad ketiga Blogger Muslimah diumumkan. Bagaimana tidak, acara yang saya ikuti itu penuh dengan ilmu dan keseruan, materinya begitu padat bergizi, ditambah dengan hadiah-hadiah yang menarik untuk para peserta. Kali ini, event milad mengambil tema besar “Muslimah di Era Digital”, dengan materi Kepribadian Muslimah serta SEO Management. Alhamdulillah saya kebagian tempat di acara milad tersebut. Kabarnya, calon pesertanya membludak, lho.

Foto dulu sebelum mulai acara

Continue reading

Jangan Remehkan Keluhan Lupa

“Masih muda, kok sudah pelupa?”

Kadang-kadang, celetukan seperti di atas mudah saja terlontar dalam keseharian kita. Entah kita yang mengomentari teman, atau justru kita yang beroleh pertanyaan bernada ledekan tersebut. Meski tampak sepele, kalau yang dilupakan adalah hal-hal yang cukup penting dan terjadi berulang-ulang, kan bisa merepotkan juga. Apalagi jika ternyata upaya-upaya yang dilakukan sendiri untuk memperkuat daya ingat tidak mendapatkan hasil. Kalau sudah begitu, bukan celaan (meskipun sekadar bercanda) yang dibutuhkan, melainkan bantuan dari ahlinya.

Rabu lalu saya mengikuti seminar awam yang diselenggarakan oleh Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Dalam seminar yang bertempat di  RSCM Kencana ini, pembicaranya adalah para dokter konsultan yang merupakan neurolog atau ahli syaraf. Salah satunya Diatri Nari Lastri, Sp.S (K), yang membawakan materi dengan judul yang saya pakai sebagai judul postingan ini. Ya, keluhan lupa memang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Lupa apa yang hendak dilakukan, apa yang baru dilakukan, di mana meletakkan barang, juga kesulitan mengingat nama orang atau benda merupakan sejumlah keluhan yang kerapkali terdengar. Bahkan, seseorang yang tingkat lupanya sudah cukup parah bisa mengalami disorientasi waktu maupun tempat. Biasanya, yang mengalami penurunan ingatan adalah mereka yang berusia lanjut. Namun memang pada masa sekarang keluhan ini cenderung bergeser ke kelompok umur yang lebih muda.

Continue reading

Menyimak Petuah dari Para Master Menulis (3): Asma Nadia

Suasana sesi terakhir Jumpa Penulis di Taman Ismail Marzuki (15/10) yang sekaligus difungsikan untuk peluncuran buku Bidadari untuk Dewa agak berbeda dengan sesi-sesi sebelumnya yang penuh semangat dan diselingi canda. Ada nada-nada melankolis karena bahasan mengenai jatuh bangun kehidupan pernikahan kang Dewa, konten utama dari novel tersebut. Para peserta jadi ikutan semangat bertanya dan meminta tips, apa yang membuat istri kang Dewa begitu tegar?

Di bagian awal, Mba Asma Nadia menceritakan bahwa ada saja yang datang dan minta kisah hidupnya dituliskan. Mba Asma biasanya akan menanyakan balik, “Yakin, (kisahnya) menarik?” Mba Asma menegaskan, “Saya hanya mau menulis buku yang bagus.” Kisah yang menarik pun belum tentu inspiring, sementara mba Asma ingin pembaca mendapatkan sesuatu dari tulisannya. Jadi, apa yang membuat mba Asma mantap menulis Bidadari untuk Dewa?

Setelah ngobrol dengan kang Dewa dan bidadarinya, mba Asma merasa bahwa di usia 26 tahun ini kang Dewa sudah melalui banyak sekali ujian hidup, paket lengkap pula: harta, tahta, wanita. Dalam proses penulisannya, kang Dewa cukup jujur membuka pengalamannya, karena percaya apa yang diceritakan akan bisa memberi kebaikan. Maka, “Saya nggak punya alasan untuk menolak menulis kisah ini,” sebut mba Asma.

Mba Asma memang menggemari kisah nyata, dan ia pun menyarankan menulis kisah nyata bagi para pemula. Pertama, karena untuk belajar menulis, topik ini bisa jadi bahan latihan yang bagus. Apalagi menuliskan kisah sendiri, kita sudah tahu opening sampai ending-nya. Selain itu, melalui kisah nyata kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang jatuh bangun terpuruk tanpa perlu mengalami sendiri. Untuk novel BuD, mba Asma sampai mengulik mitologi Yunani. Ini juga buku mba Asma pertama yang mencantumkan topik MLM, utang, preorder, dll. Ini dianggapnya tantangan lain.

Continue reading

Menyimak Petuah dari Para Master Menulis (2): Dewa Eka Prayoga

Dewa Eka Prayoga, pembicara pada sesi berikutnya mengaku sebagai pembicara yang paling muda, paling sedikit karyanya (baru 8-9 buku), dan paling sedikit (bahkan mungkin tidak ada) karyanya di toko buku (konvensional) di antara pembicara lain dalam Jumpa Penulis yang bertempat di Taman Ismail Marzuki ini. Buku lelaki asal Sukabumi ini kebanyakan berasal dari pengalaman pribadi, sehingga karyanya juga berupa tulisan nonfiksi. Buku-buku kang Dewa, begitu ia biasa disapa, memang dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan sendiri. Salah satu tujuannya adalah untuk memberdayakan dan menyejahterakan orang-orang di sekitar. Buku kang Dewa memang mahal, tapi keuntungan ke reseller bisa 30-40% dan menurutnya sistem ini bisa membuat bisnis orang lain berkembang.

Dunia kepenulisan bagi kang Dewa adalah hal baru, kendati sejak dulu ia sudah suka membaca. Kemudian di usia dewasa mudanya, rumah orangtua kena longsor, dan kang Dewa terbelit utang cukup besar dari bisnisnya. Dipikir-pikir, menulis buku bisa menjadi jalan keluar. Buku dicetak, terbit, alhamdulillah laku dan ia bisa menutup utang. Di situ kang Dewa belajar tentang kepenulisan, mengingat ia banyak menerima kritik dari para penulis lain karena tulisannya ‘tidak jelas’, hanya berupa rangkuman kata-kata motivasi dari pihak lain.

Berhubung niat awal kang Dewa menulis adalah untuk membereskan utang, jadi setelah bukunya laris, utang tertutup, ya sudah, selesai. Balik ke bisnis lagi. Tahun 2014, ia kembali rugi besar. Tapi kondisi ini justru membuatnya bangkit. Tak hanya doa dan mendekatkan diri pada Allah swt, ia pun berupaya. Jualan ceker dan kerupuk keliling Bandung ia jalani.

Lantas kang Dewa mulai menulis lagi, bahkan ia selesaikan dengan cepat karena memang dalam kondisi nganggur. Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan penulisan satu bab. Hasilnya adalah buku 7 Kesalahan Fatal Pengusaha Pemula, berkaca pada pengalamannya sendiri. Hikmahnya, menurut kang Dewa, bukan berarti harus stres dulu baru bisa menulis, melainkan tuliskan apa yang sedang kita alami (tapi jangan status galau juga). Sebelum terbit, ia membuka preorder buku tersebut, dan peminatnya ternyata banyak. Buku pertama ini dicetak dengan biaya percetakan Rp7.700,00 dan dijual seharga Rp60.000,00.  Terbayang kan, hasilnya lumayan banyak. Dari situ ia makin produktif menulis banyak buku.

Continue reading