Kafe Sastra, Tempat Nongkrong Bernuansa Pujangga

Sekitar dua tahun yang lalu, setiap pulang kerja, saya selalu melewati Jalan Bunga yang terletak di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Hanya lewat-lewat saja dan seringnya ketika matahari sudah mulai tenggelam, jadi saya tidak terlalu memperhatikan bangunan di sekitar. Setelah tidak lagi melalui rute tersebut, saya justru baru tahu, ada kafe nan cantik di jalur menuju Stasiun Commuter Line Pondok Jati tersebut. Kegiatan Milad Forum Lingkar Pena (FLP) tahun 2019 yang bertempat di aula PT Balai Pustaka (Persero) membawa saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kafe Sastra ini.

Kafe Sastra Balai Pustaka

Continue reading

Wawasan Makin Lengkap dengan Kulwap

Whatsapp menjadi salah satu aplikasi yang bisa dibilang paling sering kita gunakan saat ini. Praktis memang, kita bisa saling berkirim pesan baik berupa tulisan, gambar, suara, video dan makin banyak lagi. Karena kemudahan yang ditawarkan itulah, whatsapp juga bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Muncul kuliah whatsapp yang biasa disingkat dengan kulwap, atau ada juga yang menamakan dengan kulsap, semol (seminar online, meskipun yang ini tidak terkhusus pada platform whatsapp), waminar (whatsapp seminar), dan banyak lagi istilah yang dibuat untuk menamai aktivitas belajar bersama ini.

Pekan lalu tabloid NOVA mengangkat serba-serbi kulwap, dan saya dihubungi untuk wawancara singkat. Tidak singkat-singkat amat, sih, sebenarnya. Cukup panjang malah, walaupun yang dimuat akhirnya hanya sebagian. Sekalian saja saya simpan selengkapnya di sini, karena sebetulnya saya juga sedang ingin menulis seputar fenomena menambang kontak dari whatsapp (yang akan saya bahas dalam tulisan terpisah).

Bahasan Kulwap di Tabloid NOVA

Kalau ditanya kapan pertama kali ikut kulwap, saya juga tidak ingat. Mungkin sekitar tahun 2014, hanya itu yang bisa saya temukan jejaknya dari back-up di e-mail. Saya mengetahui adanya kulwap yang akan diselenggarakan biasanya dari grup whatsapp lain atau kalau ada pengumumannya di media sosial. 

Continue reading

Ingin Yang Terbaik, Sudahkah Kita Dukung Anak Asah Potensinya?

Ketika membaca bahwa Teman Main akan menyelenggarakan Family Gathering tanggal 28 September untuk memperingati ulang tahunnya yang ketiga, saya segera mendaftarkan diri. Sebelumnya, kami sudah pernah ikut tiga field trip yang diselenggarakan @temanmainid. Lengkapnya #temanmain20 di Sudin Pemadam Kebakaran Jaktim, #temanmain21 di Taman Lebah Madu Cibubur, dan #temanmain24 di Museum Maritim. Anak-anak seseruan sambil tambah pengetahuan, orang tuanya pun ikutan (ya, banyak lho yang baru kami ketahui). Nah, saya baru tahu kalau ternyata Teman Main sudah 3 tahun usianya. Semoga makin banyak variasi kegiatannya di akhir pekan yaaa 😁 (curahan hati mamak pekerja).⁣⁣

Asah Bakat dan Salurkan Minat Lewat Erlangga Talent Week 2019

Cerita beberapa teman yang mengikuti rangkaian acara Erlangga Talent Week tahun 2018  di Kuningan City sukses membuat saya menyesal. Ada talk show dengan materi menarik, juga lomba-lomba yang seru untuk anak. Saat itu kondisi kami memang sedang tidak memungkinkan untuk bepergian, sehingga terpaksa melewatkan event tahunan tersebut (sudah diadakan sejak 2009) meski sudah memantau jadwal kegiatannya yang dipublikasikan sejak jauh-jauh hari. Maka, saya bertekad tahun ini harus datang ke sana.

Continue reading

Bisakah Kegiatan Beberes Menjadi Menyenangkan?

Rumah atau hunian dalam bentuk apa pun itu adalah tempat ke mana kita pulang. Rumah atau bentuk tempat tinggal lainnya identik dengan tempat beristirahat, berkumpul, bercengkerama dengan anggota keluarga yang lain. Maka, kenyamanan biasanya menjadi hal utama yang dikejar ketika seseorang memilih tempat tinggal. Selain nyaman (dan aman) lingkungan sekitarnya, tentu juga nyaman ditempati sehari-hari.

Lalu, bagaimana jika tempat tinggal kita menjadi tak lagi nyaman ditempati gara-gara kondisinya yang berantakan? Kadang, untuk memulai beberes pun rasanya kita enggan, saking sudah begitu banyaknya barang di rumah yang diletakkan sembarangan. Bingung mau mulai dari mana. Atau mungkin ada juga yang berpikiran, untuk apa dirapikan, toh nanti juga bakal berantakan lagi.

Sabtu lalu, tanggal 28 September 2019, saya mengikuti seminar Tidying Up Must Be Fun yang diselenggarakan oleh MommyKids Friends di Dekoruma Experience Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukan hanya seminar, pada sesi siang juga ada workshop di mana peserta bisa praktik langsung cara melipat pakaian yang efektif. Yang menjadi narasumber adalah mas Aang Hudaya, co-founder komunitas Gemar Rapi. Beberapa waktu yang lalu mas Aang mengisi pengajian di kantor saya dengan tema serupa, tetapi waktunya cukup singkat dan tidak ada sesi praktik.

Dulu saya sempat penasaran kenapa ada komunitas beberes yang namanya Gemar Rapi, dengan penggiat yang sepertinya dulu aktif di Konmari Indonesia, tetapi akhirnya terjawab dari penjelasan mas Aang di sini, bahwa Gemar Rapi memilih untuk merumuskan metode sendiri yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia. Gemar Rapi juga bisa diartikan sebagai Gerakan Menata Diri dari Rumah dan Pribadi.

Continue reading

Menengok 22 Tahun Perjalanan FLP, Penuh Haru dan Ikut Bangga

Saya mengenal Forum Lingkar Pena atau FLP pertama kalinya di bangku SMA. Saat itu, majalah Annida menjadi bacaan wajib saya. FLP di mata saya adalah organisasi yang memayungi para penulis, utamanya yang beragama Islam, agar bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menyemangati serta membantu dalam berkarya. Di kampus dulu sempat ada organisasi rintisan sebagai bagian dari FLP, tetapi saya tidak bergabung dan tidak mendengar lagi juga kelanjutannya. Sewaktu bertugas di Pangkalpinang, saya diajak oleh beberapa teman untuk membangkitkan lagi FLP Bangka Belitung, tetapi cita-cita itu juga belum terlaksana. Baru sebatas obrolan dengan anggota FLP yang dulu pernah membentuk FLP Bangka Belitung dan juga dengan salah satu pengurus FLP pusat. Begitu saya pindah ke Jakarta, obrolan itu jadi menguap.

Meski tidak menjadi anggota, tetapi saya tetap tertarik dengan berita-berita terkait FLP. Ketika membaca pengumuman di grup Blogger Muslimah bahwa dalam pada tanggal 24 Februari akan diselenggarakan acara untuk memperingati Milad ke-22 Forum Lingkar Pena, saya pun mendaftarkan diri. Kegiatannya sendiri mengambil tema Berbakti, Berkarya, Berarti dan diselenggarakan di kantor Balai Pustaka, Jakarta Timur.

Baru dari acara inilah saya mencermati betul sejarah FLP lewat video yang disajikan. Jadi, FLP didirikan di UI pada tanggal 22 Februari 2007 oleh tiga aktivis literasi yaitu mbak Helvy Tiana Rosa, mbak Asma Nadia (Asmarani Rosalba), dan mbak Maimon Herawati. Yang pernah menjadi Ketua Umum FLP adalah mbak Helvy Tiana Rosa (1997-2005), mas M. Irfan Hidayatullah (2005-2009), mbak Izzatul Jannah atau Setiawati Intan Savitri (2009-2013), dan mbak Sinta Yudisia Wisudanti (2013-2017). Kini anggota FLP yang sudah terverifikasi mencapai 2800 orang, dan masih ratusan yang belum terekonsiliasi registrasinya. FLP memiliki penjenjangan anggota (Muda, Madya, Andal) dengan assessment terstandar. Dalam kegiatan ini juga sekaligus diadakan peluncuran buku “Berbakti, Berkarya, Berarti: Jejak Forum Lingkar Pena dalam Gerakan Literasi Indonesia”.

Mba Yeni Mulati atau lebih dikenal dengan nama penanya Afifah Afra selaku Ketua Umum FLP Pusat periode 2017-2021 bercerita tentang visi dan misi FLP yang langsung to the point: literasi merupakan satu tujuan penting. “Kita ingin literasi menjadi suatu hal yang universal, masuk ke gang-gang sempit, kedai kopi, pos ronda, tempat berkumpulnya ibu rumah tangga. Mengembalikan periode yang hilang, yang tercungkil dari periode peradaban Indonesia,” sebut mba Afifah Afra.

Continue reading

Tere Liye: Penulis Itu Harus Keras Kepala!

Melihat pengumuman bahwa Tere Liye akan mengisi Bincang Buku di Gramedia Matraman tanggal 23 Desember, tentu saya senang sekali. Sebelumnya saya memang sudah pernah bertemu dengan bang Darwis, begitulah nama asli Tere Liye, di Islamic Book Fair entah tahun berapa (sebelum Fahira lahir sepertinya). Malahan waktu itu sesi book signing bukunya yang dilakukan di stand Republika tergolong agak sepi, sehingga para penggemarnya, termasuk saya, bisa sambil mengobrol santai sejenak saat buku ditandatangani.

Namun saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengarkan kembali cerita bang Tere secara langsung. Sekian tahun berlalu, pastilah banyak perkembangan yang terjadi. Misalnya, kenapa lantas menulis untuk segmen remaja? Mengapa seri Anak-anak Mamak dikemas ulang dengan judul baru? Bagaimana proses menulis dengan co-author yang diterapkannya untuk beberapa buku? Apa kabar protesnya terhadap pajak penulis tempo hari?

Sebagian pertanyaan di atas terjawab dalam sesi bincang-bincang hangat sore itu. Tanpa pengantar moderator ataupun MC, bang Tere langsung menguraikan banyak hal. Di sebelahnya, salah satu co-author-nya, yaitu abangnya yang bernama Sarippudin mendampingi walaupun tidak terlalu banyak menimpali.

Kenapa Tere Liye menulis? Bang Darwis sebenarnya adalah lulusan Akuntansi FEUI, bahkan pernah berpartisipasi dalam penyusunan sejumlah PSAK. “Boleh jadi menulis adalah salah satu jalan hidup saya untuk berkontribusi bagi orang lain,” akunya.

Continue reading