Bisakah Kegiatan Beberes Menjadi Menyenangkan?

Rumah atau hunian dalam bentuk apa pun itu adalah tempat ke mana kita pulang. Rumah atau bentuk tempat tinggal lainnya identik dengan tempat beristirahat, berkumpul, bercengkerama dengan anggota keluarga yang lain. Maka, kenyamanan biasanya menjadi hal utama yang dikejar ketika seseorang memilih tempat tinggal. Selain nyaman (dan aman) lingkungan sekitarnya, tentu juga nyaman ditempati sehari-hari.

Lalu, bagaimana jika tempat tinggal kita menjadi tak lagi nyaman ditempati gara-gara kondisinya yang berantakan? Kadang, untuk memulai beberes pun rasanya kita enggan, saking sudah begitu banyaknya barang di rumah yang diletakkan sembarangan. Bingung mau mulai dari mana. Atau mungkin ada juga yang berpikiran, untuk apa dirapikan, toh nanti juga bakal berantakan lagi.

Sabtu lalu, tanggal 28 September 2019, saya mengikuti seminar Tidying Up Must Be Fun yang diselenggarakan oleh MommyKids Friends di Dekoruma Experience Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukan hanya seminar, pada sesi siang juga ada workshop di mana peserta bisa praktik langsung cara melipat pakaian yang efektif. Yang menjadi narasumber adalah mas Aang Hudaya, co-founder komunitas Gemar Rapi. Beberapa waktu yang lalu mas Aang mengisi pengajian di kantor saya dengan tema serupa, tetapi waktunya cukup singkat dan tidak ada sesi praktik.

Dulu saya sempat penasaran kenapa ada komunitas beberes yang namanya Gemar Rapi, dengan penggiat yang sepertinya dulu aktif di Konmari Indonesia, tetapi akhirnya terjawab dari penjelasan mas Aang di sini, bahwa Gemar Rapi memilih untuk merumuskan metode sendiri yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia. Gemar Rapi juga bisa diartikan sebagai Gerakan Menata Diri dari Rumah dan Pribadi.

Dalam kata pengantarnya saat membuka acara, Mbak Fuji Lasmini dari founder MommyKids Friends menyebutkan bahwa sebagai ibu harapannya berbenah hasilnya rumah itu rapi. Namun, yang dirasakan selama ini kok bukan menjadi nyaman, malah menjadi bumerang. Setelah berbenah jadi capek, gampang emosi ke anak-anak. Apalagi kalau diberantakin lagi. Seharusnya ada metode yang menyenangkan untuk berbenah, jadi inilah yang melatarbelakangi diadakannya kegiatan seminar dan workshop Tidying Up Must be Fun yang merupakan kegiatan seminar pertama yang diorganisasi oleh @MommyKids.Friends. Biasanya acara MommyKids Friends lebih berupa field trip untuk anak-anak.

Corporate Community Specialist Dekoruma mas Axel Nathaniel turut menyambut para peserta sambil memperkenalkan Dekoruma. Dekoruma telah hadir dari tahun 2015 dengan visi menjadi one stop solution di bidang home & living.

Dekoruma menyediakan layanan furnishing, desain interior, pembelian material, bahkan sampai jual beli properti berupa rumah ataupun apartemen sesuai keinginan dan anggaran klien. Dekoruma Experience Center hadir di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 59, Kramat Pela, Kebayoran Baru, untuk memberikan pengalaman melihat dan menyentuh sendiri contoh desain dan barang yang dijual oleh Dekoruma.

Konsep desain yang ditawarkan oleh Dekoruma adalah Japandi atau Japanese Scandinavian untuk mendapatkan manfaat relaxing, functional, dan essential yang diharapkan membuat kita semua #JadiInginPulang. Sudah tersedia juga aplikasi Dekoruma di Google PlayStore maupun App Store.

Memasuki sesi materi seminar, Mas Aang sempat melemparkan pertanyaan, rumah yang rapi itu sebenarnya yang seperti apa, sih? Setelah sejumlah peserta menjawab, mas Aang menggarisbawahi bahwa rumah yang tidak berantakan itu adalah yang kita nyaman melihatnya. Jadi, penghuni pun betah, tidak sering-sering bepergian yang dikarenakan perasaan sumpek berada di rumah. Kerapian rumah juga bisa ditandai oleh tidak adanya (atau sangat sedikit) aktivitas mencari.

Apa yang biasanya bikin rumah berantakan?

🧳 Terlalu banyak barang. Jumlah barang di rumah sudah berlebihan.
👨👩👧👦 Kebiasaan dan pola asuh. Sudah seperti membudaya di keluarga, dan anak-anak pun terbiasa melihatnya.
💼 Benda tidak punya tempat. Antara memang tidak ada tempatnya, ada tempat tapi tidak ditaruh dengan baik, ada tempat tapi tidak memadai kapasitasnya, ada tempat tapi tidak dipakai sebagamana fungsinya, dll.
⏰ Suka menunda.

Dari segi spiritual, semua agama jelas mengajarkan kebersihan dan mengingatkan untuk tidak berboros ria. Ya, salah satu alasan rumah menjadi tidak rapi adalah karena banyaknya barang. Bayangkan jika sebagian besar barang tersebut didapatkan dengan cara membeli. Secara finansial, banyaknya pengeluaran untuk membeli barang yang tidak terpakai jelas tidak baik. Tumpukan barang bisa mengundang debu bahkan serangga dan jamur untuk bersarang di sana, sehingga ketidakrapian bisa merembet ke urusan kesehatan. Belum lagi risiko kejatuhan atau tersandung tumpukan barang.

Sampai di sini mas Aang mengingatkan bahwa harta haram biasanya bisa kita hindari dengan mudah karena jelas terlihat. Namun, bagaimana dengan harta halal? Sekilas harta halal ini aman, tetapi jika sampai bertumpuk di rumah tanpa dimanfaatkan, nantinya tentu akan kita pertanggungjawabkan juga setelah kita meninggal dunia. Jadi, berbenah bukan hanya untuk kenyamanan dunia kita, melainkan juga kenyamanan di akhirat nanti.

Beres-beres tentu bukan sekadar menaruh barang-barang pada tempatnya. Ada beberapa hal yang menjadikan kegiatan beberes kita kurang tepat sasaran, di antaranya:
🚫 Hanya merapikan, tidak mengurangi barang
🚫 Hanya mempertimbangkan suka/tidak suka pada saat memilah
🚫 Sekadar bersih dan rapi tanpa memperhatikan keamanan
🚫 Tidak selaras dengan alam
🚫 Tidak mengubah mindset, gaya hidup, kebiasaan
🚫 Tujuan hanya sampai rumah rapi
🚫 Kerapian dianggap sepele
🚫 Jarang melibatkan anak dalam proses berbenah
🚫 Berbenah yang tidak mengubah hidup.

Kalau sudah seperti itu, kerapian yang didapatkan dari proses beberes yang sudah dilakukan biasanya tidak akan tahan lama. Bisa-bisa kelelahan saja yang didapat, ditambah dengan stres karena harus terus-menerus mengulangi kegiatan beberes. Kalau ada anak kecil di rumah, terutama, yang belum bisa ‘disuruh beberes’. Namun, mas Aang mengingatkan, sebetulnya rumah kita tidak harus selalu dalam keadaan rapi, kok. Ketidakrapian bisa menandakan adanya kehidupan di rumah, karena adanya aktivitas, dan itu tidak apa-apa. Kita bisa mengajak anak untuk memahami aturan mengembalikan barang pada tempatnya, sesuai tahapan usianya, tanpa memaksa. Berikan teladan secara langsung, karena anak adalah peniru yang ulung.

Dari segala benda yang ada di rumah dan perlu kita rapikan, mainan anak memang paling rigid dan banyak macamnya. Solusinya, penyimpanan mainan bisa dipisah berdasarkan usia khususnya jika jarak usia anak-anak agak jauh, untuk alasan keamanan juga. Bisa diatasi juga dengan membatasi wadah penyimpanan, kalau sudah tidak muat maka jangan beli yang baru atau harus ada yang dikeluarkan.

Masih ngontrak? Kadang ada perasaan, “Ah, masih ngontrak ini, berantakan gpp, belum rumah sendiri.” Padahal justru keadaan masih tinggal di rumah kontrakan itu seharusnya membuat kita bisa lebih memilih mana yang perlu dan tidak perlu ada di rumah. Kalau sekiranya sulit untuk maintenance, apalagi belum ada tempat penyimpanan barang tersebut, lebih baik tidak punya dulu. Bandingkan efisiensinya, kalau memang barang tersebut diperlukan, mungkin lebih efisien meminjam atau menyewanya. Hierarkinya: gunakan saja apa yang sudah ada —  sewa — pinjam — saling tukar — bikin sendiri — beli bekas — jika semuanya tidak memungkinkan barulah beli barang baru. Soal kardus juga, kita sering tergoda menyimpan kardus sampai memenuhi gudang padahal kalaupun beli baru saat diperlukan nanti juga tidak mahal.

Untuk semakin memperlancar kegiatan beres-beres, Gemar Rapi memiliki delapan pilar, yaitu:

  • Dilakukan oleh pemilik barang (owner)
  • Penguatan mindset sebagai fondasi awal
  • Perubahan kebiasaan sebagai tujuan (habit)
  • Pengurangan barang (decluttering)
  • Menyesuaikan kondisi individu (personalized)
  • RASA sebagai prinsip (principle): Rapi dan teratur, Aman dan nyaman, Sehat dan bersih, serta Alami dan berkelanjutan
  • Memenuhi standar safety dan hygiene
  • Tidak mencemari lingkungan (environment).

Dalam workshop yang dilaksanakan setelah break shalat Dzuhur, kami juga berlatih mengisi jurnal beberes.

Secara keseluruhan, langkah-langkah dalam berbenah meliputi:

  • Menuliskan alasan/impian, tujuan dan kondisi motivasi
  • Menentukan urutan berbenah
  • Menyusun jadwal berbenah
  • Memilah
  • Menata
  • Melestarikan kebiasaan

Untuk awal eksekusi kegiatan beres-beres, pertama pastikan anggota keluarga lengkap, karena seperti disebutkan di atas, beres-beres idealnya dilakukan oleh pemiliknya sendiri. Durasi kegiatan jangan sampai melebihi setengah hari, maksimal 4-5 jam. Kalau bisa pagi ke siang, pukul 7 s.d. 12 siang, jangan siang ke sore. Kalau siang ke sore bisa terpotong ishoma. Pastikan juga sebelum berbenah sudah mandi dan makan semua.

Siapkan ruang yang luas dengan alas (karpet/tikar), juga lima wadah untuk tempat penyimpanan sementara seperti kardus atau kontainer plastik:

1. untuk barang yang akan disimpan yaitu yang masih muat dan kita sukai,
2. untuk barang yang akan didonasikan/disedekahkan (dengan kondisi masih bagus tentunya)
3. untuk barang yang akan dijual
4. untuk barang yang akan dialihfungsikan
5. untuk barang yang dialihfungsikan oleh pihak lain (misalnya bank sampah).

Sebisanya tidak perlu ada kotak keenam yaitu yang dibuang, karena aktivitas kita perlu juga memedulikan efek ke lingkungan, jangan jadi menambah sampah.

Misalnya hari itu kita mau mulai dari kategori pakaian dan sejenisnya (sprei, mukena, sarung, handuk, dll), maka keluarkan seluruh pakaian dari tempat penyimpanannya, taruh di alas yang sudah kita bentangkan. Pastikan tidak ada pakaian yang tersisa, kecuali mungkin yang sedang berada di mesin cuci. Tumpuk berdasarkan pemiliknya. Pakaian kan milik pribadi, ya, sehingga nanti yang memilih sampai memutuskan adalah pemiliknya masing-masing. Kecuali untuk menata dan membawa, bisa dibantu oleh anggota keluarga lainnya, khususnya untuk anak kecil.

Kenapa semua barang dalam kategori tersebut harus dikeluarkan dan ditumpuk di satu tempat? Karena kalau kita memilih di depan lemari, paling-paling hanya 1-2% yang berhasil dikeluarkan. Tumpukan baju juga akan menimbulkan efek psikologis, terutama biasanya baru akan terlihat dan disadari bahwa memang pakaian kita sudah segitu banyaknya. Kadang juga ada barang pinjaman yang belum dikembalikan, atau barang yang kita miliki dobel.

Mulailah memilah satu per satu, dengan indikator sebagai berikut:

  • Barangnya masih bermanfaat. Untuk pakaian, indikatornya masih muat, tidak kesempitan atau terlalu longgar. Kalau ragu-ragu, dicoba, jangan hanya diperkirakan.
  • Khusus pakaian, masih kita sukai atau nyaman dipakainya. Hal ini karena pakaian berkaitan dengan penampilan. Suka dan tidak suka ini harus beralasan.
  • Kebutuhan, misalnya seragam.

Perhatikan tempat penyimpanan yang ada di rumah. Kalau lemari tidak muat lagi menampung, artinya sudah ada yang perlu dikeluarkan. Bila ketemu sentimental items, sisihkan, taruh di wadah penyimpanan tersendiri. Nanti sediakan waktu tersendiri untuk mempertimbangkan sentimental items ini mau diapakan. Kalau dipikirkan saat itu juga, bisa lamaaa dan memakan waktu yang akhirnya menghambat proses beberes keseluruhan.

Pastikan tidak ada benda yang tersia-siakan, tidak ada barang berbahaya atau penyebab bahaya, dan hilangkan sumber penyebab masalah yaitu jumlah barang yang terlalu banyak. Gunakan RASA dalam memiliki yang dilandasi dengan (minimal) 3 pertanyaan: Apakah bermanfaat? Apakah dapat menambah kebahagiaan? Bila saya mati, apakah bermanfaat untuk ahli waris dan dapat membuat mereka bahagia? Berkaitan dengan hobi, apalagi jika sudah berkeluarga, pikirkan apakah perlengkapan hobi ini mengganggu anggota keluarga lain atau tidak, berbahaya untuk kesehatan atau tidak.

Tibalah di bagian yang paling mengena buat saya, nih, yaitu soal buku. Seharusnya, buku yang dipertahankan hanya dua kategori ini: referensi (pekerjaan, agama, parenting), dan buku favorit kita sepanjang masa. Kalau alasannya adalah kita mau bikin perpustakaan, pastikan ada pengunjung dan pembacanya. Jika pembacanya hanya anggota keluarga, memangnya mau berapa kali bukunya dibaca? Minimal, bukalah perpustakaannya untuk warga sekitar. Kalau bukunya mau diwariskan ke anak, pertimbangkan apakah untuk kelak bahasan dalam buku tersebut masih relevan.

Bagaimana dengan surat-surat atau dokumen penting seperti ijazah, akte, buku tabungan, polis asuransi, dan sejenisnya? Pisahkan wadah penyimpanan untuk dokumen sementara dan dokumen permanen, tetapi simpan di satu lokasi. Buat bentuk digitalnya dan simpan di gadget maupun cloud agar ada back up. Cari wadah yang tahan air dan kalau perlu tahan api, simpan di tempat yang aman dari jangkauan anak-anak maupun hewan, cek kondisinya secara berkala.

Sebagai penutup, mas Aang mengajak utuk menjadikan Gemar Rapi sebagai kebiasaan baru. Kita bisa membiasakan membersihkan kamar tidur setiap baru bangun, menyapu rumah setiap pagi, membersihkan kamar mandi secara bertahap, merawat/maintenance apa yang sudah dimiliki agar usia pakainya panjang, dan menghindari mengakumulasi barang. Tahan godaan terhadap diskon, hindari tempat belanja yang melenakan. Setiap saat melihat barang yang tidak pada tempatnya, barang yang bertumpuk, segera perbaiki. Dengan demikian, kegiatan beberes tak lagi menguras energi fisik maupun mental.

15 thoughts on “Bisakah Kegiatan Beberes Menjadi Menyenangkan?

  1. Wah, pas banget lagi sortir buku-buku nih. Selama ini suka numpuk buku. Sampai sudah kuning-kuning nggak terawat gitu. Setelah baca ini makin mantap mau menyumbangkan buku-buku fiksi yang sudah nggak ingin dibaca lagi ke perpustakaan setempat.

  2. Memang suka menunda adalah satu kunci kemalasan yg harus dihalangkan, kadang aku juga suka gitu sudah milah-milah produk untuk di buang dan dikasihkan eh ketunda dan tumpuk lagi ada barang baru lagi. Memang konsep mindset harus diubah

  3. Saya pribadi hobi banget berberes Mbak. Rasanya gatel kalau melihat barang yang tidak terpakai/ tidak bermanfaat di rumah. Langsung pengen aku beresin biar gak menuh-menuhin rumah. Walaupun belum bisa serapi Marie Kondo, tapi at least gak berantakan. hehehe

  4. Lengkap banget banget mbaa Leila isinya dibandingkan aku hehe. Soal ngelipet baju akhirnya belajar di workshop kemarin, masih perlahan dipraktikkan terutama pas ga malas haha. Btw ngeri yaah dg pakaian2 kita yg ngga kitae pakai kelak akan minta pertanggung jawaban di akhirat 😦

  5. Wah ada komunitasnya ya. Aku baru tau huhu. Btw beberes emang melelahkan dan akhirnya bikin emosi ke anak. Sampai kata suami.. Sudahlah dibiar2in aja dl berantakan kalau lagi cape.. Hahaha
    Tapi namanya emak ya pengen banget rumah rapi cling dan wangi. Baiklah mungkin bener juga. Di rumah kebanyakan barang gak berfaedah. Harus di sortir lagi. Tks mbak

  6. Gemar Rapi itu seperti teknik a la Marie Kondo versi Indonesia ya. Semenjak berkeluarga saya jadi akrab banget sama aktivitas beres-beres. Tapi karena lagi punya anak yang aktif-aktifnya dan tidak ada ART, makin kesini saya makin “wajar” aja dalam hal beberes, tidak perlu sempurna karena ibu juga harus “waras” hahahahha :))

  7. Suka menunda alias malas merapikan barang memang pasti dialami semua orang, termasuk juga saya, haha.. Padahal sih pas udah dirapikan mah senang banget

  8. Wah seneng ya acaranya. Saya pribadi, seneng beberes juga di rumah. Buang-buangin atau kasihin barang-barang yang udah ga penting atau ga pernah dipake lagi. Rasanya seneng aja kalau udah beres-beres jadi lebih lega, fresh, dan menghilangkan stress. Hehehe

  9. Baca ini, jadi inget kalau kemaren belum selesai beresin lemari mbak.. haha

    Dan emang bener loh, rumah kelihatan berantakan bisa juga karenakakebanyakan barang.. wkwk

  10. wah seru banget ya acara ini. Kebiasaan baik yaitu rapi dan bersih emang harus dibiasakan dari kecil. Ajak anak untuk beberes rumah atau setidaknya mainannya sambil becanda pasti kegiatan ini jadi menyenangkan.

  11. Beberes emang paling enak ya.. apalagi saat anak anak sekolah, saatnya para emak beberes rumah.. kadang suka gemezz juga sih kalo anak anak ngga beresin mainnya lagi hehe tapi pelan pelan anak anak dirumah mengerti kesukaan ibunya beres beres ruma

  12. Terimakasih ilmunya. Banyak yang saya camkan dan akan saya praktikkan di rumah. Sebenarnya beberes itu mudah kalau tahu ilmu, tujuan dan manfaatnya ya.

  13. Pas baca ini, aku jadi speechless deh. Ada ya acara seperti ini. Berguna banget sih. Nggak kebayang kalau hal yang kita anggap remeh ternyata kalau dikaji, dalam juga ilmunya,

  14. Aku pernah pada suatu ketika, menjadikan bebers rumah sebuah hobi. Jadi kalau beberes itu dengan hati riang gembira. Pernah juga merasa tertekan saat beberes, beberes kok besok berantakan lagi berantakan lagi. Kayaknya harus mengurangi banyakbarang nih

  15. Ini niih, sesi memilah baju itu bisa buat galau banget deh. Kadang harusnya udah dikeluarin tapi sayang karena ada sejarahnya jadi disimpan lagi dan jadi numpuk lagi deh di lemari, huhuhuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s