Writober 8: Mengenal Wastra Indonesia lewat Museum

Pertama kali saya menangkap kata wastra adalah dari majalah femina yang saat itu rutin saya beli. Lebih kurangnya, wastra diartikan sebagai kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri yang mengacu pada dimensi warna, ukuran, dan bahan. Contohnya adalah batik, tenun, dan songket. Mengingat wilayah negeri kita, Indonesia, terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, tak heran ada banyak sekali wastra khas tiap-tiap daerah di nusantara.
 
Beberapa kali saya berkesempatan mengunjungi museum-museum yang secara khusus memajang wastra khas Indonesia. Saya juga baru sadar bahwa ada lebih dari satu Museum Batik maupun Museum Tekstil di Indonesia. Berikut museum-museum terkait wastra yang pernah saya datangi.

Museum Tekstil (Palembang)

SAMSUNG DIGIMAX A403Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya menjalani penugasan di Palembang. Berawal dari ketidaksengajaan ketika angkot yang saya tumpangi mengambil jalan yang berbeda, saya justru menemukan bangunan bergaya kolonial di Jl. Talang Semut. Ternyata itu adalah Museum Tekstil. 

Meski terletak di Sumatra Selatan, tetapi Museum Tekstil ini tidak hanya menampilkan kain-kain khas daerah Sumatra. Maka, bersanding dengan songket keemasan yang mewah, dipajang pula kain-kain batik yang lembut dan berwarna-warni.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Cerita selengkapnya dari kunjungan saya ke Museum Tekstil Palembang tahun 2008 bisa dilihat di sini.

Museum Batik Danar Hadi (Surakarta)

Meski lahir dan besar di Kota Surakarta alias Solo dan sekitarnya, tetapi saya baru bertamu ke Museum Batik Danar Hadi tahun 2009. Tak disangka, guide yang menemani saya ternyata adalah teman SMA dari sejumlah teman kuliah saya, jadi obrolan kami pun lebih seru.

 DSC00815

Museum Batik ini mulai dibuka tahun 2000, dengan koleksi ribuan batik yang dipajang secara bergiliran. Pemilik museum ini adalah H. Santosa Doellah, pengusaha batik sukses pemilik merek Danar Hadi. Di dalamnya, ada batik klasik hingga batik modern yang amat mewakili keberagaman budaya Indonesia. Ada batik khusus keluarga kerajaan yang tak boleh dipakai oleh rakyat jelata, ada batik yang agar pewarnaannya bagus harus dilakukan di tiga kota berbeda. Ada pula batik dengan penggambaran tokoh dongeng Eropa seperti Hansel & Gretel dan Little Red Riding Hood, konon pesanan khusus untuk Noni-noni Belanda pada zaman kolonial.

Berhubung tidak diperkenankan memotret untuk menjaga kualitas dari batik itu sendiri, saya jadi tak punya juga dokumentasi koleksi di sana. Namun, cukup mudah untuk mencari tampilan beberapa motifnya di mesin pencari internet, kok.



Tahun lalu, sambil mudik lebaran, saya sempat mengunjungi lagi Museum Batik Danar Hadi ini. Kali itu bersama suami, anak-anak, dan mengajak mama juga. Kalau dulu usai tur keliling museum maka tamu diajak melihat pembuatan batik cap, kali ini kami menyaksikan langsung proses membatik menggunakan canting. Kalau makan di Cafe milik museum, ada lho paket untuk bisa langsung mencoba membatik.

Museum Tekstil (Jakarta)

Awal tahun 2019 kami sekeluarga mengikuti playdate bersama suatu komunitas. Playdate ini diselenggarakan di Museum Tekstil yang terletak di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ini kali pertama kami sekeluarga ke sana. Selain menikmati melihat-lihat koleksi dan juga  menyimak penjelasan dari pemandu, kami juga langsung bisa praktik membatik.

  

Fathia mengikuti proses membatik cap yang dimulai dari menekan cap yang telah tersedia ke kain putih agar bagian yang ditandai tertutupi oleh lapisan lilin, lalu kain tersebut dicelupkan ke pewarna. Anak-anak yang lebih besar bisa membatik dengan canting. Sambil menunggu hasil batiknya melalui proses pewarnaan dan pengeringan, peserta diajak berkeliling museum.

Selain ketiga museum ini, ada juga museum-museum lain yang juga berfokus pada wastra Indonesia, seperti Museum Batik Pekalongan, Museum Batik TMII, dan Museum Kain di Bali. Terdapat pula museum yang koleksinya lebih bersifat umum, tetapi memiliki koleksi batik yang cukup banyak, seperti Museum Nasional (Museum Gajah), Museum Ullen Sentalu di Yogyakarta, dan Museum Seni Neka Ubud Bali.

Bahkan awal bulan ini ada satu lagi semacam museum batik yang dibuka di Solo, yaitu Rumah Heritage Batik Keris. Rumah Heritage ini ini dulunya adalah bangunan lama yang dikenal sebagai Omah Lawa (Rumah Kelelawar). Dulu ada saja kisah mistis yang beredar tentang rumah bergaya kolonial yang tampak sepi dan mangkrak hingga menjadi sarang kelelawar itu, tetapi kini sudah dibersihkan dan ditata hingga menjadi cantik untuk menjadi galeri. Ah, jadi tak sabar untuk pulang kampung dan mampir ke sana.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Wastra

12 thoughts on “Writober 8: Mengenal Wastra Indonesia lewat Museum

  1. Keren ya mbak batiknya, museumnya juga luas sekali.

    Yang ngelola juga keren deh, bisa gitu punya ide ngerombak bangunan tua jadi galery, good job.

  2. Wew ternyata saya kudet juga karna baru mengetahui istilah wastra. Yah meskipun udah kenal macem2 batik, songket dll. Kenalannya di museum Ullen Sentalu Jogja, suerrr keren abisss..

  3. Bagus sekali mbak Leila. Saya blm pernh ke museum tekstil nih. Padhl suka banget kalo baju2 itu berasal dr kain tenun, batik dan sejenisnya. Rasanya bangga banget.
    Oh ya, saya jg pengen bikin batik nih suka iri sama turis2 aja yg udah pada belajar memegang canting ya. Semoga budaya wastra ini tetap terjaga yaa. Thanks for sharing mbak

  4. Dari sekian banyak museum yang disebut aku belum pernah kesana semua huhu. Sedih deh. Pengeeen. Tapi apa lah daya yang pernah cuma ke Museum Brawijaya di Malang hahaha

  5. Aku pas ke solo belom sempet nih mampir ke tempatnya batik danar hadi. Padahal penasaran lihat koleksinya

  6. Saya baru tau istilah wastra ini di sini mba, ternyata kain tradisional yah, di kampung aku juga ada kain batik khusus

  7. Mbak leila keren bgt sih bisa namatin semua writoktiber.. aku cm SMP senandika trus blasst ga lanjutin Krn anak demam jg ikut marathon coaching hihii

  8. Batik udah jadi ciri khas indonesia ya, kita bangga dong jadi warga indonesia. tapi bangga aja gak cukup, cari tau soal wastra itu keharusan. jadi tau nih kalo batik dibuat bukan dengan proses yang semabarangan. ada pesan kisah yang terkandung di setiap pola nya. keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s