Writober 7: Haruskah Kita Menjadi Wanita Sehalus Sutra Dewangga?

Seindah warna semungil melati
Dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi sejinak merpati
Dikau senandung di cita

Gerak gayamu ringan
Memikat hati muda teruna
Mekar bersinar menyilaukan mata
Halus wanita bak sutra dewangga
Senyummu meruntuhkan mahkota

Kutipan di atas adalah lirik lagu Wanita ciptaan Ismail Marzuki, tembang lawas (1948) yang kembali populer ketika dinyanyikan lagi oleh Afgan dalam rangkaian lagu pengiring film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013).

Dengan pilihan kata yang puitis, jelas lagu ini menggambarkan kekaguman terhadap sosok wanita. Yah, mungkin tidak semua orang akan sepakat tentang penggambaran yang disajikan. Mungil, misalnya. Apakah wanita yang menarik hati itu harus bertubuh petite? Atau, bila seorang wanita memiliki pembawaan yang tidak sehalus sutra dewangga, akankah ia kehilangan pesona?

Namanya juga karya seni, rasanya sah saja seorang seniman menggubah sesuatu berdasarkan pandangan subjektifnya. Jika mau ditelisik lebih jauh bisa saja sih masuk ke bahasan stereotipe perempuan, tetapi tulisan ini tidak hendak membahas hal tersebut.

Saya lebih tertarik menyoroti salah satu diksi yang dipakai, yaitu dewangga. Kata ini pertama saya baca kembali setelah sekian lama melalui tantangan cerpen keroyokan yang sedang diadakan oleh Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta. Saat itu, benang merah yang ditetapkan untuk tema atau judul cerpen yang harus dibuat adalah warna, dengan pilihan nama-nama warna yang cenderung jarang disebutkan. Beberapa warna di situ betul-betul baru saya baca. Bayangkan, saya yang suka sekali dengan warna ungu baru kali itulah membaca bahwa ada yang namanya warna ijas sebagai padanan kata untuk dark purple. Karena waktu itu tidak ada kelompok yang memilih dewangga, maka kata tersebut dimunculkan lagi untuk tantangan berikutnya, yaitu Writober atau tantangan menulis 10 hari selama bulan Oktober.

Nah, kalau dewangga, apa artinya?

Menurut KBBI, dewangga memiliki arti:

de.wang.ga1 /dèwangga/

n kain yang bergambar-gambar indah, bercorak biru atau kuning pada dasar merah

de.wang.ga2 /dèwangga/

n warna merah kekuning-kuningan

Kalau dari sumber yang dikutip untuk pengumuman tantangan RBM waktu itu, dewangga diartikan sebagai warna jingga. Jadi, mendekati makna dalam KBBI yang kedua, ya, yaitu warna merah kekuning-kuningan. Akan tetapi, kalau dalam lirik lagu Wanita, sepertinya yang dimaksud adalah sebagaimana arti yang lebih dahulu disebutkan oleh KBBI, yaitu kain yang bergambar indah.

Maka, bisa dibayangkan sutra dewangga itu secantik apa. Pastinya halus dan lembut karena bahannya, kemudian juga menawan hati karena motifnya yang indah. Begitu memukaunya sampai-sampai jenis kain ini dijadikan metafora untuk kehalusan perilaku seorang wanita.

Akan halnya soal stereotipe, zaman sekarang mestinya sudah makin banyak yang paham. Setiap orang, atau dalam hal ini setiap wanita, berhak punya gaya khasnya sendiri selama bertanggung jawab dan tiak merugikan orang lain. Perempuan yang tegas dan kurang bisa bersikap lembut pun memiliki pesonanya sendiri. Kalau tak bisa menjadi sutra dewangga, mungkin kita dapat menempatkan diri sebagai kain tenunan yang unik sekaligus kokoh. Yang pada akhirnya akan saling melengkapi dan mendukung sesama perempuan dengan ciri khas masing-masing.

Ilustrasi: Pexels

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Dewangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s