Writober 8: Mengenal Wastra Indonesia lewat Museum

Pertama kali saya menangkap kata wastra adalah dari majalah femina yang saat itu rutin saya beli. Lebih kurangnya, wastra diartikan sebagai kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri yang mengacu pada dimensi warna, ukuran, dan bahan. Contohnya adalah batik, tenun, dan songket. Mengingat wilayah negeri kita, Indonesia, terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, tak heran ada banyak sekali wastra khas tiap-tiap daerah di nusantara.
 
Beberapa kali saya berkesempatan mengunjungi museum-museum yang secara khusus memajang wastra khas Indonesia. Saya juga baru sadar bahwa ada lebih dari satu Museum Batik maupun Museum Tekstil di Indonesia. Berikut museum-museum terkait wastra yang pernah saya datangi.

Museum Tekstil (Palembang)

SAMSUNG DIGIMAX A403Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya menjalani penugasan di Palembang. Berawal dari ketidaksengajaan ketika angkot yang saya tumpangi mengambil jalan yang berbeda, saya justru menemukan bangunan bergaya kolonial di Jl. Talang Semut. Ternyata itu adalah Museum Tekstil. 

Continue reading

Napak Tilas Virtual Sejarah Perjuangan Bangsa

Kami sekeluarga termasuk suka menjelajahi berbagai museum yang berlokasi di sekitar kami, baik di kota tempat tinggal maupun kota-kota lain yang sedang kami datangi. Dari museum, kami bisa belajar banyak hal. Bukan cuma anak-anak, kami pun jadi bertambah pengetahuan, terutama tentang sejarah dan kebudayaan bangsa ini.

Pada masa pembatasan aktivitas untuk pencegahan pandemi Covid-19 beberapa bulan belakangan ini, kegiatan ke museum memang menjadi mustahil untuk dilakukan. Beberapa lokasi bersejarah mungkin memang sudah dibuka untuk umum dengan penerapan protokol kesehatan. Akan tetapi, kami belum berani untuk banyak keluar rumah dulu selain untuk keperluan mendesak.

Continue reading

Menikmati Kekayaan Wastra Indonesia: dari Songket Palembang hingga Batik Solo

Tulisan lama saya yang dulu menang lomba “Cinta Negeriku” yang diadakan oleh FLP Malang tahun 2010.
=========================================================================================

Berkunjung ke suatu daerah rasanya tak lengkap tanpa menyinggahi tempat-tempat yang menjadi ciri khasnya. Maka jika ada kesempatan pergi ke kota lain, biasanya saya mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasi-lokasi wisata yang kira-kira dapat dikunjungi. Mengingat waktu biasanya sempit karena hanya memanfaatkan cuti yang cuma sebentar atau harus menyempatkan diri di sela-sela tugas kantor, pilihan tempatnya perlu dikerucutkan lagi berdasarkan letak, ketersediaan transportasi atau yang mau menemani, dan jam bukanya kalau

Meskipun begitu, tidak jarang secara tak sengaja saya malah menemukan tempat tertentu. Waktu kuliah dulu misalnya, sementara oom dan tante menghadiri pesta pernikahan koleganya (yang memang menjadi tujuan utama), daripada bengong di kamar saya dan seorang sepupu iseng jalan kaki ke sekeliling Hotel Horison Bandung dan tiba-tiba sampailah kami ke Pasar Palasari. Biarpun mengaku orang rumahan, kadang naluri jalan saya memang timbul sendiri. Lagi-lagi dengan alasan ketimbang hanya menganggur, mumpung ada di kota yang jarang didatangi.

SAMSUNG DIGIMAX A403Dua tahun yang lalu, setelah beres urusan dinas kantor di Palembang dan menaruh berkas-berkas di kamar hotel, saya naik angkot ke Masjid Agung. Tidak lama di situ, hanya shalat Dhuha dan berdzikir sebentar sebab bagian dalam masjid sedang dibersihkan, mungkin juga untuk persiapan shalat Jumat. Usai menikmati martabak HAR di seberang masjid itu yang bikin kangen setelah mencobanya pertama kali tahun 2008, saya bermaksud kembali ke hotel. Di dalam angkot menuju hotel, saya melihat sebuah bangunan bergaya kolonial di kejauhan. Itu dia Museum Tekstil, yang belum sempat saya masuki tahun sebelumnya karena keterbatasan waktu. Mumpung kali ini waktunya cukup luang, saya putuskan untuk turun di situ.

Continue reading