Menyapa Hiu Paus di Perairan Gorontalo

Hiu paus. Hiu atau paus, nih? Kalau hiu, ‘kan, termasuk ikan, sedangkan paus adalah golongan mamalia yang jelas bukan golongan ikan. Nah, hiu paus ini sebetulnya adalah ikan hiu. Namun, jika umumnya ikan hiu merupakan hewan karnivora alias pemakan daging, ikan hiu paus (whale shark) ini makanannya adalah plankton yang ia peroleh dengan cara menyaring dari air laut melalui mulut. Mirip cara makan paus, kan? Bukan hanya plankton sebetulnya, hiu paus juga menyukai ikan kecil seperti sarden, makerel, maupun udang dan cumi-cumi kecil.

Sumber gambar: Kementerian KKP

Continue reading

Mojok di Kids Corner Double Tree by Hilton

img_20161119_085304_hdr

Berfoto di depan dekorasi kolam

Beberapa waktu yang lalu saya dan ‘pasukan’ (maksudnya anak-anak dan pengasuh) pergi ke Double Tree by Hilton Hotel Jakarta untuk mengikuti sebuah acara. Ternyata saya salah membaca waktu acara dimulai, walhasil kami jadi harus menunggu selama satu jam lebih. Masih mending daripada terlambat, sih, tapi…anak-anak gimana, ya? Bosan nggak, tuh? Mengingat kegiatan dilaksanakan di restoran di lantai atas hotel yang terletak sangat dekat dengan Stasiun Cikini ini, ruang gerak mereka agak terbatas. Ada teras terbuka di mana anak-anak kayaknya sih bakal cukup senang lari-larian sih, tapi malah di situ mataharinya cukup menyengat, ada yang merokok pula.

Panitia kemudian menyarankan kami untuk ke Kids Corner. Nah, sesaat sebelum berangkat saya sebetulnya sudah browsing sekilas untuk mencari tahu apakah di hotel tersebut tersedia arena bermain anak. Soalnya pernah kami sekeluarga datang ke seminar di sebuah apartemen dan ternyata di sana ada tempat bermain untuk anak yang baru kami ketahui setelah acara selesai. Kan lumayan, ya, daripada anak-anak tidak leluasa main di lokasi acara (tentang mengajak vs menitipkan anak saat ortu belajar bisa dibaca di postingan yang ini: Masih tentang Adab Menuntut Ilmu).

Continue reading

Menikmati Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016

img_20161002_090131.jpgKarena sempat menikmati keseruan Festival Dongeng Internasional Indonesia tahun kemarin, saya pun menanti-nanti gelaran berikutnya. Awal Oktober lalu ketika kami main ke Taman Suropati rupanya ada kegiatan pendahuluan menuju FDII 2016 berupa Dongeng Kejutan di Hari Minggu. Fathia yang sebetulnya sedang moody abis karena baru sembuh dari sakit ternyata tertarik ikut duduk mengikuti dongeng rubah yang ingin jadi keledai :). Dari banner yang dipasang panitia kami memperoleh informasi bahwa FDII 2016 akan dilaksanakan pada tanggal 5-6 November 2016 di tempat yang sama yaitu Museum Nasional. Oke deh, mari kita masukkan ke agenda…

img-20161107-wa0022Menjelang hari-H saya mengintip akun Instagram dan facebook Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI/@ayodongeng_ind) dan memperoleh beberapa informasi tambahan seperti jadwal acara dan cara pendaftaran kelas-kelas khusus (berbayar) yang dibuka yaitu kelas kriya (crafting) dan kelas dongeng. Ingin rasanya ikutan belajar dari mereka yang terampil di bidangnya, tapi saat ini sepertinya belum memungkinkan. Sementara ini, belajar lewat menyimak dongeng yang dibawakan saja, ya…

Continue reading

Pangkalpinang, Kota Kenangan yang Penuh Harapan Menyongsong Masa Depan

Kite ke aik panas, maen ke Pantai Matras
Kite ke Pangkal Pinang Pasir Padi

Potongan lirik lagu dari band Klaki itu mengalun lagi sore ini, membawa kenangan akan sebuah kota di mana saya dan suami pernah bertugas. Ya, kota Pangkalpinang menjadi lokasi ‘bulan madu’ kami selama lebih kurang empat tahun lamanya. Kalau dibahas, #pesonapangkalpinang seolah tak ada habisnya.

Kota Pangkalpinang merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbentuk pada tahun 2001 dengan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi. Provinsi ini terdiri dari 1 kota dan 6 kabupaten, yaitu Kabupaten Bangka (sering disebut juga sebagai Bangka Induk, dengan ibu kota Sungailiat), Kabupaten Bangka Barat (dengan ibu kota Muntok), Kabupaten Bangka Tengah (dengan ibu kota Koba), Kabupaten Bangka Selatan (dengan ibu kota Toboali), Kabupaten Belitung (dengan ibu kota Tanjung Pandan), Kabupaten Belitung Timur (dengan ibu kota Manggar), dan Kota Pangkalpinang (dengan ibu kota Pangkalpinang).

 Akses Mencapai Pangkalpinang

Untuk mencapai kota Pangkalpinang dari Jakarta, perjalanan udara memakan waktu sekitar satu jam. Bandara tujuannya adalah Bandara Depati Amir. Kini semakin banyak maskapai penerbangan yang melayani jalur ini dengan jadwal yang bervariasi. Harga tiket biasanya akan naik drastis pada hari-hari raya keagamaan nasional, liburan sekolah, dan sekitar hari pelaksanaan Ceng Beng atau sembahyang kubur bagi masyarakat Tionghoa yang menjadi kesempatan pulang menziarahi makam leluhur sekalipun sudah merantau jauh. Rute udara lain menuju Bangka-Belitung adalah melalui Palembang atau Batam, tetapi pesawat tidak tersedia setiap hari. Dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung atau sebaliknya, selain menggunakan pesawat (tidak setiap hari ada) tersedia juga penyeberangan dengan kapal jetfoil.

Alternatif lain menuju Provinsi Bangka Belitung adalah menggunakan kendaraan pribadi atau bus. Waktu tempuh dari Palembang menuju Bangka membutuhkan waktu hampir satu hari. Untuk menyeberang dengan kapal feri dari Pelabuhan Boom Baru di Palembang ke Pelabuhan Tanjung Kalian Muntok, Bangka Barat membutuhkan waktu 3 jam. Jika menggunakan kendaraan pribadi akan lebih mudah mencapai lokasi-lokasi wisata di provinsi ini, karena jarang tersedia angkutan umum. Bagi yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, pilihannya adalah menyewa kendaraan atau mengikuti paket tur yang disediakan agen perjalanan.

Indahnya Kota Pangkalpinang

Panorama alam menjadi salah satu sumber utama wisata di Pangkalpinang. Layaknya suatu daerah, Kota Pangkalpinang juga memiliki beberapa landmark atau hal yang menjadi penanda sekaligus ciri khas bagi suatu daerah. Beberapa landmark dan objek wisata yang sering kami kunjungi di kota Pangkalpinang dulu adalah:

Taman Merdeka

Taman Merdeka Pangkalpinang merupakan sebuah area terbuka seluas lebih kurang 60 x 90 meter yang diapit oleh Jalan Sudirman, Jalan Merdeka, Jalan Rustam Effendie, dan Jalan Diponegoro. Tidak jauh dari taman tersebut terdapat titik nol Pulau Bangka, tepatnya pada pertigaan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Taman Merdeka ini sebelumnya adalah sebuah lapangan berumput dengan nama Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka awalnya merupakan perwujudan salah satu unsur tata kota berprinsip macapat (empat penjuru mata angin), yakni alun-alun yang terletak di sebelah selatan Rumah Residen yang menjadi pusat kekuasaan Belanda di Bangka pada masa lalu. Lapangan ini belakangan digunakan sebagai tempat bermain bola (terutama sebelum adanya Stadion Depati Amir) maupun upacara-upacara resmi seperti peringatan hari kemerdekaan RI dan acara perayaan seperti malam pergantian tahun dengan atraksi kembang api dan pelaksanaan salat Id. Sesuai dengan Perda Nomor 2 Tahun 1989, kawasan sekitar Rumah Residen (kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang) dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Taman Merdeka. Pada tahun 2009 bentuk lapangan diubah menjadi semacam taman kota dengan ciri khasnya berupa air mancur berbentuk tudung saji.

Pada pagi maupun sore hari, banyak warga yang memanfaatkan Taman Merdeka sebagai tempat olahraga, seperti jogging, bersepeda, dan bermain skateboard. Ada juga yang sekadar bersantai bersama keluarga. Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam hari. Mulai 2010, setiap hari Minggu dan hari-hari tertentu kawasan Taman Merdeka ditetapkan menjadi area car free day. Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari keberadaan Taman Merdeka, misalnya dengan mengoptimalkan kawasan tersebut sebagai tempat berekreasi dan berolahraga.

Agar kebersihan dan kerapian Taman Merdeka tetap terjaga, pemerintah daerah melarang penjual makanan menjajakan dagangannya di taman tersebut. Akhirnya para pedagang beralih ke Jalan Rustam Effendie, yang kini menjelma menjadi pusat jajanan kuliner di malam hari dan seolah melengkapi keberadaan Taman Merdeka sebagai sarana wisata pusat kota.

Tugu Pergerakan Kemerdekaan

SAMSUNG DIGIMAX A403

Tugu Pergerakan Kemerdekaan berlokasi di dalam Taman Sari (dahulu bernama Wilhelmina Park), sebelah barat Rumah Residen/Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang. Tugu ini dibuat untuk mengenang perjuangan rakyat Bangka melawan penjajahan Belanda dan diresmikan oleh Moh. Hatta pada bulan Agustus 1949. Prasasti pada tugu tersebut bertuliskan “Surat kuasa kembalinya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserahterimakan oleh Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Medio Juni 1949”.

SAMSUNG DIGIMAX A403Bentuk tugu terdiri atas lingga di atas punden berundak-undak sebanyak 17 undakan (mencerminkan tanggal 17) bersegi delapan (menggambarkan bulan Agustus) dengan yoni berada di atas lingga dengan bentuk yang simetris dengan simbol mencerminkan perjuangan meraih kemerdekaan yang dilakukan oleh berbagai suku dan lapisan masyarakat Indonesia. Tinggi keseluruhan mulai dari undak terbawah sampai puncak lingga setinggi 7,65 m, terdiri dari tinggi undak dan yoni 1,65 m, tinggi lingga 1,65 m dan tinggi yoni 4,35 m, dengan luas areal tugu 168 m2.

Pantai Pasir Padi

Konon namanya berasal dari butiran pasir pantai ini yang menyerupai bulir padi berwarna kekuning-kuningan. Ya, pasir di sini memang tidak seputih pasir pantai-pantai lain di Babel, penampakan batu granit raksasanya pun amatlah minim. Namun, letaknya yang hanya 7 kilometer dari pusat kota membuat pantai ini menjadi pilihan utama bagi warga kota Pangkalpinang untuk sejenak melepaskan lelah dan bersantai bersama keluarga.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Ombak yang tenang dan air laut yang tidak dalam membuat kegiatan berenang dan bermain air nyaman dilakukan. Tersedia fasilitas untuk cuci-bilas dan beberapa persewaan alat berenang di sini. Dibangun pula sarana outbound dan arena permainan anak untuk melengkapi fasilitasnya. Beberapa bagian pantai ini yang terancam abrasi dilindungi dengan talud yang justru memberikan warna lain bagi pengunjung yang lebih suka duduk-duduk mengamati air laut dari kejauhan.

Jika air sedang surut, kita bisa berjalan-jalan ke Pulau Punan, pulau mungil yang biasanya terendam air laut, atau bermain bola di atas pasir putih. Bahkan kendaraan roda dua maupun empat pun bisa menjelajah hingga cukup jauh dari jalan aspal karena pasirnya padat dan keras. Pada waktu-waktu tertentu, salah satu sudut pantai ini menjadi lokasi perlombaan motorcross.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Di pantai ini terdapat banyak pilihan tempat makan, mulai dari restoran yang menawarkan pengalaman makan di atas kapal hingga kios-kios bakso, jagung bakar, dan kelapa muda yang tersebar di sepanjang pantai. Ada juga hotel bergaya resort yang cocok sebagai tempat pertemuan. Untuk memasuki kawasan Pantai Pasir Padi dikenakan retribusi yang masih berkisar pada angka ribuan rupiah.

Museum Timah

Museum Timah Indonesia yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 179 ini semula merupakan rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW). Di tempat ini pernah diadakan beberapa kali perundingan kecil menjelang Perjanjian Roem-Royen antara pemimpin RI yang diasingkan ke Pulau Bangka dengan pemerintah Belanda dan UNCI (United Nations Commission for Indonesia).

SAMSUNG DIGIMAX A403

Museum ini merupakan museum teknologi pertimahan satu-satunya di Asia. Didirikan pada tahun 1958, semula bertujuan untuk mencatat sejarah pertimahan di Kepulauan Bangka Belitung kemudian dikembangkan sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat. Museum Timah memamerkan sejarah kegiatan penambangan di kepulauan Bangka Belitung, alat-alat penambangan tradisional/kuno atau yang memiliki nilai sejarah tinggi, yang dapat memperluas wawasan pengunjung museum. Museum Timah resmi dibuka pada tanggal 2 Agustus 1997 oleh Erry Riyana Hardjapamekas, Dirut PT Timah saat itu.

Benda-benda yang dipamerkan meliputi batuan timah dan mineral ikutan lainnya, alat tambang tradisional, mesin hitung dan telepon antik, bekas mangkuk keruk, perabotan rumah tangga kuno yang ikut ditemukan dalam penggalian timah, serta contoh produk jadi yang mengandung timah. Tidak ketinggalan aneka foto, gambar, diorama dan maket penambangan timah baik tradisional maupun modern, baik di darat maupun di laut dengan bermacam metodenya. Di halaman, berdiri kukuh lokomotif tua buatan Inggris tahun 1908 yang dahulu berfungsi untuk menarik kereta pengangkut pekerja dan hasil tambang timah.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Museum ini sangat informatif dalam menampilkan sejarah panjang penambangan timah di Bangka Belitung yang telah dimulai sejak tahun 1709. Tampak jelas bagaimana perkembangan teknologi penambangan dari masa ke masa, juga pengaruh bangsa-bangsa yang tertarik mengeruk keuntungan dari kekayaan alam ini.

Di luar sejarah pertimahan, dalam museum ini dipajang pula replika prasasti Kota Kapur, prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka tahun 1892. Prasasti bertuliskan aksara Pallawa ini merupakan prasasti pertama Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan.

Masjid Raya Tua Tunu

SAMSUNG DIGIMAX A403

Masjid Raya Tuatunu yang terletak di Desa Tuatunu, Kecamatan Gerunggang memiliki luas lantai dasar utama 784m2, lantai dua 490m2, teras luar 520m2, sedangkan luas tanahnya 9.920m2.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Masjid ini juga memiliki menara setinggi 47,5m. Masjid yang diresmikan pada 20 Maret 2008 ini pernah dikunjungi oleh Presiden SBY pada peringatan Isra Mi’raj April 2008, kami pun ikut ke sana menyambut kedatangan bapak presiden.

 

 

 

Jajanan Istimewa

Bukan cuma asyik buat jalan-jalan, Pangkalpinang juga punya kekayaan kuliner yang kaya. Karena Babel secara keseluruhan berupa kepulauan jadi kebanyakan sih berupa hasil laut dan olahannya ya, sebagian yang lain dipengaruhi oleh makanan asal Tiongkok.

Martabak Bangka

800px-martabakmanis
Martabak manis atau hoklopan kondang dijajakan di berbagai daerah di negeri ini dengan nama martabak bangka. Betul, awalnya memang kue ‘bersarang’ ini berasal dari Bangka. Baik dengan topping standar maupun modifikasi, sama-sama lezat untuk cemilan yang cukup mengenyangkan.

Otak-otak Bangka

Penganan otak-otak yang terbuat dari ikan (biasanya ikan tengiri) ini memang bukan hanya ada di Bangka, tetapi otak-otak Bangka punya kekhasan pada saus sambalnya yang menggunakan tauco dan cenderung encer (lebih mirip kuah).

Keritcu

SAMSUNG DIGIMAX A403
Keripik telur cumi alias keritcu ini sesuai namanya dibuat dari telur cumi. Kadang saking kangennya saya titip pada teman yang bertugas di sana untuk mengirimkannya ke sini. Semasa di sana, saya pernah mengunjungi salah satu sentra pembuatannya sebagai bagian dari rangkaian KKN untuk mencapai gelar S1.

Siput Gung Gung

img_20160626_140749.jpg
Katanya sih dimakan dalam bentuk tumisan/masakan yang disajikan dalam bentuk cenderung masih basah bisa, tapi selama di sana saya tahunya siput gung gung/gonggong ini dalam bentuk keripik. Renyah dan bumbunya pas deh, cocok dijadikan cemilan.

Kembang Tahu

Ini makanan yang kalau di daerah asal saya di Jateng sana diistilahkan dengan ‘tahuk’. Di Pangkalpinang akhirnya saya mencicipi lembutnya ‘puding tahu’ dengan kuah manis pedas jahe yang dijajakan bapak-bapak keliling dengan label ‘thew fu fa’, beberapa pekan sebelum kami pindah ke Jakarta.

Pantiaw kuah ikan

SAMSUNG DIGIMAX A403
Pantiauw ini makanan yang mirip kwetiaw kalau kata kawan saya dari Belitung, tapi saya pernah melihat penjualnya memotong-motong dari bentuk seperti dadar, bukan dari alat semacam ‘pasta maker’ atau ditarik macam mie tradisional. Yang istimewa adalah kuahnya yang berisi daging ikan yang sudah dihaluskan, gurihnya itu lho… Ada juga pantiaw goreng, tapi saya lebih suka yang kuah.

Wastra Khas

SAMSUNG DIGIMAX A403

Kalau Sumatra Selatan sebagai provinsi yang dulu menaungi Bangka Belitung sebelum menjadi provinsi tersendiri punya songket, Bangka juga punya tekstil khas berupa kain cual. Kain ini aslinya juga berupa hasil tenunan dengan alat tenun bukan mesin, perpaduan antara tenun sungkit (songket) dan tenun ikat, tapi belakangan semakin populer dipasarkan dan digunakan dalam bentuk batik (khususnya batik cap). Corak batik yang sering dipakai adalah adaptasi dari kain limar muntok. Cual sendiri bermakna celupan awal pada benang yang akan ditenun.

SAMSUNG DIGIMAX A403

photo-0007

 

New Es Krim Tentrem, Nikmat Disantap dan Cantik Dipandang

Beberapa hari setelah idul fitri, sepupu yang sedang mudik (seperti juga saya) menyatakan keinginannya untuk mencicipi es krim Tentrem. Wah, saya jadi ikut kepengin. Yang saya dan mama tahu, es krim ini adanya di Plaza Singosaren lantai dasar, jadi meluncurlah kami ke sana. Dulu, kalau sedang ke Singosaren (yang terkenal karena ada Matahari-nya saat belum banyak department store di Solo), membeli es krim ini jadi semacam agenda khusus yang istimewa. Nggak sering sih memang, karena saya dan adik tidak dibiasakan jajan, bahkan di tempat yang punya nama macam itu.

Sampai ke Singosaren, ternyata gerai Tentrem di sana sudah digantikan oleh penjual ponsel (kalau tidak salah). Di Solo Grand Mall seingat saya ada kafenya, tapi membayangkan parkirnya jadi agak malas, waktu juga beranjak kian malam. Maka saya bertanya ke mbak-mbak yang ada di situ dan dijawab bahwa sudah pindah ke Ngarsopuran. Meluncurlan mobil yang dikemudikan adik saya ke sana, tepatnya Jl Brigjen Slamet Riyadi No. 132, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Langit mendung dan restoran New Es Krim Tentrem ini sebetulnya beberapa puluh menit lagi tutup (tertulis buka 09.00-21.00), tapi sudah kepalang tanggung.
image

Sekilas pandang saja, saya sudah kagum dengan interiornya yang natural-cantik. Ada hiasan tanaman buatan, sangkar-sangkar burung kosong, bingkai-bingkai antik, pernak-pernik dengan warna permen…. Konon restoran ini menyajikan 21 macam menu es krim, tapi keterbatasan waktu, kami hanya bisa memilih es krim contong (cone) dengan pilihan yang tersisa. Tak apalah, sekalian nostalgia. Saya memilih blueberry, suami saya pilihkan yang mocca, Fathia saya pesankan Oreo, sama dengan sepupu.
image

Wah, rasanya enaaakk… Secara tidak langsung saya membandingkan dengan es krim Ragusa dan Baltic Ice Cream di Jakarta yang perah saya makan, yah tekstur lembut dan rasa buahnya yang ‘dapet banget’ mirip-mirip lah, berhubung sama-sama homemade. Restoran atau cafe Tentrem yang ini baru dibuka pada 25 Juni 2016, pantas saja waktu terakhir kami jalan-jalan ke Ngarsapura Night Market (2014 saat hamil Fahira) rasanya kok belum ada. Rupanya ada juga restonya di Urip Sumoharjo, dekat Orion yang berarti dekat kantor mama juga (artinya harusnya cukup sering lewat kalau kebetulan ikut antar/jemput mama), tapi waktu itu tidak memperhatikan dan belum ada minat khusus coba-coba begini, hahaha. Es krim Tentrem sendiri sudah ada sejak tahun 1952, lho.
image

Es krim di bangunan berlantai dua ini sebagian besar (atau semua?) homemade alias buatan sendiri, bukan es krim pabrikan. Hasil browsing sih katanya ada nasi liwet dan gudeg Solo juga, tapi lagi-lagi karena waktunya mepet saya bahkan tidak sempat mengamati daftar menu. Sebetulnya kami masih tinggal agak lama sih sambil menghabiskan es krim masing-masing, tapi karena kami berdua harus bergantian menjaga Fahira yang penasaran dengan benda-benda baru di sekitarnya jadi ya begitulah, hehehe. Boro-boro mau foto-foto :D, padahal tata ruangnya instagrammable bangettt…
image

Beberapa sumber:
http://solo.tribunnews.com/2016/04/07/inilah-21-menu-es-krim-di-kafe-new-es-krim-tentrem-solo
http://young.solopos.com/2015/07/14/kuliner-legendaris-es-krim-rasa-klasik-nuansa-kekinian-624156

Menikmati Kekayaan Wastra Indonesia: dari Songket Palembang hingga Batik Solo

Tulisan lama saya yang dulu menang lomba “Cinta Negeriku” yang diadakan oleh FLP Malang tahun 2010.
=========================================================================================

Berkunjung ke suatu daerah rasanya tak lengkap tanpa menyinggahi tempat-tempat yang menjadi ciri khasnya. Maka jika ada kesempatan pergi ke kota lain, biasanya saya mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasi-lokasi wisata yang kira-kira dapat dikunjungi. Mengingat waktu biasanya sempit karena hanya memanfaatkan cuti yang cuma sebentar atau harus menyempatkan diri di sela-sela tugas kantor, pilihan tempatnya perlu dikerucutkan lagi berdasarkan letak, ketersediaan transportasi atau yang mau menemani, dan jam bukanya kalau

Meskipun begitu, tidak jarang secara tak sengaja saya malah menemukan tempat tertentu. Waktu kuliah dulu misalnya, sementara oom dan tante menghadiri pesta pernikahan koleganya (yang memang menjadi tujuan utama), daripada bengong di kamar saya dan seorang sepupu iseng jalan kaki ke sekeliling Hotel Horison Bandung dan tiba-tiba sampailah kami ke Pasar Palasari. Biarpun mengaku orang rumahan, kadang naluri jalan saya memang timbul sendiri. Lagi-lagi dengan alasan ketimbang hanya menganggur, mumpung ada di kota yang jarang didatangi.

SAMSUNG DIGIMAX A403Dua tahun yang lalu, setelah beres urusan dinas kantor di Palembang dan menaruh berkas-berkas di kamar hotel, saya naik angkot ke Masjid Agung. Tidak lama di situ, hanya shalat Dhuha dan berdzikir sebentar sebab bagian dalam masjid sedang dibersihkan, mungkin juga untuk persiapan shalat Jumat. Usai menikmati martabak HAR di seberang masjid itu yang bikin kangen setelah mencobanya pertama kali tahun 2008, saya bermaksud kembali ke hotel. Di dalam angkot menuju hotel, saya melihat sebuah bangunan bergaya kolonial di kejauhan. Itu dia Museum Tekstil, yang belum sempat saya masuki tahun sebelumnya karena keterbatasan waktu. Mumpung kali ini waktunya cukup luang, saya putuskan untuk turun di situ.

Continue reading

Menikmati Kembali Gurihnya Siput Gonggong

“Dulu waktu saya kuliah di Jawa, mamak saya suka kirim siput gonggong. Pikir saya makanan apa sih ini, seringnya malah saya kasih-kasih ke teman-teman. Setelah balik ke Bangka saya baru tahu, rupanya itu makanan mahal,” demikian tutur tetangga kami di Pangkalpinang dulu.

image

Siput gonggong atau dog conch atau nama latinnya Strombus canarium (canis=anjing, sedangkan gonggong jelas merupakan tiruan bunyi anjing) menjadi salah satu makanan khas di Bangka Belitung dan di Kepulauan Riau (beberapa website menyebutkan bahwa hewan ini khas masing-masing daerah). Siput ini bisa pula ditemukan di berbagai negara (selengkapnya di https://en.m.wikipedia.org/wiki/Laevistrombus_canarium). Di pulau Bangka, cangkang siput gonggong dijadikan ikon misalnya dalam bentuk patung yang menjadi landmark. Siput gonggong bisa dibumbui kemudian dimasak bersama dengan cangkangnya dan disantap layaknya keluarga gastropod bercangkang, bisa juga digoreng kering menjadi keripik atau dihaluskan lalu digoreng sebagai kerupuk. Satu-satunya bentuk olahan yang pernah saya cicipi, juga yang dimaksud oleh tetangga kami di atas, adalah siput gonggong yang sudah jadi keripik. Mengingat rasanya yang gurih dan renyah sungguh bikin kangen karena sejak pindah dari Pangkalpinang lima tahun yang lalu saya belum pernah memakannya lagi. Harganya memang tergolong mahal, bulan lalu suami saya membelikan saat bertugas ke Pangkalpinang dengan harga Rp40.000,00 untuk kemasan 100 gram, kemudian saya lihat di salah satu lapak online ada yang menjual seharga Rp440.000,00/kg. Saya memang secara khusus minta dibelikan oleh-oleh siput gonggong, selain tentunya keritcu. Harga yang menggiurkan barangkali menjadi penarik minat penduduk berburu siput gonggong, yang lantas berdampak ke terancamnya eksistensi spesies ini seperti dipaparkan di Trubus
http://www.trubus-online.co.id/siput-gonggong-saatnya-budidaya/.

image

Hewan siput sendiri bagi kaum muslim seringkali masih membuat ragu terkait status kehalalannya. Biasanya orang awam akan mengaitkan dengan wujudnya sebagai hewan melata dan bisa hidup di dua alam. Bahasan lengkap mengenai halal atau haramnya siput/bekicot/keong dan sejenisnya bisa dibaca di https://rumaysho.com/2130-halalkah-bekicot-keong.html dan https://konsultasisyariah.com/17052-hukum-makan-bekicot.html. Siput gonggong adalah hewan laut, merujuk ke kedua tulisan tersebut hukumnya adalah halal.

Oh ya, nilai gizi siput gonggong goreng ini seperti dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Bangka Barat adalah sebagai berikut:
Sampel Siput Gonggong Goreng yang telah disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat kepada Balai Riset dan Standarisasi Mutu Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Palembang untuk diuji nilai gizi makronya telah keluar hasilnya.

Berdasarkan hasil uji laboratorium dapat diketahui nilai gizi makro per 100 gram Siput Gonggong Goreng antara lain karbohidrat 4,1% dengan nilai gizi 16,4 kalori, Protein 31,19 dengan nilai gizi 124,8 kalori dan lemak 24,9% dengan nilai gizi 224,1 kalori.

Sampel adalah Siput Gonggong Goreng yang merupakan olahan dari Siput Gonggong yang didapatkan dari Desa Bakit, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat. Semoga Siput Gonggong dapat menjadi komoditi di Kabupaten Bangka Barat dengan nilai gizi dan nilai jual yang tinggi.