Belajar Masak Praktis dan Sehat dari Chef Rudy

Rudy Choirudin, siapa sih yang tidak kenal nama chef terkemuka Indonesia ini? Jauh sebelum mereka yang disebut celebrity chef berseliweran di layar kaca, chef Rudy sudah rajin muncul membawakan acara-acara masak-memasak yang sukses bikin pemirsa jatuh cinta. Sabtu (17/02) lalu, akhirnya saya bisa melihat langsung aksi chef Rudy membawakan demo masak. Bukan hanya itu, dalam acara yang diselenggarakan di Tupperware Showroom South Quarter, SQ Dome, Jakarta Selatan ini, chef Rudy berbagi cuplikan kisah hidupnya.

Seperti disebutkan oleh MC, chef Rudy sudah 29 tahun berkarier dan secara fisik kelihatannya belum banyak berubah. Sedangkan di antara peserta yang hadir pun ada yang rajin ikut acara chef Rudy sejak anaknya masih digendong hingga sekarang sudah remaja. Acara TV chef Rudy saat ini, Rasa Sayange, ratingnya sampai mengalahkan banyak acara lain, lho.

Continue reading

Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

Sugar rush atau sugar high biasanya diartikan sebagai kondisi amat aktif atau kelewat bersemangat dalam berkegiatan, biasanya terjadi pada anak-anak, yang dipicu oleh banyaknya konsumsi gula. Sekilas sepertinya hal ini logis, karena kalori yang masuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas, bukan? Gula yang tinggi kalori pun lalu menjadi kambing hitam atas ulah anak-anak yang tampak berlebihan.

Continue reading

Belajar Jelly Art, Ternyata Menyenangkan Juga

Jelly art sempat menjadi tren beberapa waktu yang lalu. Setidaknya hal ini saya nilai dari banyaknya postingan di media sosial, baik yang jualan ataupun masih belajar. Buku tutorialnya pun tak sedikit terpajang di rak toko buku. Mama saya tak ketinggalan, bahkan sampai ikut kursus sehari di kota tetangga dengan biaya yang menurut saya lumayan mahal.

Saya? Berhubung waktu itu sedang dalam kondisi hamil besar kemudian melahirkan anak kedua, saya cukup jadi pengamat saja. Lagipula, saya merasa diri ini bukan orang yang nyeni. Jelly art sebetulnya mirip dengan melukis, kan. Khawatirnya malah berantakan, kan sayang (ya walaupun kalau gagal juga sebenarnya bisa dimakan sih).

Nah, beberapa waktu yang lalu ada pengumuman di grup wali murid kalau akan diadakan ‘demo dari nutrijell’. Jadilah saya mendaftar dan hadir dengan semangat pada pelaksanaan kegiatan tanggal 30 Juli 2017 walaupun badan rada meriang dan agenda hari itu cukup padat (setidaknya ada tiga acara lain). Setelah membayar biaya kegiatan sebesar lima puluh ribu, saya diminta memilih meja. Dan karena yang tersisa hanya paling depan dan paling belakang, saya pun memilih di depan saja, biar jelas. Di meja-meja dalam ruangan sudah disediakan alat-alat dan sebagian bahan mulai dari agar-agar tanpa warna/bening dalam kotak plastik, spuit suntik ukuran 10ml, sendok plastik kecil, garpu plastik kecil, dua gelas yang salah satunya berisi air, dan beberapa lembar tisu. Adapun bahan berupa agar-agar/jelly berwarna disiapkan di meja pengajar dalam panci kukusan dengan kompor menyala di bawahnya, untuk nantinya diambil ke depan oleh para peserta sesuai tahapan yang diajarkan.

Continue reading

dan Daftar Oleh-oleh Artis Terus Bertambah Panjang….

Selama beberapa minggu, postingan saya tentang oleh-oleh khas daerah yang dalam penjualannya memasang nama artis menjadi postingan paling banyak dikunjungi di blog ini. Kalau mau baca, sila klik di sini ya….

Memang daftarnya terus bertambah panjang, nampaknya bisnis ini dianggap punya peluang cerah hingga artis lain pun tertarik. Sebetulnya sih artis berbisnis kuliner bukan hal baru ya, ada yang bikin rumah makan, ada yang berjualan makanan daerah seperti rendang, ada juga yang memang terjun ke bisnis kue/cake. Tapi konsep penggabungan kue/cake/sejenisnya yang cenderung ringan dan biasanya malah bukan asli atau khas suatu daerah tetapi disambung dengan nama daerah, lalu di-branding dengan nama artis, bisa dibilang baru beberapa tahun belakangan ini marak. Dan lebih jauh lagi, tahun ini banyak sekali merk baru dengan konsep serupa. Termasuk konsep marketing-nya yang banyak memanfaatkan media sosial, lebih khusus lagi instagram. Bahkan yang belum nampak jelas bentuk kuenya seperti apa sudah dipromosikan dengan gencar lewat postingan menggoda  jauh-jauh hari.

Saya sendiri baru kesampaian mencicipi Surabaya Snow Cake, Medan Napoleon, Jogja Scrummy, Carrot Cake, dan Princess Cake. Ingin coba yang lain, tapi belum ada kesempatan, hehehe.

Nah, berikut ini daftar sementara-nya:

1. Malang Strudel – Teuku Wisnu.
2. Jogja Scrummy – Dude Harlino
3. Medan Napoleon – Irwansyah
4. Surabaya Snow Cake – Zaskia Sungkar
5. Makassar Bosang – Ricky Harun
6. Makassar Baklave – Irfan Hakim
7. Bandung Makuta – Laudya Chyntia Bella
8. Bogor Rain Cake – Shireen Sungkar
9. Cirebon Sultana – Indra Bekti & Aldilla Jelita
10. Pontianak Lamington – Glen Alinskie
11. Cirebon Cinnamon – Dimas Seto & Dhini Aminarti

Continue reading

Bolu dan Cake, Apa Bedanya, Ya?

Satu lagi toko oleh-oleh artis akan segera dibuka dalam waktu dekat. Kali ini si pemilik adalah Shireen Sungkar. Berbeda dengan yang dijual oleh suami, kakak, dan kakak iparnya (bisa dibaca di postingan ini: Toko Oleh-oleh Artis), Bogor Raincake ala Shireen tidak menggunakan puff pastry. Foto awal yang diposting di instagram Bogor Raincake sudah cukup menunjukkan hal itu walaupun masih dua hari lagi launching resminya. Admin IG pun menegaskan kalau Bogor Raincake tidak pakai pastry, menanggapi komentar salah seorang pengunjung yang berpendapat “Ah sama aja ini dengan yang lain, beda cara naruh pastry-nya aja”. Komentator lain bilang kalau Bogor Raincake itu ‘pakai bolu’, lalu admin kembali meluruskan bahwa kue yang mereka produksi tergolong sponge cheesecake, bukan bolu. Bahkan sampai dibuat postingan tersendiri.

Di sinilah saya yang awam ini jadi bingung. Ketahuan ya, jarang baking hehehe. Pengetahuan saya tentang kue-kue begini lebih banyak didapat dari membaca dan jarang praktik, makanya lebih cepat lupa walaupun mungkin saya sebetulnya pernah baca penjelasan perbedaan itu sebelumnya (terutama di majalah wanita langganan mama dulu). Atau mungkin lebih tepatnya, yang penting menurut saya rasanya kan sama-sama enak, buat apa dipertanyakan itu namanya bolu atau cake :D. Eh, tapi memang sih ada kue-kue yang terasa beda (meskipun sama-sama enaknya), ada yang lebih padat, ada yang cenderung berpori dan ringan, ada yang mudah jadi remah-remah. Nah, jadi, apa bedanya nih bolu sama cake?

Continue reading

Makan Jangan Bersuara…. 

Obrolan di grup whatsapp IIP beberapa hari yang lalu sempat membahas tentang trik membuat makan jadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, terkait dengan materi utama mengenai menumbuhkan kemandirian anak. Ada salah satu anggota yang memberi saran makan sambil mengajak anak mengobrol. Ini mirip dengan saran dokter keluarga kami dalam kultwitnya, yaitu dengan menyelipkan cerita mengenai serba-serbi sayuran atau bahan makanan lain yang ada di hadapannya, mengapa perlu makan itu, dst. Kemudian ada anggota lain yang menanggapi, kan makan jangan bersuara, hehehe… kan ada lagunya juga tuh ya, yang dulu sempat populer lagi karena digunakan sebagai pengiring iklan sebuah merk susu kalau tidak salah.

Kalau secara table manner atau etiket makan, sebetulnya tidak terlarang juga bicara sambil makan, maksudnya ketika tidak ada makanan dalam mulut ya. Misalnya saya kutip dari sini https://agyeeta.wordpress.com/2009/06/21/table-manner/:

CARA BERBICARA
 Hindari berbicara saat makanan masih di dalam mulut
 Hindari bicara sambil menunjuk ke arah seseorang atau gerakan tangan yang berlebihan
 Hindari memotong, menguasai pembicaraan
 Sesuai intonasi berbicara, jangan terlalu keras atau lemah

Malah ada juga yang menuliskan bahwa secara etika, ketika semua yang sedang makan bersama diam saja kan malah suasana jadi kurang enak, bahkan tidak sopan kalau kita diam saja. Saya kutip dari http://fitritataboga.blogspot.co.id/2011/04/etiket-makan-part2.html:

Continue reading

Oleh-oleh Khas Daerah dari Para Artis, Tren Baru?

Ikut grup whatsapp dengan anggota para ibu dari berbagai daerah di Indonesia, pastinya pernah ngobrolin soal makanan khas. Baik kuliner khas daerah asal yang sedang tidak bisa sering-sering dicicipi karena mengikuti penugasan suami maupun sajian asli daerah yang sekarang ditempati. Salah satu topik perbincangan kami beberapa waktu yang lalu adalah makanan daerah yang membawa-bawa nama artis. Bukan hanya dibawa namanya sih sebenarnya, tapi para artis tersebut sekaligus menjadi pendiri atau pemilik, kendati mungkin persentase keterlibatannya berbeda-beda, ya.

Konon antrean untuk membelinya lumayan panjang, yang menandakan banyaknya peminat. Karena nama artisnyakah? Bisa jadi, sih. Setidaknya nama para artis tersebut, yang semuanya (dalam ruang lingkup bahasan kami) berstatus suami dengan citra baik-baik dan jarang kena gosip negatif, menjadi salah satu daya tarik. Minimal, orang jadi penasaran, “Wah, artis berbisnis nih… Pasti setidaknya rasanya lumayan, sebab kalau tidak, nama baik mereka yang dipertaruhkan, kan?” Mayoritas mereka dikenal pula cukup menunjukkan identitas keislaman, jadi dinilai pasti peduli dengan faktor halal tidaknya bahan yang dipakai. Ditambah dengan hasrat untuk ikut tren kekinian memajang hasil foto makanan yang telah dibeli di media sosial, syukur-syukur di-repost oleh akun resminya, makin tertariklah orang.

Nah, makanan, tepatnya sejenis kue, yang dipromosikan sebagai oleh-oleh khas ini justru bukan makanan asli daerah tersebut, lebih tepat dibilang perpaduan dengan gaya kuliner luar malah. Ini tentu mengundang pro kontra juga, misalnya mengapa para artis tersebut tidak mengangkat makanan tradisonal yang betul-betul sejak dulu menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan.

Sisi positifnya sih, karena oleh-oleh khas tersebut biasanya hanya tersedia di kota yang bersangkutan sehingga diharapkan bisa menggerakkan perekonomian setempat. Tapi cek sana sini ada juga kok yang menyediakan jasa titip beli, termasuk di dunia maya. Tentu dengan penambahan biaya jasa, ya.

Continue reading