SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi

“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.

Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.

Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?

Continue reading

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bulan) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading

Sunpride, Kawan Menjalani Ramadhan Sehat

“Pola makan untuk ibu menyusui yang hendak menjalankan ibadah puasa sebetulnya tidak terlalu spesial, hanya pengaturan waktunya yang berubah.”

Demikian pernyataan dari beberapa konselor laktasi yang pernah saya baca. Artinya, makan seperti biasa dengan penyesuaian jam makan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu yang berpuasa maupun bayi yang masih disusuinya. Tidak perlu sampai melipatgandakan porsi, dan kalau mau mengkonsumsi suplemen khusus pun harus sesuai dengan indikasi.

Namun, di sisi lain, bulan puasa juga sekaligus bisa menjadi momentum perbaikan kebiasaan makan. Umumnya di bulan puasa orang merasa perlu memperhatikan asupan gizi lebih dari biasanya. Meski tidak makan dan minum dari subuh hingga maghrib, aktivitas sehari-hari harus jalan terus. Upaya meningkatkan ketakwaan dengan menambah ibadah khusus harian juga tentunya membutuhkan sokongan stamina yang prima.
image

Beberapa tips yang saya baca untuk membantu tubuh tetap fit dengan perubahan jam makan (dan seringkali juga jam tidur) pada umumnya mengingatkan untuk menjaga kecukupan cairan. Jelas, ini penting karena dehidrasi bakal menjadi hal yang tidak menyenangkan di saat kita berpacu memperbanyak amalan baik di bulan penuh berkah. Tips lain yang biasa dibagikan adalah makan dengan gizi seimbang. Nah, apa sih makan gizi seimbang ini?

Continue reading

New Es Krim Tentrem, Nikmat Disantap dan Cantik Dipandang

Beberapa hari setelah idul fitri, sepupu yang sedang mudik (seperti juga saya) menyatakan keinginannya untuk mencicipi es krim Tentrem. Wah, saya jadi ikut kepengin. Yang saya dan mama tahu, es krim ini adanya di Plaza Singosaren lantai dasar, jadi meluncurlah kami ke sana. Dulu, kalau sedang ke Singosaren (yang terkenal karena ada Matahari-nya saat belum banyak department store di Solo), membeli es krim ini jadi semacam agenda khusus yang istimewa. Nggak sering sih memang, karena saya dan adik tidak dibiasakan jajan, bahkan di tempat yang punya nama macam itu.

Sampai ke Singosaren, ternyata gerai Tentrem di sana sudah digantikan oleh penjual ponsel (kalau tidak salah). Di Solo Grand Mall seingat saya ada kafenya, tapi membayangkan parkirnya jadi agak malas, waktu juga beranjak kian malam. Maka saya bertanya ke mbak-mbak yang ada di situ dan dijawab bahwa sudah pindah ke Ngarsopuran. Meluncurlan mobil yang dikemudikan adik saya ke sana, tepatnya Jl Brigjen Slamet Riyadi No. 132, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Langit mendung dan restoran New Es Krim Tentrem ini sebetulnya beberapa puluh menit lagi tutup (tertulis buka 09.00-21.00), tapi sudah kepalang tanggung.
image

Sekilas pandang saja, saya sudah kagum dengan interiornya yang natural-cantik. Ada hiasan tanaman buatan, sangkar-sangkar burung kosong, bingkai-bingkai antik, pernak-pernik dengan warna permen…. Konon restoran ini menyajikan 21 macam menu es krim, tapi keterbatasan waktu, kami hanya bisa memilih es krim contong (cone) dengan pilihan yang tersisa. Tak apalah, sekalian nostalgia. Saya memilih blueberry, suami saya pilihkan yang mocca, Fathia saya pesankan Oreo, sama dengan sepupu.
image

Wah, rasanya enaaakk… Secara tidak langsung saya membandingkan dengan es krim Ragusa dan Baltic Ice Cream di Jakarta yang perah saya makan, yah tekstur lembut dan rasa buahnya yang ‘dapet banget’ mirip-mirip lah, berhubung sama-sama homemade. Restoran atau cafe Tentrem yang ini baru dibuka pada 25 Juni 2016, pantas saja waktu terakhir kami jalan-jalan ke Ngarsapura Night Market (2014 saat hamil Fahira) rasanya kok belum ada. Rupanya ada juga restonya di Urip Sumoharjo, dekat Orion yang berarti dekat kantor mama juga (artinya harusnya cukup sering lewat kalau kebetulan ikut antar/jemput mama), tapi waktu itu tidak memperhatikan dan belum ada minat khusus coba-coba begini, hahaha. Es krim Tentrem sendiri sudah ada sejak tahun 1952, lho.
image

Es krim di bangunan berlantai dua ini sebagian besar (atau semua?) homemade alias buatan sendiri, bukan es krim pabrikan. Hasil browsing sih katanya ada nasi liwet dan gudeg Solo juga, tapi lagi-lagi karena waktunya mepet saya bahkan tidak sempat mengamati daftar menu. Sebetulnya kami masih tinggal agak lama sih sambil menghabiskan es krim masing-masing, tapi karena kami berdua harus bergantian menjaga Fahira yang penasaran dengan benda-benda baru di sekitarnya jadi ya begitulah, hehehe. Boro-boro mau foto-foto :D, padahal tata ruangnya instagrammable bangettt…
image

Beberapa sumber:
http://solo.tribunnews.com/2016/04/07/inilah-21-menu-es-krim-di-kafe-new-es-krim-tentrem-solo
https://m.solopos.com/kuliner-legendaris-es-krim-rasa-klasik-nuansa-kekinian-624156

Menikmati Kembali Gurihnya Siput Gonggong

“Dulu waktu saya kuliah di Jawa, mamak saya suka kirim siput gonggong. Pikir saya makanan apa sih ini, seringnya malah saya kasih-kasih ke teman-teman. Setelah balik ke Bangka saya baru tahu, rupanya itu makanan mahal,” demikian tutur tetangga kami di Pangkalpinang dulu.

image

Siput gonggong atau dog conch atau nama latinnya Strombus canarium (canis=anjing, sedangkan gonggong jelas merupakan tiruan bunyi anjing) menjadi salah satu makanan khas di Bangka Belitung dan di Kepulauan Riau (beberapa website menyebutkan bahwa hewan ini khas masing-masing daerah). Siput ini bisa pula ditemukan di berbagai negara (selengkapnya di https://en.m.wikipedia.org/wiki/Laevistrombus_canarium). Di pulau Bangka, cangkang siput gonggong dijadikan ikon misalnya dalam bentuk patung yang menjadi landmark. Siput gonggong bisa dibumbui kemudian dimasak bersama dengan cangkangnya dan disantap layaknya keluarga gastropod bercangkang, bisa juga digoreng kering menjadi keripik atau dihaluskan lalu digoreng sebagai kerupuk. Satu-satunya bentuk olahan yang pernah saya cicipi, juga yang dimaksud oleh tetangga kami di atas, adalah siput gonggong yang sudah jadi keripik. Mengingat rasanya yang gurih dan renyah sungguh bikin kangen karena sejak pindah dari Pangkalpinang lima tahun yang lalu saya belum pernah memakannya lagi. Harganya memang tergolong mahal, bulan lalu suami saya membelikan saat bertugas ke Pangkalpinang dengan harga Rp40.000,00 untuk kemasan 100 gram, kemudian saya lihat di salah satu lapak online ada yang menjual seharga Rp440.000,00/kg. Saya memang secara khusus minta dibelikan oleh-oleh siput gonggong, selain tentunya keritcu. Harga yang menggiurkan barangkali menjadi penarik minat penduduk berburu siput gonggong, yang lantas berdampak ke terancamnya eksistensi spesies ini seperti dipaparkan di Trubus
http://www.trubus-online.co.id/siput-gonggong-saatnya-budidaya/.

image

Hewan siput sendiri bagi kaum muslim seringkali masih membuat ragu terkait status kehalalannya. Biasanya orang awam akan mengaitkan dengan wujudnya sebagai hewan melata dan bisa hidup di dua alam. Bahasan lengkap mengenai halal atau haramnya siput/bekicot/keong dan sejenisnya bisa dibaca di https://rumaysho.com/2130-halalkah-bekicot-keong.html dan https://konsultasisyariah.com/17052-hukum-makan-bekicot.html. Siput gonggong adalah hewan laut, merujuk ke kedua tulisan tersebut hukumnya adalah halal.

Oh ya, nilai gizi siput gonggong goreng ini seperti dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Bangka Barat adalah sebagai berikut:
Sampel Siput Gonggong Goreng yang telah disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat kepada Balai Riset dan Standarisasi Mutu Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Palembang untuk diuji nilai gizi makronya telah keluar hasilnya.

Berdasarkan hasil uji laboratorium dapat diketahui nilai gizi makro per 100 gram Siput Gonggong Goreng antara lain karbohidrat 4,1% dengan nilai gizi 16,4 kalori, Protein 31,19 dengan nilai gizi 124,8 kalori dan lemak 24,9% dengan nilai gizi 224,1 kalori.

Sampel adalah Siput Gonggong Goreng yang merupakan olahan dari Siput Gonggong yang didapatkan dari Desa Bakit, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat. Semoga Siput Gonggong dapat menjadi komoditi di Kabupaten Bangka Barat dengan nilai gizi dan nilai jual yang tinggi.

Bakpia Kencana yang Lezat Tak Terkira

Agak hiperbolis ya judulnya, hahaha… Tapi bener, deh, enak banget sih rasa bakpia ini.

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman di grup whatsapp ‘dharma wanita’ ngomongin kota Yogyakarta. Awalnya ada teman di Klaten yang hendak belanja untuk persiapan bikin kue lebaran ke toko bahan kue di Jogja, lalu ada yang menimpali dengan rencana liburan ke provinsi yang resminya bernama DIY tersebut, kemudian ada lagi yang bercerita bahwa dia jadi teringat masa-masa mendampingi suami tugas belajar di sana.  Saya? Saya bilang saya baper sama kota itu habis nonton AADC 2. Jogja sepertinya manis, diam-diam menghanyutkan gitu, ya (dan prospek tinggal di sana dalam waktu dekat agak memicu beberapa perasaan yang sulit dijelaskan, hahaha). Kenangan lampau saya pribadi terhadap Jogja sebetulnya lebih banyak didominasi silaturahim ke anggota keluarga besar (tempat asal saya tidak terlalu jauh dari Jogja), study tour masa sekolah, dan tentunya lagu KLA Project band favorit saya.

Dari bahasan soal Jogja, obrolan di layar gadget berlanjut ke oleh-oleh khas sana. Bakpia tentu menjadi topik utama, khususnya bakpia pathuk yang melegenda. Lalu seseorang melontarkan pendapat bahwa ada bakpia baru yang enak, lebih enak dari Kurnia Sari yang terkenal itu. Saya sendiri baru kenal bakpia Kurnia Sari begitu bertugas ke Jogja Agustus tahun lalu dan diajak rekan sejawat ke toko oleh-oleh yang menjualnya. Melihat stoknya yang tak bertahan lama di toko, saya langsung membatin kayaknya enak banget nih ya sampai laris manis begitu. Beberapa kios di Stasiun Tugu pun sampai merasa perlu memasang tulisan ‘bakpia kurnia sari bisa dibeli di sini’ (belakangan ketika saya googling, beberapa online shop juga menyediakan jasa titip beli bakpia merk ini). Dan memang setelah dicicipi, rasa gurih bakpia Kurnia Sari ini pas buat saya. Tapi memang ini soal selera ya, teman kantor ada yang berkomentar bahwa rasanya ‘terlalu nyusu’ buat dia, menutupi rasa asli bakpia yang identik dengan kacang hijau atau kumbu. Benar juga sih, walaupun banyak sekali variasi rasa bakpia zaman sekarang (coklat, teh hijau, ubi, kacang hitam, keju dst), khasnya tetap isi kacang hijau. Kalau ditilik dari namanya sih sebetulnya bakpia itu artinya pia (kue) isi bak (daging, dan yang paling umum dipakai di daerah asalnya di Tiongkok sana adalah daging babi).

Saya ikut penasaran apa merk bakpia yang katanya enak itu, terlebih setelah ada yang mengiyakan tentang ‘bakpia baru enak’ itu, sayangnya kompak juga sama-sama lupa merk tepatnya :D. Selang beberapa waktu, saya baru teringat sesuatu. Saya ubek-ubek galeri di hp, dan saya share ke grup sebuah foto bakpia berikut kotaknya, oleh-oleh suami dari tugas dinas ke Yogya beberapa bulan yang lalu. Bakpia Kencana, itulah nama yang tertulis di bagian luar kotak. Bakpianya dibungkus dengan plastik vacuum, memberikan kesan higienis dan bisa tahan lebih lama. Sudah ada sertifikat halalnya juga, lho. Terus terang ketika memakannya pertama kali, yang ada dalam pikiran saya adalah…ke mana aja saya ya sampai baru sekarang mencoba bakpia seenak ini. Lebih-lebih yang keju, varian favorit saya. Ngeju banget bukan hanya di isinya tapi juga ada lapisan tipis keju di bagian luar. Makanya sampai saya ambil fotonya, buat referensi kalau kapan-kapan memungkinkan untuk beli lagi.
image

Melihat foto yang saya kirimkan, beberapa teman membenarkan walaupun ada juga yang tidak yakin. Teman yang berdomisili di Klaten menceritakan bahwa sebetulnya bakpia Kencana ini sudah lama ada, hanya saja baru booming belakangan. Salah satu penyebabnya mungkin konsep open kitchen yang menarik minat orang berkunjung lantas menuliskan pengalamannya, yang menambah popularitas di samping rasanya sendiri yang memang enak. Seperti halnya bakpia Kurnia Sari, bakpia Kencana ini juga tersedia di beberapa online marketplace, jadi tidak harus jauh-jauh ke Jogja kalau hendak membeli.
image

Pempek Khas Pati

20130808_212659Empek-empek, atau pempek. Makanan ini identik dengan daerah Sumatra bagian selatan. Umumnya terbuat dari ikan dengan berbagai variasi perpaduan bahan dan kuah. Di Bangka misalnya, biasanya pempek disajikan dengan semacam saus kacang. Belakangan saya juga baru tahu ada yang namanya pempek dos, dengan bahan utama nasi. Nah, di Pati, Jawa Tengah, tempat asal suami, saat ditawari empek-empek tentu ekspektasi saya adalah pempek Palembang yang paling populer dan cenderung mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Tapii ternyata yang kemudian dibawa pulang oleh saudara suami jauh berbeda. ‘isi’ empek empek khas Pati terdiri dari potongan aneka gorengan risol isi bihun, tahu, bakwan, semacam gorengan tepung, kadang ada tempenya. Kuahnya tidak sepekat cuko pempek, cenderung agak asam segar apalagi kalau ditambah sambal, tapi lain sensasinya dengan kuah pempek Palembang dan sekitarnya. Beberapa kali beli langsung tetapi saya belum jadi juga menanyakan asal-usul makanan ini, googling pun tidak banyak informasi yang bisa didapatkan. Di Pati kota, yang paling terkenal sih konon empek empek Guwangsan.

Tambahan: ini nih isi pempek Pati yang belum disiram kuah.
image

[Kliping] MPASI Instan vs Homemade, Catatan Mba Monik

Sumber: Notes mba Fatimah Berliana Monika Purba, konselor laktasi dari La Leche League https://id-id.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/mpasi-instan-vs-mpasi-homemade-1-5-awal-mulaanemia-defisiensi-besifood-is-more-t/10203526686033649/ (bisa lihat di sini selengkapnya plus foto/grafik terkait). Panjaaang memang, tapi sangat berharga dibaca :).

MPASI Instan vs MPASI Homemade 1-5 (Awal Mula, Anemia Defisiensi Besi, Food is MORE THAN Just Nutrition, MPASI)

Weekend selain saatnya santai, beristirahat, berkumpul dengan anggota keluarga juga saatnya baca-baca, belajar segala hal termasuk asupan terbaik untuk anak sejak dilahirkan. Baru sempat memasukkan 5 tulisan saya ke dalam Notes. Untuk melihat comments2 yang masuk, di akhir Note saya berikan link2 tiap bagiannya. Tulisan panjang ini dibaca pelan2 ya, jangan ambil kesimpulan terburu2 hanya dari 1 bagian saja. So.. happy reading :).
MPASI INSTAN vs MPASI HOMEMADE

Beberapa kali saya dimintai pendapat mengenai pemberian MPASI Instan pada bayi. Sama seperti ketika saya ditanya mengenai Susu Formula (SuFor) vs ASI, tidak pernah saya menjawab atau melarang pemberian MPASI instan atau sufor secara langsung. Saya minta yang bertanya membaca dulu, mendiskusikan, sehingga ketika mengambil keputusan sudah ada dasarnya.

Kenapa akhir-akhir ini ramai kembali mengenai MPASI Instant vs homemade? Karena belum lama ini para dokter dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) memberikan rekomendasi pemberian MPASI Instan Fortifikasi (kutipannya ada di dalam tulisan ini). Mengenai Rekomendasi IDAI mengenai pemberian MPASI Instan, sebelum saya buru-buru mengeluarkan statement pribadi yang menyatakan tidak setuju (siapalah saya…) dan berpikiran buruk bahwa adanya konflik kepentingan yang mendasari rekomendasi tersebut (walaupun misalnya nanti hasil penelitian khusus di Indonesia dikeluarkan dan mendukung rekomendasi pemberian MPASI Instan), mari simak banyak hal yang akan saya tulis (bakal panjang pastinya) di bawah ini.

Adalah hak anak sejak dilahirkan untuk mendapatkan perawatan dan perlindungan kesehatan yang terbaik. Konvensi hak anak dunia article 24 menyatakan bahwa anak berhak untuk mendapatkan makanan bergizi yang mencukupi serta air bersih. Pada akhirnya, pesan yang selalu saya ulang-ulang, yuk jadi Smart parents, yuk belajar belajar belajar supaya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.
Bagian 1. Rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi

Di bawah ini adalah 2 sumber yang saya punya mengenai rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi. Saya sudah coba cari apakah ada artikel terkai di web site resmi IDAI (idai.or.id) tidak ada/belum ketemu (boleh saling share siapa tau ada yang punya linknya).

    1. MPASI Difortifikasi Bisa Cegah Bayi Kurang Zat Besi?

““Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Damayanti Rusli Syarif, Sp.A(K): Sebagian orangtua memilih makanan dari bahan alami, yang diyakini lebih aman, namun sebenarnya kebutuhan zat besi tidak terpenuhi.

“Saat bayi mulai MPASI, orangtua banyak memberikan pisang, zat besinya hanya 0,31 mg, atau tepung beras dengan zat besi 0,1 mg. Sedangkan MPASI yang difortifikasi zat besinya 2,26 . Makanan bayi pabrikan dianggap sama dengan makanan pabrikan dengan orang dewasa. Padahal MPASI fortifikasi diproduksi sesuai aturan WHO dan diawasi oleh WHO dalam pembuatannya. Kalaupun ada zat aditif, seperti garam dan gula, ada aturannya, tidak boleh berlebihan. Pastikan saja makanan fortifikasi seperti bubur dan biskuit tersebut punya izin BPOM, baca labelnya dengan baik,” terangnya.” . Saya hanya kutip bagian-bagian pentingnya, selengkapnya bisa baca:

http://health.kompas.com/read/2013/11/21/2031266/MPASI.Difortifikasi.Bisa.Cegah.Bayi.Kurang.Zat.Besi

 

2. Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice

Makanan pendamping instant (commercial)

Dahulu, WHO dan UNICEF lebih menekankan pemberian MPASI yang dibuat sendiri di rumah daripada makanan instan yang diproduksi massal. Namun setelah dilakukan banyak penelitian klinis, ternyata banyak bayi  tidak memperoleh zat nutrien yang adekuat sesuai dengan yang seharusnya didapatkan bayi.

Untuk itu WHO/UNICEF mengeluarkan Global Strategy for Infant and Young Child Feeding dan mengumumkan bahwa makanan tambahan yang diproses oleh industri makanan dapat digunakan sebagai pilihan para ibu dalam memberikan makanan tambahan yang mudah disiapkan, mencukupi kebutuhan nutrisi dan aman. Makanan tersebut sudah diperkaya dengan tambahan suplemen yang menjamin kecukupan mikronutrien bayi. 

Pembuatan makanan diatur oleh  The Codex Alimentarius Commission, yaitu lembaga yang dibuat oleh FAO dan WHO (1963) yang mengatur standar pembuatan makanan dan menjamin keamanan termasuk cara membuat, promosi dan transportasi dan dilindungi oleh pemerintah internasional. The Codex Alimentarius mengatur bahwa makanan bayi yang diproduksi massal tidak boleh menggunakan pengawet dan zat aditif yang berbahaya. Yang perlu diperhatikan saat membeli adalah tanggal kadaluarsa yang masih jauh, kemasan masih tersegel, warna dan bentuk makanan tidak berubah atau menggumpal.  Di pasaran beredar Nestle Cerelac, Milna, Promina, dll yang sudah difortifikasi vitamin mineral sesuai standar Codex Alimentarius Internasional, tidak memakai pengawet dan zat aditif berbahaya. Jadi simpulannya aman. MPASI yang tidak difortifikasi seperti GERBER, tepung Gasol (hanya berupa tepung-tepungan biasa  dari sumber pisang, ketela, dll) yang tidak difortifikasi, tidak dianjurkan. (Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice – Dr. dr. Damayanti Roesli Sjarif, Sp.A.(K), dr. Sri Nasar, Sp.A.(K), dr. Gusti Lanang, Sp.A.).

Catatan: Sejak 2011-sekarang, UKK (Unit Kerja Koordinasi) Nutrisi dan Metabolik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengadakan roadshow ke seluruh Indonesia, mengadakan simposium dan workshop pada seluruh SpA (dokter spesialis anak) dan dokter umum tentang Nutrisi & Kesulitan makan pada anak, policy lama yang berpihak pada MPASI home-made kini mulai beralih ke MP ASI instan pabrik agar masa depan anak Indonesia cerdas, tidak kekurangan nutrisi mikro yang sulit dipenuhi dengan MP ASI home-made.
Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Perhatian pada masalah malnutrisi mikronutrien meningkat dengan pesat di tahun-tahun terakhir ini. Salah satu alasan utamanya karena hal ini telah menjadi masalah global. Diperkirakan sebanyak 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi merupakan faktor kunci.

Tahun 2000, WHO menyatakan bahwa kekurangan mikronutrien seperti zat besi, vitamin A dan yodium telah menjadi faktor pemicu masalah kesehatan yang sangat serius di dunia, misalnya berkurangnya kemampuan tubuh untuk melawan penyakit, kelainan metabolis, dan terlambat/terhambatnya perkembangan fisik dan psikomotor.

Menurut IDAI, angka kejadian penderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi (angka keterjadian) ADB pada bayi 0-6 bulan adalah 61,3%, bayi 6-12 bulan 64,8%, dan anak balita sebesar 48,1%. Besar sekali tentunya. Nah bagaimana data terakhir? Saya ambil dari laporan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kemenkes tahun 2007 yang sayangnya tidak ada data detil seperti SKRT. Menurut Riskesdas 2007, penderita ADB kelompok usia 1-4 tahun sebesar 27,7%, sementara menurut data Riskesdas terbaru (2013), penderita ADB kelompok usia 12-59 bulan/1-5 tahun sebesar 28,1% .

Bisa dilihat dalam gambar grafik batang di bawah ini kebutuhan zat besi bayi 0 – 23 bulan.

Bayi baru lahir membutuhkan asupan zat besi 0,27 mg/hari. Setelah umur 6 bulan kebutuhan asupan zat besi bayi meningkat pesat menjadi 11 mg/hari. Dan usia 1-3 tahun sebesar 7 mg/hari. Maka saat inilah (usia 6 bulan) waktu yang penting bagi bayi untuk mendapatkan makanan lain selain dari ASI. Hal ini sudah saya tulis di tulisan saya berjudul Bahaya Pemberian MPASI Dini & Menundanya:
http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html

Untuk yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai ADB silahkan baca di  http://milissehat.web.id/?p=1923

Mengenai rekomendasi pemberian suplementasi besi pada bayi lahir cukup bulan tidak BBLR (Berat Badan Lahir Rendah <2,5kg), baik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) maupun AAP (American Academy of Pediatrics) sepakat agar dimulai saat bayi lahir cukup bulan berusia 4 bulan. Perbedaannya, IDAI menganjurkan bahwa suplementasi terus dilanjutkan sampai usia 2 tahun, sementara AAP menganjurkan usia 4-6 bulan saja dan dilanjutkan pemberian MPASI kaya zat besi (akan saya bahas berikutnya). Juga perbedaan dosis. IDAI menyarankan dosis 2mg/kg BB/hari sementara AAP 1mg/kg BB/hari. Tambahannya IDAI menurunkan dosis menjadi 1mg/kgBB/hari pada usia 2-5tahun.
Perbedaan kedua adalah mengenai anjuran pemeriksaan status Hb anak. AAP dan CDC di Amerika Serikat menganjurkan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) setidaknya satu kali pada usia 9-12 bulan dan diulang 6 bulan kemudian pada usia 15-18 bulan atau pemeriksaan tambahan setiap 1 tahun sekali pada usia 2-5 tahun. Sementara Rekomendasi IDAI adalah pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnya setiap tahun sampai usia remaja.

Bagi saya pribadi deteksi dini tentu jauh lebih baik, jadi saya mengikuti rekomendasi AAP untuk pemeriksaan yang pertama kali  maksimal saat bayi berusia 1 tahun, kemudian bila ada dana berlebih melakukan pemeriksaan ADB lengkap, tidak hanya Hb dan Ht tapi juga status besi dalam tubuh dan hal-hal lainnya (Serum Ion, Ferritin, dll) sesuai kutipan dari AAP berikut “the deficiency won’t always be detected with a simple hemoglobin test.” Tentu saja orang tua tidak perlu menunda bila pada bayi atau anak terdapat tanda-tanda menderita ADB seperti pucat, lesu, nafsu makan menurun, dan berat badan tidak/sulit bertambah (penting ya untuk selalu plot ke GC/Growth Chart setiap kunjungan pemeriksaan kesehatan bayi, yang belum paham mengenai pentinganya paham GC bisa pelajari tulisan saya: http://theurbanmama.com/articles/growth-chart.html).

Ada hal-hal lain yang mempengaruhi berapa banyak zat besi yang dibawa bayi saat lahir:

1. Apakah Ibu saat hamil menderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) atau tidak.

Ibu hamil yang menderita ADB berisiko melahirkan bayi prematur, bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), dan masalah kesehatan bayi di kemudian hari. Selain itu, bayi yang lahir dari Ibu penderita ADB memiliki cadangan besi yang lebih sedikit, maka bayi tersebut berisiko menderita ADB juga.

2. Penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).

Penelitian-penelitian terbaru memberikan evidence/bukti bahwa pelaksanaan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir meningkatkan cadangan besi pada badan bayi. Berdasarkan penelitian RCT yang di-publish BMJ Nov 2011, bayi-bayi yang ditunda pemotongan tali pusatnya >=3 menit dibandingkan dengan bayi-bayi yang dipotong tali pusatnya <10 detik, pada usia 4 bulan status besinya (Ferritin) lebih tinggi dan risiko menderita ADB berkurang.

Sampai saat ini riset-riset masih terus dikembangkan untuk mendapatkan waktu optimal pemotongan tali pusat ini (penelitian lain menyatakan =>1 menit penundaan pun sudah bermanfaat), dan perhatikan faktor-faktor risiko lain terutama kondisi ibu & bayi setelah kelahiran.

Keypoint Bagian 2:

1. +- 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Faktor kunci: Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi.

2. Anjuran pemberian suplementasi besi IDAI (4 bulan – 2 tahun) vs AAP (4-6 bulan lanjut MPASI kaya zat besi).

3. Anjuranscreening atau pemeriksaan ADB (Anemia Defisiensi Besi). IDAI: 2 tahun. AAP: 9-12 bulan. Saya: deteksi dini LEBIH baik, paket lengkap Screening ADB bila ada dana lebih. Jangan tunda bila pada bayi/anak jelas tampak gejala-gejala ADB.

4. 2 hal lain yang mempengaruhi status besi/cadangan besi dalam tubuh bayi: Kondisi ibu saat hamil (menderita ADB/tidak) dan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).
Bagian 3. Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekadar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi atau Gizi

Sebelum saya masuk membahas mengenai MPASI, saya akan membahas sedikit mengenai hal umum mengenai nutrisi (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan pemahaman berhubung saya bukan ahli gizi).

Para nutritionist, dietitian & dokter di sini (Amerika Serikat) sedang mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya. Begitu pula di UK, Pemerintah UK menyatakan: Usahakanlah memberikan makanan yang dimasak di rumah (home cooking) dibandingkan memberikan makanan bayi kemasan.

Bahkan Michelle Obama membuat kampanye-kampanye menarik kembali pada memilih makanan sehat dan makan bersama di keluarga, selain kampanye minum air putih (dibanding minum susu berlebihan, soda, jus kemasan, sirup) serta kampanye berolahraga.

Video kampanyenya bisa dilihat di Kampanye Let’s Move ini :

http://www.youtube.com/watch?v=2oBeuSCfGeg

Saya mengambil online course mengenai Nutrisi dari Stanford University, di mana banyak hal dibahas secara menarik. Salah satunya adalah topik mengenai Food is MORE THAN Just Nutrition.

Sepertinya gambar 4 sudah cukup jelas ya,  pada bagian kiri merupakan:

Pengelompokan Zat Gizi atau Nutrients.

Menurut kebutuhan manusia, terbagi dalam dua golongan besar yaitu makronutrien dan mikronutrien.

    1. Makronutrien adalah zat gizi yang diperlukan dalam jumlah besar dalam tubuh yang menghasilkan energi. Merupakan komponen terbesar dari susunan diet, berfungsi untuk mensupplai energi dan zat-zat esensial (pertumbuhan sel/ jaringan), pemeliharaan aktivitas tubuh.

Yang termasuk zat makronutrien adalah karbohidrat/hidrat arang, lemak, dan protein. Pasti semua sudah tahu jenis-jenis bahan makanan apa saja yang kaya kandungan karbohidrat, lemak, dan protein ya, jadi tidak saya sebutkan lagi, karena fokus saya adalah membahas salah satu mikronutrien yaitu iron/zat besi.

2. Mikronutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit tapi penting.

Golongan mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral. Vitamin juga terbagi 2 jenis yaitu larut dalam lemak dan dalam air. Vitamin yang termasuk dalam kelompok larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E, dan K. Normalnya, tubuh dapat menyimpan vitamin jenis ini (terdapat batasan untuk vitamin E dan K). Oleh sebab itu, asupan vitamin larut lemak setiap hari bukan keharusan. Sementara Vitamin yang larut dalam  air adalah vitamin C dan kelompok vitamin B. Karena larut dalam air, vitamin ini tidak tersimpan dalam tubuh. Kelebihannya akan dikeluarkan melalui urine.

Golongan mikronutrien yang kedua adalah mineral seperti kalsium, zat besi, yodium, fosfor, magnesium, zinc.

Kemudian selain makronutrien & mikronutrien, penting juga memperhatikan:

3. Fiber/serat. Dari semua asupan makanan kita, penting untuk menjaga kuantitas fiber/serat. Serat sangat penting untuk pengeluaran buang air besar (mencegah sembelit, wasir), mengurangi risiko penyakit jantung koroner, menjaga kadar gula darah tetap normal, dll.

Untuk anak 1-3 tahun kebutuhan seratnya 19 gr/hari. Bahkan dalam panduan gizi terbaru – My Food Plate Amerika serikat yang juga gencar dikampanyekan Michelle Obama, dalam satu piring, separuhnya adalah sayur dan buah. Dasar pertimbangannya karena tingginya penderita obesitas/kegemukan yang sudah terjadi sejak anak-anak.

4. Air bersih. Tersedianya air bersih merupakan salah satu komponen penting dalam menyediakan MPASI yang baik. Hal ini karena air adalah hal penting dalam persiapan makanan yang higienis, pencucian tangan dll sangat penting dalam mencegah penularan infeksi.

Bagian kiri sudah selesai saya bahas, nah yang sekarang sedang dikampanyekan adalah bagian yang kanan, yaitu Fungsi Sosial dari makanan. Ada 4 aspek yaitu: Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi, dan sejarah atau tradisi.

Jadi selain kampanye kembali memasak, juga kampanye agar para keluarga menghidupkan kembali kebiasaan Family Time is (salah satunya) Meal Time. Sejak bayi mulai diberikan MPASI, orang tua menekankan pentingnya nikmat & nyaman saat makan, tentu saja bukan hanya karena rasa makanan yang enak dan keahlian memasak orang tua (yang utama ibu), tapi juga perhatian, kedekatan dan kasih sayang di dalamnya yang sudah dicurahkan sejak ibu memasak.

Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat, proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif. Kebahagiaan dan kegembiraan anggota keluarga yang dimulai saat menyiapkan makanan adalah sangat penting. Menyusui adalah hal menyenangkan bagi bayi, jadi begitu pula dengan makan. Jadi jangan dibuat: Meal Time is Battle Time.

Harap diingat, ketika sedang makan bersama, fokuskan perhatian pada seluruh anggota keluarga, bukan sibuk masing-masing. Oleh karena itu, salah satu kebiasaan yang saya bangun sejak dini di keluarga saya adalah ketika makan tidak ada TV, komputer, Ipad, smartphone yang nyala di area makan. Jangan seperti contoh gambar 5 ya, ini mah sama aja bukan makan bersama yang saya sebutkan di atas :).

Keypoint Bagian 3:

1.      Negara-negara maju seperti US & UK gencar mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya.

2. Food sebagai Nutrisi. Terbagi atas: Makronutrien: karbohidrat, protein, lemak. Mikronutrien: vitamin & mineral (zat besi termasuk dalam golongan mineral), fiber/serat, air bersih.

3.      Food is MORE than Nutrition – only : Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi dan sejarah/tradisi. Family time salah satunya meal time.

4.      Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat , proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif.
Bagian 4: Serba-Serbi MPASI, dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI

Ilmu mengenai MPASI sangat penting untuk dikuasai para ibu jauh-jauh hari SEBELUM MPASI dimulai. Supaya ibu paham serba-serbi MPASI yang dimulai sejak dari penyiapan hingga pemberiannya pada bayi. Harap diingat MPASI adalah Makanan Pendamping ASI atau complementary food, jadi ibu perlu paham seberapa banyak pemberian porsi MPASI sesuai usia bayi.

ASI adalah asupan utama bayi HINGGA bayi berusia 1 tahun.  Karena, sering terjadi porsi MPASI melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. Salah pemberian menu MPASI yang miskin gizi juga dapat membuat bayi kenyang lebih lama dan malas menyusu, contohnya Ibu terlalu banyak memberikan jus buah, kuah sup, dll. Selain itu, “ajaran” turun-temurun dan mitos-mitos yang salah mengenai MPASI, misalnya pemberian protein hewani paling cepat di usia 8-9 bulan, padahal pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.

Mengutip dari AAP :

One recommendation may change the order in which solid foods are introduced. Traditionally, iron-rich meat is the last food introduced to infants, preceded by cereal, fruits and vegetables. This sequence, however, has not been scientifically tested. Dr. Baker said that food order should be reversed. Red meat and vegetables with higher iron content should be introduced into the baby’s diet early on, perhaps at 6 months of age.”
Prinsip Dasar MPASI menurut IYCF WHO & UNICEF

Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.

    1. Age / Usia

Pemberian MPASI dimulai saat usia 6 bulan, alasannya sudah saya berikan link tulisan saya sebelumnya (Bahaya Pemberian MPASI Dini dan Menundanya http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html).

2. Frekuensi

Mengenai Frekuensi, ada perbedaan mengenai Frekuensi berdasarkan sumber dari Guiding Principle of Complementary Feeding WHO vs UNICEF. Berdasarkan Guiding Principle of Complementary Feeding WHO, Frekuensi Pemberian MPASI sbb:

Usia 6-8 bulan: 2-3 kali per hari

Usia 9-11 bulan: 3-4 kali per hari

Usia 1 tahun – 2 tahun: 3-4 kali per hari dengan tambahan snack 1-2 kali per hari sesuai keinginan bayi (snack yang dianjurkan bisa potongan buah, roti, dll).

Sementara panduan UNICEF & IYCF sbb:

Usia 6 bulan (saat mulai MPASI): 2-3 x

Usia 6-9 bulan: 2-3 x , dapat ditawarkan snack 1-2 x

>9 bulan: 3-4 x , dengan snack 1-2 x

Jadi perbedaannya pada pemberian snack, di anjuran Guiding Principle of Complementary Feeding WHO tidak ada penawaran snack sebelum usia 1 tahun, mengacu pada penjelasan sebelumnya bahwa ASI adalah yang utama hingga bayi usia setahun, maka penawaran snack maka akan mengurangi frekuensi menyusu bayi.

Ada yang bertanya pada saya apakah pemberian jus buah baik untuk MPASI? Kembali ke prinsip bahwa hingga usia 1 tahun ASI yang utama, pemberian banyak cairan lain selain ASI dan apalagi diberikan saat seharusnya memberikan MPASI padat gizi berisiko untuk bayi. Bayi akan malas menyusu serta tidak didapatkan nutrisi yang mencukupi dari MPASI.
3. Amount/banyaknya makanan per penyajian.

Prinsipnya bertingkat, panduannya:

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI: 2-3 sendok makan (sdm)

Usia 6-9 bulan: tingkatkan bertahap hingga mencapai setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 9-12 bulan: setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 1tahun – 2 tahun: ¾ hingga 1 mangkuk kapasitas 250 ml

4. Texture/tekstur MPASI.

Prinsipnya sama dengan Amount, yaitu berikan bertahap, hati2 jangan terlalu cepat/memaksa dan juga jangan terlambat naik tekstur.

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI : bubur kental

Usia 6-9 bulan: bubur kental/puree, bertahap naik ke tim saring, dan pengenalan finger food di usia 8-9 bulan

Usia 9-12 bulan: Makanan cincang halus, nasi tim tanpa disaring, finger food

Usia > 1 tahun: Table food/makanan keluarga, jangan lupa bahan makanan tertentu tetap dipotong kecil-kecil/dicincang seperti daging.

5. Variety/Keragaman jenis makanan
Nah, poin ini sangat penting apalagi sehubungan dengan fokus pembahasan tulisan ini mengenai kekurangan micronutrient seperti zat besi.

Kenapa harus beragam? Karena setiap bahan makanan tidak akan memberikan kandungan gizi sempurna yang dibutuhkan tubuh, jadi dalam setiap porsi makanan berikan makanan yang bervariasi ( khusus pada kandungan zat besi akan dibahas terpisah mengenai jenis makanan heme dan non heme, enhancer/yang membantu penyerapan dan inhibitor/yang menghambat penyerapannya) .

Mengenai 4 days rule, saya pribadi merasa tidak perlu saklek ya. Yang utama perhatikan riwayat alergi makanan di keluarga terutama Ayah Ibu. Kemudian kenalkan bahan makanan tunggal di awal, bila sehari 2 hari tidak ada masalah ya segera kenalkan bahan makanan lainnya. Sangat baik Ibu memiliki Food Diary dan ditaruh di kulkas/yang terjangkau sehingga bila bukan Ibu yang menyiapkan, panduannya do’s and don’ts nya ada. Penekanan mengenai bahan makanan kaya zat besi juga perlu diperhatikan ya, salah satu efeknya bayi bisa sembelit bila bayi mendapatkan zat besi terlalu banyak (apalagi bila bayi pun masih menerima suplementasi zat besi).
6. ACTIVE/RESPONSIVE.

Pembentukan pola makan yang baik dimulai sedini mungkin, sebagian sudah saya tulis di bagian 3: Food is more than nutrition.  Ketika bayi GTM, cari penyebabnya dan atasi seperti mencoba menu lain, perhatikan apakah bayi merasa dipaksa makan, suasana makan tidak nyaman atau malah bayi terbiasa digendong jalan-jalan di keramaian yang membuat bayi terganggu (tidak jarang anak disuapi sambil lari-lari dan bermain dan merasa tidak sedang makan).

Mengenai pros dan cons metoda BLW (Baby Led Weaning) sudah pernah saya tulis :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202846830877695&set=pb.1409280466.-2207520000.1393112844.&type=3&theater

Quote:

Terdapat kekhawatiran bahwa Metoda BLW dapat menyebabkan bayi:

    1. Tidak mendapatkan cukup zat besi
    1. Beresiko lebih besar untuk tersedak (choked, bukan hanya gag ya, ada penelitiannya di comments di link di atas)
    1. Tidak mendapat cukup makanan untuk tumbuh dengan baik

7. Hygiene

Mengenai higinitas sudah saya singgung sedikit di atas, termasuk tersedianya akses akan air bersih untuk cuci tangan, persiapan, pemasakan, dan penyajian MPASI.

Jangan lupa pilih bahan makanan yang segar, tidak mengandung bahan toksik & berbahaya, perhatikan juga penyimpanan makanan dan bahan makanan, serta proses memasak yang benar sesuai jenis bahan makanannya. Misal sayur tidak dimasak terlalu lama, daging dipastikan masak dengan suhu yang tepat hingga matang, dll.

Mungkin tertarik baca soal Toksoplasma (ada sedikit pembahasan mengenai memasak daging di tulisan saya ini :

http://pranikah.org/pranikah/kenal-lebih-dekat-dengan-toksoplasma/)
Seputar kandungan zat besi dalam makanan

Zat besi adalah salah satu mineral yang fungsinya sangat vital bagi tubuh mansia.  Zat besi berperan dalam proses pembentukan hemoglobin (hemoglobin adalah protein di sel darah merah yang membawa oksigen). Hampir 2/3 zat besi dalam tubuh terdapat di dalam hemoglobin. Zat besi dalam jumlah kecil terdapat di myoglobin (myoglobin adalah protein yang mensupplai oksigen ke otot).

Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

Bisakah hanya mengejar kebutuhan zat besi dari non heme iron saja? Tidak, karena zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh (1-15%) dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 15-40%. Jangan lupa banyak faktor yang mempengaruhi penyerapan seperti status kadar besi dalam tubuh seseorang, juga makanan yang berfungsi sebagai enhancer (membantu penyerapan) atau inhibitor (menghambat penyerapan) yang akan saya jelaskan sedikit setelah daftar bahan makanan heme dan non heme iron ini.

Daftar bahan makanan heme iron (saya pilih beberapa saja, tabel lengkap bisa buka link di daftar sumber) :

Berhubung saya tidak tampilkan dalam bentuk tabel, urutannya: nama makanan, miligram zat besi per penyajian, % DV/Daily Value. DV untuk zat besi 18 miligram (untuk bayi 6-12 bulan sudah disebutkan sebelumnya yaitu 11 miligram per hari). Bila DV kurang dari 5% artinya kandungan zat besinya rendah, DV 10-19% kandungannya baik dan DV >20% artinya kaya zat besi. 1 ounces = 1 oz = 28,35 gr.

  1. Hati ayam 3 oz – 11 mg – 61%
    1. Tiram 3 oz – 5,7 mg – 32%
  1. Hati sapi 3 oz – 52 mg – 29%
  1. Daging sapi tanpa lemak 3 oz – 3,1 mg – 17%
  1. Daging sapi giling sedikit lemak 3 oz – 2 mg – 11%
  1. Ikan tuna 3 oz – 1,3 mg – 9%
  1. Daging ayam 3 oz – 1,1 mg – 6%
  1. Udang 4 buah besar – 0,3 mg – 2%

Daftar bahan makanan non-heme iron

  1. Kacang kedelai 1 cup – 8,8 mg – 48%
  1. Lentil 1 cup – 6,6 mg – 37%
  1. Beans-golonga kacang2an 1 cup – 5,2 gr – 29%
  1. Tahu ½ cup – 3,4 mg – 19%
  1. Sayur bayam ½ cup – 3,2 mg – 18%
  1. Kismis tanpa biji ½ cup – 1,6 mg – 9%
  1. Roti putih 1 potong – 0,9 mg -5%
  1. Roti gandum 1 potong – 0,7 mg – 4% 

 Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

 a)      Vitamin C adalah enhancer yang paling baik (dan mudah didapat juga).

Kombinasikan pemberian makanan heme, non heme, dan Vitamin C. Misalnya daging sapi, sayur bayam dengan potongan tomat, jambu, kiwi, dll yang kaya vitamin C. Atau peras lemon/jeruk di atas potongan daging sapi/ayam/seafoodnya. Silahkan explore ya… Menu orang bule sejak turun-temurun banyak menggunakan perasan lemon di atas lauk pauknya yang ternyata kebiasaan yang tepat dan baik sekali.

b)   Proses fermentasi. Contohnya tempe.

c)   Memasak dalam panci/pan berbahan besi
 

Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi
 1. Senyawa phenolic/polifenol yang mengikat zat besi jadi mengurangi penyerapan zat besi dalam tubuh. Beberapa di antaranya adalah teh, kopi, cocoa, jadi sangat tidak disarankan bayi dan anak-anak minum 3 hal ini apalagi dalam jumlah berlebihan. Teh dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 60% sementara kopi mengurangi penyerapan zat besi hingga 40% selain itu membuat bayi berkurang frekuensi menyusunya. Beberapa rempah juga merupakan senyawa phenolic seperti oregano (bumbu pizza, pasta, dll). Juga segolongan sayuran seperti kacang panjang.

2. Kalsium. Segelas susu yang diminum saat makan dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 50%. Susu segar tidak boleh diberikan pada anak <1 tahun karena dapat menyebabkan masalah pada pencernaan (intestine bleeding). Selain itu terlalu banyak minum susu juga mengurangi nafsu makan, selain menyebabkan anak menderita ADB.

3. Pytates yang biasanya terdapat di cereal dan oat.
Key Point Bagian 4 :

  1. Porsi MPASI tidak boleh melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi Makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. ASI yang UTAMA hingga bayi usia 1 tahun.
  1. Pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.
  1. Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.
  1. Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

  1. Zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 3x lipat lebih banyak dari non heme iron.

2. Padukan dengan Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

3. Hindari Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi

 

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

Ada yang pernah membandingkan rasa MPASI Instan dengan bahan2 aslinya? Contoh rasa pisang saja yang gampang.

Kebetulan saya pernah makan keduanya, bagi saya pribadi rasa alami tidak akan tergantikan dengan buatan. Manisnya berbeda, kalau mata saya tertutup dan pisang asli dibuat lumat vs makanan instan (bubur) rasa pisang, saya bisa tebak yang mana yang instan yang mana yang asli.
Begitu pula dalam hal rasa masakan. Saya tidak pernah memasak pakai MSG dan bumbu2 yang tajam, nah ketika saya pulang sebentar ke Indonesia, makan di restoran, saya rasa semua rasa makanannya “tajam”, banyak MSG nya, alhasil saya langsung pusing (saya sensitif sama MSG) dan ujung-ujungnya diare.

Menurut Gabrielle Palmer (nutritionist, breastfeeding counselor, former UK IBFAN), kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.

Sepertinya sangat umum di sosial media Ibu2 yang mengeluh bayi/anaknya tidak mau lagi makan makanan homemade setelah sebelumnya terbiasa makan makanan instan.  Masih menurut Gabrielle, terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpose/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami, di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dan jangan lupa, bayi-anak adalah imitator/peniru, they see, they learn, they copy. Jadi konsep memberi makanan sehat adalah untuk seluruh keluarga, bukan hanya untuk bayi-anak2 saja. Bisa intip tulisan saya: 10 Tips Orang Tua Jadi Contoh Pola Makan Yang Baik & Sehat untuk anak2

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202928886289029&set=pb.1409280466.-2207520000.1393179840.&type=3&theater.

Pernah dengar RUTF? RUTF adalah Ready To Use Therapeutic Food. RUTF ditemukan akhir tahun 1990. Produk makanan instan yang bisa masuk kategori RUTF adalah makanan yang padat vitamin dan mineral setara dengan F100 (Formula 100). F100 adalah produk susu therapeutic yang didesain khusus untuk mengobati malnutrisi berat. RUTF sangat berguna untuk mengobati kasus malnutrisi berat yang penderitanya memiliki akses terbatas ke sumber2 bahan makanan local untuk rehabilitasi nutrisinya. Yang jadi masalah, ketika RUTF diberikan pada bayi-anak yang tidak mengalami malnutrisi berat dan diberikan setiap hari (daily diet).

Berikut kutipan dari buku Palmer: “The Use of ready made food designed for the clinical rehabilitation of severe malnutrition SHOULD NOT become the daily diet just because political leaders neglect their basic duty to provide water, to support locally sustainable food system & communicate practical nutrition information.”

Nah tepat sekali kutipan di atas dengan suara hati saya. Kembali pada poin: Rekomendasi pemberian MPASI Instan difortifikasi. Apakah pemerintah Indonesia sudah melaksanakan kewajibannya:

    1. Menyediakan air bersih
  1. Mendukung sistem dan memberi kemudahan akses (termasuk harga terjangkau) mendapatkan bahan makanan lokal kaya nutrisi.
  1. Mengedukasi masyarakat mengenai nutrisi A to Z (sehingga masyarakat paham mengenai Nutrisi dari sejak pemilihan bahan, paham apa kandungannya, cara penyiapan hingga penyajian dan untuk MPASI mengikuti panduan AFATVAH yang sudah saya jelaskan sebelumnya)? Silakan menilai sendiri.

Saya ada menyinggung kampanye Michelle Obama mengenai kembali pada memasak – makanan rumahan, salah satu janji pemerintah US adalah:

Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang  mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kemampuan ekonomi yang lebih baik bagi orang Eropa dan Amerika Selatan menghasilkan keluarga yang menerima asupan bervariasi dan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tingkat pendidikannya lebih rendah dan kemampuan ekonominya lebih lemah.

Pemberian RUTF/ready-to-use therapeutic foods yang digunakan saat kasus gawat darurat (malnutrisi berat) dapat memberikan konsekuensi negative di kondisi normal. Salah satu potensi bahayanya misalnya, bahan makanan lokal yang murah dapat terabaikan karena strategi pemasaran & iklan – promosi RUTF yang persuasif meyakinkan anggota keluarga bahwa makanan instan (misal puree pisang dalam botol) secara kandungan nutrisi jauh lebih superior dibanding dari pisang di pasar. Problem berikutnya, nilai-nilai dasar keluarga di mana keluarga mampu menyediakan makanan sehat bergizi juga akan terkikis. Dikhawatirkan, manusia meyakini bahwa manusia tidak dapat menyiapkan makanan yang layak untuk anak-anaknya, supaya layak/bergizi baik makanan tersebut harus dibuat di pabrik. Hal lain, hilangnya kebiasaan food sharing di antara anggota keluarga (ya iyalah siapa juga orang dewasa yang mau makan MPASI instan seperti bayi/anaknya, pasti lebih memilih makan pisang asli –misalnya).

Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Mengutip tulisan saya mengenai The Truth About Baby Food Jar:
“Berapakah besarnya pasar makanan bayi secara global? Diperkirakan besarnya lebih dari £6 billion. Coba kita konversikan ke rupiah. 1 GBP (British Poundsterling) = Rp 19.500. Jadi 6 billion GBP = 6.000.000. 000 x 19.500 = Rp 117.148.200.000.000 = 117 Triliun Rupiah!

Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instan tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, iklan, serta biaya-biaya pemasaran lainnya. Apa konsekuensinya? Commercial baby food ini harganya sangat mahal, jauh lebih mahal dari bahan aslinya.  https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202625119735055&set=pb.1409280466.-2207520000.1393202286.&type=3&theater

Ini fakta di sini (US): Perusahaan2 yang memproduksi MPASI instan berlomba-lomba mendapatkan konsumen. Banyak sekali caranya, mulai dari pembagian brosur, mengirim direct mail, iklan TV dll untuk meyakinkan bahwa produknya yang terbaik. Gerber baru saja meluncurkan $30 million atau sekitar Rp 300 miliar lebih untuk iklan TV, media cetak dan direct mail mengusung slogan: “For Learning to eat smart, right from the start”.

Iklan tersebut berusaha meyakinkan orang tua bahwa produk Gerber: “specially formulated to help your baby develop a variety of tastes for healthier foods”. “The longer you can keep your baby on these smart [Gerber] foods now, the better her chances are for eating healthy–and being healthy–for a long time to come.” Juga iklan di bawah ber tagline Baby Food So Easy (mudah dalam pemberiannya, ga perlu repot menyiapkannya) dan penekanan kata Natural.

Bisa liat beberapa iklan videonya di:
http://www.youtube.com/watch?v=Ng7k7vhHo58

http://www.youtube.com/watch?v=1kqHJAY8afM
Sementara pesaingnya, Heinz, mengklaim “Everything you could want in a baby food!” and provide “Only the best ingredients for the best nutrition.”

Bisa dilihat Iklan Heinz , tagline: A better way to feed you baby (Cara yang lebih baik dalam memberi makan bayi Ibu)
http://www.youtube.com/watch?v=nzoRpN0NDHQ

Bagaimana iklan2 MPASI Instan di Indonesia?

    1. Promina mengusung tagline: satu-satunya bubur tim saji praktis dengan nutrisi & tekstur yang tepat.

http://www.youtube.com/watch?v=iGwKPdwKyvw
Perhatikan penekanan kata praktis, untuk saya yang mengambil program master bidang  Marketing Management dan pernah bekerja sebagai Brand manager sebuah brand fast moving consumer goods, campaign tersebut juga akan “leading” pada persepsi menyiapkan MPASI homemade itu ribet/repot.
2. Cerelac mengusung tagline: Gizinya pasti, harga pas. Pilihan cerdas esok cemerlang.
http://www.youtube.com/watch?v=ZoCSIDv13k8
3. Milna mengusung tagline Ahlinya makanan bayi, dengan bla bla bla agar bayi Anda tumbuh optimal.
http://www.youtube.com/watch?v=igS7VMdAj5c

Di bagian akhir tulisan ini yang semoga bagi yang sudah membaca lengkap mendapat gambaran utuhnya, pertanyaan yang sering diajukan itu kan: What Parents Should Do?
1. Berikan bayi-anak kita nutrisi yang paling baik serta ekonomis.

Ingat bagian 3: Food is more than nutrition? Kampanye kembali memasak? Dilanjutkan Bagian 4 : Serba serbi MPASI & zat besi? Cara memilih bahan, mengolah, menyajikan, dan menyimpan, semua itu perlu ILMU. Dan tidak bisa para ibu hanya menyalahkan tim kesehatan yang tidak pernah mengedukasi atau mendapat informasi yang kurang tepat, kurangnya kampanye pemerintah mengenai hal ini, lebih baik para ibu proaktif. Sudah banyak kelas-kelas Persiapan MPASI, bergabung dengan grup-grup kesehatan yang reliable. Kunjungi website-website kredibel (saya pernah kasih tips ya cara mencari sumber dari website credible).

2. Paham kapan saat yang tepat memberikan MPASI instan.
Kembali pada penjelasan Palmer mengenai penggunaan RUTFs (Ready to Use Theurapeutic Foods), maka MPASI Instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).

Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya. Maka pemberian MPASI Instan adalah salah satu solusi. Jangan sampai bayi tidak mendapatkan MPASI yang mencukupi karena ibu ngotot ingin selalu memberi MPASI homemade. Sama seperti adanya kasus ibu yang ngotot memberi ASIx padahal bayinya sudah terindikasi kurang asupan.
Ketika Ibu membeli MPASI Instan, berikut ini What To Do Listnya:

  1. Pastikan kemasan tertutup rapat & dalam kondisi baik.
  1. BACA LABEL Kemasan:

–          Pilih yang tanggal kadaluwarsanya masih cukup lama.
–          Baca kandungannya, bandingkan nilai kalori & lainnya dengan merek lainnya, jangan hanya terpengaruh iklan & promosi.

3. Ketika dibuka/sebelum penyajian pertama, pastikan baik bau, tekstur dan rasa tidak ada yang aneh.
4. Ikuti saran penyajian di kemasan. Sama seperti penyajian susu formula, tidak boleh air dikurangi atau ditambah yang akan mengurangi kandungan zat gizinya.

Alinea penutup, ada 2 kutipan menarik  untuk pemerintah dan pihak-pihak yang berkaitan: “Strategies for the control of micronutrient malnutrition
Policy and programme responses include food-based strategies such as dietary diversification and food fortification, as well as nutrition education, public health and food safety measures, and finally supplementation. These approaches should be regarded as complementary, with their relative importance depending on local conditions and the specific mix of local needs.

Of the three options that are aimed at increasing the intake of micronutrients, programmes that deliver micronutrient supplements often provide the fastest improvement in the micronutrient status of individuals or targeted population.

Food fortification tends to have a less immediate but nevertheless a much wider and more sustained impact. Although increasing dietary diversity is generally regarded as the most desirable and sustainable option, it takes the longest to implement.” 

“Gabrielle Palmer: In common with many others, my vision is of a world where there is egalitarian food security for all; where the majority of humans get their nutrients from their food (and sunshine); where unbiased public education ensures that families have the knowledge and skills to feed their children without the need for different or specially made foods and where government policies protect public health rather than private profit. “ -dalemm pesannya…

Keypoint Bagian 5:

    1. Kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.
    1. Terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpos/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya.
    1. Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal.
    1. Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instant tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, dan iklan serta biaya-biaya pemasaran lainnya.
    1. MPASI instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah Ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).
    1. Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya.
    1. Ketika Ibu membeli MPASI Instan, perhatikan What To Do Listnya.

 

Sumber :

1. A discussion paper developed for the International Baby Food Action Network (IBFAN)by Gabrielle Palmer

2. http://www.cdc.gov/nutrition/everyone/basics/vitamins/iron.html

3. Laporan Riskesdas 2013 Kemenkes RI

4. Laporan Riskesdas 2007 Kemenkes RI

5. Complementary Feeding : Nutrition, Culture & Politics book by Gabrielle Palmer

6. Key message booklet UNICEF 2012

7. Guiding Principle of Complementary Feeding WHO 2010

8. Infant and young child feeding (IYCF) Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals-WHO

9. Guidelines on food fortification with micronutrients
10.  The Truth About Baby Food jar : http://www.thealphaparent.com/2013/02/the-truth-about-baby-food-jars.html?m=1

11.  Cheating Babies: Nutritional Quality and Cost of Commercial Baby Food – Daryth D. Stallone, Ph.D., M.P.H. Michael F. Jacobson, Ph.D.

12.  http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak.html

13.  http://idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Rekomendasi-IDAI_Suplemen-Zat-Besi.pdf

14.  http://aapnews.aappublications.org/content/early/2010/10/05/aapnews.20101005-1.full?rss=1

15.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

16. http://www.iom.edu/Global/News%20Announcements/~/media/48FAAA2FD9E74D95BBDA2236E7387B49.ashx

17.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

18.  http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002461.htm

19.  http://ajcn.nutrition.org/content/71/5/1280s.full

20.  http://pediatrics.aappublications.org/content/117/4/e779.abstract

21.  http://www.bmj.com/content/343/bmj.d7157

22. https://www.acog.org/Resources_And_Publications/Committee_Opinions/Committee_on_Obstetric_Practice/Timing_of_Umbilical_Cord_Clamping_After_Birth
Bagian 1 : Rekomendasi dokter2 IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203216244032793&id=1409280466

Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB) :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203216730884964&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&theater

Bagian 3 : Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekedar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi / Gizi :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203217513784536&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&relevant_count=1

Bagian 4 : Serba-Serbi MPASI , dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203221299919187&id=1409280466

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203221983616279&set=pb.1409280466.-2207520000.1397218728.&type=3&theater

Continue reading

Ulasan Kuliner

Grup Wa ibu pebe sedang bikin lomba review kuliner sesuai lokasi penugasan, sekalian ditulis di sini saja ya…

  1. Lempah Kuning

lempah

Waktu kami bertugas di Bangka dulu, tepatnya di kota Pangkalpinang, ada satu masakan yang jadi andalan untuk dicari saat saya sedang tak enak badan. Sebab, aroma dan rasanya yang lumayan tajam ampuh menggugah nafsu makan yang biasanya meredup kala sakit menyapa.  Rasa masam, pedas, manis segarnya kontan membangkitkan selera, bahkan ketika baru wanginya yang tercium.

Ini dia sayur lempah kuning. Secara sederhana bisa didefinisikan sebagai masakan ikan (bisa diganti dengan sumber protein hewani lainnya) berkuah yang dimasak dengan rempah-rempah. Ada sebuah warung makan yang menurut kami menyediakan lempah kuning terenak, dan alhamdulillah letaknya tidak terlalu jauh.

2. Kerak Telor

IMG_20151011_103238

Saya masih ingat beberapa tahun lalu saya dan keluarga besar berkunjung ke Pekan Raya Jakarta, dan di situlah saya berkenalan dengan makanan ini untuk pertama kalinya. Awalnya heran juga, ini makanan apa, sih? Semacam omelet ketan ditaburi bumbu rempah dan ebi halus?

Pada dasarnya saya ini penyuka makanan gurih, hal itulah yang mungkin membuat saya spontan ‘jatuh cinta’. Lebay mungkin. Tapi apa lagi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan kerelaan menyisihkan waktu dan tenaga mampir ke Atrium Senen setidaknya sepekan sekali semasa saya magang di Lapangan Banteng, hanya demi mengobati rasa rindu pada kerak telor?

Bahkan saat saya hamil di Pangkalpinang, girang hati ini begitu tahu sudah ada penjual kerak telor mangkal di Lapangan Merdeka. Ngidam saya dengan mudah terpenuhi. Kini saat bertugas kembali di Jakarta, tentu bukan hal sulit mencari penjaja kerak telor. Tapi demi membuatnya tetap spesial, saya tak hendak jor-joran memenuhi hasrat menyantapnya. Pameran-pameran yang diselenggarakan di Lapangan Banteng biasanya menjadi ajang temu kangen saya pada makanan satu ini, walaupun terkadang kecewa karena rasanya memang tidak standar. Tak ketinggalan putri sulung saya pun ikut minta dibelikan, lalu makan dengan lahap.

Serba-serbi MPASI dari Grup AIMI

Bahasan mengenai makanan pendamping ASI untuk bayi/batita (sebetulnya bisa juga beberapa prinsipnya dipertahankan hingga anak besar bahkan dewasa, seperti kelengkapan gizi) di grup facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ini panjaaang dan lengkap, sayang kalau nggak disimpan begini.

Untuk catatan MPASI dari grup HHBF bisa dibaca di sini ya https://ceritaleila.wordpress.com/2016/07/27/serba-serbi-mpasi-dari-grup-hhbf/.

Halo, selamat sore..masih ada yang memberikan bubur nasi dan wortel saja atau bubur nasi dan bayam saja sementara bayi sudah berusia lebih dari 6,5 bulan? Atau bahkan hanya memberikan puree buah sebagai makan siang bayi berumur di atas 6,5 bulan? Yuuk segera diubah pola pemberian MPASI-nya Atau bayi Anda bisa mengalami anemia defisiensi besi yang berakibat pada seretnya kenaikan berat badan

Panduan WHO mengisyaratkan agar makanan pertama yang dikenalkan adalah kategori makanan pokok (karbohidrat) sesuai jenis makanan pokok yang dikonsumsi keluarga. Sesuaikan tekturnya dengan syarat tekstur MPASI yang benar. Untuk perkenalan awal mpasi, paling lama 2 minggu pertama dikenalkan bubur/puree tunggal dari satu bahan, boleh ditambah ASI atau air, jaga tekstur agar tetap semi kental (yang bila diletakkan di sendok dan sendok dibalik tidak mudah tumpah). Frekuensi makan 1-2 kali sehari dengan porsi 2-3 sendok makan dewasa tiap kali makan. Kenalkan semua bahan makanan dari mulai kategori karbohidrat/makanan pokok, buah dan sayur, kacang2an dan sumber-sumber protein hewani dan nabati.

 

Setelah dua minggu masa perkenalan kenalkan bubur saring lengkap karbohidrat dan sayur ditambah protein hewani dan protein nabati serta sumber lemak tambahan seperti minyak/margarin. Frekuensi makan 2-3x sehari dan dapat diberikan 1-2 kali cemilan bila bayi mau.

Jadi, dalam setiap piring makan anak jangan hanya ada nasi dan sayur atau nasi dan telur ya…lengkap semua elemen gizinya dari mulai karbohidrat, vitamin dalam sayur mayur, protein hewani-nabati dan sumber lemak. Jadi sudah seperti piring dewasa yaa…ada nasi, sayur dan lauk

Menunya apa? Sebetulnya apapun yang dimakan keluarga bisa digunakan. WHO menyarankan makanan bayi adalah makanan yang bisa didapatkan di lingkungan kita. Kalau di rumah ibu membuat sayur sop, sayuran yang digunakan utk sayur sop bisa diberikan ke bayi, dengan bumbu dan tekstur sesuai usia bayi. Jika ada riwayat alergi, perhatikan makanan apa saja yang berpotensi alergi pada anak.

Mari perbaiki MPASI si kecil yuk Bu…MPASI berkualitas dan bervariasi bukan hanya membuat bayi tidak mudah bosan, tapi juga menjamin ketercukupan nutrisinya

(admin, KL AIMI)

Continue reading