Writober 1: Terdampak Langsung oleh Pagebluk

Sekian bulan hanya menjadi pengamat soal pagebluk Covid-19, sambil sesekali menuliskan hal-hal terkait mereka yang terdampak untuk tugas kantor, Agustus lalu saya dan keluarga akhirnya mengalami sendiri, menjadi yang terdampak langsung. Melalui penelusuran kontak erat dari kasus yang sudah ada, saya dan suami menjalani pemeriksaan swab PCR yang hasilnya ternyata positif.

Continue reading

Harus Memakai Transportasi Publik pada Masa Pandemi, Apa Yang Harus Diperhatikan?

Alhamdulillah, hasil swab PCR terakhir kami pekan lalu sudah dinyatakan negatif. Dengan demikian, kami juga sudah mulai bekerja di kantor meskipun tidak setiap hari. Kami memang masih bisa ke kantor menggunakan sepeda motor, tetapi bagi banyak orang, transportasi publik menjadi satu-satunya pilihan karena faktor jarak, biaya, dan kepraktisan. Di Jakarta sendiri ada banyak pilihan moda transportasi umum, di antaranya angkutan kota, bus Transjakarta beserta feeder-nya, kereta commuter line, MRT, hingga LRT.

Namanya milik publik pastilah digunakan bersama-sama dengan (banyak) orang lain, dan di sinilah tantangannya. Kita harus menerapkan physical distancing, tetapi bagaimana kalau jarak antarpenumpang saja sulit untuk dijaga betul agar memenuhi syarat pencegahan penularan?

Continue reading

Jujur Tentang Status Positif Covid-19, Sejauh Apa?

Tiga pekan ini merupakan masa yang tak terlupakan bagi kami. Jika sebelumnya hanya memantau berita-berita tentang orang yang positif Covid-19, akhirnya kami mengalaminya sendiri meskipun alhamdulillah gejalanya sangat ringan. Saat ini, meski hasil swab PCR terakhir sebagian dari anggota keluarga kami masih positif, kami semua sudah dinyatakan boleh beraktivitas kembali oleh petugas dari Puskesmas yang selama ini ditugaskan untuk memantau. Tentu kami juga masih berhati-hati, tak ingin mengambil risiko menularkan kepada orang lain. Bepergian untuk urusan yang bukan darurat rasanya tidak masuk dalam agenda kami dalam waktu dekat.

Continue reading

Tips Mempersiapkan Anak Menghadapi Tes Swab untuk Covid-19

Dengan semakin meluasnya kasus Covid-19, adakalanya anak-anak perlu menjalani tes Covid khususnya tes swab karena satu dan lain hal. Misalnya karena diminta oleh provider perjalanan atau pendidikan, atau karena sudah terjadi kontak erat antara anak dengan orang yang positif Covid-19.

Hari ini putri pertama kami mengikuti tes swab untuk kedua kalinya. Ia dinyatakan positif untuk tes swab pertamanya, sebagaimana kami selaku orang tuanya. Kemungkinan besar memang tertular dari kami berdua yang sama sekali tidak menyadari sudah terinfeksi, karena memang tidak ada gejala yang berarti.

Panjang sebetulnya kalau mau cerita tentang riwayat Covid-19 kami ini. Kali ini saya akan berfokus pada tes swab yang harus dilalui, lebih khusus lagi bagi anak-anak. Kalau tes rapid, mungkin anak sudah ada gambaran dan orang tua juga lebih mudah menjelaskan, karena prosedurnya melibatkan jarum suntik.

alat swab test

Continue reading

Jaga Kesehatan Keluarga di Tengah Pandemi Lewat Nutrisi

Di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, pastinya kesehatan keluarga menjadi prioritas kita, khususnya para ibu. Bagaimana, ya, agar kita bisa melindungi keluarga dari makhluk mungil yang punya efek tidak main-main itu?

Kemarin saya mengikuti IG live @smartmumsid bersama nutrisionis Rachel Olsen @sehat.ala.rachel, dipandu mommy hits @vibrievb. Temanya menarik nih, tentang bagaimana menjaga nutrisi keluarga pada saat pandemi.

Makanan ini perlu mendapatkan perhatian utama karena memang itulah kebutuhan pokok kita setiap hari. Namun selain kualitas asupan, perhatikan juga pola tidur dan kesehatan mental kita. Jadi pendekatannya holistik. Percuma kalau kita makan sehat tapi stres, kata Kak Rachel.

Continue reading

Jangan Panik, Sediakan Obat Alami Diare pada Anak

Baby-ku diare, nih, Mom. Dikasih apa ya, biar mampet. Kasihan lihatnya.”

“Ada yang tahu enggak, Bunda, obat alami buat bayi mencret? Kalau dikasih obat kimia, kasihan.”

Berhubung saya memang menjadi anggota banyak grup whatsapp, chat seperti di atas hampir setiap hari berseliweran. Diare memang menjadi salah satu penyakit langganan anak yang membuat orang tua khawatir.

Pertama, karena umumnya orang tua juga sudah mengetahui betapa tidak nyamannya sakit perut akibat diare ini. Kita yang sudah dewasa saja bisa sampai mengerang kesakitan dan kesulitan beraktivitas, belum lagi ditambah dengan rasa lemas yang mengikuti. Bayi mungil yang “belum bisa apa-apa”, pastilah lebih menderita.

mengobati diare bayi secara alami

Continue reading

Mengenal Perbedaan Kista dan Miom

⁣Malam Sabtu lalu saya ikut menyimak live IG @unicornadcom yang menghadirkan dr. Ferry Darmawan, SPOG, MIGS. Dokter Ferry ini bisa dibilang DSOG yang langganan jadi narasumber untuk komunitas Smart Mums Id yang saya ikuti. Namun, kali ini dr. Ferry tidak membahas hubungan intim suami istri atau yang sering beliau istilahkan sebagai “rekreasi”, tetapi mengulas mitos seputar penyakit pada organ reproduksi wanita. Secara khusus, dr. Ferry mengupas perbedaan miom dan kista berikut mitos-mitos yang menyertainya.
Saya pun termasuk yang masih bingung membedakan keduanya. Kalau mendengar ada kerabat atau teman yang didiagnosis miom atau kista pada organ reproduksi, biasanya (selain mendoakan dan membantu apa yang bisa dibantu tentunya) saya juga jadi ingin tahu lebih lanjut tentang penyakit tersebut. Namun, saya belum pernah sampai benar-benar membaca secara mendalam dari sumber tepercaya. Sedangkan teman yang terkena pun kadang masih dalam keadaan perlu dukungan, sehingga saya tidak enak bertanya-tanya lebih jauh.

Continue reading

Memulai Rutinitas dalam Kenormalan Baru, Seperti Apa?

Jika pagi kemarin, 27/06, saya menyimak WeTheHealth melalui Lifepack Track bersama Mas Ade yang membahas kesehatan mental (sedikit ulasan saya bisa dibaca di postingan sebelumnya), pada sore hari saya mengikuti sesi Persiapan dan Adaptasi Menghadapi Rutinitas di New Normal yang menghadirkan dr. Jaka Pradipta, Sp. P. melalui Jovee Track.

New normal bukan berarti sudah kembali normal seperti dulu. New normal itu kita melakukan adaptasi untuk bertahan hidup, dengan melakukan modifikasi perilaku dan gaya hidup. Ada perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, tetapi ditambah dengan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19,” tegas dr. Jaka yang merupakan dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) ini.

Sampai kapan kita harus menerapkan gaya hidup yang cukup berbeda dengan sebelumnya ini? Para ahli belum bisa memastikan, tetapi kira-kira sampai obat atau vaksinnya ditemukan. Dalam tahapan ini, seyogianya sistem pengawasan kesehatan sudah mampu mendeteksi dan mengelola kasus, kontak, dan mengidentifikasi munculnya kasus baru.

Continue reading

Pentingnya Kelola Stres Saat Pandemi

Kondisi pandemi Covid-19 bukan hanya berefek pada kesehatan fisik, melainkan juga mental. Siapa saja bisa terkena stres akibat pandemi, baik karena memang menderita masalah kesehatan fisik juga, merawat anggota keluarga atau orang terdekat yang sakit, memiliki kecemasan akan wabah penyakit yang terjadi, menghadapi ancaman finansial karena perekonomian yang melambat, merasa tertekan karena harus bertemu dengan orang rumah selama 24 jam setiap hari, hingga merasa “sesak” karena adanya keterbatasan aktivitas sehari-hari. Stres ini bisa berjung pada masalah kesehatan mental.

Kemarin pagi, tanggal 27 Juni, saya menyimak salah satu sesi di WeTheHealth yang membahas Kesehatan Mental: Pentingnya Mengelola Stres Saat Pandemi bersama Mas Ade Binarko, founder Sehatmental.id. WeTheHealth adalah konferensi kesehatan digital pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Jovee dan Lifepack Indonesia. Banyak sesi menarik yang digelar dari pagi hingga sore hari.

Mas Ade merupakan penyintas atau survivor masalah kesehatan mental. Mas Ade pernah menghadapi masalah yang sampai membuatnya terkena panic attack hingga harus mendapatkan bantuan medis. Kemudian, Mas Ade mendirikan Sehatmental.id pada tahun 2015 karena merasakan belum menemukan kelompok dukungan untuk mereka yang menderita masalah mental terkait anxiety. Di Sehatmental, Mas Ade bekerja sama dengan Dr. Vivid Argarini yang merupakan seorang akademisi dan praktisi komunikasi dan dr. Rama Giovani, Sp.KJ, psikiater.

Mas Ade mengungkapkan, masa sekarang memang membawa banyak perubahan yang drastis. Aktivitas yang semula cukup bebas sekarang jadi terbatas. Semua orang dianjurkan untuk di rumah saja. Khususnya bagi orang yang berkepribadian ekstrovert, pasti terasa tidak nyaman. Ini saatnya kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memikirkan orang lain, karena meski merasa sehat kita bisa saja termasuk dalam golongan orang tanpa gejala (OTG) yang tetap berpotensi menularkan.

Continue reading

Kembali Beraktivitas Menuju New Normal, Perhatikan Hal Ini Yuk

Setelah beberapa bulan menjalani #dirumahaja, ada yang merasa enggak kalau kita lebih jarang sakit? Kalau saya sih merasa sekali. Terutama untuk anak-anak yang keduanya sudah sekolah, nih. Mengikuti pembelajaran dari rumah saja ternyata membuat mereka jauh dari batuk pilek. Saya pikir, ini karena interaksi yang terbatas dengan dunia luar, yang artinya meminimalkan kemungkinan tertular sesuatu.

Tentu, kita sebetulnya rindu juga ya beraktivitas di luar rumah, berinteraksi dengan lebih leluasa dengan teman dan kerabat. Namun, selama kondisi pandemi Covid-19 masih belum mereda, rasanya saya setuju untuk lebih baik membatasi bepergian selama memungkinkan, terlebih lagi bersama anak-anak. Sedangkan bagi yang memang harus keluar rumah untuk urusan pekerjaan maupun hal-hal mendesak lainnya, patuh terhadap Pedoman Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi satu keharusan.
Continue reading