Jangan Remehkan Keluhan Lupa

“Masih muda, kok sudah pelupa?”

Kadang-kadang, celetukan seperti di atas mudah saja terlontar dalam keseharian kita. Entah kita yang mengomentari teman, atau justru kita yang beroleh pertanyaan bernada ledekan tersebut. Meski tampak sepele, kalau yang dilupakan adalah hal-hal yang cukup penting dan terjadi berulang-ulang, kan bisa merepotkan juga. Apalagi jika ternyata upaya-upaya yang dilakukan sendiri untuk memperkuat daya ingat tidak mendapatkan hasil. Kalau sudah begitu, bukan celaan (meskipun sekadar bercanda) yang dibutuhkan, melainkan bantuan dari ahlinya.

Rabu lalu saya mengikuti seminar awam yang diselenggarakan oleh Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Dalam seminar yang bertempat di  RSCM Kencana ini, pembicaranya adalah para dokter konsultan yang merupakan neurolog atau ahli syaraf. Salah satunya Diatri Nari Lastri, Sp.S (K), yang membawakan materi dengan judul yang saya pakai sebagai judul postingan ini. Ya, keluhan lupa memang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Lupa apa yang hendak dilakukan, apa yang baru dilakukan, di mana meletakkan barang, juga kesulitan mengingat nama orang atau benda merupakan sejumlah keluhan yang kerapkali terdengar. Bahkan, seseorang yang tingkat lupanya sudah cukup parah bisa mengalami disorientasi waktu maupun tempat. Biasanya, yang mengalami penurunan ingatan adalah mereka yang berusia lanjut. Namun memang pada masa sekarang keluhan ini cenderung bergeser ke kelompok umur yang lebih muda.

Continue reading

Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

Sugar rush atau sugar high biasanya diartikan sebagai kondisi amat aktif atau kelewat bersemangat dalam berkegiatan, biasanya terjadi pada anak-anak, yang dipicu oleh banyaknya konsumsi gula. Sekilas sepertinya hal ini logis, karena kalori yang masuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas, bukan? Gula yang tinggi kalori pun lalu menjadi kambing hitam atas ulah anak-anak yang tampak berlebihan.

Continue reading

Peduli Kanker Payudara lewat Deteksi Dini

Pada bulan Oktober yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperingati sebagai Breast Cancer Awareness Month, saya ingin berbagi catatan yang belum sempat saya tuliskan sebelumnya. Tanggal 27 Agustus yang lalu saya mengikuti kegiatan seminar Hijab Motion Healthy Day di Prodia Tower. Topik utamanya memang membahas seputar kanker payudara. Selain ada materi dari segi medis, sejumlah survivor atau penyintas kanker payudara juga turut berbagi pengalaman.

Salah satu yang mengisi sharing session dalam acara tersebut adalah bu Ina Sumantri, penyintas (survivor) kanker payudara yang kemudian menjadi penggiat komunitas Love Pink. Tahun 2013, beliau terdiagnosa stadium 2 tahun dan sudah menjalani rangkaian pengobatan termasuk kemoterapi dan radiasi.

@lovepinkindonesia merupakan komunitas yang beranggotakan para warrior (yang masih berjuang) maupun survivor (yang sudah memperoleh diagnosis sembuh meski bisa saja bangkit lagi) kanker, dengan anggota sekitar 600 orang. Fokusnya memang pada kesehatan, khususnya payudara.

Love Pink awalnya bergerak memberikan sosialisasi pengajian-pengajian, lalu merambah ke kantor-kantor dan sekarang juga ke sekolah-sekolah, karena pergeseran umur penderita kanker masa sekarang. Sosialisasi yang diberikan seputar tanda-tanda, pengobatan, pemeriksaan secara berkala, deteksi dini kanker payudara, dan terutama awareness sejak awal. Visinya, dunia yang bebas dari kanker payudara stadium lanjut.

Continue reading

Cepat Tanggap Atasi Anemia pada Anak

Anemia, khususnya anemia defisiensi besi (ADB) selalu menjadi salah satu topik hangat di grup facebook maupun whatsapp ibu-ibu, khususnya yang memiliki anak bayi atau balita. Jika ada yang curhat anaknya berbadan mungil, biasanya akan ada yang menanggapi dengan saran cek kadar Hb, kalau perlu screening secara keseluruhan. Sebab, anemia diketahui bisa menghambat pertumbuhan.

Tapi di sisi lain, ada juga yang beranggapan tes-tes semacam itu cenderung merepotkan, apalagi jika dokter yang memeriksa (dan sudah berkomentar tentang pertumbuhan) malah tidak pernah merujuk atau menyuruh supaya tes darah untuk mengetahui apakah statusnya anemia atau tidak.

Usai bahasan panjang tentang tes atau tidak, ada pula pro kontra seputar apakah suplemen zat besi perlu diberikan. Ada orangtua yang mengikuti rekomendasi IDAI untuk memberikan suplemen zat besi pada anak sejak bayi tanpa memandang status Hb, ada yang memilih tes dulu agar suplementasinya lebih tepat sasaran, ada juga yang meski sudah jelas-jelas anemia tapi beranggapan bahwa ‘yang alami lebih baik’, alias bertekad mengejar kekurangan zat besi dari makanan sehari-hari.

Continue reading

Langkah-langkah Jitu Atasi Anak Demam

“Demam itu sebenarnya adalah sesuatu yang muncul karena alasan. Tidak mungkin tubuh kita memunculkan sesuatu yang tidak lazim kalau tidak ada alasan,” sebut dr. Apin.

Kalimat di atas bukan untuk pertama kalinya saya dengar atau baca. Dari Milis Sehat, milis tempat dr. Arifianto, Sp.A. dan rekan-rekan termasuk para senior beliau dan para orangtua (non-nakes) yang peduli kesehatan keluarga aktif berbagi, juga dari postingan dr. Apin dan kawan-kawan, saya banyak belajar mengenai hal-hal serupa. Sejumlah sesi Program Edukasi keSehatan Anak untuk orangTua (PESAT) yang diselenggarakan oleh para anggota milis (tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-17 di Jakarta, belum terhitung yang di daerah lain) pun sudah saya ikuti, beberapa di antaranya diisi oleh dr. Apin.

Namun, kendati sudah belajar di sana-sini, keinginan untuk terus belajar membuat saya melangkahkan kaki ke stasiun untuk naik KRL menuju ke Depok pada tanggal 1 Oktober lalu. Tempat yang saya (bersama anak-anak dan pengasuh) tuju adalah Gramedia Depok, tidak jauh dari Stasiun Pondok Cina. Di sanalah diagendakan peluncuran buku Berteman dengan Demam yang ditulis oleh dr. Apin bersama dengan rekan sejawatnya sesama kontributor website Sehat (www.sehat.web.id), dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP. Pastinya bukan sekadar acara seremonial untuk menandai resminya buku tersebut beredar ya, tetapi ada pula sesi berbagi yang diisi oleh dr. Apin.

Continue reading

Aksesoris Amber, Benarkah Bermanfaat?

Namanya ibu-ibu, kalau mantau instagram selain buat cuci mata (atau ikutan kuis, hehehe) juga sering lihat-lihat akun selebgram atau influencer yang punya status ibu-ibu juga. Masing-masing selebgram punya gaya dan keunikannya sendiri, dan keunikan inilah yang umumnya bikin mereka jadi punya banyak pengikut. Akan tetapi ada masanya banyak selebgram/influencer yang pada waktu bersamaan atau berdekatan tampil memegang/membawa suatu produk yang serupa.

Sekali lagi, berhubung statusnya ibu-ibu, biasanya yang mirip-mirip ini adalah produk untuk anak atau terkait peran sebagai ibu. Mulai dari suplemen kesehatan, peralatan ASI dan MPASI, gendongan, kereta dorong, peralatan pengamanan, sampai pernak-pernik lainnya.

Bisa jadi kesamaan atau kemiripan produk ini karena mereka semua sama-sama sosok yang update tentang tren terkini dan tidak ingin ketinggalan mencoba. Atau kemungkinan lain, memang ada endorse dari produsen atau importir dalam rangka pengenalan produk (biasanya produk baru). Promosi oleh selebgram acapkali dianggap lebih ‘nyata’ atau ‘dekat’ oleh yang melihat, berbeda dengan iklan yang sengaja dibuat untuk ditayangkan di media massa.

Continue reading

Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Masih dari Diklat Jurnalistik minngu lalu, tulisan yang ini adalah hasil editan saya dari soft news tulisan teman sekelompok. Alhamdulillah dapat hadiah cokelat lagi dari pengajar untuk tugas penyuntingan ini, hehehe. Jadi kami diminta saling mewawancarai, lalu menyusun tulisan berdasarkan hasil wawancara, dan ditukar silang lagi dengan pasangan lain sekelompok untuk belajar penyuntingan. Ada beberapa hal yang saya rombak dari tulisan asli mas A yang awalnya bertugas mewawancarai mba L, khususnya bagian awal, judul, dan urutan alur cerita. Sejumlah rincian saya tambahkan dari obrolan kami berdua. Atas permintaan mba L, teman sekelompok juga, nama beliau saya samarkan :).

Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – L (41) mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan. “Pedas banget,” katanya. “Dulu padahal saya penyuka pedas, lho. Tapi banyak yang  berubah belakangan ini,” sambungnya.

Pegawai Kementerian Keuangan ini memang mengalami perubahan besar dalam hidupnya setahun belakangan. Tepatnya sejak ia didiagnosis menderita kanker nasofaring pertengahan tahun 2016.

Awalnya, L hanya merasakan telinganya berdengung. Namun, seiring waktu berlalu, ia mulai merasakan migrain yang berlangsung lama.

“Pada bulan Ramadhan tahun 2016, saya merasakan telinga saya tidak enak, bergema. Saya kira terkena air, maka saya tunggu sampai seminggu. Kok, enggak hilang juga. Saya ke (dokter spesialis) THT di RS Hermina Depok. Dokter saat itu bilang, “Telinga Ibu bersih, bagus. Cuma pilek yang enggak keluar.””

“Saya kekeuh bilang, “Tapi, saya enggak pilek, Dok.” “Iya, tapi itu pilek, enggak keluar aja. Terapi ya, Bu.”” L mengulangi penjelasan dokter spesialis THT kepadanya.

Continue reading