Mengenal Perbedaan Kista dan Miom

⁣Malam Sabtu lalu saya ikut menyimak live IG @unicornadcom yang menghadirkan dr. Ferry Darmawan, SPOG, MIGS. Dokter Ferry ini bisa dibilang DSOG yang langganan jadi narasumber untuk komunitas Smart Mums Id yang saya ikuti. Namun, kali ini dr. Ferry tidak membahas hubungan intim suami istri atau yang sering beliau istilahkan sebagai “rekreasi”, tetapi mengulas mitos seputar penyakit pada organ reproduksi wanita. Secara khusus, dr. Ferry mengupas perbedaan miom dan kista berikut mitos-mitos yang menyertainya.
Saya pun termasuk yang masih bingung membedakan keduanya. Kalau mendengar ada kerabat atau teman yang didiagnosis miom atau kista pada organ reproduksi, biasanya (selain mendoakan dan membantu apa yang bisa dibantu tentunya) saya juga jadi ingin tahu lebih lanjut tentang penyakit tersebut. Namun, saya belum pernah sampai benar-benar membaca secara mendalam dari sumber tepercaya. Sedangkan teman yang terkena pun kadang masih dalam keadaan perlu dukungan, sehingga saya tidak enak bertanya-tanya lebih jauh.

Sampai pada waktu saya hamil Fahira, dokter kandungan bilang ada kista di rahim saya. Saya sempat panik, apalagi pada kehamilan-kehamilan berikutnya tidak ada masalah ini. Akan tetapi, kata dokter saya, sementara dipantau saja dulu. Belum tentu semua kista itu berbahaya. Yang penting ukurannya tidak bertambah besar. Benar saja, alhamdulillah kemudian kista tersebut menghilang sendiri setelah sekian bulan dalam pantauan. Kalau kata teman saya yang dokter umum, itu namanya kista fungsional.
Saya juga teringat pernah menyimak cerita teman sekantor yang istrinya didiagnosis ada miom di kandungan. Menurut teman saya, dokter bahkan sudah langsung menyarankan operasi untuk mengangkatnya agar tidak membahayakan janin. Setelah berkeliling ke beberapa dokter kandungan di kota kecil tempat kami ditugaskan waktu itu, ternyata baru ketahuan bahwa sesungguhnya istri teman saya ini sedang mengandung janin kembar.
Jadi bayangan satu lagi yang tampak saat USG itu bukanlah kista atau miom, melainkan janin kedua. Syukurlah, kandungan istri teman saya ini sehat hingga kini kedua putranya tumbuh besar. Saya jadi terpikir, kalau begitu untuk mendiagnosis kista atau miom ini perlu keahlian khusus agar tidak salah dalam memutuskan langkah berikutnya.
Diterangkan oleh dr. Ferry, miom pada rahim adalah pertumbuhan jinak dari otot dinding rahim, isinya padat. Sedangkan kista berada di indung telur dan berisi cairan. Dalam hal ini, yang dibahas adalah kista pada organ reproduksi, karena ada juga kista pada organ lain. Anak seorang sahabat saya misalnya, pernah menjalani operasi untuk mengangkat kista di hatinya. Selain kista dan miom, ada juga polip rahim, tetapi tidak dibahas lebih lanjut oleh dr. Ferry pada kesempatan tersebut.
Jenis-jenis kista antara lain:
  1.  Kista endometriosis atau kista cokelat karena berisi cairan berwarna cokelat. Gejalanya yang paling khas adalah nyeri haid yang sampai membuat kesulitan beraktivitas, termasuk bahkan ketika buang air besar dan buang air kecil juga ikut terasa sakit.
  2. Kista serosum/kista simpleks yang berisi cairan bening. Kista ini bisa diserap sendiri oleh badan, jadi akan berkurang/mengecil sendiri. Ukurannya masih di bawah 4 cm, bisa wait & see apakah semakin membesar atau tidak.
  3. Kista dermoid atau teratoma yang berisi lemak, rambut, gigi, tulang, ini sisa-sisa embrional bawaan waktu kita masih berada dalam kandungan dulu. Ada kemungkinan ganas, tapi kecil sekali. Gara-gara bentuknya yang unik, seringkali kista ini dikaitkan oleh masyarakat dengan mitos-mitos berbau mistis, padahal tidak ada hubungannya.
  4. Kista luteum/lutein yang muncul pada masa kehamilan awal. Ini bukan kista patologis/penyakit, justru baik karena memproduksi hormon untuk menunjang kehamilan. Ukurannya bisa sampai 4 s.d. 6 cm, biasanya setelah melahirkan hilang.
Adapun miom tidak akan hilang setelah melahirkan, kalau mengecil masih mungkin. Jika miomnya kecil dan posisinya tidak terlalu dekat dengan plasenta sebetulnya ibu hamil tidak perlu terlalu khawatir. Yang penting terus dipantau saja, bahkan masih mungkin untuk mencoba persalinan normal dan kalaupun operasi sebetulnya bisa sambil diambil sekalian miomnya. Lalu, kalau ada yang bilang miomnya mengambil makanan janin, itu mitos juga. Bahayanya adalah kalau miom ini terus membesar sampai mendesak janin dalam rahim. Dokter Ferry yang memiliki keahlian di bidang minimal invasive gynaecogical surgery ini bercerita bahwa salah satu kasus miom terbesar yang pernah beliau tangani berukuran hingga 15 cm.
Kata dr. Ferry, secara umum populasi perempuan yang punya miom itu bisa sampai 15%. Namun, tidak semua miom bergejala. Kalau tidak menimbulkan keluhan, sebetulnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Untuk memastikan miomnya jinak atau ganas, biasanya diperlukan operasi. Namun tidak mungkin semua pasien serta-merta dioperasi hanya untuk memastikan diagnosis ini. Jadi berdasarkan pemeriksaan, anamnesis, USG, mungkin juga cek darah tumor marker, dokter akan memprediksi apakahmiom ini ke arah jinak atau ganas. Hanya sekitar 5% miom yang ganas.
Oh ya, sering beredar broadcast message bahwa minum air es menyebabkan kista. Ini mitos, tetapi kita perlu tetap waspada dengan kalori atau kandungan gula pada minuman es yang manis. Gula yang tinggi tidak dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit ke arah kista atau tumor. Ada juga yang perlu dihindari oleh penderita miom atau kista yaitu kedelai dan produk olahannya yang tinggi kandungan fitoestrogen, termasuk tahu dan susu kedelai.
Ada keadaan di mana miom atau kista memang perlu dioperasi, yaitu:
  1. Menimbulkan keluhan di area rahim, ada rasa nyeri atau perdarahan yang banyak
  2. Menimbulkan keluhan di organ sekitarnya seperti kandung kemih atau saluran cerna
  3. Diduga menyebabkan gangguan infertilitas atau susah punya anak
  4. Menimbulkan gangguan kosmetik, misalnya sampai menonjol di perut
  5. Dicurigai ada keganasan.
Jadi jangan panik dulu apabila dicurigai ada miom atau kista. Periksakan lebih lanjut untuk mengetahui tindakan apa yang perlu diambil. Jika terkendala biaya, ada juga lho layanan yang tersedia untuk membantu, misalnya pakai BPJS. Ada juga yang memberi pelayanan yang bersifat sosial, khususnya dalam hal infertilitas, seperti Kafe Subur di RS Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, salah satu tempat dr. Ferry berpraktik.

5 thoughts on “Mengenal Perbedaan Kista dan Miom

  1. Aku juga beberapa bulan lalu sempat di diagnosis kista. Menurutku kayaknya penyebabnya karena pemasangan IUD. Akhirnya setelah sekitar 1.5 tahun aku lepad deh. Khawatir banget sih.

    Jadi ada kista yang karena hormon ya mba. Bisa ilang sendiri. Sepertinya aku begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s