Budaya Gendongan, Penuh dengan Filosofi

“Menarik bahwa pembicara pada seminar kali ini semuanya lelaki, padahal obrolan soal gendongan identik dengan ibu-ibu.” Lebih kurang demikianlah komentar yang saya dengar saat mengikuti Seminar Gendongan Asia di Museum Nasional kemarin. Saya sendiri duduk berkumpul dengan beberapa teman dari komunitas gendongan seperti Jakarta Babywearers dan Jabodetabek Menggendong. Meski tidak semuanya saling mengenal, sebagian juga belum pernah berinteraksi karena beda komunitas, tapi kami semua dipersatukan oleh minat yang sama pada soal gendong-menggendong bayi. Memang menarik jadinya kalau soal gendongan ini dieskplor dari sisi sejarah dan antropologi, mengingat selama ini obrolan grup maupun edukasi saat kami berkumpul bersama (kopdar) lebih berfokus pada teknik, keamanan dan kenyamanan, juga jenis-jenis gendongan. Maka publikasi pameran gendongan Asia yang diteruskan oleh salah satu anggota grup whatsapp disambut dengan rasa penasaran yang besar. Apalagi ada pula kegiatan seminar yang menyertainya.

Antropolog Dr. Tony Rudyansjah, M.M. yang menjadi pembicara pertama dalam kegiatan dengan tagline Fertil, Barakat, Ayom (Fertility, Blessings, and Protection) ini menyampaikan bahwa bahasan tentang gendongan agak terabaikan dalam antropologi, padahal menurutnya penting sekali.

“Gendongan bayi itu suatu hal yang sangat universal, ada di semua kebudayaan di dunia. Sama universalnya dengan upaya melindungi anak dari sinar matahari, serangga, binatang buas, jatuh, bahkan manusia lain,” sebut beliau. Gendongan juga membantu agar orang bisa bekerja, tangannya bebas beraktivitas tanpa direpotkan oleh anak.

Secara budaya, gendongan, bedong dan sejenisnya juga memiliki filosofi tersendiri. Pada budaya Jawa misalnya, ketatnya gendongan menggambarkan keharusan seseorang mengontrol emosi, pembatasan gerakan bisa diibaratkan gerakan yoga yang membantu melatih bayi untuk menahan diri sejak dini. Adapun masyarakat Papua punya noken, umumnya dari serat belinjo yang dipelintir dan diberi madu hingga halus dan menyatu (ada yang bilang diberi darah juga) memiliki asosiasi yang dekat dengan rahim wanita, karena bentuknya elastis mengikuti pertumbuhan bayi.

“Gendongan bayi juga merupakan item berharga pada beberapa kebudayaan, bahkan ada yang diperlakukan seperti pusaka. Di Papua, noken untuk bayi tentu beda dengan noken yang dipakai untuk membawa buah-buahan. Ia juga menjadi item penting untuk pesta tanam sagu yang sekaligus menyimbolkan kesuburan. Di Kaimana, gendongan harus dibuat dari kain tenun khusus dari Timor, persembahan keluarga suami kepada istri yang sedang mengandung. Gendongan bayi juga memperlihatkan status sosial tertentu, misalnya di suku Dayak Kenyah di Borneo. Pola tertentu hanya boleh dipakai oleh keluarga dari kelompok sosial tertentu,” urai pak Tony.

Menurut pengamatan pak Tony, masyarakat modern memisahkan dunia bayi dengan kehidupan orang dewasa, misalnya dengan memasukkan ke penitipan anak. Ini artinya memisahkan paksa dunia anak dengan orang dewasa. Efeknya, ketika anak masuk ke dunia dewasa, ia akan terkaget-kaget. Gendongan bayi khususnya di komunitas tradisional bermanfaat untuk membiasakan bayi terhadap aktivitas sehari-hari orang dewasa, sehingga transisi dari masa anak ke dewasa di kemudian hari bisa berjalan dengan mulus.

Kontak kulit dengan kulit yang terjadi saat menggendong memberikan kehangatan, rasa aman dan rasa nyaman, terang pak Tony. “Tahap paling tinggi dari maturity bukanlah independence, tapi justru ketergantungan. Menjauhkan itu semua adalah kekeliruan dalam kehidupan kita,” tegas beliau. Makanya beliau menyatakan juga kegembiraan dengan hadirnya gerakan sosial menggendong bayi. Ya, di awal acara, Debra H. Yatim selaku moderator sempat memanggil beberapa teman penggendong untuk tampil memperkenalkan diri di depan.

Bahasan Dr. Dave Lumenta, Ph.D., antropolog yang menjadi pemateri selanjutnya, lebih banyak berfokus pada penggunaan gendongan pada masyarakat Dayak Kenyah di mana beliau pernah meneliti. Kehidupan berladang yang merupakan kegiatan sehari-hari masyarakat di sana memang menuntut adanya alat bantu seperti gendongan. Gendongan di sana disebut dengan istilah ba’. Ba’ ditenun sejak bayi berada dalam kandungan, dan seluruh keluarga terlibat dalam proses penenunan ini, termasuk kakek si calon bayi. Dasar ba’ dari kayu, sedangkan rangka luarnya dari rotan.

Ba’ biasanya selesai dibuat 3-4 minggu setelah bayi lahir. Di Dayak Kenyah bayi akan diperkenalkan pada tanah di usia itu, ditidurkan ke tanah, memegang tombak untuk anak laki-laki dan ikan untuk yang perempuan. Benda-benda tersebut secara simbolis menggambarkan kontribusi pertama mereka bagi komunitas. Setelah upacara selesai, mereka dikenalkan ke ba’ yang akan membawanya sampai tiga tahun ke depan. Satu ba’ dipakai kontinyu ke mana pun, baik ke ladang maupun upacara adat, jadi tidak ada perbedaan motif untuk kesempatan yang berbeda. Dinamika masyarakat Kenyah mengharuskan secara periodik harus bermigrasi dan anak selalu ikut, jadi baby carrier bersifat fungsional. Para ayah pun menggendong.

Masyarakat Dayak Kenyah percaya bahwa jiwa bayi yang berusia muda masih belum menetap di badannya. Gendongan ba’ didekorasi agar jiwa bayi tidak terlalu jalan-jalan jauh dari fisiknya, jadi semacam untuk mengikat, sekaligus untuk mencegah gangguan roh jahat. Gendongan pun memperkenalkan ikatan antara anak dengan punggung orang dewasa. Childbearing lebih bersifat komunal, jadi kenyamanan dan ikatan pada komunitas tercermin pada kehangatan punggung komunitas, bukan hanya ibunya.

Dekorasi ba’ amatlah unik. Bagi masyarakat kelas tinggi, biasanya ba’ dihias dengan taring harimau, manik-manik, berikut cangkang kerang. Padahal di Kalimantan tidak ada harimau, manik-manik pun di masa lalu tidak diproduksi di Indonesia. Jadi hiasan-hiasan tersebut biasanya berupa pemberian. “Siapa yang memberikan akan terus teringat,” jelas pak Dave. Adapun cangkang kerang menjadi wakil dari kepercayaan bahwa para lelaki harus selalu dipersiapkan untuk merantau ke wilayah pesisir. Kelas menengah hanya boleh menghias ba’ dengan motif pakis, tidak boleh menghadirkan pola burung enggang. Sekarang dekorasi ba’ merupakan satu dari segelintir simbol stratifikasi kelas yang masih bertahan setelah diusahakan hilang oleh gereja ketika agama Kristen masuk ke sana.

Selain dua pembicara dari Indonesia, seminar ini juga menghadirkan Chi-San Chang, Ph.D., kurator National Museum of Prehistory, Taiwan. Pak Chang, demikian bu Debra menyapa beliau, banyak menyajikan ragam gendongan yang dipakai oleh masyarakat Taiwan. Saat ini memang terjadi pergeseran budaya, di mana para ayah pun banyak terlihat aktif menggendong bayi. Sudah tersedia gendongan yang memudahkan para ayah menggendong dengan nyaman sekaligus terlihat gaya. Penelitian Barat belakangan ini turut memberikan dukungan terhadap budaya gendongan dengan menyatakan bahwa bayi yang digendong menggunakan gendongan menunjukkan kepuasan emosional yang lebih besar ketimbang yang dibawa dengan memakai kereta dorong (stroller). Bayi pun memperoleh manfaat bonding yang erat dengan orangtuanya, yang berpengaruh pula pada relasi anak tersebut nanti dengan orang-orang di masa mendatang.

Daerah-daerah tertentu di China juga punya pola khas yang digunakan untuk menghias gendongan bayi. Suku Dong biasa menyulam motif laba-laba yang melambangkan kebijakan, kecerdasan, kemakmuran, kesuksesan, kedamaian, dan keberuntungan. Sedangkan masyarakat Miao biasanya menggunakan motif kupu-kupu yang melambangkan banyak keturunan. Meski beragam, tetapi umumnya pola tersebut punya tujuan yang serupa, yaitu agar bayi tumbuh sehat atau dinaungi nasib baik. Adapun masyarakat di daerah barat daya biasanya membedakan antara gendongan untuk sehari-hari dan gendongan untuk pesta.

Pameran budaya gendongan yang diselenggarakan oleh Studiohanafi ini masih berlangsung hingga tanggal 29 Oktober nanti. Sebanyak 27 gendongan yang didatangkan dari National Museum of Prehistory Taiwan dan 6 gendongan dari Museum Nasional Indonesia ditampilkan dalam ruang pamer yang didesain khusus, menurut keterangan persnya dibuat menyerupai rahim ibu.

Pengunjung yang datang di hari-hari awal mendapatkan buku yang memuat tulisan pak Chang beserta penjelasan gendongan-gendongan khas nusantara, sedangkan peserta seminar selain memperoleh buku juga bisa membawa pulang tas serta kaos yang disediakan panitia. 



#ODOPOKT19

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

3 thoughts on “Budaya Gendongan, Penuh dengan Filosofi

  1. Wah lengkap info tentang gendongan bayi beserta filosofinya..Trims Mbak:)
    Jadi ingat selama pergi dan tinggal di Amerika saya menggendong bayi saya, saat berangkat umur 2 bulan, pakai jarik gendong. Dan, semua orang di bandara, pesawat dan di sana terkesima melihatnya 🙂

    • Huaa kereeennn Mba, sekalian ikut mempromosikan budaya Indonesia, ya. Beberapa teman di komunitas gendongan juga pada bilang jarik gendong itu menarik perhatian ya saat bepergian ke negara lain. Unik dan cantik, gitu :).

  2. Pingback: Ingin Menggendong dengan Aman dan Nyaman? Jangan Lupa Cek Hal Berikut Ini | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s