Sindrom Patah Hati, Apa Itu?

Menjelang penayangan perdananya pada pertengahan Desember nanti, awal bulan ini telah dirilis poster dan trailer terbaru film Star Wars: The Last Jedi. Dalam kedua media promosi film Star Wars kedelapan tersebut, tampak sosok Putri/Jenderal Leia Organa Solo (Leia Amidala Skywalker) yang diperankan oleh Carrie Fisher. Penasaran juga bagaimana nanti tim pembuat film mengarahkan jalan cerita sepeninggal Carrie Fisher, mengingat tokoh yang dimainkannya memiliki posisi penting dalam kisah Star Wars sejak trilogi pertamanya mulai dirilis tahun 1977. Ya, Carrie Fisher telah meninggal dunia pada Desember 2016. Penyebab kematiannya sesuai keterangan resmi adalah sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur) dan ‘faktor lainnya’.

Yang mengejutkan, sehari setelah meninggalnya Carrie Fisher, sang ibu yang berusia 84 tahun ‘menyusul’, diduga karena serangan stroke. Ibunda Carrie Fisher adalah aktris senior Debbie Reynolds yang terkenal lewat film Singin’ in The Rain (1952). Sebelum putrinya berpulang, Debbie secara umum berada dalam kondisi kesehatan yang cukup baik. Putra Debbie Reynolds sempat menyebut bahwa pemicu meninggalnya ibu mereka tercinta adalah kondisi tekanan dan kesedihan pasca-kepergian Carrie.

Pertanyaannya, apa iya kesedihan bisa segitunya menjadi penyebab meninggalnya seseorang? Bukan patah hati lalu bunuh diri, ya…itu sih lagu Koes Plus (yang sebetulnya mencerminkan sejumlah realita juga). Tahun 2006, para peneliti di Johns Hopkins University School of Medicine menyimpulkan bahwa memang sebutan ‘broken heart‘ untuk kesedihan mendalam akibat luka cinta ada benarnya. Penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine menyatakan bahwa trauma dan guncangan emosional bisa menyebabkan kondisi jantung yang fatal, yang diistilahkan dengan broken heart syndrome alias sindrom patah hati (kesamaan katanya —heart-jantung-hati– jadi agak selip ketika diterjemahkan, tapi intinya seperti itu).

Keadaan tersebut secara medis dinamakan stress cardiomyopathy, yang terjadi ketika gelombang hormon-hormon stres seperti epinefrin dan norepinefrin melemahkan otot-otot jantung dan menghasilkan gejala yang menyerupai serangan jantung.

“Orang yang mengalami stres akut, baik karena dukacita, ketakutan, atau kemarahan, dapat pula terkena serangan jantung sungguhan ketika plak di arteri pecah dan membentuk gumpalan bekuan darah,” jelas dr. Ilan Wittstein, ahli jantung yang mengetuai penelitian broken heart syndrome. “Ketika tekanan darah meningkat akibat stres, bisa terjadi pecahnya pembuluh darah di otak (bukan hanya jantung) yang menyebabkan stroke,” lanjutnya.

Pada umumnya wanita lebih jarang terkena masalah jantung di usia muda, karena hormon estrogen menetralkan hormon stres. Namun, risiko serangan jantung dan stroke meningkat secara dramatis pada wanita yang telah memasuki masa menopause.

Tahun 2014, sebuah studi yang diterbitkan dalam Jama Internal Medicine menyajikan perbandingan dari 30.500 orang berusia 60-89 tahun yang belum lama kehilangan pasangannya dengan 83.588 lansia dalam rentang usia yang sama yang tidak sedang mengalami kesedihan serupa. Hasilnya, lansia yang kehilangan orang yang dicintai lebih rentan terkena serangan jantung atau stroke dalam 30 hari berikutnya, dibandingkan dengan yang tidak sedang berada dalam kondisi emosional tersebut. Disebutkan juga bahwa dukacita lebih berpotensi memancing gangguan kardiovaskuler ketimbang emosi pemicu stres lainnya, karena kesedihan cenderung lebih berlangsung lama daripada kemarahan atau kecemasan.

Membaca keterangan di atas, saya jadi seperti diingatkan kembali bahwa meski bersedih itu merupakan hal yang wajar, apalagi sepeninggal orang tersayang. Akan tetapi, mengelola emosi dengan baik juga sangat penting. Dalam Islam misalnya, ada larangan niyahah atau meratapi mayit secara berlebihan (Hadits Riwayat Muslim No. 934). Tanpa bermaksud menyepelekan upaya menangani kesedihan yang sudah dilakukan oleh beliau-beliau yang ternyata mengalami masalah kesehatan pasca-tragedi, ada baiknya kita mengambil pelajaran. Berinisiatif menawarkan atau menyediakan pendampingan dan bantuan bagi mereka yang sedang berduka cita, sekecil apa pun, juga bisa kita lakukan. Sebentuk perhatian akan terasa begitu berarti untuk sekadar meringankan beban dan menghibur, meski mungkin tidak bisa menghapuskan keseluruhan rasa yang berkecamuk dalam dada.

Sumber: https://www.thedailybeast.com/did-carrie-fishers-death-lead-debbie-reynolds-to-die-of-a-broken-heart

Gambar: wikia, sxc.hu

#ODOPOKT20

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s