Batuk Pilek dan Influenza, Serupa tapi Tak Sama

Sudah beberapa pekan ini saya dan orang-orang di sekitar, baik di rumah maupun di kantor, bergantian kena batuk pilek. Komentar yang seringkali terlontar dari teman yang menyapa setelah melihat masker yang saya pakai atau mendengar suara saya jadi serak atau sengau adalah, “Flu, ya?” Gampangnya sih memang jawab saja “Iya”, hehehe. Namun, sebetulnya flu dan batuk pilek adalah penyakit yang berbeda, lho.

Saya rangkum dari WebMD, batuk pilek (cold) atau biasa diistilahkan dengan selesma adalah penyakit saluran pernapasan yang lebih ringan jika dibandingkan dengan influenza atau flu. Flu bisa berlangsung hingga berminggu-minggu, dan bisa berujung pada masalah kesehatan serius seperti pneumonia dan menyebabkan penderita harus dirawat inap.

Ada ratusan jenis virus yang bisa mengakibatkan batuk pilek (makanya belum ada vaksin untuk selesma, saking banyak macam virusnya). Batpil biasanya diawali dengan sakit tenggorokan yang hilang setelah sehari dua hari. Gejala yang mengikutinya adalah hidung berair/mengeluarkan ingus/meler, kemudian batuk pada hari keempat atau kelima. Pada orang dewasa, jarang disertai dengan demam sebagaimana yang terjadi pada anak-anak, tetapi bisa saja ada demam ringan.

Biasanya sih di awal-awal ingusnya bening dan encer, lama-lama menjadi lebih kental dan keruh warnanya. Ingus kental dan ‘berwarna’ ini belum tentu merupakan tanda infeksi bakteri, ya (ada yang berpendapat demikian soalnya). Batuk pilek ini biasanya paling menular pada tiga hari pertama, dan memakan waktu hingga lebih kurang seminggu hingga sembuh betul. Bahkan kalau berdasarkan grafik di bawah ini, hidung meler dan batuknya bisa bertahan sampai dua minggu, lho.

Adapun gejala flu biasanya lebih berat dibandingkan dengan batuk pilek, dan lebih cepat juga menjadi parahnya. Gejalanya bisa meliputi nyeri tenggorokan, demam, sakit kepala, nyeri otot, hidung tersumbat, dan batuk. Ada pula flu tertentu seperti flu babi yang menimbulkan gejala muntah dan diare. Perasaan lemas seperti kelelahan atau kehabisan tenaga acapkali menyertai.

Biasanya gejala flu akan membaik dalam dua hingga lima hari, tetapi rasa tak nyamannya bisa sampai seminggu lebih. Penyakit flu bisa menghasilkan komplikasi pneumonia, khususnya pada anak-anak, lansia, atau mereka yang memiliki masalah pada paru-paru atau jantung. Napas cepat cenderung ke sesak napas (bukan sulit napas karena hidung mampet, ya) merupakan salah satu ciri yang mengarah ke pneumonia dan menjadi pertanda harus segera ke dokter.

Berhubung penyebabnya adalah virus, maka umumnya batuk pilek maupun flu akan sembuh sendiri atas izin Allah, dengan berjalannya waktu dan seiring dengan pulihnya pertahanan tubuh. Akan tetapi, memang ada sejumlah penyakit flu yang membuat penderitanya perlu mendapatkan antivirus. Tentunya harus dengan resep dokter, ya. Cermati juga tanda-tanda perhatian khusus yang mungkin terjadi dan memerlukan penanganan ahlinya alias alasan-alasan yang membuat kita perlu menemui dokter, seperti:

  • Demam lebih dari tiga hari
  • Rasa sakit saat menelan, ini bisa mengarah ke radang tenggorokan, walaupun belum tentu perlu obat juga, tapi bisa dicek dulu siapa tahu penyebabnya adalah bakteri (idealnya pakai tes usap tenggorok, tapi ini pernah saya tanyakan ternyata cukup mahal. Cara lain adalah dengan menghitung Centor score dari gejala yang tampak)
  • Batuk lebih dari dua atau tiga minggu (tapi ini juga bisa disebabkan oleh asma)
  • Sumbatan hidung dan sakit kepala yang terus-menerus, apalagi jika ada rasa sakit di wajah disertai ingus yang kental, ini bisa mengarah ke infeksi sinus atau sinusitis.
  • Nyeri dada yang teramat sangat
  • Sakit kepala yang teramat sangat
  • Napas berat
  • Pusing disertai perasaan seperti melayang
  • Kebingungan
  • Muntah terus-menerus.

Sedangkan pada anak-anak, tanda tambahannya adalah:

  • Kesulitan bernapas atau napas cepat
  • Warna kulit membiru
  • Asupan cairan kurang
  • Letargi, lemas dengan kesulitan berinteraksi secara normal
  • Gejala yang sempat membaik tetapi tiba-tiba memburuk kembali
  • Demam dengan ruam.

Nah, dapatkah selesma ataupun flu dicegah? Selain tingkatkan daya tahan tubuh, yang tidak kalah penting adalah mencegah kita menyebarkan penyakit ke orang lain. Pencegahan yang sepertinya sepele padahal penting adalah rajin mencuci tangan. Cuci tangan dengan benar tentunya, lengkap dengan sabun dan air mengalir, minimal 20 detik. Bersin atau batuk dengan ditutup tisu dan membuang tisunya sesegera mungkin juga bisa mencegah penularan. Pakai masker bila perlu. Vaksin influenza juga bisa membantu mencegah flu musiman. Ingat, vaksin flu ini bukan untuk mencegah batuk pilek, yaaa. Virus penyebabnya juga lain, soalnya. Jadi jangan heran kalau sudah imunisasi influenza tapi masih terkena batuk pilek juga.

Bisa dipahami bahwa gejala batpil maupun flu ini bikin tidak nyaman, bahkan sampai pada taraf mengganggu. Saya pernah membaca bahwa beberapa dokter meresepkan obat-obatan pereda gejala dengan tujuan agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu. Kalau tulang punggung keluarga sampai tidak bisa bekerja karena batpil yang menyiksa atau gara-gara kelelahan menunggui anak yang sakit batpil, tidak ada pemasukan untuk keluarga, kan? Namun saya cenderung mengikuti penjelasan (bukan pendapat pribadi ya, karena beliau-beliau ini menyertakan penelitian pendukung yang juga bukan ‘teori doang’) sejumlah dokter yang menyatakan bahwa obat-obatan pereda gejala seperti pereda batuk atau pemampet ingus itu sama saja dengan menyapu kotoran ke bawah karpet. Hasilnya adalah masking effect, tak terlihat padahal sesungguhnya masalahnya masih ada.

Dihindarinya penggunaan obat ini juga bukan berarti anti-obat, lho, ya. Kalau memang perlu obat, misalnya antibiotik karena infeksi bakteri berdasarkan diagnosis dokter, ya jangan jadi kalang kabut mencari alternatif ‘alami’-nya, misalnya dengan alasan “kasihan masih kecil sudah minum obat”. Pereda rasa tak nyaman yang sering digunakan sebagai obat demam (‘turun panas’) juga cukup aman dipakai kok, selama sesuai dengan ketentuan (cara menghitung dosis parasetamol misalnya, bisa dibaca di sini).

Bukan juga lantas langsung berpaling pada ‘herbal-herbal’. Yang alami tidak selalu identik dengan ‘aman’. Khasiat yang diunggulkan mestilah melalui uji ilmiah terlebih dahulu, benarkah ada efek membantu atau hanya kebetulan saja? Berapa banyak dosis yang tepat? Apakah ada efek sampingnya? Dan seterusnya.

Saya sendiri masih berusaha konsisten menerapkan prinsip pengobatan yang rasional ini, termasuk saat terkena batuk pilek. Jadi, kalau ada yang tanya di grup yang saya ikuti, obat apa yang aman untuk batuk pilek dengan status ibu menyusui, saya akan menjawab sesuai apa yang saya jalankan sejak hamil pertama: sedang hamil, menyusui, maupun tidak dalam kondisi hamil dan menyusui, saya biasanya berusaha minum lebih banyak, istirahat, juga melakukan tindakan pencegahan seperti cuci tangan dan pakai masker. Madu juga bisa membantu, tapi perhatikan usia penderita juga, ya, dan apakah ada alergi atau tidak terhadap kandungan madunya.

Menantang sih memang ya, apalagi kalau busui dengan bayi kecil atau justru yang sudah mulai menjelajah, bagi waktunya lumayan tricky. Boro-boro bisa istirahat. Siapa coba yang mau cuci pakaian yang sudah numpuk segunung itu? Makan apa anak-anak nanti? Jasa laundry atau pesan antar makanan belum tentu tersedia. Belum lagi kalau bicara soal biaya atau idealisme seperti merasa kurang bersih kalau orang lain yang mengerjakan, takut ada bahan-bahan tambahan yang tidak sehat dst. Nah, kalau sudah begini, mungkin ada baiknya minta bantuan suami, ya. Lebih baik lagi kalau soal manajemen rumah tangga dan penanganan penyakit yang umum ini sudah dibicarakan dengan suami sejak awal. Tapi kalau memang betul-betul sulit untuk istirahat, misalnya karena suami jauh, yah, yang penting sudah berusaha kan, ya :). Iringi dengan doa, semoga Allah segera angkat penyakitnya dan pelihara selalu kesehatan keluarga kita.

Oh ya, terkadang gejala penyakit karena virus seperti batpil dan flu ini juga rancu dengan gejala alergi. Perbedaannya bisa dibaca antara lain di sini.

Tambahan beberapa kutipan dari status dr. Arifianto, Sp.A., penulis buku “Orangtua Cermat, Anak Sehat”, “Pro-Kontra Imunisasi”, dan “Berteman dengan Demam”:

Arifianto Apin
12 December 2014 at 09:15 ·
“Dok, anak saya sudah 2 bulan batuk. Saya sudah membawanya ke 2 dokter anak, diberi puyer racikan, sirup antibiotik, dan diuap. Tapi kok masih belum sembuh juga?”
“Katanya batuk yang lama dan tidak diobati bisa jadi flek ya?”
“Anak saya keluar cairan dari telinganya. Saya ditegur. Katanya gara-gara saya tidak mengobati batuk-pilek anak saya.”
“Anak saya muntah tiap habis batuk. Saya tidak tega melihatnya. Apakah tidak ada obat untuk mengatasi hal ini?”
Tidak bisa dipungkiri, batuk adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seorang anak. Keluhan ini juga yang membuat orangtua sering membawa anaknya ke dokter. Apa yang seharusnya dilakukan?
Sebelum kita membahas berbagai jenis batuk pada anak, pahamilah dulu bahwa BATUK bukanlah PENYAKIT. Batuk adalah gejala yang diciptakan oleh tubuh untuk mengeluarkan benda asing berupa virus/bakteri/debu dalam lendir/dahak dari dalam tubuh. Apa artinya? Ya, batuk adalah bagian dari sistem PERTAHANAN tubuh kita.
Lalu pahami juga bahwa obat-obatan yang ditujukan untuk meredakan batuk pada anak ternyata tidak terbukti efektif! Bahkan cenderung memiliki efek samping. Apa obat batuk paling manjur? Banyak minum jawabannya.
Apa penyebab tersering batuk pada anak?
Anda memiliki dua orang balita. Minggu lalu si sulung pulang sekolah membawa oleh-oleh batuk. Pekan ini si bungsu mulai batuk juga. Tidak berhenti di sini, Anda pun mulai merasakan tidak nyaman di tenggorokan. Apa penyebab batuk ping-pong yang hampir tiap bulan dialami anak-anak ini? Tidak lain dan tidak bukan: infeksi VIRUS yang akan SEMBUH SENDIRI seiring waktu. Ya. Infeksi virus jelas sama sekali tidak membutuhkan antibiotik.
Lalu bagaimana mengobatinya?
Bersambung insya Allah…

Arifianto Apin

15 December 2014 at 19:55 ·

Bismillah. Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai batuk pada anak. Jika dibuat daftar, berikut adalah penyebab batuk pada anak:

1. Selesma/common cold (rinovirus, adenovirus, RSV, dll)
2. Flu (virus influenza)
3. Alergi
4. Asma
5. Post-viral cough
6. Aspirasi benda asing
7. Pneumonia (virus/bakteri/jamur)
8. Bronkiolitis (RSV)
9. Pertusis (bakteri)
10. Croup
11. Tuberkulosis/TB (bakteri)
12. Psikogenik/stres psikologis
13. Dan lain-lain

Saya tidak akan membahas semua itu, tapi yang sering terjadi saja.

Pertama, selesma. Ya ternyata penyebab tersering batuk pada anak adalah selesma yang MURNI disebabkan oleh infeksi virus. Ada sekitar lebih dari 100 jenis virus yang dapat menyebabkan selesma. Sayangnya: selesma tidak ada obat anti-virus-nya. Ya, tidak ada satupun obat yang efektif dapat menyembuhkan selesma, padahal ini adalah penyebab tersering batuk pada anak. Kabar baiknya adalah: penyakit ini ringan dan sembuh sendiri seiring daya tahan tubuh (waktu).

Dulu pernah diusahakan menciptakan suatu vaksin yang dapat mencegah penyakit ini. Sayangnya tidak berhasil. Apa sebabnya? Terlalu banyak virus yang dapat menyebabkan common cold, dan uji klinisnya selalu gagal.

Apakah vaksin flu yang masuk dalam jadwal rutin imunisasi pada anak dapat membantu mengurangi terjadinya selesma? Ternyata tidak. Ya, jelas saja, vaksin flu membantu mencegah sakit influenza (penyebabnya HANYA VIRUS influenza saja) berat yang bisa menjadi pneumonia, tapi tidak mencegah selesma, karena virusnya beda.

Apakah obat-obatan pereda gejala seperti antitusif (penekan refleks batuk) dan pengencer dahak (mukolitik) dapat membantu meredakan gejala? Silakan baca tulisan terdahulu saya tentang batuk-pilek.

Sampai kapan selesma dapat berlangsung? Kalau sudah batuk dan pilek lebih dari seminggu, bukankah harus ke dokter?
Ya, umumnya selesma sembuh sendiri dalam 1-2 minggu. Dengan syarat: TIDAK ADA orang lain di sekitarnya yang sakit selesma juga. Masalahnya adalah, pada kebanyakan kasus tidak seperti ini. Ambil contoh, anak kita yang berusia 4 tahun mendapatkan selesma dari kawannya di sekolah. Tidak lama kemudian, adiknya yang berumur 2 tahun tertular juga. Si kakak sudah hilang demamnya dan mulai mereda batuk-pileknya, eh si adik mulai mengalami demam. Lusanya si ayah dan ibu yang ikutan selesma. Satu rumah sakit selesma! Ketika si kakak seharusnya sudah sembuh, jadi berkepanjangan karena virus dari adik dan ayah-ibu kembali menyerang dirinya. Batuk pun berkepanjangan menjadi 2-3 minggu, bahkan 1 bulan. Kedua orangtua sudah bolak-balik ke dokter dengan sekian obat yang saya ceritakan di awal kisah 3 hari yang lalu. Tapi kok tidak sembuh juga? Jelas saja, virusnya masih ada dan berputar-putar di rumah. Antibiotik yang diberikan tidak mempan, karena yang seharusnya dibunuh adalah virus, bukan bakteri. Malahan anak mendapatkan antibiotik yang seharusnya tidak ia dapatkan. Inhalasi alias terapi uap yang isinya obat asma pun tidak manjur, karena memang si anak tidak sakit asma.

Lalu apa obatnya? Sabar. Ini obatnya.

Benarkah bila batuk yang berkepanjangan ini bisa jadi pneumonia? Atau “flek” paru?

Bersambung…

17 December 2014 at 19:49 ·

Mari kita bahas sedikit lanjutan pertanyaan tentang batuk di status 2 hari yang lalu.

Apakah selesma alias batuk pilek infeksi saluran napas akut atas akibat infeksi virus yang tidak diobati dapat berlanjut menjadi pneumonia?

Kita kenali dulu, apa itu pneumonia? Yaitu peradangan di jaringan paru-paru, tepatnya di alveoli (kantong-kantong udara kecil tempat bertukarnya gas oksigen masuk ke pembuluh darah), sehingga alveoli terisi cairan.
(Anyway, mungkin ini asal muasal istilah paru-paru basah. Padahal paru-paru kering enak dimakan rasanya).
Akibatnya pertukaran oksigen terganggu dan anak mengalami sesak napas. Ya, jadi beberapa kesimpulan:
– Selesma adalah ISPA atas, dan pneumonia adalah ISPA bawah
– Gejala pneumonia adalah sesak napas. Terlihat dari tarikan dalam di sela-sela iga, napas cepat, dan napas cuping hidung. Kondisi ini tidak dijumpai pada selesma/common cold

Pneumonia memang berawal dari ISPA atas. Anak mengalami selesma terlebih dahulu. Dalam 1-2 hari atau bisa juga lebih dari 1 minggu kemudian, anak mengalami sesak napas. Saat inilah anak dicurigai terkena pneumonia.

Jadi…selesma memang bisa berlanjut menjadi pneumonia. Tapi tidak semua selesma akan menjadi pneumonia. Dan ini tidak ada hubungannya dengan “diobati” atau tidak. (Lagipula apa obatnya selesma yang merupakan infeksi virus yang sembuh sendiri?)
Selesma yang berlangsung berminggu-minggu bisa saja tidak akan pernah menjadi pneumonia. Dan selesma yang berlangsung 1-2 hari bisa saja menjadi pneumonia.

Kesimpulannya: kenali gejala pneumonia. Kalau jelas selesma ya ditangani sebagai selesma. Kalau diagnosisnya pneumonia ya diobati sebagai pneumonia.

Badan kesehatan dunia alias WHO memang menganjurkan pemberian antibiotik pada pneumonia, meskipun tidak semua penyebab pneumonia adalah infeksi bakteri. Tetapi karena pada kondisi fasilitas kesehatan terbatas sulit membedakan pneumonia virus dengan bakteri, dan angka kematian akibat pneumonia cukup tinggi, maka pemberian antibiotik dibenarkan.

 

One thought on “Batuk Pilek dan Influenza, Serupa tapi Tak Sama

  1. Pingback: Anak Batuk Pilek, Imunisasi Jalan Terus | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s