Blogger Muslimah, Antara Hamasah dan Iffah

Hari ini, 27 Oktober, diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Rangkaian tantangan One Day One Post Blogger Muslimah belum tuntas sebulan saya ikuti, tapi izinkan saya mengucapkan terima kasih untuk komunitas Blogger Muslimah khususnya pendiri dan admin yang sudah memberikan semangat dan motivasi. Sebelumnya, tak terbayangkan bagi saya untuk mengisi blog ini setiap hari. Bahkan di masa-masa rajin nge-blog di Multiply dahulu kala, seingat saya belum pernah terjadi saya bisa posting sampai lebih dari lima belas hari berturut-turut begini.

Ya, kadang yang dibutuhkan ‘hanya’ suntikan semangat, termasuk dari pihak luar. Niat saja belumlah memadai. Harus ada dorongan lebih untuk mewujudkan niat itu. Sebab kalau tidak, maka rintangan seperti keterbatasan waktu dan sarana akan selalu menjadi alasan. Tentu, sebagai hamba, pribadi, anak, istri, ibu, pegawai, pengusaha, pekerja paruh waktu, atau apa pun peran kita di dunia ini, ada hal-hal yang seringkali memang patut mendapat perhatian lebih atau dijadikan prioritas. Boro-boro sempat mencatat ide-ide untuk nanti dituangkan di blog. Di saat seperti itulah, tuduhan ‘cari-cari pembenaran’ yang disematkan atas blog yang mulai lumutan atau dihiasi sarang laba-laba jadi terasa tidak pas. Kenyataannya, kita semua punya kondisi masing-masing yang tidak bisa disamaratakan, kan? Jadi bukan bermaksud menjadikan anak, suami, atau pekerjaan sebagai tameng saat frekuensi menulis kita dipertanyakan, tetapi memang ada masanya kita perlu fokus ke urusan selain meng-update blog.

Namun di sisi lain, niat yang baik dan benar tetap memegang peranan penting. Niat awal yang tepat akan membantu melawan rasa malas, menolong menepis godaan-godaan seperti stalking akun gosip atau mengintip e-commerce yang diam-diam melenakan. Hal-hal yang sepertinya remeh begini, ternyata bisa sangat menyita waktu kita, kan? Pada kondisi seperti inilah, tidak layak kita berlindung di balik kehadiran orang-orang tersayang di sekeliling atau tumpukan tugas sebagai alasan. Justru kita yang harus mawas diri jika ternyata banyak waktu terbuang untuk hal-hal sepele, alih-alih mengasah keterampilan di bidang menulis yang kita akui sebagai hobi.

Lalu, seperti apa niat yang benar itu? Kembali ke prinsip kita masing-masing, tentunya. Sebagai muslimah, kita tentu yakin bahwa niat juga menentukan nilai dari aktivitas kita. Meluruskan niat menjadi hal yang wajib. Hendak berbagi ilmu, mau menceritakan pengalaman yang bisa menjadi pelajaran bagi orang lain, ingin berlatih menulis, atau bermaksud menjadi duta penerus kabar kebaikan, adalah sebagian contoh niat blogging yang bisa dijadikan pijakan.

Langkah selanjutnya adalah eksekusi. Lagi-lagi, sebagai muslimah, sebenarnya sudah tersedia rambu-rambu untuk kita. Bukan sekadar batasan yang membuat tak leluasa bergerak, melainkan panduan agar kita juga tak tersesat. Ya, dunia maya ini bak hutan belantara yang amat luas dan rumit. Salah-salah, kita yang ‘raib’ di antara pepohonan, entah hilang identitas diri ataupun lenyap diterkam predator.

Jelaslah, hamasah saja tidak cukup. Hamasah bisa diartikan sebagai semangat atau keberanian. Seringkali untuk menggantikan kata ‘semangat’ ini digunakan istilah ghirah, tetapi ghirah lebih cenderung mewakili kecintaan berkobar nan menghadirkan kecemburuan. Dengan hamasah, kita bisa terdorong untuk terus maju pantang mundur mempublikasikan tulisan demi tulisan. Kita dapat menaklukkan rasa enggan yang mendera. Namun, hamasah tanpa kehadiran penyertanya akan membuat kita rawan kehilangan arah.

Baca juga: Penjelasan ustadz Akmal Sjafril tentang hamasah dan ghirah

Salah satu penyerta yang perlu kita ingat adalah iffah. Apa itu iffah? Secara bahasa, “‘iffah” adalah ‘menahan’. Secara istilah, artinya ‘menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan’. Inilah yang berperan menjaga identitas diri kita sebagai muslimah. Ketika menulis, atas izin Allah swt, iffah akan menghentikan kita dari meneruskan berita hoax. Iffah akan membentengi kita dari rayuan sponsored post yang kurang sesuai dengan syariat Islam. Iffah bakal membuat kita berpikir ulang sebelum mengulas sesuatu. Iffah akan membunyikan alarm bila kita masih ‘ngasal’ tanpa kroscek atau tabayyun dalam menulis.


Sudah barang tentu kita bukan manusia sempurna. Perjalanan kita tidak selalu mulus, iman kita pun acapkali naik turun. Akan tetapi setidaknya dengan upaya memadukan hamasah dan iffah, kita bisa meneguhkan posisi diri di belantara digital: saya blogger muslimah, saya punya hamasah dan iffah. Dan, komunitas seperti Blogger Muslimah amat bermanfaat sebagai sarana untuk saling mengingatkan kembali esensi nge-blog bagi para muslimah.

Selamat Hari Blogger Nasional!

Sumber bacaan:

https://muslimah.or.id/2336-kehormatanmu-wahai-saudariku-1.html

http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t125/e790

#ODOPOKT24

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

Foto: dari facebook Blogger Muslimah

2 thoughts on “Blogger Muslimah, Antara Hamasah dan Iffah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s