Mengulik Fitrah Jasmani bersama dr. Piprim

Kemarin (26/11), saya ikut menyimak materi dalam kajian bulanan Majelis Dhuha Keluarga. Kami belum bisa rutin memang ikutan kajian yang tiap bulannya berfokus pada aspek yang berbeda-beda ini, padahal selalu ada ilmu baru yang bisa diserap dan diterapkan pada keluarga. Kali ini yang diangkat adalah Fitrah Jasmani, dengan narasumber dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A.(K), dokter spesialis jantung anak yang juga Ketua Bidang Organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pusat dan pendiri Rumah Vaksinasi. Beliau cukup terkenal juga aktif mengedukasi tentang kesehatan di dunia maya.

Disampaikan oleh dr. Piprim, yang membedakan anak dengan orang dewasa adalah adanya konsep pertumbuhan dan perkembangan. Tumbuh adalah bertambah besarnya ukuran atau bertambahnya jumlah sel-sel tubuh, sedangkan berkembang adalah peningkatan kualitatif dari sel-sel tubuh itu.

 

Materi yang disampaikan oleh dr. Piprim banyak yang dinukil dari Buku Membumikan Harapan: Keluarga Islam Idaman tulisan Syaikh Abu Al Hamid Rabee’, ditambah dengan berbagi pengalaman beliau sebagai suami, ayah, maupun dokter anak. Seperti disebutkan oleh dr. Piprim, dalam konsep tumbuh kembang anak dikenal konsep asuh, asih, asah (stimulasi) agar tumbuh kembangnya optimal. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Tarbiyah jasadiyah yang bisa kita berikan untuk anak-anak kita untuk menjaga dan mengembangkan fitrah jasmaninya adalah:

1. Ketika anak-anak masih pada masa menyusui, khususnya ASI eksklusif. Selain memberi nutrisi juga memberikan kasih sayang dan bonding, termasuk memberikan stimulasi. Ibu mengondisikan agar bayi aman dan nyaman. Hasilnya, bayi juga terhindar dari

berbagai penyakit menular. Kawal juga tumbuh kembangnya dengan memberikan imunisasi.

2. Masa MPASI, hati-hati dengan kurang gizi, anemia karena pola MPASI yang tidak benar. Food combining jangan kebablasan diterapkan pada MPASI, buah sayur melulu, padahal bayi dan anak butuh lemak, protein, karbohidrat. Proses memberi makanan juga merupakan tarbiyah tersendiri, buat suasananya enjoy dan menyenangkan. Jauhkan kerisauan pada tb dan bb anak. Hindari membandingkan berat badan anak hanya dengan anak tetangga hingga menargetkan makanan masuk dengan cara-cara paksaan. Biasakan pakai panduan growth chart yang sudah dirancang untuk memantau pertumbuhan anak. Kasih waktu setengah jam untuk makan, makan sama-sama dengan orangtua. Makan jangan sambil jalan-jalan atau bermain, ingat adab makan. Mainnya ya nanti, setelah makan, sekaligus untuk membuat anak lapar pada jadwal makan berikutnya. Manfaatkan rasa lapar anak. Kalau pukul 7 sarapan nggak habis, jangan dikasih cemilan kecuali air putih, nanti pukul 10 siapkan snack yang bergizi, dst. Kreasikan tampilan makanan untuk menambah selera. Tidak ada yang namanya vitamin penambah nafsu makan.

3. Perhatikan pertumbuhan gigi anak, biasakan kunjungan ke dokter gigi sejak dini meski giginya baru sedikit. Atau minimal, orangtua belajar mengenai perawatan gigi yang baik dan benar dari bacaan. Misalnya, kapan mulai dikenalkan dengan pasta gigi, ini seharusnya digunakan ketika anak sudah bisa berkumur (usia keterampilan ini beda-beda).

4. Jadwalkan tidur anak dengan baik. Beri teladan pada anak. Sunnah Rasulullah kan tidur di awal waktu, ya. Pakai lampu tidur untuk mengoptimalkan mengistirahatkan sel-sel tubuh. Tidur yang baik sangat membantu pertumbuhan anak, termasuk otaknya. Mulai biasakan anak tidur sendiri/terpisah, bisa ditemani dulu di awal waktu, dibacakan buku atau didongengi, jangan berikan gadget sebagai pengantar tidur. Buat kenangan indah sebelum tidur, misalnya dongeng yang happy, agar anak tidur dalam keadaan bahagia.

5. Biasakan memberi pujian kepada anak bahkan sejak bayi, terutama ketika ada prestasi/peningkatan keterampilannya.

6. Biarkan anak banyak bergerak, jangan selalu digendong hanya karena ibunya enggan mengikuti anak berlarian ke sana sini. Ini bagus bukan hanya untuk perkembangan motorik anak, tetapi juga anak belajar mengamati sekitarnya, belajar mengenali berbagai situasi yang berbeda.

7. Tidak memaksa bayi untuk duduk atau berjalan sebelum waktunya. Makanya orangtua perlu belajar tentang milestone perkembangan anak yang tepat sesuai usianya. Jangan karena menuruti keinginan orangtua lalu anak yang belum siap dipaksa. Di sisi lain, jangan pula terlalu cuek atau mengingkari ketika sudah ada tanda keterlambatan perkembangan anak untuk usianya.

8. Perhatikan nutrisi untuk anak. Waspadai anemia defisiensi besi pada anak-anak. IDAI menganjurkan suplementasi zat besi pada bayi 6 bulan ke atas, khususnya pada bayi ASI eksklusif, apalagi yang ibunya anemia. Kecuali kalau dalam MPASI bisa rutin diberikan hati ayam atau daging merah dalam jumlah yang cukup (ini juga kadang anak tidak mau karena amis kan) untuk mengejar zat besinya, maka bisa tanpa suplemen.

9. Perhatikan kesehatan anak. Ciri anak sehat sebetulnya sederhana, yang penting aktif, menyusunya kuat, dan beratnya naik bagus, gejala yang tidak signifikan sebetulnya tidak terlalu perlu dirisaukan. Kontrol berkala ke dokter bisa membantu memantau tumbuh kembang anak tetap pada track.

10. Jaga keamanan lingkungan sekitar bayi, utamakan keselamatan, jauhkan hal-hal berbahaya seperti air panas, taplak menjuntai, colokan listrik (bisa diberi pengaman) dst. Ini sebenarnya bisa dicegah dengan keilmuan dan usaha.

11. Tingkatkan kekebalan tubuh, secara umum bisa didapatkan dengan nutrisi yang baik, tetapi untuk yang spesifik untuk penyakit yang berbahaya tidak cukup hanya itu, maka dari itu berikan imunisasi.

12. Cegah penyakit menular, misalnya dengan memisahkan alat makan/minum.

13. Bacakan doa perlindungan untuk anak.

Dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan untuk al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, ”Sesungguhnya bapak (nenek moyang) kalian berdua, Ibrahim, memohon perlindungan (kepada Allah) untuk kedua anaknya, Isma’il dan Ishaq, beliau berkata:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

A’udzu bikalimatillahit-taammaati min kulli syaithoonin wa haammatin wa min kulli ‘ainil-laammah

‘Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan syaitan, binatang berbisa dan setiap mata orang yang dengki.’”

(HR.Al Bukhari [Fat-hul Baari VI/408.no.3371]) (copas dari wanitashalihah).

14. Jangan panik ketika anak sakit. Pahami tanda bahaya atau kegawatan kapan anak harus ke dokter. Demam misalnya, kalau baru sehari, dibawa ke dokter pun dokternya juga biasanya belum tahu pasti penyebab demamnya. Apalagi demam bukanlah musuh, ia adalah reaksi tubuh atas sesuatu yang terjadi untuk kebaikannya sendiri. Beri respon sesuai kebutuhan anak. Perluas juga wawasan kita, misalnya terkait tes widal (untuk tifoid) yang masih sering dimintakan padahal sebetulnya sudah tidak digunakan lagi. Jangan pula mengobati sendiri tanpa resep dokter, hati-hati resistensi obat.

15. Biasakan membacakan doa. Usahakan orangtua sendiri yang mengajarkan doa-doa sehari-hari pada anak.

16. Untuk anak-anak yang sudah lebih besar, jangan overprotektif. Kegiatan seperti berkemah, lomba olahraga bisa dikenalkan ke anak-anak.

17. Obesitas juga perlu diwaspadai, usahakan kalau mau konsumsi jajanan yang karbohidratnya kompleks.

18. Paparkan sinar matahari dan udara bebas ke anak.

17. Ajak anak berbagi, sekaligus untuk mengingatkan anak-anak bersyukur.

18. Perkenalkan dengan sunnah memotong kuku, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan tidak lebih dari 40 hari.

19. Waspada kecanduan televisi. Menurut American Academy of Pediatrics, maksimal screen time adalah 2 jam. Pengaruh buruk televisi antara lain menyusutkan kesempatan komunikasi keluarga (seolah bersama tapi sesungguhnya ada kegiatan masing-masing, berlaku juga untuk gadget) dan menghambat pertumbuhan moral. Televisi sama sekali tidak memenuhi kebutuhan dasar anak.

Apa saja yang dibutuhkan anak? Di antaranya meliputi:

a. Menghabiskan waktu bersama keluarga

b. Mengembangkan potensi untuk kemajuan diri, setiap anak punya kelebihan masing-masing. Fokuslah pada kelebihan anak. Dan tiap anak punya bakatnya masing-masing, jangan paksakan ke bidang yang ia tidak bakat dan minat. Tiap orang punya porsi dan perannya sendiri, ada yang cocok tampil di depan umum, ada juga yang lebih pas jadi seksi konsumsi. Fasilitas dengan kursus atau latihan yang sesuai dengan kelebihan anak.

c. Memperoleh pendidikan seperti membaca dan menulis.

20. Untuk anak remaja, pendekatannya mungkin sedikit berbeda. Dampingi dan jelaskan dengan baik, termasuk mengenai masalah hormonal yang terkesan sepele seperti munculnya jerawat.

Rekaman acara selengkapnya (disediakan oleh panitia) bisa disimak di sini:

https://drive.google.com/open?id=1f9vdoUxzBz2pYFXabFsPewzUiD21TsUM

https://drive.google.com/open?id=1Q8IxVKQNS_rRq5IO4sN1kaudt6B03i28

https://drive.google.com/open?id=1kuv5gUoMPgHMKmjL6fis_waGJ1Ak6MaU

Sekilas seolah materinya tidak langsung merujuk ke ‘panduan’ Fitrah Based Education, yang menjadi awal seri majelis ini diadakan. Namub, masih nyambung kok. Dokter Piprim tetap mengingatkan tentang fitrah anak secara fisik, dan bagaimana orangtua bisa beperan menjaganya secara tepat.

Adapun materi FBE yang ditulis oleh pak Harry Santosa sendiri selaku penggagas konsep tersebut sebagian saya kutip di sini:

Mendidik Fitrah Jasmani
Oleh: Harry Santosa

#fitrahjasmani #karakter #adab #aqilbaligh

Di dalam pendidikan olahraga sepakbola standar FIFA, dengan riset mahal dan serius, ternyata penggemblengan pemain professional dimulai sejak usia 10 tahun. Sebelum usia 10 tahun, pendidikan sepakbola melarang seorang anak berlatih teknik sepakbola yang rumit, “just playing soccer for fun“.

Namun sejak seorang anak ditemukan bakatnya di olahraga sepakbola pada usia 10 tahun, melalui Talent Scouting yang ketat, maka kemudian pendidikan sepakbola mengharuskan mereka untuk menjalani penggemblengan baik knowledge dan skill yang berat.

Jangan kira tidak ada pendidikan karakter dalam pendidikan sepakbola, justru latihan yang berat, konsisten, disiplin tinggi adalah bagian dari pembentukan karakter seperti: layak dipercaya atau jujur (trustworthiness), saling menghormati (respect), bertanggung jawab (responsibility), bersikap adil (fairness), merasa senasib dan peduli (caring).

Jangan kira cuma latihan fisik semata, ketahuilah bahwa seorang pemain sepakbola, dalam sebuah pertandingan, dalam situasi kritis, harus mengambil keputusan cepat dengan banyak pilihan dalam hitungan detik, lebih cepat dari seorang presiden sekalipun.

Bukan cuma teori, mereka digembleng di “lapangan nyata” yaitu wajib melakukan match (pertandingan) 36 kali setahun untuk U10 sampai U13, kemudian wajib melakukan match 48 kali setahun untuk U14 sampai menjadi Pro di U17 ke atas. Ini berarti dalam sepekan setidaknya 1 kali match, dan hanya dibutuhkan 6 tahun untuk menjadi seorang profesional berkarakter.

Apa hikmahnya? Sebagaimana pendidikan sepakbola menghaslkan pemain pro dalam waktu 6 atau 7 tahun sejak usia 10 tahun, seharusnya pendidikan profesional lainnya juga bisa. Jadi semestinya persiapan Pro bisa dimulai sejak ditemukan bakat seseorang di usia 10 tahun dan tidak ada pembebanan apa pun sebelum usia 10 tahun.

Lalu seorang Pro bisa dicapai di usia 15-17 tahun apabila serius dikembangkan dengan pemagangan real (dalam sepakbola berupa pertandingan) sejak ditemukan bakat di usia 10 tahun.

Jadi jika anak sudah diketahui berbakat dalam sebuah peran spesifik misalnya di bidang pertanian pada usia 10 tahun, semestinya sudah menjadi petani profesional di usia 15-17 tahun. Begitu pula jika anak sudah diketahui berbakat dalam sebuah peran spesifik di bidang kedokteran atau kesehatan, semestinya sudah menjadi tenaga medis profesional di usia 15-17 tahun. Dalam Islam Aqil Baligh secara umum ditetapkan pada usia 15 tahun, di mana seorang anak sudah setara dengan kedua orangtuanya dalam tanggung jawab syariah maupun kemandirian hidup.

Begitupula peran-peran lainnya seperti perdagangan, perikanan, creative industry dll termasuk jika anak diketahui berbakat dalam peran spesifik dalam ilmu agama, maka seharusnya sudah bisa menjadi ulama dalam bidang tertentu di usia 16-17 tahun dan itu semua cukup dimulai pada usia 10 tahun. Di bawah 10 tahun fokus saja pada antusias dan penumbuhan semua aspek fitrah dan adab/akhlak dasar.

Apakah mungkin usia 15-17 profesionalisme dan kemandirian tercapai? Lihatlah sepanjang peradaban manusia bahkan peradaban Islam, bertaburan para pemuda dengan peran peran spesifik peradaban di usia 15-19 tahun.

Sejarah mencatat Rasulullah SAw sudah mulai magang berdagang bersama pamannya sampai ke Syiria pada usia 11-12 tahun, sudah punya bisnis sendiri di usia 16-17 tahun. Seorang Sahabat muda, Usamah bin Zaid RA, dinikahkan Nabi SAW di usia 14-15 tahun, dan sudah ditunjuk menjadi panglima di usia 16-17 tahun. Tradisi ini dilanjutkan oleh pemuda pemuda pada generasi generasi selanjutnya.

Pantas saja di dalam Islam, usia 10 tahun menjadi tahapan yang penting. Kamar dipisah dan boleh dipukul jika meninggalkan sholat. Apa artinya? Sejak usia 10 tahun fitrah seksualitas dan fitrah keimanan harus tuntas, mengapa? Karena anak masuk ke fase serius usia 10-14 tahun yaitu pra aqilbaligh, di mana penggemblengan kemandirian, penggemblengan kemampuan memikul beban syariah dan pengembangan bakat dan akhlak sehingga menjadi peran peradaban spesifik berupa profesional di bidangnya dengan karakter yang mulia pada usia setidaknya 15-17 tahun.

Mengapa kerentanan dan kenakalan anak banyak terjadi di usia 12-19 tahun? Karena energi anak anak pemuda kita tidak diarahkan dan dikembangkan dengan serius. Pengembangan bakat yang konsisten dan keras sesungguhnya juga menghebatkan karakter seseorang.

 

 

2 thoughts on “Mengulik Fitrah Jasmani bersama dr. Piprim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s