“Silent Disease” dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Anak

Waktu Fathia bayi dulu alias sekitar 9 tahun yang lalu, saya aktif di beberapa komunitas ASI di Facebook, bahkan sempat bantu-bantu menjadi salah satu adminnya. Namanya ibu-ibu yang punya bayi, selain soal ASI sesuai judul grupnya, yang biasa menjadi topik perbincangan hangat sehari-hari adalah soal tumbuh kembang anak. Terutama soal kenaikan berat badan bayi yang dianggap seret, baik itu penilaian lewat pengamatan mata sendiri, perbandingan dengan anak tetangga atau sepupu yang seusia, pemantauan terhadap kurva pertumbuhan yang ada di buku KIA, atau sudah pernyataan dari dokter yang memeriksa langsung.

Pastinya akan selalu ada anggota grup yang bermaksud baik membesarkan hati si ibu yang bertanya atau curhat dengan menanggapi bahwa “Yang penting sehat, masih aktif dan ceria, kan?”, “Ngapain juga anak harus gendut-gendut”, atau “Anakku juga dulu gitu dan sampai besar sekarang baik-baik saja, kok”.

Namun, beberapa anggota grup lainnya akan mengingatkan juga bahwa kita tidak boleh terlena begitu saja sehingga mengabaikan kemungkinan bahwa pertumbuhan anak memang sedang menghadapi kendala. Bisa jadi perlu ada evaluasi bahkan intervensi segera. Di sinilah suka ada yang mengemukakan istilah “silent disease“. 

Saat itu, sepenangkapan saya “silent disease” ini diartikan sebagai penyakit tidak bergejala atau kalaupun ada amat ringan atau kurang jelas, tetapi ternyata berpengaruh besar terhadap pertumbuhan anak. Saya bubuhkan tanda petik karena ternyata istilah ini mengandung kerancuan, yang nanti akan  saya jelaskan lebih lanjut. Yang biasa disebutkan sebagai contoh “silent disease” ini adalah Anemia Defisiensi Besi (ADB) dan Infeksi Saluran Kemih (ISK).

Beberapa blog yang saya baca pada waktu itu memuat cerita para ibu yang diminta oleh dokternya memeriksakan darah dan/atau urin bayinya untuk menegaskan ada tidaknya “silent disease” ini. Salah satunya bisa dibaca di sini. Tes seperti ini akhirnya bahkan kadang tidak dilakukan atas saran dokter secara langsung, melainkan karena rekomendasi atau cerita ibu-ibu lain yang sudah mengalami.

Ada yang tetap melalui jalur dokter dengan cara menanyakan apakah perlu tes untuk menyingkirkan kemungkinan ISK atau ADB ini, atau meminta rujukan secara eksplisit. Ada juga yang langsung ke lab berbekal rekomendasi ibu-ibu atau dokter di grup yang menyertakan apa saja yang perlu dites. Saya sendiri terus terang juga pernah menyarankan hal serupa. Fathia pun pernah dirujuk dokternya untuk menjalani kedua pemeriksaan tersebut sebelum usianya genap satu tahun.

Dampak dari “Silent Disease

Konon, “silent disease” dengan definisi di atas bisa membuat pertumbuhan anak terhambat, meski sekilas tampak segar dan aktif-aktif saja. Beberapa anggota grup juga menyatakan memang sudah membuktikan bahwa bayinya setelah dites ternyata memang mengalaminya.

Biasanya, tes urin disarankan untuk menjadi langkah pertama karena sifatnya yang tidak se-invasif tes darah. Namun, mengambil sampel urin bayi yang sedang aktif-aktifnya biasanya juga menantang, belum lagi memastikan caranya benar sehingga sampel yang terambil layak untuk diperiksa. Adapun untuk tes darah, perlu “ketegaran” juga karena yang diambil bisa sekitar empat ampul lebih.

Memang, biaya pemeriksaan untuk memastikan “silent disease” ini juga tidak sedikit.  Dulu, seorang teman kantor yang mengkhawatirkan pertumbuhan anaknya kemudian menghubungi dokter di Jakarta dan disarankan melaksanakan tes untuk “silent disease” ini, khususnya untuk ADB. Tahun 2011-an itu, laboratorium di kota tempat kami bertugas di Pulau Bangka belum bisa melakukan tes tersebut.

Akhirnya teman saya mendatangi lab setempat kemudian sampel darah yang diambil akan dikirimkan ke Jakarta dulu, ke lab lain yang bekerja sama. Tentu biayanya berkali-kali lipat. Namun, pengeluaran ini terbayar lewat diagnosis yang jadi bisa ditegakkan, dan diikuti dengan penanganan yang sesuai, dalam hal ini suplementasi zat besi dosis terapi.

Beranjak ke sewindu kemudian, ternyata diskusi hangat soal “silent disease” ini kembali mengemuka. Kali ini, justru datang dari para dokter yang gemas karena “silent disease” seolah menjadi kambing hitam.

Salah satu tulisan yang cukup gamblang memuat keprihatinan ini ditulis oleh dr. Purnamawati, Sp.A.(K), MM.Ped. di website Milis Sehat YOP tahun 2019. Ada pula dokter yang mengedukasi netizen soal salah kaprah ini lewat akun media sosialnya.

Pada masa pandemi ini, saya sudah mengikuti lebih dari satu kulwap yang membahas topik “silent disease“, mayoritas diisi oleh dr. Arifianto “Apin”, Sp.A. (K). Dokter Apin juga merupakan salah satu dokter yang sejak dulu aktif di Milis Sehat, dan sudah saya follow blog-nya bahkan sebelum saya punya anak. 

Karena beliau aktif mengedukasi dan selalu menyertakan landasan ilmiah, maka untuk blog ini saya akan mengutip beberapa pernyataan beliau sebagai rujukan. Jika memang dirasa perlu, bisa telusuri sendiri lebih lanjut ke sumber aslinya, ya, seperti juga yang sering beliau kampanyekan. Jadi, kita memahami sesuatu bukan karena kata dokter ini atau menurut dokter itu, melainkan karena memang ada dasarnya yang jelas.

Namun, memang untuk orang awam seperti kita, adanya konten edukasi begini sangat mempermudah untuk mengerti banyak hal dalam waktu yang relatif lebih singkat, untuk kemudian dieksplorasi lebih lanjut jika perlu (yang sayangnya kadang terlewatkan karena keterbatasan waktu luang kita). Kali ini yang saya angkat di blog lebih berfokus ke ISK dulu sesuai dengan materi yang beliau berikan.

Karena Anak Sehat Itu Harus Tumbuh

Jadi, Dokter Apin menjelaskan bahwa pada prinsipnya, anak harus tumbuh normal dengan berpedoman pada kurva pertumbuhan atau growth chart. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular. Sifatnya kuantitatif, yaitu dapat diukur dengan menggunakan satuan panjang, berat, dan ukuran kepala.

Banyaknya aktivitas anak tidak boleh dijadikan alasan pembenaran ketika berat badannya bermasalah. Saat ini konsep Kenaikan Berat Minimal (KBM) per periode (pada bayi biasanya per bulan) — yang biasa tercantum di bagian bawah kurva dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) — seperti dikatakan oleh dr. Apin sudah tidak relevan lagi. Idealnya, kita gunakan kurva pertumbuhan dari WHO yang sudah dirancang sesuai kebutuhan.

Ada berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala sesuai umur, ada yang menyandingkan berat badan dengan tinggi badan, juga ada perbedaan kurva antara anak laki-laki dan anak perempuan. Ada yang menggunakan persentil, ada pula z-score.

Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) resmi dari Kemenkes RI sejak versi terdahulu beberapa tahun yang lalu sudah mengadopsi pula kurva dari WHO ini (buku KIA Kemenkes versi terbaru tahun 2020 bisa diunduh di sini). Lebih praktisnya, bisa menggunakan aplikasi Primaku yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Jika kenaikan berat badan anak tidak sesuai dengan kurva, maka ini bisa menjadi salah satu tanda growth faltering. Berat badan yang tetap apalagi turun tentunya akan membuat grafik anak “melenceng” dari kurva yang tertera. Jika kecepatan tumbuh anak terus menrun, maka garis pertumbuhannya bisa memotong dua garis persentil pertumbuhan di bawahnya, dan inilah yang disebut dengan failure to thrive atau gagal tumbuh.

Adapun stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Ini akan tampak dalam kurva z-score anak yang berada pada titik kurang dari -2 SD. Perawakan pendek belum tentu stunting, bisa jadi karena adanya faktor keturunan atau genetik. Dokter Apin menegaskan bahwa stunting selalu dimulai dengan weight faltering.

Lalu, bagaimana dengan “silent disease” tadi? Yang jadi masalah adalah ketika kata “silent” ini diartikan sebagai tidak bergejala sama sekali. ISK, contohnya, umumnya tetap akan diiringi dengan demam (di atas 38,5 derajat celcius) tanpa disertai gejala lain yang jelas (misalnya batuk atau pilek). Gejala lainnya adalah nafsu makan yang berkurang, bahkan bayi mengalami muntah-muntah.

Ya, berat badan anak tidak naik itu pun termasuk sebagai gejala. Sehingga jika BB seret sampai terjadi, tentu tidak pas lagi dilabeli sebagai “silent, karena ada kan gejalanya.

Memang ada juga kondisi bakteriuria asimtomatik, di mana jumlah kumannya banyak sekali tetapi tidak mencetuskan peradangan/inflamasi yang menimbulkan gejala. Kalau sudah begini, kata Dokter Apin, jika pun tidak muncul gejala, hal ini bukan karena sistem imun anak yang kuat, melainkan karena memang sifat bakterinya sendiri.

Pembuktian ISK yaitu dengan hasil tes urin yang menunjukkan bahwa leukosit tinggi (sebagai penanda sel darah putih yang meningkat pada infeksi) pada urin rutin dan jumlah e coli lebih dari 100.000 pada kultur urin (untuk satu bakteri, sedangkan jika koloni maka lebih dari 10.000 plus anak bergejala).

Jika leukocyte esterase dan nitrit (senyawa yang dihasilkan oleh sebagian bakteri penyebab ISK) negatif, atau tidak ada sel darah putih maupun bakteri pada pemeriksaan mikroskopis dari sampel urin yang diambil secara tepat, ISK hampir dapat dipastikan bukanlah penyebab demam dan karena itu urin tidak perlu dikultur.

Tentu jika memang anak mendapatkan diagnosis ISK berdasarkan pemeriksaan, mengingat ini merupakan infeksi bakteri, maka harus diobati dengan antibiotik. Jangan jadi takut memberikan antibiotik ke anak dengan alasan kasihan padahal diperlukan, sebab jika tidak ditangani dikhawatirkan infeksinya bisa menuju ke ginjal dan bisa menimbulkan gagal ginjal di kemudian hari.

Kalau memang ada keraguan, orang tua berhak mencari second opinion ke dokter lain, alih-alih mengambil keputusan sendiri untuk menghentikan atau mengurangi pengobatan, atau malah berbelok ke penanganan lain yang belum jelas kebenarannya.

Sebelum Curiga “Silent Disease” …

Pada intinya, boleh saja bayi yang nafsu makannya menurun dan pertumbuhannya terganggu kemudian dicurigai mengalami ISK, tetapi gejala lainnya tetap harus dipertimbangkan.

Yang harus pertama-tama dicek adalah penerapan feeding rules, karena bisa saja masalah pertumbuhan bahkan gagal tumbuh ini disebabkan oleh jumlah nutrisi yang masuk tidak mencukupi. Feeding tidak sama dengan eating, karena feeding melibatkan interaksi dengan orang yang memberikan makanan kepada anak.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah: sudahkah kualitas makanan lengkap dan seimbang serta kuantitasnya cukup? Sudahkah keamanannya, misalnya dari sisi higienitas, diperhatikan? Protein hewani sifatnya wajib, di samping karbohidrat yang cukup. Rekomendasi pemberian makanan pada bayi dan batita yang dikeluarkan oleh UKK Nutrisi IDAI bisa menjadi pedoman (bisa diunduh di sini).

Khususnya pada bayi, masalah kurangnya nutrisi atau kalori bisa pula terjadi karena adanya masalah menyusui, penyajian susu formula (jika memakai) tidak tepat, adanya Gastroesophageal Reflux (GER, naiknya kembali makanan dari lambung ke kerongkongan), kurangnya ketersediaan makanan. Bahkan, depresi yang dialami oleh orang yang merawat/mengasuh bayi (ibu, ayah, nenek, kakek, pengasuh, atau orang lainnya) bisa pula berpengaruh, lho, pada kecukupan nutrisi bayi.

Bagaimana jika asupan sebenarnya sudah cukup? Masih ada kemungkinan lain yaitu absorpsi kalori kurang, misalnya karena alergi makanan ataupun juga malabsorpsi. Atau, anak kehilangan kalori berlebih gara-gara penyakit tiroid, imunodefisiensi, penyakit paru kronis, penyakit jantung bawaan/gagal jantung, maupun keganasan.

Jelas, ya, bahwa pantauan terhadap kurva pertumbuhan anak sangat penting. Melalui hasil pantauan ini, orang tua bisa segera bergerak jika terdapat tanda-tanda bahwa pertumbuhan anak tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Sebagai tindakan awal, pahami betul soal prinsip pemberian makanan anak, dan evaluasi kecukupan nutrisinya. Jangan buru-buru “loncat” ke tes ini itu, meskipun kita pasti tidak keberatan mengeluarkan biaya demi anak, dan inginnya segera ada penyebab jelas yang diketahui untuk kemudian cepat-cepat ditindaklanjuti. Segera konsultasikan ke dokter jika memang ada kecurigaan penyakit, termasuk TB, ADB, dan ISK.

#Writober2021
#RBMIPJakarta
#Tumbuh
 

Sumber: beberapa kulwap dengan dr. Arifianto “Apin”, Sp.A. (K).

Sumber gambar: freepik

14 thoughts on ““Silent Disease” dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Anak

  1. Kalau ngomongin tumbuh kembang anak ini kayak nggak ada habisnya ya kak… Banyak banget hal yang harus kita perhatikan, mana muncul banyak istilah² baru ada stunting dan ini juga silent disease.

    Anak saya nih yang termasuk dalam kategori kurus, jadi saya pun kadang khawatir juga anak saya makan banyak tapi badan nggak gede 😁

  2. Ini ah kenapa kita sebagai orang tua harus benar-benar memonitor tumbuh kembang anak, ya. Karena silent disease ini sebenernya bisa ditanggulangi jika cepat diketahui

  3. Makin banyak belajar tentang parenting dan tumbuh kembang anak, aku makin bisa skeptis dengan komentar-komentar “Yang penting anaknya masih aktif, ceria” Helloo yang namanya silent disease itu kan memang tidak ketahuan 😀 Sebagai orangtua, kalau ada hal yang dikhawatirkan lebih baik langsung konsultasi ke dokter anak daripada tanya sana-sini.

  4. Kalau tentang anak aku paling panik nih, baru bergejala sedikit aja langsung berobat, tapi ya dari pada telat. Apalagi yang ga bergejala agak khawatir juga. Informatif banget nih.

  5. Serius juga ternyata dampaknya si “diam diam membahayakan” bagi anak ini ya…
    Senang kalau punya teman atau komunitas yang bisa saling mengingatkan. Sebaliknya saat dikasih saran atau masukan jangan langsung menolak tapi kita petakan juga sehingga jelas alur dan kenyataannya. Terimakasih ilmunya Mbak Leila

  6. saya lagi worry banget dengan pertumbuhan anak keduaku yang menurut kurva sih gak sesuai antara umur dan BBnya saat ini padahal dia doyan makan, meski belakangan nafsu makan naik turun 😦
    mana dia emang beser, dikit-dikit pipis, dikit-dikit pipis, ada rasa khawatir juga mengenai ISK tapi untuk pergi tes emaknya ini belum punya nyali untuk mengetahui hasilnya nanti, hikss 😦

  7. Bener banget. Dulu waktu belum punya anak aku selalu bilang “gapapa yang penting aktif, kalo aktif pasti sehat”. Pas punya anak ternyata oh ternyata aktif pun masih bisa dibayangi sama “penyakit tersembunyi”

  8. Alhamdulillah dapat ilmu baru tentang “silent disease” ini.
    Baru tahu istilah silent disease ini, (sebelumnya tahunya, serangan jantung sebagai silent killer). Berarti monitoring BB pada Balita memegang peran penting untuk mengetahui tumbuh kembang anak ya.

  9. Jadi ingat dulu anakku pas bayi mba kena ISK, ya ampun sedihnya banget-banget, sampai dokter akhirnya merekomendasikan untuk di sunat pas masih bayi tuh, tega gak tega tapi yaa demi kesehatan sih, alhamdulillah sekarang anakku baik-baik nih

  10. Ini yang suka bikin aku deg-degan di anak kedua ku. Karena secara tinggi dan tumbuhnya masih kurang. Padahal anak harus tumbuh normal dengan berpedoman pada kurva pertumbuhan atau growth chart kan ya. Harus ke dokter sih ya untuk lebih pastinya.

  11. beneran dekdekan semoga anak-anak kita sehat semua dan terhindar dari silent diseases ini ya mba. aku pernah ikut seminar ttg stunting juga. ternyata mempersiapkan gizi itu sudah sejak remaja perempuan, jadi nnt gizi nya sesuai untuk mempersiapkan tubuhnya menjadi ibu.

  12. Aku baru tau tentang penyakit-penyakit pada anak-anak setelah punya anak, rasanya terlambat sih ya, harusnya sudah carai tau dulu sebelum punya anak. Tapi bersyukurnya, ketemu DSA yang oke banget buat jelasin semua masalah pada anak tanpa perlu ditanya. Jadi makin nambah pengetahuan banget ya semenjak jadi ibu hihiii,, makasih mbak sharingnya makin nambah ilmu lagi nih 🙂

  13. Aku masih harus banyak belajar nih tentang tumbuh kembang anak karena msh baru jadi ibu. Silent disease harus diwaspadai ya, tapi ga bole cepet panik juga biar ga salah penanganan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s