Ingin Yang Terbaik, Sudahkah Kita Dukung Anak Asah Potensinya?

Ketika membaca bahwa Teman Main akan menyelenggarakan Family Gathering tanggal 28 September untuk memperingati ulang tahunnya yang ketiga, saya segera mendaftarkan diri. Sebelumnya, kami sudah pernah ikut tiga field trip yang diselenggarakan @temanmainid. Lengkapnya #temanmain20 di Sudin Pemadam Kebakaran Jaktim, #temanmain21 di Taman Lebah Madu Cibubur, dan #temanmain24 di Museum Maritim. Anak-anak seseruan sambil tambah pengetahuan, orang tuanya pun ikutan (ya, banyak lho yang baru kami ketahui). Nah, saya baru tahu kalau ternyata Teman Main sudah 3 tahun usianya. Semoga makin banyak variasi kegiatannya di akhir pekan yaaa 😁 (curahan hati mamak pekerja).⁣⁣
   

Sedikit berbeda dengan sesi Teman Main biasanya, dalam family gathering yang diselenggarakan di tengah-tengah event ISeeFest di Kompleks Gelora Bung Karno Senayan ini ada sesi berbagi untuk para orang tua yang diisi oleh Ms Rosa, pendiri Montessori Haus Asia @montessorihausasia. Ms Rosa selaku praktisi Montessori memaparkan mengenai pendidikan anak usia dini (PAUD).

Sebagai orang tua, pastinya kita menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak. Ms Rosa mengungkapkan bahwa pendidikan bukan hanya berfokus kepada anak, tetapi juga untuk sekeluarga. Sekolah seperti apa pun yang dipilih, pasti akan ada dampaknya bagi keluarga. Sekolah dan keluarga tidak dapat dipisahkan. Sekolah yang mahal belum tentu bagus, tetapi sekolah yang nyaman itulah yang terbaik. Banyak sekolah non-Montessori yang juga bagus dan nyaman untuk anak. Ketika orang tua sudah nyaman, maka kepercayaan pun akan tampak dan sekolah akan menopang dengan segala yang dimampu. Kalau sudah terbaca bahwa orang tua tidak nyaman, guru akan merasa was-was. Ingat, guru harus menghadapi banyak keluarga yang amat beragam, sekian banyak ekspektasi yang berbeda, pandangan tiap keluarga tentang besar kecilnya masalah bisa berlainan.

Sebetulnya PAUD adalah bagian yang paling penting dibandingkan dengan nanti jenjang berikutnya (SD ke atas), karena usia 0-6 tahun adalah dasar fondasi untuk karakter dan personality skill. Kita tidak akan bisa bikin rumah tanpa fondasi, kan? Jadi bila kita masih berada di area ini biasanya ada kegalauan, mau dibawa ke mana, mau ngapain. Soal ‘mau ngapain?’, kita memang bisa mencari kegiatan yang bisa dilakukan bersama anak, tetapi lebih dari itu, kita juga harus menilik diri kita, sudahkah kita memberi pendidikan yang terbaik di rumah.

Kalau kata Maria Montessori yang rumusannya tentang pendidikan usia dini kemudian terkenal sebagai Metode Montessori, pendidikan adalah alat untuk mempersiapkan anak pada kehidupan, bukan untuk sekolah. Kehidupan ada ups and down-nya, kadang tidak ramah. Apalagi ada saja hal yang membuat kita khawatir, termasuk maraknya kejahatan online terhadap anak-anak. Banyak tantangan yang ada di luar, tetapi yang paling perlu diperhatikan terlebih dahulu adalah diri kita sendiri. Kita perlu paham dulu relasi kita dengan anak. Bagaimana agar dalam relasi ini fokusnya ke anak, bukan ke diri kita sendiri.

Sempat terpikir bahwa anak kita “susah” alias tidak mau menurut? Seharusnya kita yang lebih mengerti mereka. Jika orang tua mau berubah, pasti anak berubah. Inti dari Montessori adalah bahwa pendidikan di rumah merupakan hasil dari kolaborasi antara orang tua dengan anak. Kolaborasi ini artinya semua pihak berpartisipasi, jadi anak juga harus paham perlunya berbagi dan mengerti, peraturan harus tetap ada. Kolaborasi yang baik akan menjadi kunci kesuksesan, collaboration skills ini nantinya akan anak bawa ke luar rumah, membantunya dalam bersosialisasi dengan dunia luar.

“Ibu-ibu inginnya anak menjadi anak yang bagaimana?” Ms Rosa lantas melempar pertanyaan. Mayoritas peserta menjawab ingin anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah. Ms Rosa kemudian menjelaskan bahwa berbuat baik kepada anak bisa menjadi sarana mengenalkan kasih sayang Tuhan kepada anak. Ajakan untuk berdoa dan bersyukur perlu diiringi dengan contoh langsung dari kita. Anak perlu paparan yang konkret, yang bisa dia lihat langsung sehari-hari. Kalaupun anak berbuat kesalahan, tunjuk perilakunya yang tidak kita sukai, bukan anak/manusianya. Berikan maaf dengan tulus, maka anak pun akan belajar memaafkan dan juga belajar bahwa Tuhan Maha Mengampuni.

Keinginan lain yang banyak disebutkan oleh para ibu, termasuk saya, adalah agar anak menjadi manusia yang mandiri. Ms Rosa mengingatkan bahwa pada dasarnya semua manusia punya kecenderungan dan potensi untuk bisa mandiri. Agar potensi ini keluar pada anak kita maka resepnya hanya satu: biarkan anak mencoba. Tanpa mencoba, kita tidak akan pernah tahu. Prosesnya memang bisa panjang, harus dicoba terus dan jangan mudah menyerah.

Ada memang anak yang mengalami keterlambatan perkembangan karena penyakit tertentu yang biasanya merupakan bawaan lahir, tetapi ada juga development delay yang diakibatkan karena pola pengasuhan atau lingkungan. Semakin kita larang anak, maka akan berkurang kemampuan tubuhnya untuk berkoordinasi. Tuhan sudah berikan potensi, kalau kita tidak mengenalnya maka kita akan punya asumsi yang salah dan menyepelekan. Jika asumsi salah ini masih terbawa terus, maka akan menjadi transfer ilmu yang kurang tepat, termasuk di lembaga pendidikan. Sekolah seharusnya mempersiapkan anak menjadi manusia senormal-normalnya, agar potensinya dapat terbuka.

Delapan potensi anak dalam Montessori:

  • Law of work, semua anak suka bekerja, beraktivitas, bergerak. Setiap anak suka akan pekerjaan yang pasti, konstruktif (ada tujuannya, pembuka, proses, penutup). Tugas kita adalah membantu anak untuk tetap berfungsi sebagai manusia, untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
  • Law of Independence, Tidak ada anak yang tidak mandiri. Hanya saja untuk itu orang tua harus memberikan kebebasan dengan limitasi dan sesuai dengan kapasitas umurnya. Anak-anak tidak akan mampu kontrol kalau tidak mencoba. Waktu terus berjalan, tidak bisa kita kekang. Jangan-jangan kita tidak memberi kebebasan karena kita sendiri sebagai orang tua takut ditinggalkan, merasa tidak lagi dibutuhkan?
  • Power of attention. Punya keluhan anak sulit berkonsentrasi? Anak yang bisa berkonsentrasi adalah anak yang sangat senang. Kalau sudah happy, mau belajar apa pun senang saja. Sebagai pendidik memang menantang sekali jika menghadapi banyak siswa dengan karakter beragam. Maka ada baiknya disediakan aktivitas atau mainan yang disukai untuk mendorong konsentrasinya. Cara menghitung potensi konsentrasi anak adalah 2 x usianya. Jadi untuk anak 4 tahun sekitar 8 menit. Apabila ada kesenangan anak yang kita kurang suka atau mengkhawatirkan, bisa dikondisikan, atau difasilitasi dengan batasan sesuai keamanan, kemampuan kita, dan usianya, sehingga dia bisa ‘menabung’ kesukaannya itu. Berikan aturan yang jelas juga, terkait keselamatan khususnya. Jika anak melanggar aturan yang telah disepakati bersama, minta untuk stop.
  • Development of will. Setiap anak punya potensi untuk berinisiatif, tetapi inisiatif baru ada jika ia diberi kebebasan.
  • Development of intelligence, setiap anak punya potensi untuk bisa mengerti. Ini akan berkembang dari interaksi dengan lingkungan. Ada tujuh indra yang perlu distimulasi: yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, perasa/pengecap, vestibular (keseimbangan), dan propriosepsi.
  • Development of imagination, dengan memberikan kesempatan anak punya pengalaman secara nyata maka kita memberikan kesempatan anak berimajinasi.
  • Development of emotional and spiritual life, hal ini dicapai dengan interaksi sosial, termasuk dengan lingkungan sekeliling.
  • Stages of growth, anak punya potensi untuk terus bertumbuh dan berkembang.

Selain belajar tentang pendidikan anak, melalui family gathering Teman Main ini saya juga jadi tahu tentang sejarah Teman Main. Kak Miranti selaku pendiri bercerita bahwa Teman Main in awalnya dari Bandung, karena sekeluarga pindah ke sana. Dari jalan-jalan menjelajahi tempat seru untuk keluarga, kak Miranti sering menuliskan pengalamannya di blog. Ternyata banyak yang tertarik dengan kegiatannya, bahkan mereka yang sudah lebih lama tinggal di Bandung ada juga yang baru tahu tentang tempat yang diceritakan tersebut. Maka mulailah ada kegiatan main bareng beberapa keluarga. Ketika pindah kembali ke Jakarta, Kak Miranti ingin kegiatan tetap berlanjut. Maka kini Teman Main menambah tim yaitu kak Helena, kak Herty, kak Herlin, kak Eja, kak Irfan, dkk.⁣⁣

Nah, sementara ibu-ibu ikut sharing session, anak-anak diajak untuk mendengarkan dongeng dan membuat craft kodok bersama-sama. Seru banget!

 

16 thoughts on “Ingin Yang Terbaik, Sudahkah Kita Dukung Anak Asah Potensinya?

  1. Ih seru ya mbak ada kegiatan seperti ini. Anak bisa asik dengan permainan, orang tua juga jadi tambah pengatahuan soal dunia parenting dan tumbuh kembang anak 🙂

  2. Setuju Mba bahwa pendidikan paling dasar itu yang penting. Itulah mengapa di banyak negara maju, anak SD tidak diberikan PR karena pekerjaan utama mereka adalah pembentukan diri dan karakter.

  3. Kalau makin banyak yang datang pasti tambah personil Teman Main. Semoga Teman Main menginspirasi banyak orang agar semakin peduli lagi dengan pendidikan anak

  4. Ikut acara ginian nambah ilmu banget ya mbak. Jadi tahu deh kalau adek kembar ku itu bakatnya law of work (hani) dan law of independence (nia) 😄

  5. Waaah Ms Rosa, selalu senang dengar beliau bicara. Mudah dicermati juga humorous, hehe. Sekolah dan keluarga ternyata punya kaitan yang cukup erat yaa mba. Anw dalam Montessori memang menekankan pada kemandirian anak, itu yg aku suka Dari Montessori hehe

  6. Seru juga ya kegiatan teman main ini, anak2 juga pasti tertarik banget, kegiatannya mengasah perkembangan pertumbuhan anak, selain itu jadi masukan juga buat ibu untuk mengasah kemampuan anak dirumah.

  7. aku berencana untuk anakku ga usah sekolah dulu sampai umur 5 tahun hehe biar mereka menikmati masa kecil dengan bermain. Kalau sudah sekolah walau playgroup sekalipun tuh kayaknya jadi beban juga buat anak karena harus berangkat pagi hehe.. soalnya masa sekolah itu panjang sampai umur 20 puluhan

  8. Kegiatannya seru banget Taman Main nya. Anak-anak pasti betah banget di sana. Selagi anak bermain bisa dapat ilmu parenting juga orangtuanya.

  9. Noted, mbak. Delapan potensi anak dalam Montessori ini menarik banget buat aku. Khususnya dalam mengembangkan potensi si kecil. Acaranya bermanfaat banget ya kak.

  10. Baru tahu tentang 8 Potensi Anak Ala Montessori nih. Memang sih kalau pendidikan dimulai sejak dini melalui proses yang menyenangkan dan sesuai dengan potensi anak hasilnya pasti akan maksimal ya.

  11. Baca tulisan ini jadi langsung evaluasi diri, apakah saya sebagai Ibu sudah melakukan yang terbaik untuk mengasah minat dan bakat anak anak dirumah.. bismillah ya mbak semoga kita semua menjadi orangtua yang dapat menghasilkan generasi bangsa yang maju dengan senantiasa mengasah potensi anak anak kita.. aamiin

  12. noted nih mba 8 potensi Montesorrinya jadi pengen belajar lagi Montessori 🙂 semua anak emang punya potensi tinggal ortunya jeli untuk melihat dan mengembangkan potensinya ya mba

  13. Mengasah potensi anak ini memang sangat perlu banget, aku awalnya merasa bingung apa iya harus mencoba semuanya. Ternyata si anak akan memilih dan menyukai apa yang memang ia sukai. Mulai dari bermain dengan ala montesori juga aku lakukan di rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s