Wawasan Makin Lengkap dengan Kulwap

Whatsapp menjadi salah satu aplikasi yang bisa dibilang paling sering kita gunakan saat ini. Praktis memang, kita bisa saling berkirim pesan baik berupa tulisan, gambar, suara, video dan makin banyak lagi. Karena kemudahan yang ditawarkan itulah, whatsapp juga bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Muncul kuliah whatsapp yang biasa disingkat dengan kulwap, atau ada juga yang menamakan dengan kulsap, semol (seminar online, meskipun yang ini tidak terkhusus pada platform whatsapp), waminar (whatsapp seminar), dan banyak lagi istilah yang dibuat untuk menamai aktivitas belajar bersama ini.

Pekan lalu tabloid NOVA mengangkat serba-serbi kulwap, dan saya dihubungi untuk wawancara singkat. Tidak singkat-singkat amat, sih, sebenarnya. Cukup panjang malah, walaupun yang dimuat akhirnya hanya sebagian. Sekalian saja saya simpan selengkapnya di sini, karena sebetulnya saya juga sedang ingin menulis seputar fenomena menambang kontak dari whatsapp (yang akan saya bahas dalam tulisan terpisah).

Bahasan Kulwap di Tabloid NOVA

Kalau ditanya kapan pertama kali ikut kulwap, saya juga tidak ingat. Mungkin sekitar tahun 2014, hanya itu yang bisa saya temukan jejaknya dari back-up di e-mail. Saya mengetahui adanya kulwap yang akan diselenggarakan biasanya dari grup whatsapp lain atau kalau ada pengumumannya di media sosial.Β 

Saya ikut kulwap karena merasa kulwap adalah sarana belajar yang praktis. Biayanya juga biasanya cukup terjangkau bahkan gratis. Tanpa harus bepergian, yang artinya perlu mengalokasikan waktu dan biaya transportasi juga, saya bisa mendapatkan ilmu dari pakarnya secara langsung, yang sebelumnya biasanya cuma dibaca artikel, buku, wawancaranya di majalah sebagai narasumber, atau dilihat wawancaranya di TV/YouTube. Meskipun, ada juga kulwap yang berbayar hingga ratusan ribu. Umumnya, sih, harga ini tetap sepadan dengan ilmu yang diberikan atau tingkat keahlian narasumbernya.

Manfaat dan keuntungan ikut kulwap bagi saya:

  • Kita bisa menambah ilmu dengan cara yang cenderung praktis
  • Biaya kulwap relatif terjangkau, khususnya jika dibandingkan dengan kegiatan offline yang kalaupun gratis biasanya tetap perlu biaya transportasi PP, tol, makan, dkk.
  • Dari segi waktu lebih fleksibel, apalagi untuk saya yang bekerja kantoran Senin hingga Jumat dan kadang ada tugas dinas ke luar kota, jika dibandingkan dengan kegiatan offline. Tentu idealnya kita aktif sejak awal hingga akhir, untuk menghormati penyelenggara dan narasumber juga. Namun, kadang ada tantangan misalnya pekerjaan mendadak, anak rewel, anak atau kita sendiri sakit. Kalau kegiatan offline, mayoritas ada aturan bahwa kalau tidak bisa hadir maka uang pendaftaran kita (jika berbayar) hangus. Kalau kulwap, kita masih bisa mengakses materinya sewaktu-waktu. Akan tetapi, omong-omong soal akses, kita tetap perlu mem-back-up materi (dan mungkin tanya jawab) jika dirasa perlu, di penyimpanan cloud atau cetak. Siapa tahu penyimpanan database Whatsapp kita bermasalah. Berbeda dengan media Telegram misalnya, yang data percakapan terdahulu masih bisa diakses meskipun kita baru masuk grup.
  • Peserta memperoleh kesempatan belajar dari ahlinya yang belum tentu bisa mengisi kegiatan offline karena kesibukan atau jaraknya. Misalnya narasumber ahli yang tinggal di luar negeri, atau jadwal offline-nya keliling Indonesia (bahkan ke luar negeri) sudah sangat padat, atau memang praktisi yang sehari-hari pekerjaannya memang banyak.
  • Kita juga bisa mendapatkan jejaring dari sesama peserta. Bisa jadi grup kulwap tidak bubar, malah berlanjut sebagai grup berbagi informasi. Misalnya berbagi tentang informasi kulwap selanjutnya, informasi lomba terkait (misalnya saya sering mendapatkan informasi lomba menulis atau lowongan penerbitan naskah). Saat ini bahkan ada tren saling save nomor yang disinyalir merupakan teknik marketing (pernah baca ada memang pengajar marketing yang mengajarkan bahwa pedagang harus punya database calon customer potensial, jadi harus simpan nomor orang sebanyak-banyaknya), dan kalau ini sih bagi saya lumayan mengganggu, ya.
  • Ada juga kulwap yang berbayar, tetapi seluruhnya untuk beramal. Semoga dapat bagian catatan kebaikan juga dari situ.

Sekali kulwap bisa jadi full sampai 250+ peserta bahkan dibuat grup-grup relay-nya (kadang narasumber tidak masuk ke grup itu, admin hanya meneruskan materi dan tanya jawab dari grup utama) kalau memang peminatnya sangat banyak (biasanya yang gratis sih kalau ini). Tapi pernah juga ikutan yang hanya belasan peserta.

Beragam tema kulwap pernah saya ikuti. Ada tema parenting, komunikasi suami istri, less waste, pertolongan pertama, kesehatan keluarga, kesehatan reproduksi perempuan, agama, finansial dan investasi, food preparation, mengatur ruangan, siaga bencana, mendongeng atau read aloud, memilih sekolah anak, fotografi dan desain visual sederhana, bahasa asing, hukum/peraturan, lalu juga kepenulisan (blogging, editing) sesuai hobi saya. Kadang ikut kulwap dengan materi teknik marketing juga, bahkan pernah ikut kulwap teknik mewarnai agar bisa menjadikannya aktivitas yang menyenangkan bersama anak-anak.

Ilmu yang didapatkan dari kulwap bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa untuk berjaga-jaga kalau-kalau kelak ada peristiwa yang memerlukan ilmu tersebut, bisa dijadikan simpanan rujukan kalau sewaktu-waktu ada yang bertanya, juga dapat menjadi sumber untuk menyusun tulisan di blog saya.

Beberapa materi yang bisa langsung saya terapkan: aturan dalam menulis, mengendalikan emosi, menjaga kesehatan keluarga, membuat ecobrick dari bungkusan plastik yang ada di rumah, dan teknik mewarnai.

Soal lebih sering ikut yang mana, gratisan/berbayar, rasanya berimbang, sih. Yang gratis pun kadang ada syarat harus share di medsos atau di sekian grup whatsapp sebelumnya sekaligus sebagai sarana promosi, untuk kemudian dilaporkan melalui formulir atau sarana pendaftaran lainnya. Lumayan buat penyelenggara bisa sekalian menjaring calon peserta dengan adanya syarat sharing itu, kan. Sedikit ribet kadang terasanya, apalagi kalau syarat minimal sharing-nya banyak (harus ke lima grup, misalnya), jadi kalau ada opsi bayar vs sharing, adakalanya saya memilih bayar saja.

Biaya yang termahal yang pernah saya keluarkan seingat saya adalah Rp150.000. Itu untuk satu rangkaian kulwap kepenulisan. Ada juga yang kalau mau ikut semua materi jadi total Rp400rb misalnya, jadi kerasa pas keluarin uangnya, tetapi sebetulnya ini untuk empat sesi yang berbeda dari satu penyelenggara sehingga harga satuannya bukan segitu. Fasilitas yang diperoleh biasanya berupa materi dari narasumber, tanya jawab, koreksi/masukan untuk tugas yang dikerjakan, juga ada yang membuatkan e-sertifikat. Ada kulwap yang penyelenggaranya memberikan akses untuk peserta masuk ke grup alumni agar bisa lebih dalam mempelajari materi dan saling berdiskusi.

Kulwap sekarang ini juga dipergunakan sebagai sarana promosi. Biasanya promosi buku yang akan terbit, dengan narasumbernya ya penulis atau ahli yang dikutip pendapatnya di buku. Atau buku anak premium yang satu seri ratusan ribu-jutaan itu, narasumbernya biasanya penggiat parenting yang kadang juga memang ikut tim jualan bukunya, meskipun ada yang independen juga.

Namanya juga tidak bertemu langsung, memang ada beberapa potensi kekurangan dari kulwap. Kadang memang bisa jadi ada bahasan yang “menggantung”, ya. Makanya ada yang memilih untuk memberikan materi dan/atau menjawab pertanyaan melalui voice note, agar ada nada suara yang bisa mengurangi peluang kesalahpahaman. Untuk materi yang memerlukan contoh seperti cara mengaduk, cara menjahit, atau cara menggendong, umumnya ada tutorial langkah demi langkah dalam foto atau video (baik langsung dikirimkan ataupun berupa tautan ke platform lain) yang dikirimkan. Ada juga tipe pemateri yang lebih suka memancing untuk berpikir ketimbang “menyuapi”, jadi ketika ada yang tanya juga bisa malah ditanya balik πŸ˜‚.

Kendala teknis pun sangat mungkin terjadi, misalnya gambar materi muncul tidak berurutan karena sinyal. Keterbatasan lain adalah soal tanya jawab, walaupun kendalanya adalah soal waktu juga alias sama saja dengan seminar offline. Ada pemateri yang berbaik hati menyusulkan jawaban walaupun jatah jumlah pertanyaan atau tenggat waktu sebetulnya sudah habis, tapi ini jarang.

Pernah punya pengalaman buruk seputar kulwap? Nah, barusan banget sih ada kasus kulwap dibatalkan mendadak. Admin katanya kebetulan sakit juga dan dirawat di RS sehingga refund puluhan peserta belum terlaksana (baru sepertiga mungkin yang sudah), termasuk saya sampai saat ini. Kurang tahu apa penyebab sebetulnya karena dokter yang seharusnya jadi pemateri juga sampai menjawab pertanyaan dari peserta yang penasaran dan DM ke IG beliau, bahwa dari beliau tidak ada kendala apa-apa, pembatalan adalah dari penyelenggara, sementara penyelenggara mengatakan dokter tersebutlah yang berhalangan. Oleh calon peserta kulwap yang kecewa, admin sudah disarankan untuk mendelegasikan ke admin lain, tetapi katanya takut malah salah-salah dan tambah panjang urusannya.

Sebelumnya, saya juga pernah mengalami kejadian panitia lupa memasukkan saya ke dalam grup kulwap, padahal sudah bayar. Saya juga baru ingat H+1. Akhirnya panitia mengirimkan semua chat ke saya, sih. Yang seperti ini pernah terjadi dua kali dengan dua penyelenggara berbeda. Terlewat sepertinya.

Suatu kali saya pun pernah ditolak saat mendaftar kulwap. Alasannya, karena saya sudah memesan produk yang ditawarkan, yaitu buku seri edukasi anak, jadi saya rupanya tidak termasuk dalam target peserta kulwap. Barangkali, daripada saya ikut, slotnya lebih baik untuk calon pembeli yang potensial. Padahal saya ingin tahu lebih dalam mengenai latar belakang pembuatan buku tersebut. Saat saya memesan buku tersebut ke teman saya (orang yang berbeda dengan yang menolak saya) berminggu-minggu sebelumnya, belum ada program kulwap untuk buku ini. Namun untungnya setelah saya tanya-tanya, teman saya bisa membantu dengan mem-forward-kan isi kulwapnya, yang ternyata memang menarik sekali.

Sejumlah hal yang mungkin juga perlu diwaspadai adalah mencermati latar belakang penyelenggara maupun pembicara. Pernah ketemu pemateri yang sepertinya juga masih belajar, sehingga penjelasannya malah bikin bingung. Juga, modalnya kan kepercayaan, ya. Kalau sampai ada yang tidak memenuhi janji, misalnya, palingan kita bisanya memperingatkan ke yang lain, tapi tidak ada jaminan ada oknum yang akan mengulangi lagi perbuatannya.

Hal terakhir ini membuat saya teringat lagi pernah juga ikut kulwap yang ternyata materinya copas/menyontek dari penulis lain. Ketahuannya dari salah satu peserta yang merasa pernah membaca materi yang sama, yang ternyata dulu disusun oleh atasannya di kantor penerbitan. Narasumber misterius yang ngakunya menyembunyikan identitas karena profesinya memang ghost writer ini kemudian menghilang ketika waktunya penerbitan naskah. Kulwap-nya sih jalan (dengan materi sontekan itu), tetapi pemateri yang juga menjanjikan menjembatani penerbitan ini mendadak tidak bisa dihubungi setelah naskah terkumpul, padahal peserta sudah membayar (di luar biaya kulwap).

Kelemahan lain, banyaknya kulwap juga memungkinkan adanya “tsunami informasi”. Ini istilah yang dipakai oleh salah satu komunitas yang saya ikuti, Ibu Profesional. Ada banyak pemateri dengan prinsip dan gayanya masing-masing, yang bisa jadi malah menimbulkan kebingungan, mana yang akan dijadikan pedoman dan diterapkan. Juga, kulwap sekarang ini sering jadi ajang menambang kontak seperti yang saya ceritakan di atas. Makanya banyak panitia kulwap yang kini sudah menulis peraturan di awal, dilarang menggunakan kontak peserta kulwap untuk kepentingan bisnis/pribadi. “Keperluan pribadi” ini batasannya bisa jadi relatif, ya. Namun, minimal larangan seperti ini sudah menunjukkan kepedulian panitia.

Yah, ikut kulwap itu kan kadang artinya kita membuka data kita ke orang lain. Sering ada kewajiban presensi/kenalan terlebih dahulu dengan menyebutkan nama, usia, kota domisili, nama dan usia anak. Bahkan sebelum kulwap selesai sudah ada yang wapri, minta kenalan, izin save nomor atau mengajak saling save nomor. Buat apa? Kalau sudah simpan nomor, kan jadi bisa lihat status whatsapp-nya (yang berisi iklan jualan–padahal saya jarang sekali buka status whatsapp) dan juga bisa menerima broadcast iklannya. Kadang orang tidak terang-terangan mengirimkan iklan, apalagi trennya kan covert selling. Bisa jadi orang ini rutin sharing info bermanfaat sehari-hari dulu secara berkala, baru beberapa hari sekali sharing iklan. Ada juga sih yang secara frontal sambil kenalan sambil langsung kasih tahu “Saya jualan ini dan itu” atau “Mau sukses bareng, enggak?” (biasanya kalau bisnisnya berupa MLM). Ada juga yang mengatasnamakan lembaga amal dan minta donasi.

Adakah hal-hal negatif tadi menyurutkan niat saya untuk terus belajar lewat kulwap? Tidak juga, sih. Palingan perlu harus lebih hati-hati dan “tega” aja… Tega untuk mungkin enggak membalas semua ajakan kenalan/save nomor kalau memang mengganggu 😬. Kadang kalau tidak wajib juga saya skip perkenalan. Manfaatnya tetap lebih besar, asal ya itu, jeli juga cermati penyelenggaranya.

8 thoughts on “Wawasan Makin Lengkap dengan Kulwap

  1. Aku belum pernah ikutan kulwap mba hehehe
    tapi sekarang praktis banget ya Mba dengan adanya kulwap ini
    Mengeluarkan biaya untuk menimba ilmu menurutku nggak masalah juga sih.
    Semangat belajar mba

  2. Jujur belum pernah ikut kulwap sih hehe tapi kalo menurut pengalaman temen-temen yang pernah ikut emang praktis bangett dan bisa sambil ngelakuin yang lain juga jadi bisa multitasking. Syaratnya juga seringnya cuma share ke beberapa grup gitukan yaa. Menarik nih bisa dicoba besok kalau ada broadcast soal kulwap lagi, tapi emang harus hati-hati sama yang suka ngiklan itu yaa πŸ˜‚

  3. Beneerr, aku seneng ikut kulwap sana sini membantu banget buat aku yang nggak bisa fleksibel mobilitasnya. Bisa nyimak sambil nge-teh, hehe. Tapi mmg distraksinya juga banyak, kdg baru sempet scroll besok2nya, atau bahkan kadung banyak jadi males (padahal sudah bayar, jadi nguap begitu saja). Makanya sekarang aku batasi kulwap2 ke materi yg aku fokuskan ingin dipelajari aja πŸ™‚

  4. Dulu semasa single aku agak antipati dengan kulwap karena mengklaim diriku bukan pembelajar online. But as time goes by, ditambah waktu dan Sikon semasa hamil ngga memungkinkan sering keluar, akhirnya kulwap jadi pilihan πŸ˜€

  5. Kok kayaknya asik ya mbak, jadi lebih kenal banyak orang dan menambah relasi meskipun via online. Tapi pasti ntar ada beberapa yang jadi dekat dan berteman baik baik online maupun offline.

  6. Kok kayaknya asik ya mbak, jadi nambah teman dan ilmu meskipun cuma online. Tapi gak jarang ada yg klik banget sampai saling sharing di dunia nyata dan jadi teman baik. Biasanya teman-teman yg ketemu online gini jadi lebih supportif loh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s