Bebaskan Nafas si Kecil, Kembalikan Cerianya

Sejak anak-anak masih bayi sampai sekarang, kami tidak pernah meminumkan obat saat mereka batuk pilek. Kecuali madu ya, setelah mereka berusia lebih dari satu tahun. Bukan karena kami takut minum obat, antiobat kimia atau sejenisnya, melainkan karena batuk pilek biasa pada anak kan penyebabnya adalah virus. Ini juga didukung oleh dokter keluarga kami yang rajin ajakin baca-baca referensi tepercaya tentang penyakit-penyakit anak. Jadi in sya Allah kalau cuma batuk pilek aja, sih, akan sembuh dengan meningkatnya daya tahan tubuh.

Karena pada dasarnya akan ‘sembuh sendiri’, obat batuk pilek yang beredar di pasaran fungsinya adalah mengurangi gejala yang timbul. Iya, hidung meler, tersumbat, batuk, itu kan reaksi atas virus yang masuk, yang maksudnya justru mau membuang virus itu keluar.

Namun tidak memberikan obat bukan berarti lalu dibiarkan saja, ya… Ini pandangan yang salah kaprah juga. Tentunya kami melakukan hal-hal yang diperlukan seperti menjaga asupan cairan, mengingatkan untuk istirahat, mengajak anak-anak rajin cuci tangan, mengajari cara bersin dan batuk yang benar, memakai masker khususnya bagi orang dewasa yang batuk pilek di rumah agar kumannya tidak menyebar, juga memantau tanda kegawatdaruratan yang mungkin muncul. Untuk menyamankan anak, kadang kami gunakan balsem yang bisa membantu melegakan pernapasan. Pastinya pilih produk yang aman, dong.

Continue reading

Karena Ketidaksempurnaan adalah Keniscayaan

Konon katanya, menjadi ibu di zaman sekarang tantangannya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan zaman dahulu. Padahal teknologi yang kian maju sesungguhnya menghadirkan berjuta kemudahan. Mau beli makan, mau pergi, mau belanja, mau pakai jasa bersih-bersih, mau bayar tagihan, semuanya seolah ada di ujung jari kita. Waktu (seharusnya) bisa dihemat, dan dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Untuk (that-so-called) quality time bersama anak, misalnya. Atau sekadar me time meski singkat.

Namun, teknologi juga punya sisi lain. Ada gempuran informasi dari sana-sini yang berpotensi bikin bingung, mana sih ya yang benar? Mana yang layak menjadi acuan bagi kita untuk menjalankan peran sebagai orangtua dalam mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anak kita, juga merawat hubungan dengan pasangan? Kulwap di grup whatsapp sayang kalau dilewatkan, webinar bersama pakarnya diikuti, website diselancari, buku-buku dilahap. Tokoh parenting A bilang begini, psikolog B menyatakan begitu, dokter pernyataannya beda lagi, aaah, pusing, kan?

Continue reading

Belajar tentang Pelaksanaan Haji dan Kurban Melalui Buku

Dekat-dekat hari raya Idul Adha begini, rasanya tepat jika kita mengajak anak-anak untuk belajar lebih jauh mengenai pelaksanaan ibadah haji dan kurban. Kedua ibadah ini pelaksanaannya memang terikat oleh waktu, dan puncaknya adalah hari raya Idul Adha yang tahun ini ditetapkan oleh pemerintah RI jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018.

Salah satu media yang biasa kami pakai untuk mendampingi anak-anak belajar adalah buku. Tentunya lebih enak kalau menggunakan buku yang memang ditujukan untuk anak-anak, ya, karena materi dan penyampaiannya sudah disesuaikan dengan usia mereka.

Continue reading

Asyik Bermain dan Belajar dengan Kodomo Challenge

Kemarin siang, sebuah paket dari Kodomo Challenge tiba di rumah. Wah, ternyata paket edukasi untuk bulan Juli sudah datang! Padahal bulan Juni-nya kan belum habis, hehehe. Set toko roti lapis yang kami terima ini adalah paket pertama dari paket berlangganan yang akan dikirim setiap bulannya.

Karena Fahira sudah berusia lebih dari dua tahun, jadi saya memilih memesan paket Playgroup yang diperuntukkan bagi anak usia 2 s.d. 3 tahun. Untuk rentang usia ini, Kodomo Challenge menyiapkan paket untuk mengajak anak belajar mandiri dan menanamkan kebiasaan hidup yang baik. Dengan kosa kata yang rata-rata sudah mencapai lebih dari 600 kata, tentu anak usia ini makin jago berekspresi dan mengungkapkan perasaan maupun keingintahuan. Anak juga mulai lebih banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, bukan hanya dengan keluarga inti. Pastinya perlu pendampingan dan stimulasi yang tepat dong ya. Bagi anak berumur 1-2 tahun, ada paket Toddler.

Berhubung Fathia sudah bisa membaca, jadinya dia bisa membimbing adiknya bermain juga. Misalnya dengan membacakan petunjuk permainan.

Continue reading

Di Balik Layar Buku Ramadhan Seru

Ternyata, begini ya rasanya coret-coretan kita yang berantakan diwujudkan dalam bentuk gambar nan imut oleh ilustrator profesional :D.

Dalam penyusunan buku Ramadhan Seru bersama Hamzah dan Syifa, kami tim penulis yang terdiri atas para anggota grup Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta (RBM IP Jakarta) memang diminta untuk menyumbang kreasi berupa cerita mini dengan tokoh yang sudah ditentukan, ide aktivitas (termasuk resep dan pembuatan craft sederhana), maupun tulisan fakta menarik terkait Islam ataupun Ramadhan. Tulisan maupun ide yang sudah disusun kemudian akan diteruskan ke editor tim untuk review dari segi konten maupun ejaan dan ke penanggung jawab visual untuk diputuskan ilustrasi seperti apa yang akan dipakai.

Continue reading

Teh Kiki Barkiah: Didiklah Anak Sesuai Keunikan Karakternya

Ahad lalu (13/05), Teh Kiki Barkiah berbagi seputar pendidikan anak dilihat dari segi karakter masing-masing di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq, Otista. Dengan status sebagai ibu dari 6 anak (terakhir saya ikut seminar teh Kiki Ramadhan dua tahun yang lalu, teh Kiki rupanya sedang mengandung), tentu teh Kiki cukup kaya akan pengalaman. Bahkan di seminar bertajuk “Mosqueschooling Seminar Parenting Minim Konflik Maxi Manfaat, Mendidik Anak Sesuai Keunikan Karakternya” ini, saya dapati teh Kiki mengungkapkan tentang perkembangan cara pandangnya seiring dengan berjalannya waktu. Artinya, pola asuh bisa saja berubah atau disesuaikan secara fleksibel.

Menurut teh Kiki, pendekatan kita ke anak-anak perlu disesuaikan dengan bahasa cinta mereka. Tidak cukup kita hanya bersemangat untuk mendidik anak menjadi anak yang sholeh. Ada kebutuhan-kebutuhan anak sesuai potensi bawaannya yang harus kita penuhi, termasuk kebutuhan jasmaninya untuk bermain.

Continue reading

Hadapi Gadget Generation, Cermati Triknya

Orangtua masa kini tidak boleh ‘kalah’ pada anak-anak yang dengan cepat mempelajari teknologi terbaru. Demi menjadi teman terbaik bagi anak, juga untuk tetap ‘nyambung’ sekaligus memantau aktivitas anak, orangtua diharapkan mau meng-update pengetahuan. Baik pengetahuan mengenai cara menggunakan teknologi ini maupun ilmu memitigasi risiko yang mungkin muncul. Hal ini berkali-kali ditekankan dalam seminar yang saya ikuti ataupun artikel yang saya baca. Sebagai orangtua dari anak-anak yang juga ‘digital native‘ alias begitu lahir sudah dihadapkan dengan kecanggihan dunia digital, saya pun termasuk yang terkena ‘kewajiban’ itu.

Nah, dalam rangka menambah pengetahuan, Sabtu lalu (12/05) saya mengikuti Parenting ClassGadget Generation Do’s & Don’ts” di Hong Kong Cafe, Sarinah Thamrin. Dalam acara tersebut, dr. Stephanus ‘Ivan’ Nurdin, MedHyp, medical hypnotherapist dari RSIA Budhi Jaya menjelaskan bagaimana menangani generasi yang piawai menggunakan gawai sedari belia ini.

 

Continue reading