Ingin Family Movie Time Tambah Asyik? Perhatikan Ini, Yuk… 

Momen pergantian tahun identik dengan dirilisnya sejumlah film keluarga. Mengingat anak-anak juga sedang libur semester, pergi ke bioskop bisa menjadi salah satu pilihan mengisi waktu mereka. Namun sebelum mengajak anak-anak nonton film, yuk selalu cermati dos & don’ts-nya. Jangan sampai kegiatan nonton bareng sekeluarga justru berujung ketidaknyamanan baik di sisi kita maupun penonton lain.

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sesi #TUMLuncheon “Family Movie Time” yang diadakan oleh The Urban Mama di Kopi Kotaku, Jakarta Selatan. Di sini, teh Ninit Yunita, founder TUM yang memiliki dua anak lelaki dan sering mengajak mereka menonton, berbagi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, cek durasi film, kalau terlalu panjang berpotensi anak bosan. Persiapan lewat sounding ke anak sebelum menonton menjadi penting, karena jika belum pernah, anak mungkin akan kaget dengan lampu yang digelapkan dan audio yang keras.

Orang tua juga bisa mencari tahu dulu sinopsis dan rating film yang hendak ditonton. Sempatkan untuk nonton trailer filmnya terlebih dahulu agar ada gambaran, pertama sendirian, berikutnya bersama anak jika sudah dirasa cocok. Jelaskan juga bahwa apa pun yang terjadi di layar adalah akting, dibumbui efek dari make-up maupun visual effects, alias tidak real.

Di dalam bioskop nanti, walau terpukau dengan jalan cerita film, jangan lupa tetap amati tingkah laku anak. Teh Ninit mencatat beberapa perilaku penonton bioskop yang umumnya dinilai menyebalkan oleh penonton lain, di antaranya:

  • Menendang tempat duduk di depannya
  • Menyalakan ponsel sehingga sinar dari layarnya muncul di kegelapan
  • Merekam adegan di layar, termasuk menyiarkan secara live di media sosial
  • Menyantap bekal beraroma menyengat, misalnya nasi padang
  • Berisik sendiri, entah itu menceritakan spoiler, atau bahkan berantem
  • Membawa anak kecil.

Nah, membawa anak kecil ternyata masuk dalam daftar penonton bioskop yang menyebalkan. Seharusnya sih, hal tersebut bisa dihindari, ya. Kalau kita sebagai orang dewasa, umumnya sudah paham apa saja tindakan yang harus dihindari saat menonton. Kita sebagai orang tua perlu membekali anak terlebih dahulu dengan pengetahuan atas aturan umum yang berlaku, termasuk aturan tidak tertulis yang cenderung mengarah ke etika. Tapi jangan sampai juga anak jadi ketakutan misalnya untuk minta izin atau minta diantar ke toilet di tengah-tengah film.

Jika anak kita melakukan sesuatu yang membuat orang lain tidak nyaman, teh Ninit dengan tegas mengatakan, langsung tegur. Jangan didiamkan, jangan pula minta orang lain memaklumi kalau dia hanya anak-anak. Penonton yang lain berhak untuk mendapatkan kenyamanan, ‘kan? Orang tua juga harus menjadi contoh bagi anak, misalnya selesai menonton, ambil sampah makanan yang tadi dibawa dan buang sendiri ke tempat yang sudah disediakan.

Setelah menonton, kita bisa membahas film tersebut bersama anak. Bisa dari segi jalan cerita, pesan moral, maupun pernak-pernik lainnya.

Kalau soal batasan usia, pasti sudah tahu kan, yaa… Memang idealnya jangan mengajak anak nonton film yang belum boleh mereka saksikan. Kadang juga ada orang tua yang jadi membawa bayinya karena memang tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk dititipi, sementara ada film yang sudah dinanti-nanti. Jika hal ini menjadi pilihan, perhatikan juga kenyamanan mereka, karena suara keras dari film yang ditayangkan bisa saja mengganggu pendengaran bayi. Siap-siap juga untuk segera keluar jika bayi ternyata rewel, daripada mengganggu yang lain.

Sekadar tambahan dari sumber yang lain yaitu verywellfamily, dikutip dari the American Academy of Pediatrics (AAP), suara yang paparannya melebihi 45 desibel sudah bisa dianggap mengganggu telinga bayi. Nah, film aksi yang penuh ledakan dan dentuman, bisa sampai 90 desibel lho.

Para Urban Mama yang hadir juga berbagi tips yang selama ini sudah dipraktikkan. Ada yang bela-belain menahan diri untuk tidak ke bioskop sampai ada yang bisa membantu untuk menjaga anak, ada juga yang menyebutkan rekomendasi pelindung telinga yang berkualitas untuk bayi.

Tak hanya membahas etika mengajak anak ke bioskop, TUM juga mengajak Urban Mama menggali sisi lain dari menonton, yaitu menulis review setelahnya. Review atau ulasan atas film yang sudah kita tonton bisa lho menjadi referensi bagi calon penonton lainnya, termasuk juga orang tua yang mungkin sedang mempertimbangkan apakah film tersebut cocok ditonton bersama keluarga ataukah tidak

 

Mas @vincentjose, pemilik blog thejosemoviereview.blogspot.com sekaligus co-producer Renèe Picture berbagi berbagai hal seputar penulisan review film. Review adalah esai atau artikel yang memberikan evaluasi kritis. Umumnya review ini hasil akhirnya berupa merekomendasikan (atau tidak merekomendasikan) ke orang lain tentang film tersebut. Namun yang perlu diingat, tidak semua film cocok untuk semua orang. Film itu sebuah pengalaman, bisa bagus bagi seseorang karena relate sedangkan bagi orang lain lagi bisa saja tidak relate.

Lalu, apa bedanya review dengan kritik film?

Jika merujuk pada The University of Vermont Libraries Research Guides:

  • Kritik film merupakan analisis kompleks dan penilaian terhadap film, sedangkan review film lebih kepada rekomendasi berorientasi konsumen.
  • Kritik film merupakan studi, interpretasi, dan evaluasi terhadap suatu film, termasuk peletakannya dalam sejarah sinema. Biasanya berisi interpretasi terhadap makna film, analisis terhadap struktur dan gaya, penilaian dibandingkan film lain, serta perkiraan dampaknya terhadap penonton.
  • Kritik mengandung analisis dan penilaian, sementara review film mendokumentasikan resepsi kritis terhadap sebuah film, lebih berorientasi pada konsumen, meletakkan kesan dan rekomendasi daripada analisis.

Mama mau mulai menulis review juga, atau hendak me-review ulasan terdahulu yang barangkali sudah pernah dibuat? Ini nih tahapan menulis review film menurut mas Jose:
1. Tonton filmnya. Sekali boleh, berkali-kali lebih baik untuk lebih memperhatikan elemen-elemen kunci, inti film, maupun meyakinkan kesan.
2. Ekspresikan opini pribadi terhadap film. Jika ada rasa keberatan atau tidak suka, harus ada alasan yang valid untuk dituliskan meski sebenarnya tampak sangat jelas (bagi kita). Review menjadi gagal ketika penulis melibatkan serangan pribadi terhadap aktor, sutradara, penulis naskah, ataupun genre tertentu.
3. Tentukan gaya penulisan berdasarkan target pembaca. Ini akan menentukan titik berat sudut pandang review sehingga tepat sasaran sebagai sebuah rekomendasi. Penulis review film sekarang banyak sekali, jadi kalau bisa tentukan dari awal pembaca kita siapa, agar tulisan kita juga punya ciri khas. Misalnya, segmen sesama ibu muda.
4. Tentukan poin-poin elemen film yang akan dinilai, misalnya plot, performa aktor, atau elemen-elemen teknis film.

Untuk tulisan yang lebih enak dibaca, mas Jose berbagi beberapa tips:
– Hindari spoiler. Dalam keseluruhan tulisan, sinopsis atau ringkasan cerita cukup disajikan dalam 3-4 kalimat saja, tidak perlu detail.
– Cari referensi penulis-penulis review yang dianggap sesuai dengan gaya penulisan pribadi.
– Baca ulang, koreksi, dan edit tulisan kita. Kadang ada aspek yang terlupa atau keliru. Bahkan saat sudah di-post pun, bisa saja dikoreksi.
– Tonton lebih banyak referensi film.
– Tulis karena suka melakukannya. Diri Anda sendiri adalah pembaca sekaligus kritikus utama tulisan kita.

Bicara review film pada akhirnya akan bicara soal bagaimana sih film yang bagus itu? Apakah yang bisa membuat penonton kagum akan twist ending-nya, atau yang membuat kita sampai meneteskan air mata? Menurut mas Jose, sebuah film tidak harus punya kejutan, kok. Yang paling penting adalah bagaimana film bisa menyampaikan ke arah yang benar dan kita bisa merasakan. “Intriguing minds and touching hearts,” kalau meminjam istilah mas Jose.

Dengan bekal ini, siap dong ya mengajak si kecil ke bioskop. Atau malah jadi mantap untuk menunda dulu? Apa pun keputusan Mama, mengajak anak ataupun tidak ketika sedang menonton, yuk berbagi ulasan atas film yang sudah ditonton, khususnya film-film keluarga. Atau mungkin Mama menonton film dengan aspek parenting di dalamnya, bisa juga tuh dibagi insight-nya. Supaya bisa memberi gambaran dan inspirasi juga untuk Mama yang lain, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s