Pertengahan Mei 2026 lalu, ada momen menarik di Alumni Park, University of Southern California (USC). Yang naik ke podium untuk memberi sambutan wisuda Dornsife College of Letters, Arts and Sciences Class of 2026 di USC adalah Dexter Holland, vokalis sekaligus pentolan band punk legendaris The Offspring. Holland dijuluki “Triple Trojan”, sebutan untuk alumnus yang mengantongi tiga gelar dari kampus itu.
Ketiga gelarnya terhitung linier yaitu sarjana biologi (1988), magister biologi molekuler (1990), dan Ph.D. biologi molekuler (2017), dengan riset disertasi soal mekanisme infeksi virus HIV. Ini pun bukan kali pertama Holland naik podium wisuda USC. Pada 2022 ia juga sudah pernah memberi sambutan kelulusan untuk Keck School of Medicine USC.
Yang membuat pidatonya ini makin unik, Holland membuka pidatonya dengan pengakuan bahwa menurutnya hari itu rasanya surreal, seperti dirinya tidak benar-benar pantas berada di sana. Imposter syndrome, katanya. Padahal, status akademik Holland di USC bukan kaleng-kaleng.
https://www.instagram.com/reels/DY6Rjr7SPgf/
Selain bagian itu, dalam pidatonya Holland juga menyampaikan beberapa pesan dan nasihat kepada wisudawan, di antaranya soal pentingnya mengejar tujuan hidup yang benar-benar berarti bagi diri sendiri, yang ia sebut sebagai “gravity of aspiration“. Becermin dari pengalamannya sendiri, ia juga mengingatkan bahwa hidup itu bukan garis lurus, melainkan rangkaian pivot yang harus terus disesuaikan seiring waktu.
Holland jelas sangat berpengalaman menyesuaikan diri berkali-kali saat menjalani dua peran yang sering dianggap berlawanan yaitu sains dan musik secara bersamaan. Ia bahkan pernah merahasiakan kegiatan band-nya dari para profesor demi tetap dianggap serius di jalur akademik. Secara eksplisit ia berpesan untuk para wisudawan, jangan mau memilih hanya satu identitas seumur hidup.
So USC Dornsife graduates, after you leave here today, you’re going to be asked, ‘What are you going to be?’ As if you can truly be only one thing for the rest of your life. I hope you reject that premise. I hope you find your dual life, that you harness the gravity of your aspiration, because the gravity that pulls you also grounds you. I hope you never feel forced to trade your aspiration for a paycheck or your passion for a title. I hope you find the space to be both a rigorous thinker and a wild dreamer.
We need people who can solve the world’s most complex problems with a scientist’s precision, but we also need people who can see the world through an artist’s eyes and heart. And when life hands you an unexpected tour bus while you’re busy in the lab, I hope you get on that bus, at least for a while.
Make decisions that are driven by your heart, but guided by the critical thinking you’ve learned here. I hope that throughout your life you achieve things so cool and so legit that you too, like me, stop and wonder whether this is really happening. Don’t just choose a career, choose a life that is as messy and as brilliant as you are.
Menariknya lagi, jejak akademik dan karier musik Holland bukan terpisah di dua fase yang berurutan, melainkan berjalan beriringan selama puluhan tahun. Ia lulus sebagai murid terbaik di SMA-nya pada 1984. Tahun yang sama Holland dan teman-temannya membentuk band punk garage bernama Manic Subsidal, yang belakangan berganti nama jadi The Offspring. Selama kuliah S1 dan S2 di USC, ia tetap aktif nge-band.
Ketika The Offspring akhirnya meledak lewat album “Smash” pada 1994, Holland justru sedang di tengah-tengah studi Ph.D.-nya. Studi doktoral itu akhirnya sempat ia tunda karena kesibukan tur dan rekaman, sebelum dilanjutkan lagi dan baru benar-benar tuntas pada 2017, lebih dari tiga dekade setelah Holland pertama masuk USC. Salah satu lirik paling ikonik The Offspring, “keep ’em separated” dari lagu “Come Out and Play,” konon terinspirasi dari pengalaman di laboratorium USC saat menunggu cairan panas dalam labu Erlenmeyer turun suhunya.
Musisi yang Diam-Diam Punya Pencapaian Akademik
Tak hanya Holland sebetulnya. Dunia musik, terutama rock dan punk yang dekat dengan citra “seadanya” dan di mata awam jarang dikorelasikan dengan dunia pendidikan, rupanya diam-diam menyimpan sederetan nama dengan rekam jejak akademik yang serius.
Brian May, gitaris Queen, ternyata meraih gelar Ph.D. di bidang astrofisika dari Imperial College London pada 2007, dengan riset soal kecepatan radial partikel debu di awan debu zodiakal (sisa-sisa pembentukan tata surya). Ia bahkan sudah mengantongi gelar sarjana fisika dari kampus yang sama pada 1968, sebelum band Queen yang ia dirikan bersama Freddie Mercury dan Roger Taylor pada 1970 benar-benar meledak ke pentas internasional. Studi Ph.D.-nya juga sempat terbengkalai dan baru diselesaikan lagi lebih dari 30 tahun kemudian.
Lalu ada Milo Aukerman, vokalis band punk Descendents, yang sampai harus rehat dari band demi menuntaskan Ph.D. biokimia di University of California. Kejadian ini malah jadi inspirasi judul album mereka, “Milo Goes to College”. Greg Graffin, otak di balik Bad Religion, punya gelar Ph.D. zoologi dari Cornell University. Tom Morello, gitaris Rage Against the Machine yang vokal mengangkat isu kritik sosial, lulus cum laude dari Harvard di jurusan ilmu politik.
Dari Indonesia, ada Rizky Syarif, mantan gitaris Alexa yang memutuskan keluar dari industri musik untuk fokus kuliah fisika. Ia melanjutkan S3 di bidang fisika partikel eksperimental di Brown University dan kini berkarier sebagai peneliti di CERN (Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire, atau European Organization for Nuclear Research), laboratorium partikel terbesar di dunia. Contoh lain datang dari ranah musik cadas Bandung yaitu Hinhin Agung Daryana yang lebih dikenal dengan nama panggung Akew. Ia dalah gitaris band–band metal seperti Beside, Nectura, Humiliation, dan Sarasvati sejak era 1990-an. Di sela-sela kesibukan bermusik, ia menempuh S1 Seni Karawitan di STSI (sekarang Institut Seni Budaya Indonesia/ISBI Bandung). Kemudian ia melanjutkan ke jenjang S2 Pengkajian Seni di kampus yang sama 2013, dengan riset soal karinding, alat musik tradisional Sunda yang sempat populer di kalangan metalhead. Kini ia bergelar doktor, menjabat sebagai Ketua Program Studi Angklung dan Musik Bambu di ISBI Bandung, sekaligus mengajar gitar klasik di Universitas Pasundan.
Menariknya, orang-orang berprestasi ini kadang justru rentan terhadap imposter syndrome. Makin tinggi pencapaian seseorang, makin besar pula kemungkinan munculnya rasa “jangan-jangan aku cuma beruntung, bukan karena memang kompeten”. Kalimat Holland yang ia sampaikan saat berpidato di USC adalah contoh nyata bahwa gelar setinggi Ph.D. sekalipun tidak otomatis membuat seseorang bebas dari keraguan diri semacam ini.
Apa Sebenarnya Imposter Syndrome?
Saya pertama kali mengenal istilah imposter syndrome dari sebuah artikel di Majalah Treasury Indonesia yang saya edit. Dalam artikel tersebut, penulisnya menyampaikan bahwa menurut psikolog Audrey Ervin, Ph.D., dari American Psychological Association, imposter syndrome adalah ketakutan berkepanjangan yang biasanya dialami individu berprestasi tinggi.
Ada rasa takut akan “terbongkar” sebagai sosok yang sebenarnya tidak kompeten atau tidak akan bisa mengulang kesuksesan yang sama. Singkatnya, imposter syndrome (atau impostor syndrome atau imposter phenomenon) adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak pantas atau tidak cukup kompeten atas kemampuan dan pencapaiannya sendiri. Padahal, faktanya ia sudah berhasil membuktikan sebaliknya. Masalahnya, yang bersangkutan malah merasa keberhasilannya adalah sekadar keberuntungan, bukan buah dari kerja keras dan kompetensinya.
Beberapa tanda imposter syndrome yang biasa muncul adalah
- terus-menerus meragukan kemampuan sendiri
- perfeksionisme berlebihan karena takut gagal
- rasa takut orang lain akan menyadari bahwa dirinya “tidak sepintar yang dikira”
- burnout akibat memforsir diri demi membuktikan kelayakan.
Sebagai catatan, jangan bingung dengan kata “impostor” ala game Among Us yang kemudian sering dipakai untuk mengistilahkan penyusup. Dalam permainan daring tersebut, sebutan impostor memang dipakai untuk seseorang yang menyamar dan menyembunyikan identitas atau niat dari orang lain. Imposter syndrome di sini bisa dibilang justru kebalikannya, karena orangnya benar-benar kompeten, hanya merasa dirinya tidak layak atas pencapaiannya sendiri.
Dr. Valerie Young, penulis “The Secret Thoughts of Successful Women“, membagi imposter syndrome menjadi lima tipe berdasarkan pola pikirnya
- The Perfectionist, fokus berlebihan pada cara mengerjakan sesuatu, bukan hasilnya. Walau sukses dan dipuji, tetap merasa “seharusnya bisa lebih baik lagi”.
- The Expert, mengukur diri dari seberapa banyak yang ia tahu dan kuasai. Merasa malu kalau pengetahuannya dirasa belum cukup.
- The Natural Genius, mengukur kompetensi dari kecepatan memahami sesuatu. Kalau tidak langsung bisa di percobaan pertama, dianggap gagal.
- The Soloist, percaya kesuksesan harus dicapai sendirian, dan meminta bantuan dianggap tanda kelemahan.
- The Superhuman, mengukur keberhasilan dari berapa banyak peran yang bisa dijalankan sekaligus, dan merasa bersalah saat satu peran saja tidak sempurna.
Dalam artikel tersebut secara khusus dibahas fenomena imposter syndrome pada perempuan bekerja. Riset KPMG (Klynveld Peat Marwick Goerdeler, salah satu firma akuntansi dan konsultasi terbesar di dunia) menemukan bahwa sekitar 75% pemimpin perempuan di berbagai industri pernah mengalami imposter syndrome dalam karier mereka, dan hampir 60% di antaranya khawatir tidak akan mampu memenuhi ekspektasi orang lain. Salah satu pemicunya adalah minimnya role model dengan latar belakang serupa, ditambah ketidakadilan struktural di tempat kerja yang memperkuat perasaan menjadi “orang luar”.
Dampak dan Cara Atasi Imposter Syndrome
Kalau dibiarkan, imposter syndrome bisa menurunkan produktivitas dan kreativitas karena waktu terlalu banyak dihabiskan untuk mengecek ulang pekerjaan akibat takut salah. Orang dengan imposter syndrome juga cenderung ragu mengajukan ide baru, segan meminta bantuan atau mendelegasikan tugas, sampai akhirnya menanggung beban kerja berlebihan sendirian. Sungguh rangkaian “resep sukses” menuju burnout. Riset Harvard Business Review bahkan mencatat bahwa budaya kerja yang memicu imposter syndrome berisiko membuat suatu organisasi kehilangan talenta terbaiknya.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan kalau gejala imposter syndrome ini mulai terasa adalah
- rayakan keberhasilan kecil sekalipun, misalnya to-do list yang berhasil dicentang semua.
- jangan memendam perasaan ini sendirian. Bicarakan dengan rekan kerja, atasan, keluarga, atau ahlinya (misalnya psikolog atau konselor).
- hindari kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, karena di balik setiap kesuksesan selalu ada perjalanan dan rintangan yang tidak terlihat.
- belajar menerima serta merayakan pencapaian sendiri tanpa rasa canggung. Bukan berarti sombong, hal ini menjadi cara sehat untuk mengakui kontribusi dan mengapresiasi raihan diri sendiri secara objektif.
Kembali lagi ke Dexter Holland yang merupakan seorang tokoh dengan gelar doktor biologi molekuler sekaligus vokalis band yang total album-albumnya terjual puluhan juta kopi, tetapi tetap mengaku merasa seperti “anak SMA yang nyasar” saat berpidato. Kalau seseorang dengan rekam jejak seperti itu masih bisa merasa demikian, mungkin itu tanda bahwa imposter syndrome justru menjadi pengingat bahwa kita sedang berada di level perlu menantang diri sendiri untuk terus bertumbuh.
Sumber:
- USC Dornsife News & Magazine, pidato wisuda Dexter Holland 2026
- Blabbermouth.net, transkrip pidato Dexter Holland
- Kompas.com, “Pendidikan Dexter Holland, Vokalis The Offspring yang Berikan Pidato Kelulusan di USC Dornsife”
- Saintif.com & Superlive.id, soal musisi rock bergelar Ph.D.
- Hipwee.com, soal Rizky Syarif
- Artikel “Imposter Syndrome: Ancaman Tak Terlihat bagi Organisasi” oleh Rizqi Nugrahaini, Majalah Treasury Indonesia.
