Karena Ketidaksempurnaan adalah Keniscayaan

Konon katanya, menjadi ibu di zaman sekarang tantangannya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan zaman dahulu. Padahal teknologi yang kian maju sesungguhnya menghadirkan berjuta kemudahan. Mau beli makan, mau pergi, mau belanja, mau pakai jasa bersih-bersih, mau bayar tagihan, semuanya seolah ada di ujung jari kita. Waktu (seharusnya) bisa dihemat, dan dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Untuk (that-so-called) quality time bersama anak, misalnya. Atau sekadar me time meski singkat.

Namun, teknologi juga punya sisi lain. Ada gempuran informasi dari sana-sini yang berpotensi bikin bingung, mana sih ya yang benar? Mana yang layak menjadi acuan bagi kita untuk menjalankan peran sebagai orangtua dalam mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anak kita, juga merawat hubungan dengan pasangan? Kulwap di grup whatsapp sayang kalau dilewatkan, webinar bersama pakarnya diikuti, website diselancari, buku-buku dilahap. Tokoh parenting A bilang begini, psikolog B menyatakan begitu, dokter pernyataannya beda lagi, aaah, pusing, kan?

Tapi sudah tahu pusing, tetap saja rasanya sulit melepaskan diri dari tuntutan mengikuti update terbaru. Ya gimana ya, ‘kan maksudnya biar bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Eh, itu kalau saya, sih. Salut, lho, untuk yang sudah bisa melepaskan diri dari fear of missing out atau FoMO, alias ketakutan tertinggal informasi sehingga merasa harus selalu tahu perkembangan terbaru.

Memangnya, kalau tidak tahu informasi terkini, apa, sih, akibatnya? Wah, ya banyak. Salah memilih menu MPASI bisa bikin pertumbuhan anak terhambat. Keliru memakai metode pengenalan baca tulis dan hitung ke anak bisa membuatnya terbebani. Tidak tanggap apa maunya suami yang notabene katanya makhluk dari Mars, bisa-bisa romantisme mendingin.

Terus, lagi-lagi berkat mutakhirnya teknologi, berseliweran tuh foto-foto cantik di feed media sosial kita. Hampir semuanya menampilkan potret indah dari keluarga, dengan ibu jelita yang senantiasa rapi dan anak yang luar biasa imut, melakukan aktivitas yang bisa dijadikan teladan. Berolahraga bareng, membaca bersama, traveling ke tempat-tempat eksotis… Bahkan post yang menampilkan sisi ‘jelek’ pun, sepertinya para tokoh di dalamnya tetap berada pada kondisi prima. Atau setidaknya diiringi caption kocak yang membuat sebagian orang mungkin berpikir, wah, andai bisa sesantai itu memandang situasi tak terduga yang kadang memalukan atau konyol, yaaa…

Nah, itu.

Aandaaiii…. (bacanya pakai nada Armand Maulana atau Oppie Andaresta, nih? *ketauan generasinya)

Kesempurnaan dalam layar di depan mata kita itu, rawan menimbulkan perasaan berandai-andai. Pastinya kalau sudah begitu, kita jadi cenderung menyesali diri sendiri. Kenapaaa ya, kita memilih RS yang kurang asyik soal kebijakan terkait persalinan. Coba kita lebih konsisten olahraga dan diet. Kenapa kita nggak beli gendongan yang model itu aja, ya. Coba tabungan kemarin boleh buat liburan. Lalu muncul potensi mencari-cari cela si influencer, artis, atau siapalah yang foto-foto sempurnanya sering kita pandang, meyakini bahwa apa yang ditampilkan belum tentu seindah kenyataannya.

Pertanyaannya, haruskah kita memakai standar orang lain untuk kesempurnaan kita? Atau bahkan menganggap orang lain menjalani pencitraan palsu hanya karena kita tidak mampu mengejarnya?

Wah, ya capek lah kalau begitu.

Saya sendiri memilih untuk tetap belajar, karena kita memang seharusnya menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari, kan? Adanya standar, panduan, pedoman, tata laksana, atau sejenisnya, ‘kan memang sudah disusun oleh mereka yang ahli dengan tujuan yang baik. Jangan mencela beliau-beliau yang sudah beramal lewat edukasi hanya karena kita belum mampu menjalaninya. Perkara pendapat atau saran yang bervariasi, itu juga sebenarnya hal yang wajar karena ilmu pengetahuan terus berkembang atau karena adanya perbedaan pengalaman hidup dan sudut pandang. Tinggal bagaimana kita memilah mana yang lebih sesuai dengan prinsip yang kita anut, mau setia pada pedoman,  memilih ikut naluri kita sebagai ibu yang konon begitu tajam, atau menyesuaikan saja dengan keadaan yang sedang dihadapi perkasus.

Ikut panduan pun, tidak selamanya kita bisa melaksanakan step by step dengan baik dan benar, kan? Adakalanya kita terlalu letih, bingung, panik, sedih, bahkan lagi kepengin aja, you name it. Anak diare berdarah, langsung bawa popoknya ke lab dan berakhir dengan diketawain DSA yang didatangi kemudian. Suami lagi kurang mood pergi, kita mendesak karena Wiro Sableng keburu turun dari bioskop dan belum kesampaian nonton. Sambil ninaboboin anak, tangan yang satu tetap scrolling timeline. Anak jatuh, cideranya baru ketahuan dan ditangani belakangan karena semua sedang fokus dengan pemakaman eyangnya. Kirim pesan panjang lebar ke wali kelas karena anak lapor ada temannya yang iseng, padahal kata gurunya masalah seperti ini biar diselesaikan di sekolah dulu dan masalahnya tidak terlalu urgent. Salah kirim e-mail ke kolega di kantor. Iya, itu saya. Dan iya, saya sadar saya tidak sempurna.

Seringkali, memilih foto berempat yang ‘sempurna’ untuk dipajang juga sungguh menantang :D. Ah, beginilah adanya kami….

Bukan bermaksud tidak mau belajar dari kesalahan, ya. Penyesalan nggak boleh berlarut-larut juga, ‘kan. Manusia tempatnya salah dan lupa, sudah dari sananya begitu, dan menerima keadaan itu akan membuat langkah kita lebih ringan. Hidup harus jalan terus, dan kita harus terus menatap ke depan. #ILoveMyImperfection.

Salah satu cara untuk tetap ‘waras’ saat kadang rasa bersalah melanda, ya, me time. Bahkan meski sekadar #5menitaja. Buat saya, yang paling menyenangkan adalah membaca. Baca-baca media tepercaya, misalnya. Ini sih bisa sekalian nambah wawasan, ya, soalnya yang disajikan di Tabloid Nova kan pasti informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Atau baca komik yang asyik. Banyak lho bacaan ringan yang menarik untuk kaum ibu-ibu, bahkan di balik lapisan luar yang sepertinya fun, tetap ada insight yang bisa didapat.

Makanya saya senang nih baca buku seperti Persatuan Ibu-ibu yang saya beli beberapa waktu yang lalu, karena meski sekilas membahas pernak-pernik dunia ibu dengan kocak, tetapi buku ini juga sekalian mengingatkan bahwa kita memang diciptakan berbeda. Kita memang harus punya prinsip yang kuat, tetapi tidak berarti kita lantas menjatuhkan sesama ibu, misalnya, karena tak sepaham. Membaca bacaan yang ‘bergizi’ begini, niscaya kita akan lebih santai menghadapi ketidaksempurnaan. Dan kalau ibu sudah happy, sekeluarga akan dapat dampak positifnya, kan?

 

3 thoughts on “Karena Ketidaksempurnaan adalah Keniscayaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s