Self Healing Inner Child dalam Pandangan Islam

Materi seputar inner child tak ada habisnya digali. Seringnya tema ini dibahas di grup-grup yang saya ikuti saya anggap sebagai tren positif, sarana belajar khususnya bagi para orang tua yang tidak hendak berhenti meningkatkan kualitas diri sekaligus mutu pengasuhan (walaupun yang masih single atau belum dikaruniai buah hati juga bisa bisa turut menyimak). Seperti pernah saya tuliskan di postingan sebelumnya, meskipun sudah beberapa kali mengikuti kulwap terkait inner child, tapi sudut pandang yang lain dari pemateri yang berbeda tetap bisa memperkaya wawasan. Kali ini saya berkesempatan belajar tentang Self Healing Inner Child dalam Pandangan Islam. Pekan lalu, kajian muslimah di kantor pusat menghadirkan Ustadzah Isra Yeni – Founder dan Penasihat Rumah Surga sekaligus penulis buku The Great Dad, 5 Pilar Ayah Hebat (duet dengan suami beliau) untuk membawakan materi ini.

Ustadzah Isra mengaku dalam menyiapkan materi kali ini banyak dibantu oleh diskusi dengan suami beliau yang seorang psikolog. Diuraikan oleh beliau, dalam psikoanalisis (Freud), manusia terdiri atas id (bawah sadar), ego (diri), dan supereho (hal luar). Psikoanalisis memandang kepribadian manusia sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya (tahap perkembangan). Masa anak-anak yang dimaksud adalah dalam rentang usia 0-18 tahun.

Inner child merupakan aspek anak-anak dalam diri seseorang, termasuk hal-hal yang dipelajari dan pengalaman di masa kecil sebelum pubertas. Istilah lain: Divine Child (Jung), Wonder Child (Emmet), atau Child Within (Withfield). Meskipun, saat ini banyak anak yang sudah baligh atau mencapai pubertas di usia yang lebih dini, ya.

Inner child erat kaitannya dengan parenting, karena pengalaman pola asuh di masa kecil memberikan pengaruh pada seseorang dalam menerapkan pola asuh orang tersebut kepada anaknya. Salah satu penyebabnya adalah trauma di masa kecil.

Ustadzah Isra dan suaminya banyak menemui kasus atau masalah keluarga yang diakibatkan oleh inner child orang tua yang belum selesai. Ada orang tua yang karena belum belajar (ada kan yang menganggap anjuran parenting itu sekadar teori) menerapkan pola asuh yang sama dengan orang tuanya dulu, padahal sudah tidak cocok lagi untuk zaman sekarang. Ada juga yang meski secara sadar membenci pola asuh orang tuanya (biasanya terkait pemakaian kekerasan atau komunikasi yang kurang baik), tetapi secara tidak sadar malah mengikuti jejak tersebut.

Solusinya? Bisa dengan terapi ataupun self healing. Suami ustadzah Isra termasuk yang tidak menganjurkan hipnoterapi untuk tindakan awal. Ada sejumlah hal sederhana yang bisa dilakukan, khususnya bagi umat muslim, yaitu:

1. Memaafkan.

Memaafkan merupakan indikator ketakwaan (Ali Imran: 133)

Hasil penelitian Luskin menunjukkan bahwa memaafkan akan menjadikan seseorang lebih tenang kehidupannya, tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama. Dan yang pasti, mereka semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Ketika emosi kita muncul, melihat kondisi rumah berantakan apalagi kalau terbiasa dengan kondisi keluarga terdahulu yang sangat rapi, inner child bisa muncul dalam bentuk kemarahan.

Pola asuh orang tua kita dulu tidak semuanya tepat diterapkan di masa sekarang. Sudah ditegaskan juga, didiklah anak sesuai dengan zamannya. Begitu pun, bisa dimaklumi juga ketika ada kesalahan orang tua kita dulu dalam mendidik. Jika memang demikian, maafkan semua kesalahan orang tua, ingat jasa-jasa beliau dalam mendidik kita.

2. Menerima takdir, yang juga merupakan bagian dari keimanan seorang mukmin (rukun iman keenam)

“Keimanan itu ialah engkau akan percaya (beriman) pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhirat, dan engkau akan percaya kepada takdir baik dan buruk dari padanya. ” (HR Muslim).

Menerima takdir menjadikan seseorang memahami bahwa segala apa yang ada pada dirinya adalah atas kehendak Allah swt. (An-Nisā : 136). Kita memperoleh orang tua, suami, anak yang seperti ini, itu sudah takdir yang harus kita terima, karena datangnya dari Allah. Jadi intinya adalah penerimaan dengan bersyukur terlebih dahulu, lalu kalaupun ada yang mau diubah, ikhtiar dengan datang ke ahlinya (Ar-Ra’d: 11). Ingat, takdir bisa diubah kecuali takdir yang tetap.

Curhat boleh, tapi dengan orang yang tepercaya, jangan di media sosial. Cari teman yang saling mengingatkan atau menasihati. Nasihat ini merupakan perkara yang agung dalam Islam. Sabda Rasulullah saw, “Agama itu nasihat”. Sahabat bertanya “Hak siapa nasihat itu?”, beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin, dan rakyatnya (kaum muslimin).”

Manusia merugi kecuali yang beriman, beramal shalih, dan saling menasihati (Al Ashr 1-3). Butuh kesabaran yang luas memang ketika mengingatkan pasangan atau anak.

4. Mengingat Allah dan berdoa

–  Menjadikan hati tenang (Ar-Ra’d 28)

–  Hasil penelitian, dzikrullah memberikan dampak relaksasi (teknik mengatasi kekhawatiran atau kecemasan atau stres melalui pengendoran otot-otot dan syaraf) dan ketenangan.

– Doa adalah bentuk kepasrahan dengan menyerahkan urusan kepada Allah swt (Al Baqarah: 186).

 5. Harmonisasi pasangan

Komunikasi yang sehat dan keterbukaan diperlukan. Misalnya, ketika perlu bantuan dalam mengasuh anak, baiknya disampaikan ke suami. Ini penting agar inner child tidak muncul dan anak terpengaruh, yang akhirnya membuat kualitas pengasuhan kita menurun (dalam arti diwariskan) ke anak.

Lalu, seperti apa pola pengasuhan yang tepat? Dalam kajian ini tidak dibahas menyeluruh tentang hal tersebut, tetapi pertanyaan beberapa peserta mengarah ke permintaan saran mengenai pola asuh khususnya dengan kondisi ibu bekerja. Ustadzah Isra yang aslinya berasal dari tanah Minang ini menegaskan, contoh yang baik menjadi khutbah yang jitu. Jadi, kalau orang tua belum memberikan teladan yang baik, bagaimana anak akan melihat bahwa hal baik itu menyenangkan untuk dilakukan?

Menjadi teman bagi anak, khususnya yang berusia remaja, juga penting. Temani anak dengan sungguh-sungguh, letakkan gawai ketika sedang bersama anak. Dengan waktu yang sepertinya terbatas, pastikan waktu tersebut benar-benar dirasakan oleh anak kita. Membuat semacam forum keluarga di mana seluruh anggota hadir dan saling menanyakan kabar atau bercerita juga bisa dilakukan. Iringi ikhtiar kita dengan doa. Jangan lupa, persiapkan psikologis anak untuk menjalankan perannya di keluarganya sendiri kelak, utamanya bagi anak yang sudah mendekati usia siap menikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s