Tantangan PJJ: Tenggang Rasa Soal Suara

Setahun lebih anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh. Sampai saat ini pun ketika sekolah anak-anak mulai mengadakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), kami termasuk yang masih memilih agar mereka belajar dari rumah dulu. Bukan tanpa tantangan, memang. Apalagi sekarang, pada saat saya dan suami sudah lebih banyak mendapatkan tugas masuk kantor.

Baik ketika kami bisa membersamai pada saat kelas daring diadakan maupun tidak, ada persoalan yang belum benar-benar bisa dituntaskan. Seperti kita tahu, tipe belajar orang bisa berbeda-beda. Secara umum, rasanya lingkungan yang hening (kecuali suara guru menjelaskan dan audio dari video pembelajaran, misalnya) dan tenang cenderung jadi pilihan yang mendukung kelancaran belajar. Apalagi jika pembelajarannya bersifat interaktif. Pastinya dibutuhkan konsentrasi penuh untuk bisa menyerap apa yang dipelajari dan menjawab pertanyaan yang mungkin dilontarkan pengajar. Dalam keadaan seperti ini, gangguan suara lainnya bisa menjadi “polusi” yang menyulitkan. Adapun untuk kegiatan belajar yang dilakukan mandiri, ada juga orang yang lebih mudah berkonsentrasi jika ditemani musik, atau sambil bernyanyi sendiri.

Rumah mungil yang mulai kami tempati sejak awal pandemi ini memang tidak memiliki cukup ruang untuk memisahkan ruang belajar anak-anak secara nyaman. Bisa, tetapi ada hal-hal yang kurang mendukung jika menggunakan ruangan lainnya. Misalnya hawa yang panas karena di ruangan tersebut memang ventilasinya kurang atau posisinya sulit dipasang kipas angin, sinyal yang tidak memadai, atau lalu-lalang orang yang memecah konsentrasi. Di sisi lain, saya juga lebih mudah mendampingi anak-anak jika kami berada dalam satu ruangan dengan saya yang juga sedang bekerja dari rumah. Dari pengalaman, ada saja urusan yang membutuhkan penanganan cepat seperti jika ada kendala pengoperasian aplikasi Zoom (terpental dari room, guru mengganti tautan), pengumpulan tugas saat itu juga, pengerjaan kuis pada website yang lebih nyaman jika memakai gawai yang berbeda dengan yang dipakai untuk meeting kelas, dan lain-lain.
 
 
Terkadang kalau suami sedang bekerja dari rumah juga dan membutuhkan fokus lebih, saya dan anak-anak yang mengungsi ke kamar mereka. Jika saya yang sedang perlu keheningan, biasanya karena ada tugas liputan, saya yang melipir ke lorong. Jadi, terutama tahun lalu, kami lebih banyak berkumpul di satu ruangan dengan sirkulasi udara yang cukup baik, sehingga tidak perlu menyalakan AC juga (yang memang adanya hanya di kamar anak-anak).

Setahun Lebih Beradaptasi, Ini Belum Sepenuhnya Teratasi

Saat ini anak-anak sudah kian lincah mengulik gawai yang mereka gunakan, sehingga adakalanya kami sudah bisa belajar di ruang terpisah. Belajar di kamar tidur mungkin tidak ideal, tetapi dengan kondisi begini apa boleh buat. 
 
Kembali ke soal “polusi suara”, hal ini sampai sekarang kadang tidak terhindarkan. Abaikan soal para penjual keliling yang menjajakan dagangannya dengan lantang di gang senggol depan rumah kami, karena yang ini jelas di luar kendali. Soal teman sekelas yang sering (bahkan secara sengaja) tidak membisukan suara saat kelas daring dapat diatasi dengan masukan yang disampaikan kepada guru saat pertemuan evaluasi bersama orang tua murid, misalnya meminta agar guru sebagai host me-mute all participants.
 
Yang jadi “masalah”, anak-anak, terutama Fahira, suka menyanyi (atau bershalawat) secara spontan, seringkali bahkan seperti tanpa disadari. Ketika pada saat yang sama Fathia sedang perlu memusatkan perhatian, suara ini kemudian berpotensi memecah konsentrasi. Sebetulnya Fathia juga melakukan hal serupa, tetapi lebih jarang. Itu pun biasanya langsung sadar sendiri kalau bisa mengganggu, mungkin karena usianya sudah lebih besar.
 
 
Alhasil, memang Fathia yang seringnya merasa kesal karena berisik pada saat ia perlu mengerjakan tugas. Kalau sedang kelas daring malah mungkin lebih aman karena mereka memakai headset masing-masing. Namun, terutama pada tahun lalu ketika Fahira masih TK, jadwal belajarnya belum sepadat sekarang, alias waktu luangnya lebih banyak. Saya sudah berusaha menyediakan aktivitas lewat buku maupun perlengkapan menggambar dan mewarnai agar ia “sibuk”. Namun, ternyata tetap saja di tengah kegiatan Fahira bersenandung secara refleks, dan ini membuat kakaknya protes.
 
Meminta Fahira ke kamar atau meminta bantuan ART untuk menemaninya bermain di lantai lain bisa menjadi pilihan. Akan tetapi, saya bertanya-tanya, sebenarnya dalam situasi ini siapa yang seharusnya mengalah? Bagaimana, sih, bentuk tenggang rasa terhadap gangguan suara begini?
 
Apakah Fahira yang harus terus-menerus diingatkan bahkan mungkin diberi sanksi ketika ia “berisik”? Atau justru Fathia yang harus belajar toleransi, karena toh nantinya juga di kehidupan sehari-hari kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk membuat kita selalu merasa nyaman? Sekilas saya jadi ingat salah satu tulisan dalam buku parenting Adhitya Mulya, Parent’s Stories, tentang terus berada di zona nyaman yang tidak membuat seseorang berkembang.  Bisa jadi ia kelak memang harus mampu belajar di tengah-tengah suasana yang tidak sepenuhnya sepi, misalnya di kelas saat jam istirahat, atau bahkan di kendaraan umum. Atau masih terlalu dini jika saya mendorong Fathia (kala itu kelas 3) untuk bersikap seperti ini? Apalagi mengingat gaya belajar setiap orang pasti berbeda. Dan toh saya dan suami pun adakalanya meminta anak-anak tenang jika sedang butuh fokus.

Tips dari Psikolog

Pertanyaan ini lalu saya lontarkan kepada Bubu (ini sapaan khas di komunitas) Agstried Elizabeth, psikolog dari Rumah Dandelion, dalam suatu sesi tanya jawab tentang tantangan belajar dari rumah yang diadakan oleh suatu grup komunitas. Begini selengkapnya jawaban Bubu Agstried:
 
“Kalau kakak memang butuh sunyi untuk konsentrasi sementara adik perlu bernyanyi untuk konsentrasi, kita bisa memakai jalan tengah. Adik bisa pelankan suaranya, sementara kakak kalau masih terganggu dengan suara adik bisa menggunakan earphone tanpa menyalakan lagu. Jadi gumaman lagu adik terhalang sedikit… hehehe… Karena betul seperti kata Bubu kita tidak bisa menghilangkan semua hal yang membuat kakak tidak nyaman, nantinya kakak harus bisa membiasakan diri juga. Tapi adik juga perlu belajar untuk memperhatikan kebutuhan kakak yang berbeda dengan dia untuk menumbuhkan empatinya.”
 
Wah, ternyata begitu, ya. Jadi, semua pihak tetap harus sama-sama belajar. Memang, pandemi ini juga membawa pengaruh pada kepiawaian sosial anak. Tantangan yang secara alami biasanya dihadapi oleh anak sekolah, seperti bagaimana bersikap kalau ada teman yang berisik di kelas, muncul dalam bentuk lain yang bisa berbeda cara menyikapinya karena adanya perbedaan usia dan situasi. Sebagai orang tua, rasanya memang kami harus terus dan terus belajar lagi, agar pembelajaran tetap dapat berjalan dengan lancar, anak-anak berhasil memperoleh ilmu yang bermanfaat, keterampilan mereka dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari tetap terasah, sekaligus anak-anak punya kepekaan terhadap perlunya bertoleransi.
 
Barangkali pembaca ada yang pernah mengalami hal serupa, mau, yaa, dibagi tipsnya. Atau mungkin ada yang punya rekomendasi headset/earphone yang cukup menahan suara dari luar sekaligus harganya masih terjangkau?
 
#Writober2021
#RBMIPJakarta
#Suara
 
Sumber gambar: freepik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s