Kafe Sastra, Tempat Nongkrong Bernuansa Pujangga

Sekitar dua tahun yang lalu, setiap pulang kerja, saya selalu melewati Jalan Bunga yang terletak di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Hanya lewat-lewat saja dan seringnya ketika matahari sudah mulai tenggelam, jadi saya tidak terlalu memperhatikan bangunan di sekitar. Setelah tidak lagi melalui rute tersebut, saya justru baru tahu, ada kafe nan cantik di jalur menuju Stasiun Commuter Line Pondok Jati tersebut. Kegiatan Milad Forum Lingkar Pena (FLP) tahun 2019 yang bertempat diĀ aula PT Balai Pustaka (Persero) membawa saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kafe Sastra ini.

Kafe Sastra Balai Pustaka

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 5 Bunda Cekatan: Berkemah Bersama

Lagi-lagi pekan ini saya sebagai mahasiswi Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional diminta untuk keluar dari zona nyaman. Kali ini dari segi bersosialisasi, walaupun kalau dari sisi wawancara sih sebenarnya itu hal yang biasa saya lakukan, ya. Kalau kata teman saya yang ikutan IIP juga (walaupun belum di kelas Buncek), ini karena namanya juga sudah Cekatan, sudah seharusnya lebih “keluar”, tidak sekadar “di dalam” sebagaimana halnya tingkatan sebelumnya yaitu Bunda Sayang.

Waktunya cukup terbatas, sejak pemberian tugas hari Jumat ke tenggat akhir hari Selasa sudah harus ada minimal lima teman yang diajak “berkemah bersama”. Teman-teman ini akan digali pendapatnya soal kelas favorit dan alasannya, serta apakah ada tantangan dalam mengikuti kelas tersebut. Kalau bisa, diminta agar teman-teman ini adalah teman-teman baru, bukan yang sudah dikenal sebelumnya. Hasil dari obrolan ini nantinya akan diolah menjadi grafik terkait kelas favorit.

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 4 Bunda Cekatan: Masih Mengumpulkan Makanan

Pekan ini pembahasan di Keluarga WeBS semakin mendalam. Semakin banyak istilah teknis, tetapi masih cukup mudah dipahami. Blogger senior seperti Mbak Marita dan Mbak Naqiyyah yang baru bergabung dengan baik hati berbagi tutorial langkah demi langkah untuk dapat mencapai tujuan tertentu, seperti mengatur menu tampilan.

Ya, soal tampilan ini ternyata memegang peranan penting dalam mengundang dan mempertahankan pembaca. Tampilan yang ribet dan terlalu meriah akan menurunkan keterbacaan tulisan, juga membuat halaman blog sulit diakses. Kalau kelamaan menunggu halaman yang diinginkan dimuat, bisa-bisa pengunjung keburu pergi, kan? Inilah salah satu hal yang bisa kita lakukan dalam rangka menerapkan SEO.

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 3 Bunda Cekatan: Kumpul Keluarga

Jika pada pekan sebelumnya para mahasiswi Bunda Cekatan diminta mempresentasikan apa yang telah diketahui, sambil mencicipi sajian dari teman-teman lainnya, kini kami diminta membentuk keluarga. Ada berbagai tema (banyak sekali!) yang bisa dipilih sesuai dengan mind map awal. Saya sendiri sempat galau mau memilih yang benar-benar selaras dengan mind map yang sedang saya buat, yaitu blogging, atau yang lain dulu. Mind map saya selengkapnya bisa dilihat di sini.

Saya semacam merasa bersalah saja ketika tiba-tiba memilih sesuatu yang memang saya minati, alih-alih apa yang sesungguhnya bisa dibilang lebih penting dan mendesak. Soal komunikasi dalam keluarga, manajemen emosi, dan lebih-lebih lagi manajemen waktu, jelas saya belum “lulus”.

Memang, kalau kata Bu Septi pada kelas terdahulu lebih kurangnya begini: Ibu yang bahagia akan memancarkan kebahagiaannya sehingga seisi rumah juga ikut bahagia menjalani apa pun aktivitasnya, bahkan meskipun bidang yang ditekuni ini terkesan “egois”. Pastinya dengan catatan jangan sampai ada yang “terzalimi”, tambah Bu Septi saat itu. Nah, supaya tidak ada yang terzalimi, harusnya saya menuntaskan pelajaran manajemen waktu dulu, bukan?

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 2 Bunda Cekatan: Sajian Audio-Visual

Pekan ini ada tantangan baru lagi. Mahasiswi Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional diminta untuk menyajikan potluck dalam bentuk rekaman audio ataupun audio-visual. Tentu saja saya sempat mengkeret. Bicara, apalagi di depan umum, bukanlah sesuatu yang saya banget. Namun, mungkin inilah jalannya ya agar bisa mempelajari hal baru lagi. Apalagi, sesungguhnya public speaking memang merupakan salah satu hal yang saya sebutkan perlu untuk dipelajari dalam tugas kelas Bunda Cekatan tahap sebelumnya.

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 1 Bunda Cekatan: Menyajikan dan Mencicipi Potluck

Setelah melewati tahap telur-telur, sampailah mahasiswi Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional ke tahap berikutnya, yaitu Kelas Ulat-ulat. Bacanya memang agak geli, yaa, tapi ingat saja bahwa tahapan berikutnya adalah menjadi kupu-kupu. Semoga bisa sampai ke tahap selanjutnya hingga lulus.

Jadi ceritanya setelah telur-telur kemarin menetas, muncullah ulat-ulat. Apa kerjanya ulat? Makan, tentunya. Namun, ulat yang ini bukan sekadar makan. Para peserta juga diminta menyajikan ilmu yang dipelajari selama sepekan ini untuk bisa dicicipi oleh peserta lainnya. Makanya, jurnal (saya misalnya, membuat dalam bentuk blog ini) baru boleh disetorkan setelah sebelumnya menyajikan “potluck” di grup FB.

Continue reading

Jurnal M3M3 BunCek: Mari Tentukan Cara Belajar

Kali ini kami diminta menentukan cara belajar yang pas. Seperti disampaikan oleh ibu Septi dalam video beliau di kelas, setiap orang bebas saja memilih cara belajar yang sesuai. Namun, bukan berarti bebas = freedom, melainkan independen. Nah, materi yang bu Septi berikan ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Merdeka Belajar-nya komunitas Guru Belajar atau Sekolah Cikal. Beberapa waktu yang lalu, ada materi sbb di sana, yang mirip dengan konsep bu Septi:

Continue reading

Jurnal M2M2 BunCek: Menentukan Skala Prioritas

Jika pekan sebelumnya para mahasiswi Bunda Cekatan diminta untuk memasukkan aktivitas keseharian dalam empat kuadran suka-tidak suka-bisa-tidak bisa, kali ini kami diminta mengisi empat kuadran keterampilan. Ya, definisi aktivitas memang lebih luas, karena mencakup segala kegiatan yang kita jalani. Keterampilan, sesuai dengan definisinya di KBBI, adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Sepenangkapan saya, diperlukan konsentrasi lebih di situ, juga ada penekanan pada kata “selesai”.

Begitu banyaknya aktivitas kita, mana yang memerlukan keterampilan lebih? Mana yang penting dan mana yang mendesak serta mana yang tidak keduanya?

Continue reading