Jurnal Ulat-ulat 3 Bunda Cekatan: Kumpul Keluarga

Jika pada pekan sebelumnya para mahasiswi Bunda Cekatan diminta mempresentasikan apa yang telah diketahui, sambil mencicipi sajian dari teman-teman lainnya, kini kami diminta membentuk keluarga. Ada berbagai tema (banyak sekali!) yang bisa dipilih sesuai dengan mind map awal. Saya sendiri sempat galau mau memilih yang benar-benar selaras dengan mind map yang sedang saya buat, yaitu blogging, atau yang lain dulu. Mind map saya selengkapnya bisa dilihat di sini.

Saya semacam merasa bersalah saja ketika tiba-tiba memilih sesuatu yang memang saya minati, alih-alih apa yang sesungguhnya bisa dibilang lebih penting dan mendesak. Soal komunikasi dalam keluarga, manajemen emosi, dan lebih-lebih lagi manajemen waktu, jelas saya belum “lulus”.

Memang, kalau kata Bu Septi pada kelas terdahulu lebih kurangnya begini: Ibu yang bahagia akan memancarkan kebahagiaannya sehingga seisi rumah juga ikut bahagia menjalani apa pun aktivitasnya, bahkan meskipun bidang yang ditekuni ini terkesan “egois”. Pastinya dengan catatan jangan sampai ada yang “terzalimi”, tambah Bu Septi saat itu. Nah, supaya tidak ada yang terzalimi, harusnya saya menuntaskan pelajaran manajemen waktu dulu, bukan?

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 2 Bunda Cekatan: Sajian Audio-Visual

Pekan ini ada tantangan baru lagi. Mahasiswi Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional diminta untuk menyajikan potluck dalam bentuk rekaman audio ataupun audio-visual. Tentu saja saya sempat mengkeret. Bicara, apalagi di depan umum, bukanlah sesuatu yang saya banget. Namun, mungkin inilah jalannya ya agar bisa mempelajari hal baru lagi. Apalagi, sesungguhnya public speaking memang merupakan salah satu hal yang saya sebutkan perlu untuk dipelajari dalam tugas kelas Bunda Cekatan tahap sebelumnya.

Continue reading

Jurnal Ulat-ulat 1 Bunda Cekatan: Menyajikan dan Mencicipi Potluck

Setelah melewati tahap telur-telur, sampailah mahasiswi Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional ke tahap berikutnya, yaitu Kelas Ulat-ulat. Bacanya memang agak geli, yaa, tapi ingat saja bahwa tahapan berikutnya adalah menjadi kupu-kupu. Semoga bisa sampai ke tahap selanjutnya hingga lulus.

Jadi ceritanya setelah telur-telur kemarin menetas, muncullah ulat-ulat. Apa kerjanya ulat? Makan, tentunya. Namun, ulat yang ini bukan sekadar makan. Para peserta juga diminta menyajikan ilmu yang dipelajari selama sepekan ini untuk bisa dicicipi oleh peserta lainnya. Makanya, jurnal (saya misalnya, membuat dalam bentuk blog ini) baru boleh disetorkan setelah sebelumnya menyajikan “potluck” di grup FB.

Continue reading

Jurnal M3M3 BunCek: Mari Tentukan Cara Belajar

Kali ini kami diminta menentukan cara belajar yang pas. Seperti disampaikan oleh ibu Septi dalam video beliau di kelas, setiap orang bebas saja memilih cara belajar yang sesuai. Namun, bukan berarti bebas = freedom, melainkan independen. Nah, materi yang bu Septi berikan ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Merdeka Belajar-nya komunitas Guru Belajar atau Sekolah Cikal. Beberapa waktu yang lalu, ada materi sbb di sana, yang mirip dengan konsep bu Septi:

Continue reading

Jurnal M2M2 BunCek: Menentukan Skala Prioritas

Jika pekan sebelumnya para mahasiswi Bunda Cekatan diminta untuk memasukkan aktivitas keseharian dalam empat kuadran suka-tidak suka-bisa-tidak bisa, kali ini kami diminta mengisi empat kuadran keterampilan. Ya, definisi aktivitas memang lebih luas, karena mencakup segala kegiatan yang kita jalani. Keterampilan, sesuai dengan definisinya di KBBI, adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Sepenangkapan saya, diperlukan konsentrasi lebih di situ, juga ada penekanan pada kata “selesai”.

Begitu banyaknya aktivitas kita, mana yang memerlukan keterampilan lebih? Mana yang penting dan mana yang mendesak serta mana yang tidak keduanya?

Continue reading

Jurnal M1M1 BunCek: Merunut Kebahagiaan

Setelah menunggu selama setahun lebih, alhamdulillah tibalah saatnya untuk memasuki tahap berikutnya dalam perkuliahan Institut Ibu Profesional, yaitu Bunda Cekatan. Metode belajar yang digunakan kali ini berbeda lagi dengan yang sebelumnya. Bagi saya memang sedikit rumit, tetapi sepertinya lebih karena memang pekan-pekan ini kegiatan saya sedang cukup padat. Lebih-lebih lagi, pada saat yang bersamaan Ibu Profesional juga sedang berbenah dalam hal sistem dan struktur keorganisasian, jadi kadang saya merasa infonya begitu banyak untuk dikunyah dalam satu waktu.

Sebenarnya, sih, ada pilihan untuk mengikuti Kelas Bunda Cekatan ini atau tidak. Semuanya dipersilakan mengukur sendiri kemampuan masing-masing. Saya merasa sayang saja, sih, kalau kesempatan ini dilewatkan. Apalagi dengan semboyan Merdeka Belajar yang digunakan, bentuk penyetoran tugas tidak terlalu kaku.

Continue reading

Rekap Writober

Tuntas sudah sepuluh hari Writober Rumah Belajar Menulis (RBM) Ibu Profesional Jakarta saya lalui. Alhamdulillah bisa setor berurutan walaupun dengan waktu yang mepet sekali — hari terakhir saya setor adalah juga hari terakhir penyelenggaraan Writober. Program ini memang sangat menarik, terbukti banyak anggota RBM yang menyatakan senang dengan adanya dorongan untuk menulis sebanyak sepuluh hari dalam jangka waktu total sekitar 21 hari tersebut. Ada yang akhirnya menulis kembali di blog yang sudah lama berdebu karena ditinggalkan, ada juga yang dengan semangat membuat blog baru dari nol dengan segala tantangannya.

Continue reading

Writober 10: Menarik Dua Garis Biru

Kontroversi terhadap film Dua Garis Biru ini justru membuat saya penasaran untuk menonton. Lebih tepatnya, sih, karena sebagian tokoh pendidikan maupun perfilman, juga situs-situs parenting ada yang mengeluarkan pembelaan terhadap film tersebut. Katanya, tonton dulu sebelum menarik kesimpulan dan menghakimi dari trailer saja. Maka berangkatlah saya ke bioskop yang masih menayangkan film ini di luar jam kerja, yang saat itu sudah semakin sedikit pilihannya.

Continue reading