Sebuah pintu misterius terbuka, membuat makhluk mengerikan terlepas dan mengamuk. Tokoh protagonis berpacu dengan waktu agar makhluk itu tidak berbuat kerusakan, dan dapat dikunci kembali di dunianya. Plot seperti ini bukanlah hal baru untuk film-film aksi fantasi. Sudah terbayang akan ada adegan-adegan berbahaya yang membuat penonton ikut menahan napas, sebelum akhirnya dunia dapat diselamatkan. Namun, Suzume (2022) lebih dari itu.

Film animasi yang disutradarai oleh Makoto Shinkai ini tayang di layar lebar tanah air sekitar bulan puasa lalu. Kisahnya disajikan secara memikat dan seru. Tokoh-tokohnya bergerak dengan motivasi yang jelas sehingga kita peduli pada perasaan tokoh utama yang namanya dijadikan judul film dan juga pada nasib Souta, pemuda yang tiba-tiba muncul di kehidupan Suzume. Suzume adalah remaja perempuan berusia 17 tahun yang pada suatu pagi kehidupannya berubah drastis. Berawal dari menuruti rasa penasaran, ia jadi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Keingintahuan Suzume memang berakibat fatal. Makhluk yang dalam film ini disebut dengan Cacing (the Worm) muncul di berbagai tempat di Jepang, berawal dari pintu yang sempat dibuka Suzume. “Cacing” raksasa ini jika jatuh ke bumi akan menimbulkan bencana alam.
Adapun Souta yang diikuti oleh Suzume rupanya bertugas menjaga pintu-pintu ini. Meski Souta berkali-kali menampik bantuan Suzume yang merasa harus menebus kesalahan, tetapi pemuda ini akhirnya tidak bisa menolak. Sebab Daijin, salah satu batu kunci yang menampakkan diri dalam wujud kucing, mengutuk Souta menjadi kursi. Walhasil Suzume menggotong Souta sampai menyeberang lautan ke kota-kota yang jauh, demi menutup kembali satu-persatu pintu yang mulai terbuka.
Di tempat-tempat yang mereka datangi, Suzume dan “kursi” Souta bertemu dengan banyak orang baru yang ternyata ringan tangan membantu. Dinamika interaksi Suzume dengan orang-orang ini memberikan jeda manis di tengah-tengah waktu yang kian mendesak. Kita seperti diberi kesempatan bernapas sejenak sebelum kembali diajak masuk dalam ketegangan yang makin meningkat pada tiap tahapannya. Pintu yang harus ditutup misalnya, punya beragam bentuk dari pintu ruangan sampai pintu wahana taman bermain yang pasti makin menantang pula dalam proses menutupnya. Persamaannya, semua pintu ini berada di tempat terbengkalai.
Dalam wawancara saat mengikuti Festival Film Berlin, Makoto Shinkai menceritakan bahwa gempa bumi dahsyat tahun 2011 membuatnya sadar bahwa karya seni yang ia buat mestinya tidak sekadar hiburan, tetapi perlu memuat pesan-pesan bermakna. Salah satunya tentang trauma yang diangkat film ini. Tokoh Suzume telah kehilangan ibunya dalam peristiwa gempa tersebut, yang membuatnya harus tinggal bersama tantenya.
“Cacing” di film ini mengingatkan saya pada buku anak berjudul Smong. Smong ialah makhluk berbentuk naga laut raksasa yang diakrabi oleh masyarakat Simeulue, Aceh. Konon lewat legenda Smong, warga jadi lebih waspada akan potensi datangnya tsunami. Di Jepang ada pula kepercayaan tentang makhluk penyebab gempa bumi, tetapi bentuknya semacam ikan lele raksasa yang hidup di bawah tanah.
Sedangkan pintu hadir sebagai simbol penghubung masa lalu, masa kini, dan masa depan. Terus-menerus meratapi masa lalu akan membebani langkah kita. Dapat dimengerti bahwa kehilangan orang yang disayangi bisa menyisakan trauma yang mendalam. Namun, kita tetap harus bangkit. Menutup pintu bukan untuk melupakan, melainkan untuk mengikhlaskan dan menerima apa yang telah digariskan.
Tema yang mendalam dan dihadirkan dengan visual yang memanjakan mata menjadi kekuatan Suzume yang berdurasi 122 menit ini. Tak heran Suzume menarik minat banyak penonton, yang kemudian mengantarkannya menjadi film anime terlaris keempat sepanjang masa, menggeser film One Piece: Red.
Oya, meski di Indonesia dirilis dengan label Semua Umur (SU), tetapi untuk anak-anak tentu perlu diskusi lebih lanjut. Sebagai orang tua, saya agak risau dengan penggambaran “bucin”-nya Suzume pada Souta yang padahal belum lama ia kenal. Namun, adegannya masih tergolong aman, “hanya” ada ciuman di bagian akhir. Saat itu saya pergi sendiri di bioskop, tetapi berencana akan mengajak anak-anak menonton kalau sudah muncul di platform streaming. Setelahnya, saya berniat mengajak anak-anak mengobrolkan nilai-nilai tanggung jawab dan perjuangan mengatasi trauma.
Poster by https://natalie.mu/comic/news/495526, Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=70633105

seru banget nih tentang memaknai sebuah pintu yang penuh arti, jadi penasaran banget buat nonton suzume
Yukk nonton, Kak
Waduh…. Kok ada adegan dewasanya sih…
Padahal udah ada niat buat ngajakin bocil buat nonton
Nah sebetulnya bukan yang gimana-gimana juga sih, Mbak. Ciuman gitu, itu juga di ending.
Salah satu animasi yang direkomendasikan tahun lalu sih. Suka bagaimana Suzume menanamkan nilai-nilainya lewat simbol dan narasi. Terkait SU, saya sepakat sih, film ini tetap perlu pendampingan karena ceritanya bukan yang mudah dicerna anak-anak.
Wah, dikunjungi Bang Rajalubis hehe. Iya, tetap kayak ada lapis-lapis maknanya gitu ya.
Oke, masukin Suzume ke daftar yang akan ditonton. Aku nonton dorama atau film jepang, tapi anime tuh udah lama banget gak lihat. Penasaran juga gimana akhirnya masalah tersebut akan terselesaikan. Apakah Cacing itu hanya ilusi?
Jadi, cacing ituuu…. ah gak mau spoiler ah hehe.
Aku ngincer banget pen nonton Suzume ini.
Karena yang isi OSTnya RADWIMPS dan bentar lagi RADWIMPS mo konser ke Indonesia.
Seru yaa.. tapi skarang memang adegan kisseu tuh kek uda biasa banget… sebelnya dikasi rating SU. Aga aga menjebak.
Eh iya, lagunya memang bagus-bagus. Sempat mengingat-ingat mau nyari tahu penyanyinya setelah nonton, tapi habis itu lupa hahaha. Makasih sudah diingatkan, Teh.
Huhu…dari Aku yang belom nonton animenya, barruuu dengerin OST-nya doank… Dan sukaaak…
Wah menarik
Pengen nonton
Iya nih, meski SU belum tentu aman ditonton anak anak ya mbak
Yuk nonton, Mbak Dian