Haru dan Cerianya Drama Musikal Keluarga Cemara

“Di sini juga tak apa 
Asalkan saling punya 
Begini juga tak apa 
Karena kita bersama”

Lantunan suara emas Galabby “Abby” Thahira dalam lagu “Karena Kita Bersama” malam itu sukses membuat saya menitikkan air mata. Galabby yang berperan sebagai Emak menyanyikan lagu ini dengan penuh power, sedikit berbeda dengan versi Bunga Citra Lestari yang melantunkannya untuk salah satu pengiring adegan dalam Keluarga Cemara layar lebar tahun 2018. Jika versi BCL lebih lembut, lirih, dan menenangkan, versi Galabby bernada menguatkan dan meyakinkan. Saya membayangkannya laksana induk singa, siap melindungi keluarga apa pun yang terjadi. Apalagi di panggung, ceritanya saat itu Abah memang sedang perlu penguatan lebih bahwa ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang dipimpinnya.

Menonton Musikal Keluarga Cemara di Ciputra Artpreneur

Menonton Musikal Keluarga Cemara di Ciputra Artpreneur

Galabby sendiri dalam wawancaranya dengan Kompas.com menyampaikan bahwa tokoh Emak yang ia bawakan punya karakter menahan diri dan jarang bisa leluasa mengungkapkan perasaan. Jauh berlainan dengan karakter yang ia pernah perankan selama ini (saya langsung teringat tokoh Isabella dalam Musikal Nurbaya beberapa tahun yang lalu). Maka ketika emosinya digambarkan lepas, sepertinya itu adalah dalam rangka mengingatkan anggota keluarga yang lain untuk ikut bertahan di tengah segala kecanggungan menyesuaikan diri. Beberapa bagian lagu yang sudah familiar dari film juga dibawakan dengan nuansa yang baru, termasuk lagu “Karena kIta Bersama” yang sudah saya sebutkan di atas. Di lagu itu, tokoh Emak menyanyikannya bersahutan dengan tokoh Abah.

Sedikit Berbeda dengan Versi Film

Selain dalam hal presentasi lagu-lagunya, tentu ada banyak aspek yang berbeda dari Musikal Keluarga Cemara jika dibandingkan dengan versi film, apalagi sinetron, series, dan bukunya. Namanya juga alih wahana, kayaknya bakal membosankan jika semuanya persis sama. Dalam drama musikal ini penonton diajak mundur sedikit lebih jauh ke adegan perkenalan awal Abah dan Emak yang selama ini belum terungkap. Beberapa jalan cerita juga dibuat agak berbeda seperti adegan melahirkan (pantas saja salah satu tokoh sedari permulaan sudah disebutkan sebagai bidan). Porsi becak yang ikonik dari buku dan sinetronnya amat minim, tetapi tetap dimunculkan sekilas.


Saya bersama suami, anak-anak, dan Mama menonton Musikal Keluarga Cemara Jumat malam lalu. Durasi tiga jam (dengan jeda 15 menit di pertengahan untuk memberikan kesempatan bagi yang ingin ke toilet, makan/minum, atau sekadar meluruskan kaki) tak terasa lama. Pastikan tidak datang terlambat ya, karena jika terlambat masuk pada awal pementasan atau setelah break, penonton tidak bisa langsung masuk begitu saja, harus menunggu sampai adegan yang ditentukan.

Pertunjukan musikal ini merupakan sinergi antara Visinema yang dulu juga menangani filmnya dengan Indonesia Kaya dan Teater Musikal Nusantara (TEMAN). Sebagai sutradara adalah Pasha Prakarsa, sedangkan music director adalah Ivan Tangkulung.

Terdapat dua grup pemeran tokoh inti yang bergantian tampil. Hari itu kami kebagian cast tokoh utama Keluarga Berharga, yang terdiri atas Simhala Avadana sebagai Abah, Galabby sebagai Emak, Aisyah Fadhila sebagai Euis, dan Quinn Salman sebagai Ara. Adapun grup satunya lagi adalah Keluarga Bahagia, dengan Taufan Purbo sebagai Abah, Andrea Miranda sebagai Emak, Amira Karin sebagai Euis, dan Fazka Bahanan sebagai Ara. Sedangkan pemeran tokoh-tokoh pendukung lainnya tetap sama.

Tanpa bermaksud mengecilkan kelompok satunya, senang sekali kami bisa menonton malam itu karena cenderung lebih familiar dengan para pemeran utama. Ada Quinn Salman, salah satu penyanyi favorit anak-anak. Ada Galabby yang aksi panggung dan penghayatannya terkenal juara, hingga mengantarkannya masuk dalam lima besar Indonesia Mencari Bakat tahun 2012. Dan ada Simhala Avadana atau Mhala, vokalis/gitaris band Numata yang memang menulis lagu-lagu untuk Keluarga Cemara sejak versi film dan sekaligus ikut menjadi penata musik drama musikal ini bersama dengan Ifa Fachir. Putra dari penyanyi lawas Tetty Kadi ini sukses masuk dalam karakter Abah yang saking berusaha tegar ternyata malah memantik kekecewaan beberapa anggota keluarganya. Tentu sebenarnya pemeran Keluarga Bahagia tak kalah mentereng. Andrea Miranda misalnya, adalah putri dari Purwacaraka sekaligus lulusan New York Film Academy dengan sederetan portofolio menarik khususnya di bidang teater musikal.

Deretan nama para pemeran di Teater Musikal Keluarga Cemara

Deretan nama para pemeran di Teater Musikal Keluarga Cemara

Drama musikal ini dipentaskan di Teater Ciputra Artpreneur, kompleks pusat perbelanjaan Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan. Untuk menuju lantai 13 tempat teaternya berada memang sedikit perlu usaha bagi yang datangnya dari lantai bawah. Harus naik lift dulu kemudian naik eskalator lagi menuju tempat pertunjukan.  Namun, jangan khawatir, banyak sekali petugas yang siap membantu. Termasuk membantu mengingatkan kalau ada yang nekat merekam, hehehe.

Aturan ini sudah disebutkan di pemesanan tiket, tepatnya tidak boleh merekam dalam durasi yang lama. Yang jelas boleh direkam adalah bagian akhir ketika seluruh pemeran bersama-sama menyanyikan lagu Harta Berharga. Aturan lainnya adalah tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman masuk. Sebelum naik ke eskalator, tas penonton akan diperiksa. Baik makanan dan minuman bermerek maupun dalam wadah/kotak bekal/botol minum milik sendiri diminta untuk ditinggalkan di meja, untuk nanti diambil kembali saat jeda dan pulang.

tidak boleh membawa makanan dan minuman

Yang perlu diperhatikan sebelum menonton

Di teater yang berkapasitas 1100 penonton lebih ini, drama tersebut mulai bisa disimak sejak tanggal 21 Juni hingga 14 Juli nanti. Cocok memang untuk mengisi liburan sekolah. Setiap Sabtu dan Minggu terdapat dua show yaitu pukul 14.00 dan 19.30, sedangkan pada Selasa sampai Jumat hanya ada pukul 19.30. Hari Senin tidak ada pementasan. Bayangkan betapa kuat stamina para pemain dan kru yang terlibat, ya. Tiketnya sendiri dijual seharga mulai Rp174.900.

Tempat duduk dan harga tiket keluarga Cemara

Tempat duduk dan harga tiket keluarga Cemara

Kalau cerita intinya sendiri secara garis besar masih sama dengan yang ditayangkan di layar kaca maupun layar lebar, yang diadaptasi dari karya Arswendo Atmowiloto. Abah tertipu sehingga harus merelakan sebagian besar harta bendanya disita. Keluarga Abah jadi harus pindah ke rumah di kampung dengan kehidupan yang berubah. Euis yang sudah SMP merasa berat berpisah dengan teman-teman circle-nya di Jakarta, khususnya tim dance. Ia sempat merasa kesulitan berbaur dengan teman-teman barunya, apalagi bertepatan dengan peristiwa menstruasi pertamanya. Emak kemudian hamil anak ketiga, sementara Abah belum kunjung mendapatkan pekerjaan baru. Akhirnya Abah menjadi kuli bangunan, sedangkan Emak mencari nafkah dengan berjualan opak. Ara, adik Euis, dengan kepolosan dan semangatnya menjadi pembawa keceriaan bagi keluarga.

Seluruh pemain Musikal Keluarga Cemara menyanyikan lagu Harta Berharga

Seluruh pemain Musikal Keluarga Cemara menyanyikan lagu Harta Berharga

Seperti dalam filmnya, para tetangga yang baik hati menjadi pendukung bagi keluarga yang sedang beradaptasi ini. Yang paling mencuri perhatian adalah Sita Nursanti (personel Rida Sita Dewi) sebagai Ceu Salmah dan Bima Zeno Pooroe (pemeran Tuan Meringgih pada Musikal Nurbaya) sebagai Kang Romli. Sita bisa lepas dari bayang-bayang Asri Welas yang memerankan Ceu Salmah di film.

Bahkan tokoh-tokoh tetangga maupun “kolega” Abah ini lebih banyak jumlahnya pada versi teater, dengan karakter khas masing-masing yang seringkali memicu tawa. Namun, saya agak bingung juga dengan beberapa lelucon yang menggunakan bahasa Sunda. Untungnya  ada subtitle di layar atas panggung, walaupun memakai bahasa Inggris, sih. Subtitle ini sekaligus menjadi bentuk inklusivitas karena memudahkan teman-teman tuli ikut menyimak.

Meski durasinya sepanjang 180 menit, tetapi memang tetap ada beberapa bagian yang terasa terburu-buru diselesaikan. Fahira, putri kedua saya, memperhatikan bahwa konflik Euis dengan tim dance-nya tidak tampak tuntas, seperti tahu-tahu saja mereka sudah berbaikan. Konflik sertipikat rumah pada bagian akhir juga lebih singkat jika dibandingkan dengan versi filmnya.
Namun, pengalaman menonton penampilan langsung ini memang luar biasa. Para pemain dapat menjaga suara mereka tetap stabil dan penuh penghayatan. Desain dan properti panggungnya keren, koreografinya rapi, orkestra live-nya juga megah, pencahayaannya pun cakep.

Tak Sekadar Nonton

Oh ya, di koridor menuju ruang pertunjukan juga ada beberapa spot yang menarik untuk dikunjungi. Ada galeri mini Indonesia Kaya yang menampilkan layar interaktif berisi gambar-gambar hewan dan pakaian khas Indonesia, juga gerai merchandise yang dihias seperti interior rumah Keluarga Cemara. Salah satu yang dijual di situ adalah opak Emak. Jika tak langsung pulang, pengunjung juga bisa menunggu para pemain turun untuk menyapa dan berfoto bersama.
Melalui pertunjukan ini, kita juga bisa sekaligus belajar lagi tentang nilai-nilai dalam sebuah keluarga. Tak ada yang sempurna memang, yang penting semua orang mau terus belajar untuk menjadi versi lebih baik dari dirinya, hari ke hari. Analogi kondisi pohon cemara juga lebih ditekankan di versi musikal, diiringi lagu Cemara Bahagia yang merangkum proses bertumbuhnya keluarga ini.
 
Abah belajar untuk menerima bahwa ia tak selalu harus tegar sendirian, sedangkan Euis belajar mengendalikan gejolak emosi masa remajanya. Nyanyian duet Abah dan Euis juga sangat mengharukan, khususnya saat bait “Pelukku mungkin hanya sementara, simpan hatiku selamanya.” Wah, pecah banget. Apalagi untuk orang tua dengan anak perempuan yang beranjak remaja seperti kami. Setelah sebelumnya hati saya ikut tersayat mendengarkan lagu “Semua Percuma” yang menyuarakan protes keras seorang gadis muda pada ayahnya, rekonsiliasi lewat lagu “Pelukku Selamanya, Hatiku Sementara” ini menjadi momen yang sangat indah.
 

Sedikit catatan dari saya adalah beberapa adegan yang agak terlalu mesra. Mungkin mirip dengan adegan saling menggoda oleh pasangan penjahat di Petualangan Sherina 2 (btw, di sesi malam itu Sherina dan Chandra Satria nonton Musikal Keluarga Cemara, loh! Galabby juga dulu ikut membintangi Petualangan Sherina sebagai teman kecil Sherina serta Musikal Petualangan Sherina sebagai Zus Natasha). Memancing tawa penonton dewasa memang, dan sekilas sah-sah saja karena toh tokohnya digambarkan sebagai suami-istri, tetapi tidak selalu nyaman di mata semua orang. Apalagi untuk rentang awal usia penonton sedini yang diharapkan produsernya, yaitu 5 tahun ke atas. Tidak ada yang sampai ciuman atau gimana-gimana juga sih sebetulnya, hanya saja mungkin bisa disiapkan strateginya sebelum menonton, dengan menyesuaikan prinsip keluarga.
 
Di luar beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian tadi, kalau memang ada kesempatan, yuk agendakan menonton Musikal Keluarga Cemara bersama keluarga! Sayang juga soalnya kalau dilewatkan. Penonton yang belum mengenal Keluarga Cemara tak perlu khawatir kebingungan mengikuti jalan cerita, sedangkan penonton yang sudah akrab pun takkan kecewa karena banyak hal baru yang bisa dinikmati.

16 thoughts on “Haru dan Cerianya Drama Musikal Keluarga Cemara

  1. mbak, seru banget bisa nonton musikal keluarga cemara.cocok banget ya buat pengisi liburan sekolah anak

  2. aku bayangin ini pasti seru banget kak….

    aku belum pernah liat drama musikal tapi suka aja gt liat kilasannya aja dh hepi apalagi liat full..meskipun terasa lama 3 jam tapi pasti tidak berasa kalo penonton juga dibawa menikmati alur ceritanya..

    pengen suatu saat nanti bisa liat drama musikal seperti ini 🙂

  3. uwaaa seru banget ini mbakkk..

    pasti anak-anak pada seneng banget diajak nonton bareng sama keluarga 🤗

  4. walau pemerannya beda sama yg di film, kalo nonton langsung drama musikal keluarga cemara ini bakal ikut hanyut sama cerita pasti ya, Mbak.

  5. wah serunya, saya belum pernah menontyon drama musikal seperti ini

    selain itu cerita keluarga cemara ini favorit kiddos, pasti mereka senang nih kalau diajak nonton drama musikalnya

    • Yuk kapan-kapan dicoba, Mbak. Liburan ini sepertinya ada beberapa pertunjukan musikal untuk keluarga, kemarin sempat lihat poster Musikal Joshua Oh Joshua dan School of Rock.

  6. Cantik banget panggungnya Drama Musikal Keluarga Cemara di Teater Ciputra Artpreneur, kompleks pusat perbelanjaan Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan.

    Rasanya pasti penuh keharuan yaa.. Karena ikonik khas Keluarga Cemara memang relate dengan masalah keluarga Indonesia dengan kesederhanaannya.

  7. wah seneeng banget ya mbak bisa nonton drama musikal Keluarga Cemara. Btw aku suka banget lagu-lagu soundtrack film keluarga Cemara. Menyentuh hati, bikin haru dan happy sekaligus.

Leave a comment