Sing Njlonet, Sing Kenes, lan Sing ….

Kata kesembilan untuk Tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta adalah “kenes”. Sebagai orang Jawa saya tak asing dengan kata ini.

Kalau di tantangan ini, sebagaimana dalam KBBI, kenes diartikan sebagai lincah dan menawan hati; genit; bangga akan keadaan dirinya. Yang saya pahami pun lebih kurangnya demikian, kenes berarti genit dan lincah. Kadang konotasinya positif, khususnya jika dilekatkan pada anak kecil. Anak yang percaya diri untuk tampil dan bertingkah laku lincah biasanya akan mendapatkan apresiasi. Namun, untuk orang dewasa, sepenangkapan saya, kata kenes dapat diartikan negatif. Ada kesan merayu di situ, sebagaimana disebutkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk.

Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk

Setidaknya ada enam kata “kenes” dalam novel karya Ahmad Tohari itu, yang digunakan untuk menggambarkan Srintil, tokoh utamanya yang merupakan seorang penari.

Demikian, sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup, jari tangannya melentik kenes.

“Kudengar beberapa orang berkomentar, “Srintil mengenakan keris baru yang lebih kecil dan bagus. Alangkah pantasnya. Alangkah kenesnya.”

“Eh, sampean lihat sendiri nanti,” jawab Sakarya. “Srintil akan langsung menari dengan kenesnya bila mendengar suara calungmu.”

“Yah, Srintil. Bocah kenes, bocah kewes. Andaikata dia lahir dari perutku!” kata perempuan lainnya lagi. Berkata demikian, perempuan itu mengusap matanya sendiri.

“Itu benar. Srintil memang ayu dan kenes. Tetapi siapa yang memiliki sebuah ringgit emas di Dukuh Paruk.”

“Bila para perempuan kelihatan tulus ikhlas memanjakan Srintil, tidak demikian dengan para lelaki. Pak Simbar, penjual sabun di pasar Dawuan berkata dengan mata bersinar-sinar kepada Srintil. “Eh, wong kenes, wong kewes.”

Memang, kata sifat kenes juga umum disematkan pada gerakan tarian. Di bangku SMP dulu, untuk pelajaran Seni Tari, kami harus menghafalkan sifat-sifat tarian tertentu, salah satunya Tari Gambyong yang disebutkan bersifat kenes dan luwes.

Kata kenes juga mengingatkan saya pada salah satu rubrik di majalah yang datang ke rumah setiap pekan dulu. Almarhum Mbah Kakung dan Mbah Putri berlangganan dua majalah berbahasa Jawa, yaitu Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Salah satu rubrik khas di majalah Panjebar Semangat adalah “Sing Njlonet, Sing Kenes, Sing Lucu, lan Sing ….” Iya, nama rubriknya memang agak menggantung begitu.

Sing Njlonet

Rubrik Sing Njlonet di Majalah Panjebar Semangat

Isi rubrik Sing Njlonet ini adalah kumpulan foto-foto anak yang dikirim oleh para pembaca. Kata “njlonet” dan “kenes” menggambarkan sifat lucu dan menggemaskan yang ditampilkan oleh anak-anak yang fotonya dimuat di situ. Tentunya merupakan salah satu kebanggaan tersendiri ketika foto anggota keluarga bisa dimuat di sini. Saya sendiri lupa apakah foto saya atau adik pernah dikirimkan ke sana, atau apakah jika dimuat ada hadiah yang didapatkan.

Saat mencoba mencari foto rubrik ini di Google, satu-satunya yang bisa saya temukan adalah penawaran lembar rubrik ini di Shopee dengan harga lumayan, berharap orang-orang yang fotonya dimuat di situ tertarik untuk membeli sebagai kenang-kenangan. Memang bisa jadi sudah masuk collectible item sih, ini.

#writober2024
#kenes
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional

Sertifikat Pemenang Tema Writober 2024 RBM IP Jakarta - Kenes

Sertifikat Pemenang Tema Writober 2024 RBM IP Jakarta – Kenes

One thought on “Sing Njlonet, Sing Kenes, lan Sing ….

Leave a comment