Aliran Rasa Tantangan Level 5: Menstimulasi Anak Suka Membaca

Tantangan untuk Level 5 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional adalah terkait Menstimulasi Anak Suka Membaca. Bisa dibilang tantangan ini adalah yang paling membuat saya bersemangat sepanjang mengikuti perkuliahan online IIP sejak kelas Matrikulasi hingga Bunda Sayang, soalnya ‘saya banget’. Tentu, kemudian muncul juga kendala seperti pengelolaan waktu untuk benar-benar rutin membaca bersama setiap harinya, khususnya karena tantangan ini dilaksanakan pada bulan Ramadhan sehingga kadang terbersit rasa, duh, sayang nggak nih waktunya buat bikin beginian alih-alih mengejar target tilawah, misalnya. Sebetulnya pada bulan Ramadhan jam kerja lebih pendek, tapi tetap saja saya paling cepat sampai di rumah sesaat sebelum adzan maghrib dan sesudahnya langsung disibukkan dengan buka puasa diteruskan dengan tarawih sampai setidaknya pukul setengah sembilan malam.

Kalau membacakan saja sebetulnya sudah menjadi rutinitas sehari-hari dan kebersamaan berkualitas dengan keluarga pun semoga bernilai ibadah. Saya terbantu juga oleh suami yang sedang libur kuliah cukup panjang (tapi biasanya judul yang dibacakan oleh suami pada pagi/siang hari –ketika saya di kantor– tidak saya setorkan sih, karena seringnya lupa juga😆). Menulis hasil/laporannya di blog juga saya sukai. Namun, ketentuan baru/khusus dalam tantangan level 5, di antaranya pembuatan pohon literasi dan mekanisme setor link yang sekarang harus melalui dua saluran yaitu google form dan grup facebook saya rasakan cukup memakan waktu.

Soal pohon literasi, ini sebetulnya karena saya suka merasa minder duluan kalau bikin beginian yang saya anggap bentuk kerajinan tangan yang tak kunjung saya kuasai, padahal kan bikinnya nggak harus nyeni juga ya. Anak-anak sih sebetulnya suka membantu bikin pohon literasi, terutama di awal. Fathia (anak pertama) pun semangat menulis sendiri judul-judul buku yang kami baca bersama. Saya saja yang tidak berupaya sepenuhnya menjaga semangat itu hingga akhir.

Kendala lainnya adalah pendokumentasian foto untuk melengkapi setoran, sebab waktu membaca bersama di hari kerja biasanya adalah menjelang tidur, agak susah menangkap adegan kami yang layak tayang 😆. Jadi memang saya selalu baru setor H+1.

Menjelang tidur kalau sempat ketik seadanya dulu, paginya baru dibenahi, copas ke blog, siang atau malah sorenya baru sempat setor link ke fb dan google form sambil nunggu suami jemput pulang kantor, tapi sebisa mungkin sebelum sampai rumah sudah beres, biar bisa fokus ke tantangan hari selanjutnya dan juga buka puasa dst tentunya.
Agar bisa setor tepat waktu dan menyiasati tantangan-tantangan di atas, saya menggunakan beberapa trik. Misalnya membuat draft blog sejak awal tantangan diumumkan. Istilahnya bikin rumah dulu lah, dengan format judul, tag/label sebagaimana ketentuan (ini sepertinya sepele tapi kalau buru-buru bisa bikin runyam), dan nama anak (+usia, karena menurut saya penting sekaligus sebagai dokumentasi perkembangannya) yang baku, sampai sepuluh lebih draft untuk mengakomodasi minimal hari tantangan. Sebagai awalnya cukup bikin satu, lalu selanjutnya manfaatkan fasilitas copy post, edit urutan hari dan tanggalnya. Jadi pada tiap hari-H, saya bisa langsung mengisinya dengan catatan tanpa perlu mulai lagi dari awal sekali.

Kalau memang tidak sempat mendokumentasikan dengan memadai pada saat pelaksanaan kegiatan baca bersama, akhirnya saya minta anak-anak berpose dengan buku pada hari berikutnya atau bahkan hanya memotret sampul bukunya.

Tab laman pengumpulan tugas di google forms maupun facebook juga saya biarkan terbuka di peramban web ponsel, jadi tidak harus mencari ulang setiap mau setor.

Rangkaian tagar saat penyetoran tautan blog di grup facebook meski terlihat sepele tapi bisa repot kalau baru sempat setor menjelang tengah malam dan berpotensi bikin setoran jadi lewat hari (jaringan error dst), maka saya menyalinnya dulu ke note di ponsel (saya pakai Evernote, walaupun sekarang di ponsel sudah ada text prediction yang juga membantu) agar mudah ditempelkan pada setoran di facebook setiap harinya.

Tapi secara keseluruhan saya tetap suka dengan tantangan yang ini karena menyemangati untuk kembali rajin membuat ulasan buku-buku yang telah dibaca. Sepanjang tahun 2008, sebelum hamil pertama, saya sempat cukup konsisten membuat ulasan dan rekapitulasi buku-buku yang dibaca setiap bulannya. Ingin sekali meneruskan kebiasaan itu sekarang, agar ada arsip yang memadai dan juga siapa tahu bisa dijadikan referensi untuk memudahkan para calon pembaca/orangtua lain dalam memilih bacaan.

Daan, untuk pertama kalinya sepanjang mengikuti penugasan Kelas Bunda Sayang, di level ini saya memperoleh badge Outstanding Performance. Sebelumnya mah boro-boro, bisa setoran konsisten selama sepuluh hari berturut-turut saja sudah berasa alhamdulillah daripada nggak sama sekali (pernah juga begini soalnya).

 

Indahnya Berbagi dengan Para Nenek dan Kakek di Bulan Ramadhan

Sebuah undangan masuk ke grup whatsapp. Salah satu komunitas yang saya ikuti akan menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama sekaligus berbagi di sebuah panti werdha atau biasa disebut juga dengan panti jompo. Mau tak mau ingatan saya melayang ke sekitar sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu milis sebuah majalah juga menggelar aksi sosial di panti werdha. Saya kira tempatnya sama, tetapi setelah dicek lagi ternyata berbeda, walaupun sama-sama di Jakarta Timur. Masih terbayang keceriaan para opa dan oma di panti werdha dulu ketika beberapa kawan mengajak beliau-beliau semua menyanyi bersama. Usai acara, sempat pula kami berkeliling sekilas, menengok sebagian penghuni yang tidak bisa beranjak keluar dari kamar dan bergabung di aula karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Jika dulu acara bernuansa riang gembira, kali itu, tanggal 11 Juni, ketika saya, suami dan anak-anak tiba di lokasi, suasananya cenderung mellow. Maklum hari sudah beranjak menjelang senja, dan gerimis pun turun. Alih-alih menyanyi bersama, para peserta sedang menyimak tausiyah dari Coach Sulis. Saat kami mulai ikut mendengarkan, Coach sedang membahas sabar dan syukur sebagai penolong. Coach Sulis mengingatkan bahwa pada keadaan tinggal bersama teman-teman sebaya yang sama-sama sudah sepuh, konflik seringkali tidak bisa dihindarkan. Sebagian peserta ikut menanggapi dengan menceritakan pengalaman mereka. Ada yang adu mulut karena giliran ke kamar mandi, ada juga yang terlibat benturan fisik gara-gara ketidaksengajaan.

Continue reading