Sahabat Yang Baik Itu…

Kalau kita bilang, “Teman, kalau nanti kamu tidak melihat saya di surga, cari dan panggil saya dari neraka” itu kok seperti kita angan-angankan masuk neraka. Jangan begitu. Membayangkan kita masuk (jatuh ke) selokan saja pasti kita tidak mau, kan?

Ucapan Ustadz Oemar Mita pada kajian tanggal 15 kemarin di OJK berasa makjleb di hati. Memang, kalimat yang dinukil dari ucapan Ibnul Jauziy* tersebut cukup sering dilontarkan di sana-sini. Sekilas sepertinya tujuannya baik, biasanya untuk semakin memperkokoh pertemanan. Toh ada ulama yang mencontohkannya. Lagipula kayaknya kalau mau menyebut-nyebut kita pede masuk surga, takutnya seperti takabur gitu, ya. Wong amalan ya masih begini-begini saja. Namun, memang kalau kita minder atau nggak pede masuk surga, maka kita perlu usaha perbanyak amalan baik dan wasilah lain yang bisa menolong kita. Salah satunya, ya sahabat baik itu.

Setiap orang membutuhkan orang lain untuk melihat sisi lemahnya. Seorang nabi pun masih memerlukan para sahabat yang saling melengkapi. Apalagi kita yang manusia biasa. Kita perlu menyadari betapa pentingnya memiliki teman dalam membangun ketaatan kepada Allah swt. Jangan sampai kita sendiri sudah merasa diri belum menjadi muslim yang baik, lalu tidak punya pula teman yang baik.

Ayat yang terberat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. adalah ayat berikut ini:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan [Surat Hud (11) ayat 112].

Dalam ayat tersebut kita diminta untuk istiqamah bersama orang-orang yang bertaubat, maknanya kita perlu bersama-sama dengan orang-orang yang baik. Jadi, perhatikan juga siapa yang menjadi sahabat kita.

Memiliki sahabat yang baik itu sungguh merupakan investasi yang berharga. Salah satu rezeki, yang bisa terbawa sampai ke akhirat nanti, adalah ketika memiliki teman yang shalih. Termasuk di antaranya adalah teman-teman di kantor yang saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan sekadar bicara duniawi atau rutinitas pekerjaan saja.

Shalih ini bukan hanya diukur dengan ibadah mahdah saja, tetapi juga dilihat dari akhlak yang mulia. Jadi kalau masih suka ghibah atau fitnah, kira-kira masuk ke sahabat yang baik atau bukan, yaa….

Ingin memiliki sahabat yang baik dan shalih, bukan berarti kita lalu tidak menganggap teman yang lain, ya. Hanya saja, teman yang baik bisa membawa kita mengarah pada kesempurnaan iman. Maka ketika teras kehidupan kita terasa kering akan keberadaan orang shalih, perlu dipertanyakan, ada apa dengan keimanan kita. Sebaliknya, banyaknya teman orang shalih yang kita miliki bisa menunjukkan proses keimanan kita yang makin meningkat.

Minimal, dengan memiliki teman yang shalih, berarti kita sudah memilih teman yang kelak akan menshalatkan kita. Suatu musibah jika saat kita meninggal tidak ada teman yang tergerak menshalatkan kita, atau tidak ada teman yang cukup paham bagaimana tata cara melakukan shalat jenazah yang benar dan mendoakan kita.

Saya sempat membicarakan hal ini dengan teman kantor setelah kajian. Bahwa ada teman baik kami yang ketika beliau meninggal banyaakkk yang mendoakan dan bahkan datang jauh-jauh ke kota kelahirannya untuk bisa menshalatkan langsung dan mengantar jenazahnya. Kesaksian baik untuknya membanjir di media sosial, untaian doa pun banyak terkirim.

Sekilas mungkin kita akan beranggapan bahwa itu sudah seharusnya, wajar, dan seterusnya. Namun, toh kemudian ada juga orang lain yang tak sampai sebegitunya diperlakukan oleh teman-temannya ketika berpulang. Bisa jadi yang menyempatkan diri datang takziah tidak banyak, atau sudah datang takziah pun ada saja yang menghalangi untuk menshalatkan langsung. Jadi, ternyata memang benar, memiliki sahabat yang baik (dan berbuat baik) adalah investasi yang berharga.

Seperti dikatakan di atas, ibadah kita mungkin tidaklah cukup menjadi bekal kita menuju surga. Dengan memiliki sahabat-sahabat yang shalih, kata Ustadz Oemar Mita, kita memperbesar potensi beroleh wasilah dan syafaat kelak. Selain syafaat khas dari Rasulullah saw untuk umat yang benar-benar mengikuti jalan beliau, juga ada syafaat ‘aam yang bisa diperoleh dari ibadah sunnah kita atau dari orang lain.

Ya, orang yang masuk surga kelak akan mencari sahabatnya semasa hidup dulu, karena ingatan di surga nanti akan tetap terjaga. Mungkin akan timbul tanya di hatinya setelah beberapa saat menikmati surga, ke mana ya pak A, mbak B, kok nggak kelihatan di surga. Dulu padahal kan suka ngaji bareng-bareng.

Karena semua keinginan di surga akan terkabul seketika itu juga, maka pertanyaan dalam hati yang menyiratkan keinginan bertemu itu pun akan langsung ditindaklanjuti oleh Allah swt: diajaklah orang itu menengok sahabatnya di neraka. Rupanya walaupun dulu sering mengaji bersama dengan orang yang masuk surga, ada kesalahan-kesalahan yang membuat sahabat ini harus dibersihkan dulu di neraka. Dengan adanya iman walaupun hanya setengah keping dinar dan permintaan sahabatnya, itu cukup untuk membawanya ke surga.

Tentunya juga jangan jadi mengandalkan teman baik ini semata. Tetaplah berupaya dan berdoa untuk meraih surga yang tertinggi. Jangan juga jadi modal buat modus deketin lawan jenis, yaa :D.

 

* penjelasan dari situs MuslimAfiyah lebih lanjut tentang sebaiknya tidak berkata-kata seperti itu:

Note penting: Perkataan Ibnul Jauziy yaitu “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyalah aku kepada Allah”, ucapan ini tidak boleh dibiasakan dan diucapkan jika bertemu sesama muslim. Ini hanya informasi dari beliau karena adanya hadits bahwa sahabat di surga tidak melihat sahabatnya yang dahulu bersama-sama beribadah dan kemudian memberikan syafaat. Ucapan ini bisa juga sebagai bentuk kita “kurang yakin” kita akan masuk surga, padahal kita harus berdoa dan berharap dengan yakin. Bahkan sebagian ulama menjelaskan bahwa ucapan dan perbuatan ini termasuk yang tidak ada ajarannya dalam Islam.

 

11 thoughts on “Sahabat Yang Baik Itu…

  1. Sahabat yang baik itu sangat berharga ya Mba? Jadi harus dieman-eman kalo udah menemukan sahabat yang baik. Biar bisa sama-sama masuk surga.

    • Iya, Mba… Memang sih, sesama orang baik juga belum tentu selalu kompak dan seiya sekata, tapi setidaknya kalau sama-sama punya tujuan bersahabat Lillahi ta’ala, jadi bisa lebih mengelola perbedaan untuk saling mengingatkan atau saling melengkapi, ya…

  2. Hoo noted mbak. Aku sering sekali mendengar ucapan itu diucapkan baik oleh tokoh Parenting maupun tokoh agama. Sekilas memang nampak tidak ada yang aneh dengan kalimat itu, tapi setelah dibedah begitu rupanya ya. Jadi tahu sekarang. Inilah pentingnya ilmu sebelum amal ya mbak. Thank you artikelnya. Bergizi.

  3. Enak bgtz kalo punya sahabat yg saling ngingetin, saling support buat kebaikan, saling mendoakan. Mudah2an kita2 yg jarang ketemu muka bisa senantiasa kayak gt. Salah satu cara support n mengingatkan itu y kayak posting yg begini. Sering2 ya 😁

  4. Betul banget mbak, kalau kumpul sama org shaleh shalehah akan bawa kita menuju kebaikan, sebaliknya kalau kumpul ma org hedon kebawa jg. Jd wajib memang menjaga pergaulan, cari yg bisa menarik ita menuju kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s