Anak Batuk Pilek, Imunisasi Jalan Terus

“Anak saya batuk pilek nih Bun, jadwal imunisasi besok, boleh lanjut atau tunda aja dulu, ya?”

Pertanyaan di atas cukup sering terlontar di grup atau forum ibu-ibu. Cukup bisa dimengerti bahwa ada kekhawatiran mengimunisasi anak saat kondisinya sedang tidak fit. Biasanya sih ortu takut sesudah disuntik vaksin anak atau bayinya jadi demam (sebagai efek atau lebih tepatnya kejadian ikutan pascaimunisasi/KIPI) yang bikin tambah rewel. Atau ada juga yang mendapatkan informasi bahwa vaksinasi saat anak kurang sehat akan berpengaruh pada respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan, semacam jadi tidak optimal bekerjanya. Yang lain menyebutkan bahwa adanya demam sesudah imunisasi bisa membuat rancu apakah demamnya demam KIPI atau karena batuk pilek yang sedang dialami, ini sehubungan dengan tindakan selanjutnya yang perlu diambil.

Oh ya, ada juga yang mengistilahkan batuk pilek yang sebetulnya lebih tepat dibilang selesma ini dengan flu atau influenza. Sebetulnya sih beda, ya. Perbedaan selengkapnya bisa dibaca di sini: Batuk Pilek dan Influenza (Flu), Serupa tapi Tak Sama.

Setelah baca sana-sini, diawali dari bacaan di Milis Sehat, saya termasuk yang sering menjawab pertanyaan tadi (kalau ada yang nanya, karena saya aktif di beberapa grup) dengan “batuk pilek bukan penghalang imunisasi”. Fathia dulu mendapatkan suntikan MMR (yang di antaranya mengandung vaksin campak, yang salah satu KIPI yang umum terjadi adalah demam sekitar 8-12 hari pasca-imunisasi) saat sedang batuk pilek, dan alhamdulillah batuk pileknya tidak bertambah parah setelahnya. Dokter keluarga kami malah yang menyarankan waktu itu. Ya, kata kuncinya memang konsultasikan dengan dokter, dengan kita juga berbekal informasi valid dulu tentunya. Beberapa lembaga maupun organisasi resmi sudah mengeluarkan pernyataan seputar bolehnya imunisasi ketika batuk pilek, yaitu:

  1. IDAI: Bayi/anak sedang pilek batuk bolehkah diimunisasi? Boleh. Batuk pilek ringan tanpa demam boleh diimunisasi, kecuali bila bayi sangat rewel, imunisasi dapat ditunda 1 – 2 minggu kemudian.
  2. Kementerian Kesehatan melalui iklan layanan masyarakat yang beberapa tahun yang lalu sering diputar di televisi: Imunisasi aman bagi anak yang sedang demam atau batuk pilek. (video: https://www.youtube.com/watch?v=7VH7Fj2LgxY).
  3. Kementerian Kesehatan melalui Buku KIA terbaru tahun 2016 (bisa diunduh di sini) juga menegaskan lagi bahwa “Sakit ringan seperti batuk, pilek, diare, demam ringan, dan sakit kulit bukan halangan untuk imunisasi.”
  4. Publikasi resmi dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention)Vaccines When Your Child Is Sick: anak masih bisa tetap diimunisasi ketika ia dalam kondisi demam ringan (101 F/38,3 C), pilek, meler, atau batuk, infeksi telinga bagian tengah (otitis media), dan diare ringan. Tidak ada manfaat secara kesehatan dengan menunda imunisasi ketika anak sedang sakit ringan sebagaimana disebutkan di atas. Penting untuk tetap mengimunisasi anak tepat waktu meskipun mungkin sedang tidak enak badan, guna melindungi mereka dari penyakit berbahaya. Dokter anak bisa membantu menentukan apakah tetap imunisasi saat itu atau ditunda ketika anak sedang sakit ringan. Sistem kekebalan tubuh anak mampu merespon jutaan antigen (bakteri, virus dll yang membuat tubuh anak memproduksi antibodi untuk melawan), sedangkan vaksin antigennya hanya sebagian kecil dari yang biasa dihadapi anak secara alami sehari-harinya. Jadi, sistem imun mampu menangani vaksin yang diberikan untuk kemudian membentuk kekebalan terhadap penyakit spesifiknya, sekaligus melawan penyakit ringan yang sedang diderita secara bersamaan. Vaksin juga tidak memperburuk gejala penyakit, walaupun memang bisa ada efek samping ringan seperti demam ringan atau rasa nyeri atau bengkak di lokasi suntikan. Efek samping ini bisa dibantu dinyamankan dengan kompres sejuk di area suntikan atau berkonsultasi dulu dengan dokter kalau mau memberikan obat pereda nyeri (biasanya juga membantu meredakan demam). Sakit ringan tidak memengaruhi seberapa baik tubuh merespon vaksin. Vaksin tetap membangun kekebalan pada anak yang sedang sakit ringan sebagaimana pada anak yang sehat. Tetapi memang ada beberapa kondisi kesehatan serius yang membuat pemberian vaksin bisa ditunda, seperti kanker, masalah kekebalan tubuh misalnya setelah transplantasi, sedang menjalani kemoterapi, sedang mengonsumsi antivirus, atau memiliki alergi terhadap bahan dalam vaksin tertentu. Diskusikan dengan dokter untuk hal ini.

Baca juga: Jadwal Imunisasi IDAI 2017

Tambahan: secara umum sebenarnya memang tidak ada larangan untuk mengimunisasi anak dalam keadaan batuk pilek, sudah ada pernyataan dari Kemenkes juga. Hanya saja, khusus program MR tahun ini, Kemenkes mengeluarkan pernyataan berbeda sbb:

Disebutkan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr HM Subuh MPPM, anak dengan kondisi demam, batuk, pilek, mencret, ruam dan gangguan kesehatan lainnya tidak boleh disuntik. Tenaga medis harus mengecek supaya pemberian vaksin tidak sia-sia.

“Kalau anak mau diimunisasi yang pertama dia jangan sampai sakit. Pastikan anak tidak demam, batuk, flu dan mengalami gejala lainnya,” ujar Subuh saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (15/8/2017).

Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2017/08/15/481/1756469/catat-anak-dengan-kondisi-seperti-ini-harus-tunda-imunisasi-mr

Semoga sih kalaupun ada yang ditolak dapat imunisasi ini karena sedang batuk pilek, segera dapat memperolehnya dalam waktu dekat ya. Soalnya bermanfaat banget kan imunisasi Measles Rubella ini. Gratis pula, di saat vaksin MMR sedang langka (meskipun minus komponen Mumps/gondongannya). Bahkan beberapa ortu sampai bela-belain ke negara tetangga demi bisa imunisasi MMR. Cukup makan biaya, kan.

Oh ya, di klinik langganan, bulan lalu saat menunggu giliran bayar imunisasi influenza anak-anak, saya dengar pengantre di depan saya membayar untuk vaksin MMR. Wah, di sini ada ya, ternyata, pikir saya. Memang kadang ada vaksin seperti varicella yang langka pada masanya (sekarang juga masih ya kayaknya, tapi nggak selangka MMR) tapi tersedia di sini, dan sempat saya ambil untuk anak kedua. Tapi ketika saya tanya petugasnya, katanya MMR yang tersedia baru untuk dewasa, kalau untuk anak masuk daftar tunggu dulu. Harganya pun sudah lima kali lipat dari ketika saya ambil imunisasi MMR sebelum merencanakan kehamilan anak kedua (sudah tiga tahun berlalu juga sih, ya). Saya kejar, lha, bukannya vaksin MMR dewasa dan anak sama, nggak seperti vaksin influenza atau hepatitis yang beda dosis anak dan dewasa, jawabannya belibet, katanya karena belum biasa dipakai di Indonesia, kemudian arahnya sepertinya diprioritaskan untuk yang butuh buru-buru karena mau bepergian ke luar negeri dan menjadi syarat untuk memasuki negara tertentu. Jadinya saya penasaran dong, apa mungkin soal perizinan pemakaian vaksin ini (disebutkan dengan inisial merk P) pada anak-anak? Tapi katanya sih nggak.

Ya, sudahlah, masih alhamdulillah anak-anak sudah sempat dapat imunisasi MMR sekali, nanti tinggal ikut program MR dari pemerintah. Semoga ketika saatnya tiba mereka dalam keadaan sehat agar nakesnya juga tidak ragu menyuntik :). Dulu sih anak pertama justru disuntik MMR ketika sedang batuk sudah seminggu, atas saran dokternya dengan pertimbangan seperti bahan bacaan yang saya sebutkan di awal tulisan, dan alhamdulillah tidak tambah parah kok sakitnya.

=====================================================================

Tambahan September 2017:

Ternyata yang kemudian diedarkan sejak tahun 2017 adalah vaksin MR yang diimpor dari India. Pemerintah mensubsidi vaksin ini dan menyediakannya di posyandu maupun puskesmas dan faskes pemerintah lainnya (untuk yang di atas usia 5 tahun atau yang sedang tidak memungkinkan mendapatkan saat jadwal posyandu di daerahnya), tetapi kalau mau ambil di luar fasilitas pemerintah, tersedia juga kok. Kami waktu itu ambil vaksin MR di Rumah Vaksinasi Cempaka Mas seharga 80.000, dan selewat masa program pemerintah ternyata naik jadi 250 ribuan kalau ambil di swasta begini.

Nah, menjawab pertanyaan mengapa M yang satu lagi yaitu Mumps alias gondongan tidak dimasukkan sekalian, penjelasan yang dikutip di Web Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta adalah sbb: material vaksin mumps ternyata adalah yang paling mahal dibanding measles dan rubella. Dana pemerintah tentu ada limit-nya, karena harus dialokasikan untuk banyak program kesehatan, bukan? Alasan kedua adalah karena berdasarkan research, penyakit/gangguan kesehatan yang disebabkan oleh mumps tidak sebahaya yang disebabkan oleh measles dan rubella sehingga dinilai measles dan rubella lebih urgent untuk didahulukan saat ini.

Dikutip dari Kemenkes:

Pelaksanaan kampanye vaksin MR akan menyasar anak usia 9 bulan <15 tahun dan kemudian diikuti dengan pengenalan (introduksi) imunisasi Rubella kedalam program imunisasi nasional memakai vaksin MR menggantikan vaksin campak yang selama ini dipakai. Introduksi vaksin MR ini diberikan pada anak umur 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD/sederajat. Pelaksanaan kegiatan ini dibagi dalam 2 fase yaitu fase 1 dilaksanakan tahun 2017 di semua Provinsi di Pulau Jawa. Fase 2 dilaksanakan di seluruh provinsi di luar pulau Jawa.

Kegiatan kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) fase pertama yang meliputi seluruh wilayah di Pulau Jawa telah dilaksanakan selama bulan Agustus sampai dengan September 2017 (diperpanjang hingga 14 Oktober 2017). Sasarannya adalah anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun. Bulan Agustus 2017 diberikan di sekolah-sekolah, untuk anak usia sekolah (SD/MI/Sederajat, SMP/MTS/sederajat), sedangkan September 2017 diberikan serentak di Puskesmas, Posyandu, dan faskes lainnya untuk bayi dan anak yang belum bersekolah serta anak usia sekolah yang tidak bersekolah.

=============================================================================

Tambahan lagi (Januari 2018):

Untuk imunisasi Difteri sebagai respon atas wabah (outbreak response immunization atau ORI), ada pernyataan sebagai berikut:

  1. Dari IDAI: Anak dengan batuk pilek ringan dan tidak demam tetap bisa mendapatkan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia. Sumber: http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/himbauan-idai-tentang-peningkatan-kewaspadaan-terhadap-kasus-difteri
  2. Dari DSA di RSCM: Kalau lagi sakit sekadar batuk dan pilek saja ya tidak apa-apa. Itu masih boleh disuntik vaksin difteri. Sumber: http://health.liputan6.com/read/3211851/lagi-sakit-bolehkah-disuntik-vaksin-difteri.

6 thoughts on “Anak Batuk Pilek, Imunisasi Jalan Terus

    • Nah kalau ini mungkin termasuk poin ‘konsultasikan dengan dokter’, ya… Kalau dulu sebenernya juga bukan mau menyengaja, malah awalnya periksain buat batpilnya yang udah agak lama, dan malah ditawarin imunisasi MMR sekalian yang jadwalnya memang udah deket banget :D.

  1. Anak saya justru setelah suntik vaksin difteri kemaren,malah jadi batuk pilek,dan sakit tenggorokan. Bikin saya jadi kesel…

  2. Tadi pagi saya bawa anakQ ke puskesmas mau di suntik 1 tahun 6 bulan (mf ga tw nama vaksin’a apa) klo ga salah vaksin lanjutan…
    tapi anakQ sedang flu berat…. !!!
    pertanyaan’a apa ga npa2 wlu gi flu tapi tetap disuntik vaksin 1 tahun 6 bulan ???

    • Bila mencermati dari penjelasan pakarnya di atas, kalau soal memperberat in sya Allah tidak memperberat, dan tidak mengurangi efektivitas imunisasinya juga. Kalaupun nantinya memang (moga-moga tidak) terlihat tambah berat, ada banyak faktor yang harus dicek sebelum kemudian menyimpulkan gara-gara vaksinnya :). Sebagai catatan, semua vaksin memiliki kemungkinan efek samping demam, dan itu termasuk hal yang ‘wajar’ atau sudah dapat diprediksi, meskipun tentu sebagai ortu kadang kita merasa kasihan. Bila demam karena imunisasi terjadi di masa anak memang sedang flu, kadang memang ada yang khawatir tanda-tandanya jadi rancu. Yang penting pantau tanda-tandanya, Pak/Bu, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan terdekat apabila ada yang diragukan. Semoga ananda senantiasa dikarunai kesehatan ya, salut untuk upaya ortunya ikhtiar memberikan perlindungan untuk anak melalui imunisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s