Judul: Highly Unlikely
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan pertama, Mei 2024
Jumlah halaman: 250 + v
Saran usia pembaca: 13+

Sesuai dengan tema #paradebukujuni Komunitas @resensi_bacayuk, buku yang saya baca untuk memenuhi tantangan #ResensiJuni ini adalah #bukubersampulkuning. Pilihan saya jatuh pada buku Highly Unlikely ini. Bukunya sendiri masih sangat baru, sebagaimana saya cantumkan bulan terbitnya di atas.
Ketertarikan saya pada buku ini muncul ketika menonton konten promo di akun penerbitnya. Di situ disebutkan bahwa buku ini akan memuat topik-topik campus romance, opposites attract, navigating life during pandemic, first daughter problem, dan zero waste lifestyle. Terutama dua yang terakhir, sih. Seperti apa kira-kira perjuangan gaya hidup minim sampah diselipkan di sela-sela kisah cinta anak kuliahan? Dan dalam masa itu, problematika apa yang mungkin bisa sespesifik itu dirasakan oleh seorang putri sulung?
Membaca deretan topik yang disebutkan di atas, rasanya pasti akan penasaran bagaimana penulis meramu semuanya. Apakah seluruhnya akan dijejalkan begitu saja, atau hanya disebut sekilas sebagai pengaya naskah? Seusai membaca buku ini, saya harus bilang: bahkan masih ada topik-topik lain yang dibahas secara cukup serius oleh penulis. Ada perkara EYD, sisipan tentang hewan peliharaan, visi orangtua seputar karier anak, sampai dengan penegasan soal definisi pelecehan seksual.
Sinopsisnya adalah sebagai berikut:
Kata siapa kuliah jarak jauh saat pandemi itu lebih santai? Raya yang mengincar nilai A untuk mata kuliah penelitian harus satu grup dengan Bergas, food vlogger sok sibuk yang terkenal suka ghosting saat kerja kelompok. Pokoknya, Raya tidak akan terima alasan gangguan sinyal yang sering Bergas pakai untuk mengelabui dosen.
Raya juga tambah pusing karena ribut terus dengan Rachel, adiknya yang suka menunda-nunda mengerjakan tugas di rumah. Belum lagi, Raya harus menyempatkan waktu untuk memilah sampah, membuat lubang biopori, dan belajar mengompos karena prihatin melihat sampah terus menumpuk selama pandemi. Mampukah Raya menyelamatkan IPK, kewarasannya, sekaligus bumi tercinta?
Penulis berhasil meramu segala bahasan ini secara lincah. Ada bagian yang mengundang air mata, apalagi karena saya juga seorang anak perempuan pertama yang … (kalau dirinci nanti jadi membocorkan plot penting. Dalam hal ini yang mirip dengan saya bukan tentang konflik antaranggota keluarganya, yaa.). Ada juga yang bikin terbahak sampai anak saya menanyakan apanya yang lucu. Adegan dengan pengemudi ojek, misalnya. Hebatnya, penulis bisa meracik detail-detail ini tanpa keteteran atau terkesan maksa, bahkan ketika muncul di tengah-tengah suasana tegang.
Ngomong-ngomong soal detail, yang agak menarik perhatian saya (tidak sampai mengganggu, sih) adalah penggunaan frasa “membasahi bibir” yang lumayan banyak berulang, dan dilakukan oleh berbagai tokoh berbeda. Dan mumpung sedang menggarisbawahi deskripsi tindakan fisik, saya juga sekalian mau menyampaikan bahwa interaksi sepasang tokoh utamanya cukup “aman”, kok. Kemesraan yang ditunjukkan masih cukup wajar, kontak fisik bahkan cenderung terbatas (barangkali ada yang mau merekomendasikan buku ini untuk anak praremajanya, meski tentu tetap perlu dibaca dulu dan didiskusikan bersama setelahnya, ya).
Satu lagi yang mengganjal, pergantian bab beberapa kali terjadi di tengah-tengah percakapan. Yang pernah saya baca selama ini di buku-buku lain, perpindahan bab mendadak seperti ini dilakukan saat ada sesuatu yang hendak ditekankan, seperti menjelang sebuah pengungkapan yang mengejutkan. Di buku ini, para tokoh sedang mengobrol biasa, lalu tiba-tiba ganti bab dan mereka lanjut berbincang-bincang begitu saja.
Buku ini juga mengajak pembaca belajar banyak hal baru, khususnya seputar perkuliahan di jurusan komunikasi dan yang sudah sempat saya tulis sebelumnya adalah tentang merawat bumi. Sampai ada infografis yang sederhana tetapi menarik untuk menjelaskan beberapa kegiatan yang bisa kita lakukan untuk melindungi lingkungan loh, di samping dipaparkan juga lewat narasi cerita yang, sekali lagi, mengalir dengan enak dan tidak “maksa”.

Dan tentang penjelasan soal sampah dan kompos ini ternyata juga membantu cerita keseluruhan untuk melingkar, karena filosofinya tersambung dengan latar belakang konflik dan penyelesaian akhirnya. Lagi-lagi, salut banget untuk penulisnya yang punya ide sekeren ini dan sukses mengeksekusinya dengan manis.
Adegan-adegan yang sudah sering muncul sebagai penggerak plot seperti perjumpaan dan penemuan tidak sengaja pun tak terasa klise. Tampak wajar karena dari awal penulis sudah menanamkan petunjuk-petunjuk yang sekilas tak begitu penting, tetapi menjadi alasan mengapa kebetulan-kebetulan itu bisa terjadi.
Oh, ya, salah satu kutipan yang paling mengena bagi saya adalah yang ini
Udahlah, Ray, kerjain aja.Seringnya, menanggung beban sendirian memang membuat pekerjaan jadi lebih cepat selesai. Menunggu orang lain bergerak malah sering memberinya kekecewaan ganda. Pertama, lama. Kedua, hasilnya tak sesuai dengan standarnya. (hlm. 23)
#YTTA, sih, ini.

Karena Raya, tokoh utamanya, digambarkan sangat peduli pada tata penulisan, tak heran penggunaan kata-kata dan aspek kebahasaan lain dalam buku ini pun taat kaidah. Tak menjadi kaku memang, karena tetap kok para tokohnya menggunakan bahasa obrolan sehari-hari yang ditingkahi istilah-istilah asing. Namun, itu pun tetap disajikan dengan rapi, berpadu indah dengan beberapa pilihan kata unik yang menampakkan diri di sana-sini. Meskipun, saya penasaran juga kenapa ada kata Tupperware yang ditulis dengan diawali huruf kapital dan ada yang tidak.
Sebuah buku yang tetap mengasyikkan untuk dibaca berulang-ulang, bahkan juga memotivasi untuk ikutan melakukan gerakan cinta bumi dari rumah. Oh ya, saya juga baru tahu bahwa judul asli novel ini dulunya adalah Zero Waste Love, yang sebelumnya diikutsertakan dalam Gramedia Writing Project. Bab-bab awalnya masih bisa dibaca secara gratis di sini https://gwp.id/story/126957/zero-waste-love.

Pantas aja terlihat menarik untuk dibaca bukunya. Karena ada berbagai topik yang kelihatannya kayak gak saling nyambung. Makanya jadi bikin penasaran. Dan ternyata, mampu diramu dengan apik, ya
Setuju nih dengan Rey…emang kalo bisa dikerjakan sendiri ya kerjakan aja. Malah bisa cepet selesai dari pada nunggu orang yang jadi bikin lama. Menarik ulasannya.
Itulah, walaupun kadang juga jadi kerepotan sendirian ya, huhuhu.
Mungkin nih ya, baru kemungkinan karena aku belum baca bukunya. Tupperware ditulis huruf kapital merujuk pada merk, pas ditulis huruf kecil merujuk pada ‘kotak makan’, apakah demikian?
Waah, betul juga ya, ada kemungkinan itu. Lagi mudik dan nggak bawa bukunya jadi nggak bisa cek, nanti deh dilihat kalau sudah pulang.
Selalu ada insight baru ketika membaca buku yaa..
Passion baca bukunya kereen banget.. Aku juga jadi penasaran dengan buku Highly Unlikely yang covernya cerah dengan penokohan remaja dari sisi mahasiswa yaa..
Kisahnya kekinian juga mengenai lingkungan dan isu-isu yang dekat dengan keseharian.
Hohoho..
Pertama liat judul dan covernya aku kira ini bukan fiksi.. semacam buku opini penulis..
Ternyata ini novel ??
Penasaran ih udah lama gak baca novel juga.. boleh nih di jadiin book list..
Novel sekarang jauh lebih bernuansa ya ada yang terakhir bab nya ada lukisan atau narasinya. Kan jadi penasaran dengan novel ini, aku juga termasuk suka novel yang romantis dan bernuansa kuliahan dan merantau terus ketemu dengan gebetan lama. Kepoin ah ke toko buku novel ini.
jadi ini buka pure novel gitu ya mbak, tapi dari sampul dan judulnya memang bikin penasaran.
selain membaca kisah tokoh tokoh di dalam buku ini, pembaca juga auto belajar ya mbak. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui gitu
Cover bukunya menarik dan bikin penasaran untuk membuka halaman berikutnya.
Penasaran dengan bukunya karena ada bahasan tentang menyelamatkan bumi di tengah kesibukan anak kuliah online dan tekad mempertahankan nilai, juga keseharian yang diisi dengan banyak hal positif.