Kajian Teks Sederhana Buku Yena dan Uang Hijau

Tahun ini, untuk pertama kalinya, saya mengikuti lomba di kantor dalam rangka Hari Oeang ke-78. Biasanya saya hanya jadi suporter bagi suami dan teman-teman untuk lomba-lomba di bidang olahraga dan seni yang digelar. Cabang lomba yang saya ikuti juga baru muncul tahun ini, yaitu Read Aloud atau Membacakan Nyaring.

Meski teknik saya masih perlu perbaikan di sana-sini, tetapi aktivitas Read Aloud telah amat membantu membangun kebiasaan membaca Fathia dan Fahira. Cerita selengkapnya pernah saya tulis untuk buku antologi Chamomile Tea: The Miracle of Reading Aloud yang terbit tahun 2020.

Oya, apakah read aloud sama dengan mendongeng? Jawabannya tidak. Berikut adalah penjelasan Bu Roosie Setiawan, penggiat yang juga banyak menjadi mentor dalam pelatihan read aloud, mengenai perbedaan kedua aktivitas ini.

Apa bedanya mendongeng dengan read aloud?

Mendongeng  (Storytelling)

Membaca Nyaring (Read Aloud)

Komponen Kegiatan

  1. Pembawa cerita
  2. Pendengar
  3. Buku sebagai sumber cerita atau pelengkap (pilihan).
  1. Pembaca
  2. Pendengar
  3. Bacaan atau buku menjadi bagian penting yang harus ada.

Penggunaan Bahasa

Tata bahasa tidak baku kerap dominan

Tata bahasa baku (dari bacaan) dan tidak baku (dalam interaksi).

Pembelajaran dan Pengetahuan

Tidak terkait langsung dengan kegiatan membaca.

Berhubungan erat dengan kegiatan membaca.

Kebutuhan

Keahlian tertentu: membuat/mengolah cerita, olah suara, olah tubuh, dst.

Keterampilan membaca mahir.

Hingga sudah sebesar ini pun, saat Fahira sudah bisa menekuni sendiri novel-novel yang cukup tebal, ia masih menunggu saat-saat saya membacakannya buku. Kadang malah ia yang ganti membacakan buku untuk saya, lalu berinisiatif mengajukan kuis singkat seputar hal-hal dalam buku.

Misalnya, Fahira akan memberikan tebakan, apa saja nama-nama barang yang ditawarkan penjual, apa warna selang yang dipakai ibu menyiram tanaman, berapa jumlah pot yang ada di halaman, dan apa tulisan yang ada di depan rumah. Hal ini mendorong saya harus berkonsentrasi penuh menyimak setiap detail cerita, biarpun kadang dalam keadaan mengantuk sepulang bekerja 😁.

Buku Yena dan Uang Hijau karya Mbak Eva Y. Nukman yang diilustrasikan oleh Kak Eugenia Gina ini Fahira pilih sendiri dari sejumlah buku yang disediakan untuk lomba. Judul ini menjadi favoritnya sejak dirilis dalam seri Literasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada masa pandemi. Kala itu kami memang cukup intens menambah khazanah bacaan berkualitas untuk menemani aktivitas di rumah saja.

Penyampaian cerita yang menarik dan dekat dengan kejadian sehari-hari membuat buku-buku ini enak disimak, menepis kesan bahwa bahasan keuangan itu pastilah berat. Juga, yang menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan read aloud, buku ini berhasil memantik diskusi dengan anak mengenai mata uang. Bukunya bisa diunduh gratis di https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/DetailMateri/499.

Oh ya, sebelum lomba, panitia mengadakan webinar yang sekaligus menjadi pembekalan bagi para pegawai dan keluarganya yang berminat untuk menjadi peserta. Lewat webinar ini saya jadi me-refresh pengetahuan yang pernah saya dapatkan sebelumnya dari Training of Trainers (ToT) Read Aloud tahun 2021. Salah satunya, read aloud itu berbeda dengan mendongeng. Interaksi antara orang tua dan anak pun snagat penting dalam prosesnya.

Yena dan Uang Hijau

Yena dan Uang Hijau

Karena jarang diasah, hanya diterapkan di keluarga sendiri yang mana anak-anak pun sudah lebih besar, banyak langkah dasar read aloud yang sudah saya lupakan. Secara pakemnya, salah satu hal yang perlu dilakukan mengawali kegiatan read aloud adalah orang tua harus membaca bukunya sendiri terlebih dahulu. Dari situ, orang tua didorong untuk menyusun kajian teks sederhana atas buku yang akan dibacakan sebagai persiapan.

Berikut adalah kajian teks sederhana yang saya buat untuk menyiapkan diri mengikuti lomba.

Judul

Yena dan Uang Hijau
Penulis & ilustrator Eva Y. Nukman & Eugenia Gina
Penerbit Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Tema Literasi keuangan untuk anak – pengenalan mata uang
Genre Fiksi realis
Tokoh (karakter)  Yena, Kak Ranti, Ibu, ibu pembeli, penjual aksesori
Latar (setting) tempat Rumah keluarga Yena dan pasar kaget
Latar waktu  Sore hari
Alur Awal
Yena dan Kak Ranti akan pergi ke pasar kaget. Ibu menyuruh mereka mengambil uang di meja. Yena baru tahu dan senang bahwa ada uang yang berwarna hijau.
Tengah:
Yena ingin membeli aksesori di pasar kaget. Ia hendak membeli jepit berwarna hijau, tetapi tidak mau kalau uangnya yang berwarna hijau harus diserahkan kepada penjual untuk membayar.  Yena kemudian melihat ada ibu-ibu yang berbelanja dan mendapatkan uang lainnya yang juga berwarna hijau. Kak Ranti menjelaskan bahwa Yena pun bisa mendapatkan uang kembalian berwarna hijau. Namun, ternyata Yena mendapatkan kembalian dalam bentuk satuan uang yang lain, dan warnanya bukan hijau. Yena sedih.
Akhir
Ibu-ibu pembeli lainnya tadi menawarkan untuk menukar kembalian Yena dengan kembaliannya. Sedangkan Kak Ranti menyampaikan bahwa uang yang berwarna lainnya (abu-abu) itu juga bisa dipakai untuk membeli es buah.
Tinjauan (Periksa) kosakata (tulis kosa kata sulit menurut anak) – Pasar kaget: pasar yang hanya ada pada waktu-waktu tertentu (tidak selalu ada)
– Aksesori: benda untuk menghias atau mempercantik penampilan, misalnya jepit rambut atau bando
– Bando: hiasan rambut berbentuk pipih setengah lingkaran yang dipasang pada bagian atas depan kepala
– Kembalian: uang yang dikembalikan kepada pembeli jika pembayarannya lebih banyak daripada harga barang yang dibeli
   
Ajukan Pertanyaan Pertanyaan tentang buku (pertanyaan yang jawabannya ada di dalam buku)
1. Ibu Yena ikut ke pasar tidak? 
2. Ibu Yena sedang apa ketika menyuruh mengambil uang di meja?
3. Kamu pernah memegang uang baru? Seperti apa menurutmu bentuknya?
4. Apa saja warna uang yang disebutkan dalam buku?
5. Di pasar kaget ada penjual apa saja?
6. Penjual aksesori menjual aksesori apa saja?
7. Aksesori apa yang ingin dibeli Yena?
Pertanyaan di luar buku (pertanyaan yang jawabannya tidak ada di dalam buku)
1. Apakah kamu pernah pergi ke pasar kaget? Dengan siapa? Di sana kamu melihat ada barang apa saja yang dijual? Selain ada yang berjualan barang, ada apa lagi di sana?
2. Kamu pernah membeli apa di pasar kaget?Kamu suka atau tidak pergi berbelanja dengan keluarga? Apa yang membuatmu senang?
3. Yena dan Kak Ranti memakai aksesori rambut yang berbeda. Kalau kamu, sukanya pakai aksesori apa? Warna apa?
4. Apakah kamu pernah makan es buah? Isinya apa saja?
5. Jenis-jenis uang apa saja yang kamu tahu? Apakah kamu bisa membedakan nilai uang berdasarkan warnanya?
6. Tahukah kamu kalau di uang kertas kita ada gambar-gambar pahlawan? Siapa saja pahlawan-pahlawan ini?
7. Kalau ada orang yang tidak kamu kenal menawarkan bantuan, seperti apa sikapmu?8. Pernah tidak kamu ingin membeli sesuatu, tetapi uangmu tidak cukup? Apa yang kamu lakukan?

Sekilas memang jadinya agak ribet, ya. Mau membacakan buku ke anak saja, harus bikin kajian segala. Namun, manfaatnya besar, loh. Menurut saya, kalaupun tidak sempat membuat secara terstruktur seperti ini, bisa juga dengan minimal mencatat poin-poin penting yang kemungkinan akan ditanyakan anak dan mempersiapkan jawabannya dulu. Atau sebaliknya, kita siapkan pertanyaan untuk anak.

Pertanyaan yang kita ajukan ke anak ini bukan dalam rangka mengetes pemahaman atau daya ingatnya, ya. Soalnya ketika saya berbagi mengenai pengalaman read aloud di salah satu grup, ada yang mengira demikian, bahwa yang ditanyakan adalah seperti menguji apakah anak ingat alur dan detail ceritanya. Yang ditanyakan memang bisa terkait dengan pemahaman anak, tetapi lebih ke yang bisa memancing anak berpikir kritis. Bahkan sebisa mungkin kita tidak memberikan pertanyaan yang tertutup, alias jawabannya hanya iya atau tidak. Mengarahkan jawaban anak atau membatasi pilihan jawaban pun tidak dianjurkan.

Saya memang tak menang dalam lomba tersebut, yang baru saja diumumkan hasilnya. Namun, senang sekali bisa menjalani kembali proses read aloud dengan langkah-langkah terencana seperti ini. 

8 thoughts on “Kajian Teks Sederhana Buku Yena dan Uang Hijau

  1. Aku lihat di IG Leila bacai buku ini, seru juga lombanya ya. Aku tiap ngajar kelas penulis cilik read aloud dulu, biar anak-anak terhibur, jadi pengen belajar read aloud lebih dalam deh…biar lebih menarik..

  2. Baru tau istilah read aloud saya Kak. Bagus ini buat mengenalkan anak ke kegiatan membaca dan dekat dengan buku-buku. Kalau dilihat dari detail kegiatannya memang bukan sekadar membaca ya tapi membuat anak jadi lebih berinajinatif dan berpikir kritis. Boleh ini sesekali dipraktikkan di rumah, kalau ada lombanya saya juga pengen nyoba buat nambah pengalaman 🙂

  3. memilih buku untuk si kecil memang harus kita seleksi dulu dengan membacanya terlebih dahulu. Kajian buku ini saya rasa penting juga supaya lebih paham apa yang akan dilakukan setelah selesai membaca buku untuk si kecil. Bisa banget ini mah kupraktekkan buat keponakanku.

  4. Menarik nih mbak Leila, saya jadi tahu istilah read aloud. Nah konsep ini bisa diterapkan juga nih dirumah buat si kecil yang sudah mulai serba ingin tahu

  5. Aku tertarik sama read aloud ini, ternyata memang manfaatnya banyak ya mba, termasuk bisa bikin anak jadi lebih berpikir kritis. Aku jg baru tahu kalau read aloud baiknya bikin kajian teks seperti contoh di atas. Menarik nih buat diulik lagi.. 😀

  6. Jadi panduannya kalau read aloud ini membaca dengan nada yaa..

    Sebenernya aku juga baca buku read aloud-nya Jim Trelese.
    Dan terpukau dengan teknik ini.

    Sebab sampai usia anak berapapun,  teknik read aloud ini sangat relevan untuk diterapkan.

  7. Pingback: Ikut Silent Reading sebagai Penyemangat Kegiatan Membaca | Cerita-Cerita Leila

Leave a comment