Judul: Home Sweet Loan
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan kelima, Maret 2024
Jumlah halaman: 312
ISBN: 9786020658049

Novel Home Sweet Loan
Mungkin agak terlambat ya untuk membaca buku ini karena bahkan versi filmnya, yang cukup viral, sudah turun layar. Tapi tak apalah. Senang akhirnya bisa menemukan kesempatan untuk menyelesaikan buku ini, seperti biasa saat melakukan perjalanan jarak jauh. Semoga nanti segera tayang di platform video karena saya juga sebetulnya penasaran dengan alih wahananya.
Sebagai anak sulung perempuan, saya seringkali related dengan keberadaan “trope si bahu kuat” dalam tulisan-tulisan fiksi. Sudah cukup banyak buku yang mengangkat soal anak pertama yang jadi harus ikut menjadi tulang punggung keluarga, bahkan keluarga besar, sampai-sampai berpengaruh ke kehidupan pribadinya. Namun, buku ini menyajikan kisah dari posisi anak yang berbeda. Ternyata si bungsu pun bisa jadi pemikul beban.
Dan pemakaian istilah “beban” di sini sama sekali bukan karena tidak bersyukur. Tokoh utamanya, Kaluna, benar-benar direpotkan oleh keadaan keluarganya. Kedua kakaknya yang sudah menikah dan punya anak masih tinggal serumah dalam hunian yang terasa makin sempit. Mungkin tak apa jika masing-masing menyadari dan menjalankan perannya dengan baik. Masalahnya urusan pembagian keuangan, penggunaan fasilitas rumah, dan tugas-tugas rumah tangga menjadi tak jelas.
Jika selama ini yang kita tahu sosok kakak yang selalu diminta mengalah, kali ini kita disodori kenyataan yang juga mungkin pernah kita ketahui terjadi di sekitar. Adik bungsu sebagai yang belum berkeluarga dituntut untuk maklum bahwa tugasnyalah membereskan rumah, karena kakak-kakaknya sudah capek dengan urusan pekerjaan atau mengasuh anak. Padahal ia sendiri juga bekerja kantoran dan tetap ikut membayar pengeluaran rumah tangga. Demi memenuhi keinginan keluarga kakak-kakaknya, Kaluna bahkan harus rela tergusur dari kamarnya sendiri.
Persoalan tempat tinggal inilah yang menggerakkan plot cerita. Kaluna jadi ingin tinggal terpisah saja. Akan tetapi apa daya, mau menyewa pun sulit betul menemukan yang cocok. Apalagi kalau mau membeli, lebih menantang lagi. Harga rumah maupun apartemen sekarang luar biasa mahalnya. Kalaupun ada yang terjangkau, pasti antara letaknya sangat jauh atau kondisinya membuat tidak nyaman. Puncaknya, Kaluna diminta merelakan tabungannya, yang sedianya mau dipakai untuk uang muka rumah, untuk sesuatu yang menyesakkan dada.
Kaluna tak sendirian. Ia punya beberapa teman akrab yang juga sedang pusing soal rumah. Ada yang merasa perlu tempat tinggal yang lebih luas untuk mengakomodasi mertua, ada pula yang ingin pindah karena butuh fasilitas keren untuk menunjang pekerjaan sampingannya. Latar belakang keluarga mereka yang beragam makin menambah dinamika cerita. Kaluna mesti sangat berhemat, sedangkan teman-temannya berkutat dengan perkara mana yang perlu diprioritaskan. Ada yang sudah harus memikirkan biaya sekolah anak, ada yang menganggap pos gaya hidup adalah sesuatu yang tidak bisa dihemat karena menjadi bagian dari personanya di media sosial.
Tentu ada juga kisah asmaranya, yang bikin pembaca ikutan gemas. Haruskah mengikuti gaya hidup calon suami agar bisa diterima oleh keluarganya? Benarkah berhemat itu jadi sama dengan “tidak bisa diajak maju”? Pernak-pernik kehidupan kantor juga turut disajikan. Hal ini membuat kisahnya makin dekat dengan yang senasib, atau memberikan gambaran realistis bagi yang tidak berkecimpung di dunia yang sama.
Menyimak buku ini seperti mendapatkan pelajaran tentang pengelolaan keuangan, tetapi dengan cara yang menyenangkan (walaupun banyak bagian yang bikin nyesek juga). Banyak pula tips yang diselingi seputar persiapan dan apa saja yang perlu dicek ketika hendak membeli sebuah hunian, baik itu rumah tapak maupun apartemen. Pembaca, baik yang sudah menikah ataupun belum, bisa mengambil banyak pelajaran dari buku ini.
Termasuk untuk diri saya sebagai orang tua, buku ini memantik renungan, seperti apa seharusnya kita mendidik anak-anak tentang keuangan. Harapannya tentu, anak-anak bisa lebih bijak dan bertanggung jawab mengelola uangnya, alih-alih malah merepotkan orang banyak dari saudara hingga rekan kerja.
#BacaBarengWISH #BBW2024 #PerempuanMenginspirasi

Karena saya tinggal di kota kecil, jadi saya terlewat jadwal film Home Sweet Loan ini. Setelah baca resensi bukunya, kayaknya saya harus beli bukunya nih biar bisa lebih konsisten dalam pengelolaan keuangan nih.
another novel dari Almira Bastari yang juga aku suka, dan aku emg suka dengan semua novel yang ditulisnya, entah kenapa selalu ada bagian yang related dengan kehidupan saat ini.
mba udah baca Ganjil – Genap juga kah ?
salah satu buku Almira Bastari yang juga ku suka, dan entah kenapa semua novelnya selalu related dengan kehidupan sekarang, padahal ceritanya sederhana saja, tapi aku selalu senang membacanya dan selalu bikin ketagihan buat beli yang terbaru dari tulisannya.
sayang aku kurang suka nonton film kalau adopsi dari novel di Indonesia, kadang jauh sekali dari ekspektasi mba
Bener yaah, lelah sekali rasanya kalau semua muaaa ditumpukan pada anak terakhir.
Terakhir di sini bukan hanya bermaksud merujuk pada anak di posisi bungsu, tetapi bisa juga anak yang terlambat menikah dan jadi satu-satunya yang belum punya tanggungjawab keluarga.
Sehingga biasanya kerap dimintain tolong ((separuh perintah yang absolut)) untuk merawat orangtua, merawat rumah dan lain-lain.
Bisa panjang banget ini masalahnya kalo gak sama-sama duduk bareng dan ngobrolin secara terbuka.
Home Sweet Loan ini jadi salah satu novel yang relate banget sama kehidupan, apalagi jadi Kaluna. Kerasa banget nyeseknya bagi pembaca.
Kemarin aja aku nonton filmnya bikin sesegukan parah saking relatenya.. hiks.
saya sdang belajar mengelola keuangan sebaik mungkin dan pastinya buku ini useful banget buat saya, jadi pengen beli, melihat resensinya juga bagus, saya juga belum menonton filmnya, yang belakangan ini seliweran dan fyp dimana banyak direpost oleh orang-orang yang sedang strugle dengan keuangannya, sangat menarik
Wah wajib baca nih, karya Almira lagi, saya suka karya beliau, bahasanya lo ringan tapi ngena, cuz ah di Ipunas, semoga ada di sana
Bagus ya mbak bukunya. Menurutku buku dan adaptasi film ini bisa viral krn relate dgn banyak orang. Sudah bukan rahasia lg, kalau banyak yg kesulitan membeli rumah krn harganya yg udh gila2an. Dan karakter Kaluna ini memang unik sih, krn dia sbg bungsu, tp justru yg jadi tulang punggung dan banyak tanggung jawabnya.
seru ya bisa belajar keuangan tanpa mengerutkan kening karena lewat novel, filmnya jg belum nonton
Saya sudah nonton filmnya. Tapi baca bukunya belum. Apakah sama gregetnya mba? Izin mampir blognya ya hehe.
Wah harus baca nih sepertinya bagus
Wah sudah baca bukunya. Aku mau nonton film-nya. Kebetulan nih sudah masuk Netflix. Namun, kira kira buku dulu atau film dulu ya? Hmm… penasaran juga saya isinya bagaimana karena memang sedang mengelola keuangan nih
Aku malah belum nonton dan baca bukunya. Tapi, spoiler filmnya di mana-mana. Dari buku ini jadi pelajaran ya, kalau mengelola keuangan itu penting. Semoga putus di kita rantai ini, tidak menjadikan lagi generasi sandwich selanjutnya.
Filmnya waktu itu sempat viral gegara Aluna, tokoh utamanya bisa beli rumah dengan hitungan yang kata praktisi keuangan agak sulit diwujudkan ya..
Kayaknya aku perlu baca bukunya dulu deh, soalnya juga belum nonton filmnya
home sweet loan mengajarkan nilai kebaikan hubungan kakak beradik wajib baca nih