[Resensi Buku] 3M: Mendampingi – Menstimulus – Mengantisipasi

Judul: 3M: Mendampingi – Menstimulus – Mengantisipasi
Penulis: Maria Fatimah
Penerbit: Elex Media
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 154
3M: Mendampingi - Menstimulus - Mengantisipasi

3M: Mendampingi – Menstimulus – Mengantisipasi

Sudahkah anak kita tumbuh dan berkembang dengan baik? Pertanyaan ini pasti sering terpikirkan oleh para orang tua. Kini informasi mengenai tumbuh kembang anak makin gampang diakses. Bentuknya pun beragam, mulai dari konten media sosial, webinar, artikel, sampai aplikasi yang membuat kita mudah mengecek apakah tinggi/berat anak kita sudah cukup baik atau mengevaluasi apakah anak kita sudah dapat melakukan hal-hal sesuai dengan umurnya.

Tentu, yang paling tepat adalah bertanya kepada ahlinya. Berkonsultasi secara langsung dengan dokter anak, misalnya. Namun, referensi yang bagus dan dipahami dengan benar pula, dapat membantu agar orang tua lebih waspada. Karena, sebagaimana diingatkan juga oleh beberapa dokter juga, orang tualah yang sehari-hari bersama anak. Catatan dari pengamatan orang tua akan membantu dokter dalam mengenali sesuatu yang tidak biasa. Atau dengan kata lain “mengantisipasi penyimpangan”, sebagaimana disebutkan dalam subjudulnya.

“Ketika kita memantau atau melakukan skrining pertumbuhan dan perkembangan secara berkala, maka kita dapat mendeteksi dini jika terjadi gangguan atau penyimpangan. Semakin cepat gangguan ini ditemukan tentunya akan lebih mudah ditangani.” (hlm. 8)

Buku ini hadir untuk membantu para orang tua menjalankan tugas memantau dan menstimulasi anak. Halamannya tidak terlalu tebal, sehingga mudah dibawa ke mana-mana dan dapat dibaca tanpa membuka gawai. Tak banyak ilustrasi di dalamnya, membuat pembaca bisa lebih fokus pada apa yang disampaikan.

Isinya memuat definisi tumbuh kembang itu sendiri, penggambaran cara menggunakan kurva pertumbuhan, pemaparan kuesioner praskrining perkembangan (KPSP), hingga berbagai stimulasi untuk anak. Bahkan ada sisipan penjelasan singkat mengenai pendekatan Montessori. Terhitung lengkap khususnya untuk tahun pada saat buku ini diterbitkan.

Buku KIA resmi dari Kemenkes juga sebetulnya sudah lengkap bahkan memuat hal-hal yang perlu diperhatikan sejak kehamilan. Namun, jika orang tua memerlukan bacaan yang lebih naratif sebagai pengantar untuk belajar lebih mendalam, buku ini masih cukup relevan bahkan hingga kini. Asalkan, orang tua secara aktif juga terus membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terbaru.

Buku ini juga mengingatkan agar orang tua tetap melakukan pendekatan penuh cinta kepada anak, tidak terpatok target semata. Sebab suasana yang menegangkan justru bisa membuat anak enggan menunjukkan potensinya. Sebuah kutipan dari Presiden RI ketiga disisipkan untuk memperkuat pesan ini.
“”Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.”
-Bacharuddin Jusuf Habibie-
Terkadang menjadi cerdas pun itu tak cukup. Kecerdasan juga memerlukan sebuah cinta di dalamnya, karena jika tidak, maka akan muncul yang namanya ego dan itu sangat tidak baik. Namun, cinta juga memerlukan yang namanya kecerdasan, kecerdasan dalam bertindak dan tahu sebab akibat selama menjalin cinta.” (hlm. 134)

9 thoughts on “[Resensi Buku] 3M: Mendampingi – Menstimulus – Mengantisipasi

  1. Suka dengan quote Pak Habibie, “Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.”

    Buku 3M ini membantu orangtua untuk memantau tumbuh kembang anak ya sehingga ada panduan untuk mengetahui proses tumbuh kembangnya

  2. Kalimat Eyang Habibie sangat benar sekali. Cinta dan kecerdasan harus seimbang sehingga jadi lebih powerfull dan maksimal.

    Buku 3M ini beneran bagus dan rekomen buat para orangtua ataupun calon orangtua. 154 halaman yang bergizi banget, sangat memberi manfaat. Jadi penasaran pengen baca deh.

  3. Kamu sukses bikin penasaran sama buku ini. Resensinya jelas, runtut, dan bikin paham manfaatnya. Sepertinya wajib punya untuk orang tua yang mau dampingi tumbuh kembang anak.

  4. Bukunya Mbak Ima ini jadi inspirasiku untuk nulis buku solo. Jadi panduan juga waktu mengasuh anakku karena mudah dipahami dan ada contoh konkretnya. Kereeeen yaa Mbak Ima!

  5. Buku ini dijual bebaskah, Mba?

    Sepertinya akan sangat bagus jadi kompas untuk orang tua baru, ya

  6. Tertarik bahasan lebih jauhnya soal potensi yang perlu dikembangkan. Kebanyakan masih menganggap potensi intelektual itu yang utama. Padahal empat potensi yang disampaikan dalam buku ini, haruslah digali secara seimbang.

  7. Tulisan ini bener-bener ngena banget buat para orang tua. Aku setuju banget kalau dalam mendampingi anak, jangan cuma fokus ngejar target akademis atau prestasi semata. Anak itu butuh suasana penuh cinta, biar mereka nyaman dan percaya diri buat nunjukin potensinya. Soalnya kalau suasananya tegang terus, malah bikin mereka takut mencoba. Kayak kata Presiden RI ketiga, BJ Habibie, “Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.” Nah, orang tua yang bijak pasti paham kalau keduanya harus berjalan seimbang.

Leave a comment